The Invisible Prisoner (Chap. 1)

I

British Airways Boeing 757, masih melayang bebas di angkasa bak seekor rajawali besi yang terbang menembus awan yang sunyi sepi. Beberapa kali terasa goncangan kecil melanda badan pesawat. Kejadian itu lantas tidak membuat para penumpang panik, sebab peristiwa itu sudah lumrah terjadi pada setiap penerbangan dimana pun jika pesawat mengalami gerak turbulensi.

Seorang pemuda berambut pirang yang dipotong zig-zag, berhidung mancung, serta berdarah campuran Indonesia-Inggris, terlihat samar ketika terkena percikan cahaya matahari. Ia jelas sekali sedang duduk bersandar di urutan ke empat belas, berdekatan dengan jendela pesawat pada bagian kirinya. Tempat duduk 14C yang sebaris dengannya, kosong. Mungkin pada saat ia terlelap beberapa menit yang lalu, penghuninya duduk, namun kemudian pergi lagi entah kemana.

Pemuda itu sedang melamun, melihat keluar jendela pesawat yang berbentuk persegi panjang kecil. Di tangannya tergenggam sebuah novel tebal berjudul ‘The Return of Sherlock Holmes’. Novel tersebut ditulis oleh seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Arthur Conan Doyle. Ia sudah terkenal dimana-mana akan novel detektifnya, dengan Sherlock Holmes sebagai tokoh utamanya.

Sementara ia sibuk membaca novel bergendre detektif itu, pikirannya kembali menerawang, terbang seperti awan-awan di luar sana. Otaknya tidak terfokus atas apa yang sedang dibacanya. Ia kembali teringat akan kedua orang tuanya yang telah mengantarnya hingga ke bandara Heathrow, bandara utama dan sebuah hub penerbangan yang penting di Lodon Raya. Ciuman lembut di pipi kanan dan kirinya masih terasa saat ibunya melepaskan anak satu-satunya itu untuk kembali ke negeri asalnya. Walaupun merasa berat melepaskan kepergian putranya, namun hal itu harus tetap dilakukannya, sebab memang Indonesia-lah kampung halamannya.

Di sana ia dilahirkan dan ditempa sewaktu ia masih kecil.
Lepas dari semua kenangan itu, ia kembali terjaga dari lamunannya ketika tiba-tiba saja pundaknya ditepuk oleh seorang pria setengah baya yang kini duduk di kursi 14C di sampingnya. Tempat duduk yang sedari tadi dilihatnya kosong.

Rambutnya pendek, bercampur dengan uban berwarna keperakan. Kumis hitam lebat, panjang, berderet di setiap sisi bibirnya. Asesoris itulah yang mungkin senantiasa menghiasi wajahnya yang bulat bak’ telur yang menggelinding menuruni turunan jalan.

Pria itu mengenakan stelan jas panjang coklat muda, mirip seperti seorang bisnisman yang waktunya sangat berharga sekali.

“Memang indah awan-awan itu. Mereka dengan bebas bergerak kemana pun mereka mau. Membentuk sekumpulan wajah abstrak, yang kadang menjadi ilham bagi setiap orang di saat mereka sedang tertimpa suatu masalah yang pelik. Menjadi ketenangan batin bagi setiap hati yang gundah.”

Ia melanjutkan lagi,

“Hidup kita ini seperti pergerakan awan-awan itu. Terus berjalan walaupun angin terkadang mengubah arah mereka. Angin bagai masalah yang datang dalam kehidupan manusia, seperti halnya yang terjadi pada awan-awan itu. Jika mereka tidak bersatu membentuk sebuah kumpulan awan yang besar, mereka akan mudah terbawa angin, mudah terprofokasi oleh sebuah masalah yang kecil, dan begitu juga sebaliknya. Mereka harus bersatu untuk mengatasi hal itu jika tidak ingin terbawa oleh masalah tersebut.”

Pemuda itu lalu berkomentar, masih menatap ke luar jendela.

“Namun walaupun mereka telah bersatu sebagai kumpulan awan, tapi tetap saja akan ada pergolakan di dalamnya,” ia lalu melanjutkan, “Akan ada sebuah masalah yang timbul dalam sebuah kesatuan tersebut. Seperti yang aku katakan tadi. Jika awan telah bersatu, itu lebih memudahkan untuk memunculkan awan hitam dengan kumpulan halilintar yang siap menyambar di dalamnya. Sama halnya dengan kumpulan manusia. Mereka akan diterjang masalah yang datang silih berganti. Baik dari dalam maupun dari luar kesatuan mereka, sehingga kumpulan tersebut tidak akan mampu lagi untuk menampungnya dalam kesatuannya dan pada akhirnya, pergolakan di antara mereka tidak dapat dielakkan lagi. Dan Anda bisa bayangkan apa yang akan terjadi...”

