Maafkan Aku Tak Dapat Menolongmu Kawan

Writer birahilaut
"

"
25
points

Maafkan Aku Tak Dapat Menolongmu Kawan
Oleh: Dino Umahuk

Kejahatan plagiat sama besarnya dengan suap-menyuap. Plagiat bukan sekadar sebuah kebohongan, tetapi juga masuk kategori perampokan kelas kakap. Betapa pedihnya hati ini jika karya tulis kita dicontek dan disebarkan dengan identitas lain. Kata mantan ketua Dewan Pers, Atmakusumah Astraatmadja.

Saya sepakat dengan Elba Damhuri, wartawan Republika yang menyatakan bahwa tindakan menjiplak bukan hanya menipu dan merampok diri sendiri, tetapi sama juga dengan menyebarkan kebohongan publik dan merampok orang lain. Sangat lumrah jika pelakunya dibawa ke pengadilan, dijebloskan ke penjaran, dan dikucilkan dari profesinya.

Asahan Aidit memberi sebuah contoh yang menarik untuk kita baca. Menurutnya, di Belanda juga pernah ada ribut-ribut membicarakan soal tuduhan plagiat yang kalau tidak salah adalah pengarang Jeroen Brouwer yang tertuduh sebagai plagiator. Itu terjadi pada lima atau enam tahun lalu dan kesimpulan dari ribut-ribut soal tuduhan plagiat itu diahiri dengan sebuah pendapat genial: Tuduhan plagiat yang tidak terbukti adalah semacam komplimen atau pujian yang sangat tinggi pada sang tertuduh sebagai "plagiator". Itu sangat mudah dimengerti, karena sang "plagiator"begitu pandai dan ulungnya "meniru" karya orang lain hingga membuat orang lain tidak percaya atau ragu bahwa itu adalah karyanya sendiri.

Berkaitan dengan menyeruaknya kasus plagiat di milis Apresiasi Sastra dimana Donny Anggoro sebagai pelaku dan Wawan Eko Yulianto sebagai korban, saya mengutip sebuah email JJ.Kusni yang dikirim dari Paris, Februari 2004.

Tanggal 26 Februari 2004, berbagai milis sastra, seperti panggung, penyair, bumimansia,bungamatahari, termasuk koran-sastra@xxxxxxxxxxxxxxx, menyiarkan pengumuman atau pemberitahuan dari Tim Penyunting Antologi Cerpen Temu Sastra Kota, "Kota yang Bernama dan Tak Bernama", yang antara lain memuat cerpen karya Donny Anggoro berjudul "Olan". "Buku tersebut diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta DKJ) bekerja sama dengan Penerbit Bentang Yogyakarta), dalam rangkaian acara Temu Sastra Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), 19-21 Desember 2003, yang proses seleksi cerpen-cerpen di dalamnya dilakukan oleh satu tim penyunting terdiri dari Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rosa, Jamal D. Rahman, Linda Christanty, Maman S. Mahayana, Medy Loekito, Nur Zain Hae, dan Wowok Hesti Prabowo".

Dalam pemberitahuan atau pengumuman itu, Tim Penyunting Antologi Cerpen cerpen tersebut mengatakan bahwa:

"Sebagian cerpen karya Donny Anggoro itu ternyata merupakan jiplakan dari cerpen karya Putu Setia berjudul "Sialan" (dalam Putu Setia, Intel dari Comberan [Jakarta: Pustaka Manikgeni, 1994], halaman 77-85)",

dan :

"Atas keteledoran tersebut, tim penyunting mohon maaf kepada Putu Setia, penerbit,dan khalayak pembaca. Tim penyunting juga menyatakan bahwa cerpen "Olan" karya Donny Anggoro ditarik dari buku Kota yang Bernama dan Tak Bernama.

Selanjutnya, setelah memberikan penilaian bahwa "sebagian cerpen karya Donny Anggoro" merupakan jiplakan", dan melakukan otokritik, Tim Penyunting menggunakan sebuah alinea tersendiri menyampaikan peran khusus kepada Donny Anggoro dalam kata-kata berikut:

"Kepada Saudara Donny Anggoro kami peringatkan dengan keras agar tidak mengulang perbuatan yang tidak etis tersebut. Perbuatan Saudara telah mencemarkan tradisi kreatif dalam kesastraan Indonesia".

Jika di kita bersandar pada kenyataan tanggal 26 Februari 2004, maka semestinya setelah menerima teguran keras dari panitia, Donny harusnya tersadar dan bersumpah untuk tidak malakukan kembali praktek serupa apalagi sampai tiga kali.

**
Menurut Ayip Rosidi, Dalam dunia ilmu dan seni ada istilah plagiat, yaitu kalau sebuah karya ilmiah atau karya seni yang diumumkan oleh seorang ilmuwan atau seniman ternyata sama atau hampir sama, atau sebagian besar bentuk dan isinya berdasarkan karya ilmiah atau karya seni orang lain tanpa menyebut atau menerangkan kenyataan tersebut. Artinya, ilmuwan atau seniman itu mengakui karya ilmiah atau karya seni tersebut sebagai karyanya sendiri dan mengumumkan karya itu atas namanya.
Dalam pandangannya, plagiat baik dalam dunia ilmu maupun seni merupakan perbuatan tercela, hina, dan disamakan dengan pencurian atas ciptaan orang lain.

Pada pendapat Zulmasri, kecurigaan yang pertama kali atas ketidakjujuran seorang pengarang dalam berkarya adalah persoalan konsepnya dalam mengarang dan kelabilan untuk segera “cepat mapan”. Menurutnya, mengambil dengan jelas-jelas karya orang lain dan menganggapnya sebagai karya sendiri, sudah tentu tidak dapat dimaafkan dan menghilangkan rasa simpati serta kepercayaan orang. Kesusahan yang telah dijalani pengarang lain dirampok begitu saja.

Di Majalah Horison, Januari 1986, Goenawan Mohamad menulis begini “Harga sebuah kata ditentukan oleh tebalnya lapisan penderitaan yang membuat kata itu ditulis. Sebuah puisi atau novel, adalah pencerminan pribadi; sebuah komposisi dari pengalaman yang tulen. Justru karena puisi atau novel mendapatkan kekuatannya dari sana, ia tidak perlu tersisih dari perhatian. Di sampingnya, sang pengarang seharusnya tak perlu lagi menunjukkan diri”.

***
Dalam sejarah sastra tanah air, menurut Ayip Rosidi, perbuatan plagiat yang amat masyhur ialah yang dilakukan oleh penyair Chairil Anwar. Akan tetapi, perbuatan itu baru diketahui setelah sang penyair meninggal dunia.

Sahabat- sahabatnya seperti HB Jassin dan Asrul Sani membela perbuatan tersebut dengan mengatakan bahwa Chairil terpaksa berbuat demikian karena pada waktu itu dia memerlukan uang untuk berobat.

Namun, perbuatan memplagiat sajak Hsu Chi Mo (Datang Dara Hilang Dara), Archibald MacLeish (Krawang-Bekasi), dan lain-lain tetap merupakan perbuatan tercela yang mencoreng kemasyhurannya sebagai penyair terkemuka walaupun kepeloporannya dalam per-puisian Indonesia tetap diakui.

Dengan berkaca pada kasus Chairil Anwar, maka sebagai teman dengan sangat terpaksa saya tidak dapat membela dirimu, karena saya bukanlah HB Jassin atau Asrul Sani dan engkau juga bukan Chairil Anwar yang butuh uang untuk berobat. Maafkan aku.

Kesalahanmu adalah kau melebihi keledai yang terperosok di lubang yang sama bahkan sampai tiga kali. Mestinya setelah peristiwa "Olan" di tahun 2004 dan kau sempat di kucilkan teman-teman mestinya tidak kau ulangi.

Don…don, ada apa sih kawan?

*Diolah dari berbagai sumber

Dino Umahuk: Metafora Dari Laut
www.birahilaut.multiply.com

dikirim birahilaut 15 years 1 week yang lalu
Tag: kemudian.com | Tentang Plagiator

Best wishes from central europe :-) I invite you to my blog about bonusy kasyna Kasyno

plagiat plagiat... copy cat klo kata org barat... bukan hal yg susah... tapi merusak mental n copyright ato hak si empunya ide... surga para pemalas yg tidak ingin mencari ide otentik.... bukan hal yg susah...

kasus plagiarism marak di mana mana. mari kita lawan :D