Pria paruh baya itu tersenyum memamerkan beberapa lekukan pipinya. “Saya Albert Edison dan namamu siapa Boy?”

Tangan kanannya yang kekar dijulurkan melewati kursi tengah yang kosong. Pria itu kelihatannya cukup ramah. Ia duduk di kursi bagian luar, tepatnya di sebelah kanan pemuda yang sedang ditemaninya mengobrol.

“Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi dimana ya?” katanya menduga-duga, seraya mencoba mengingat kembali.

“Saya Tommy...” jelasnya, kemudian melengkapi, “Tommy Arthur Verdhana.”

Sontak mata pria itu berbinar-binar, bagai batu permata yang terkena cahaya hingga memantulkan berbagai semburat warna yang menyilaukan mata.

“Oh! Tentu saja, saya ingat sekarang,” katanya girang.

“Kamu anak jenius yang lulus dari University of Oxford pada usia delapan belas tahun itu bukan? Anak tunggal dari detektif hebat, Fandy Arthur Verdhana.”

“Ngomong-ngomong, ada keperluan apa kamu datang ke Indonesia?” ia bertanya sekali lagi.

“Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan di sana,” jawab Tommy tanpa sedikitpun merubah ekspresi wajahnya.

“Oh begitu...” pria itu diam sejenak.

Sebelum lawan bicaranya mengomentari, ia langsung membuka percakapan kembali.

“Saya juga pernah menetap di Indonesia,” katanya memberitahu.

“Kalau tidak salah ingat, saya menetap di sana selama empat tahun. Pekerjaan saya saat itu menuntut agar saya harus menetap lama di negara itu. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia saya lumayan lancar walau masih ada saja aksen Inggris yang kadang-kadang tidak sengaja ikut terbawa.”

Tommy diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Melihat percakapan tampaknya tak berjalan sesuai rencananya, Albert Edison mengambil inisiatif sekali lagi untuk membuka percakapan kembali.

“Saya benar-benar kagum dengan cara kerja Ayahmu,” katanya memuji. “Dia itu seorang jenius. Kau tahu, jenius yang menurutku hanya ada beberapa orang di dunia ini. Ya, kau pasti tahu. Seperti pemikir-pemikir yang hebat pada zaman dahulu, Galileo Galilei, Isac Newton, Albert Einstein, dan orang-orang sejenisnya,” seraya memperagakannya dengan jemari telunjuknya.

Ia kemudian menambahkan,

“Saya masih belum mengerti, bagaimana cara dia, maksudku Ayahmu bisa memecahkan kasus pembunuhan Donald McCardy yang merupakan aktifis dari sebuah organisasi kemanusiaan bermarkas di London itu.”

“Polisi saja dibuat kewalahan dengan adanya kasus tersebut. Walaupun mereka sudah bekerja keras selama sebulan lebih untuk memecahkan kasus itu, namun hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada kemajuan sedikitpun, ditambah lagi tidak ada saksi mata pada pembunuhan tersebut.”

Ia berhenti sejenak, mencoba menarik napas hingga mengisi penuh rongga kerongkongannya.

“Setelah merasa semuanya tidak mungkin lagi terpecahkan, polisi meminta bantuan Ayahmu―Fandy Arthur Verdhana, untuk membantu mereka mengusut kasus pembunuhan itu. Ayahmu benar-benar luar biasa. Hanya memerlukan waktu seminggu lebih untuk bisa memecahkan kasus pembunuhan itu sampai ke akar-akarnya. Dan ternyata berlatar belakang mengenai masalah politik dan melibatkan salah seorang anggota parlemen pula.”

“Benar-benar mengesankan,” katanya mengakhiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, tampak takjub.

Percakapanpun terhenti sejenak dalam kebisuan angin malam yang sejak tadi berhembus menerpa badan pesawat yang lebih menyerupai sebuah burung besi raksasa, dibandingkan seonggok besi tua yang tak berguna. Angin malam itu seakan ingin membawa semua penumpang untuk terbang melayang di angkasa, bersamanya mencari-cari ujung dunia ini.
Saat langit mulai tampak lebih gelap dari sebelumnya, seorang pria yang mengenakan kemeja putih mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Albert Edison.

Orang tersebut kemudian menunjuk-nunjuk sebuah wajah bringas yang ada pada sebuah kolom gambar di selebaran pertama koran Time Express, terbitan Inggris. Sempat Tommy melihat tanggal terbitan koran tersebut. Tanggal 25 Desember 2007 tertulis di sudut kanan atas pada halaman pertamanya. Koran itu rupanya terbitan hari itu. Ia sempat membacanya sekilas, ketika ia berada di bandara Heathrow.

Percakapan kedua pria berumur itu tampak sangat serius. Walaupun kursi Tommy dan Albert Edison berdekatan, tapi kursi kosong yang berada di tengah seakan menjadi pembatas kursi mereka, sehingga pembicaraan Albert Edison dan pria itu tak terdengar olehnya. Ditambah lagi mereka bicara sambil berbisik-bisik. Namun sesekali terdengar ucapan jengkel yang keluar dari mulut keduanya. Mulut mereka komat-kamit tiada henti layaknya seorang dukun membacakan sebuah mantra kepada pasiennya.

Beberapa saat sebelum pembicaraan berakhir, Albert Edison mengangguk sekali dan dengan suatu tanda menyuruh pria itu pergi kembali ke tempat duduknya.

Lama setelah pria itu pergi, Albert Edison terlihat gusar, geram, dan melampiaskan kekesalannya dengan meninju telapak tangannya sendiri. Tulang pipinya yang kokoh bak konstruksi bendungan, terlihat jelas saat di sinari lampu baca di atasnya.

Ia kemudian dikagetkan oleh suara Tommy dari arah samping. “Anda tidak perlu khawatir seperti itu. Saya yakin Anda bisa menangkapnya setelah pesawat ini mendarat,” jelas Tommy.

Pria itu terkejut hingga menimbulkan guratan kasar di keningnya.

“Apa maksudmu Nak? Coba jelaskan semuanya padaku sekarang Nak?” Raut wajahnya tampak bingung, kerutan-kerutan yang tadi samar terlihat di dahinya, kini terlihat jelas sekali.

“Anda sebaiknya jangan berpura-pura lagi,” katanya pelan, takut suaranya terdengar oleh penumpang yang lain.
“Bukankah Anda adalah seorang polisi yang sedang menyamar dan mengejar narapidana yang dua hari lalu kabur dari penjara?”

“Da... darimana kamu tahu semua itu?” pria itu terbata-bata.

Tommy terdiam beberapa detik. “Saya tahu semua itu dari lengan kiri jas Anda. Di sekitar jas Anda agak mengembung dan menonjol keluar,” ia menjelaskan seolah-olah tidak ada beban sedikitpun.

“Juga sikap lengan kiri Anda yang tampak penuh, sehingga terlihat ada sedikit jarak di antara ketiak dan badan Anda. Berbeda dengan yang kanan. Mungkin yang ada di situ adalah pistol Anda. Kalau tidak salah, beberapa polisi Inggris ada yang suka menyimpan pistolnya di tempat itu...”

Ia diam beberapa detik, sebelum mulai lagi berbicara.

“Tingkah laku Anda yang tegas juga menggambarkan sikap seorang polisi. Dan gambar wajah di koran yang ditunjuk-tunjuk oleh pria tadi adalah tahanan yang baru-baru ini melarikan diri dari penjara. Mungkin sekarang dia berada di dalam pesawat ini dan Anda ditugaskan untuk menangkapnya. Bukan begitu?”

Albert Edison mengangguk, namun sebelum ia mulai berkata-kata, Tommy kembali melanjutkan.

“Dari gerak-gerik serta nada bicara Anda juga terlihat bahwa Anda adalah seorang polisi. Kebanyakan sikap seorang polisi sangat berbeda dengan profesi kerja yang lain. Terutama nada bicaranya yang terkadang kaku dan terlalu formal. Dari bukti-bukti itulah, saya lalu mengambil kesimpulan bahwa Anda adalah seorang polisi.”

Bagai tersambar kilat dalam waktu yang singkat melebihi kecepatan cahaya, Albert Edison tak bisa berkata-kata. Barulah beberapa puluh detik kemudian, ia akhirnya membuka mulut untuk menanggapinya.

Like father like son,” katanya pada akhirnya. “Mungkin ungkapan itu pantas untukmu.”

Ia melanjutkan lagi,

“Memang benar seperti yang kamu katakan. Mengenai tahanan yang kabur itu juga benar adanya. Sekarang dia berada di dalam pesawat ini, bersama kita. Dia telah melewati pemeriksaan saat berada di bandara Heathrow, dan sekarang mencoba untuk meloloskan diri ke negara lain.”

Kumpulan awan seperti gumpalan kabut asap berwarna putih, yang senantiasa bergerak berirama seiring dengan hembusan angin. Dua pramugari keluar sambil membawa sebuah troli aluminium yang didorong dengan susah payah karena besarnya hampir menyamai lebar lorong tersebut.

Sebuah teko aluminium bergaya Eropa dan tumpukan gelas plastik, berjejer di atas baki troli itu. Ada juga beberapa bungkus kecil gula rendah kalori yang tersusun di dalam kotaknya. Dengan lihai bak seseorang yang telah berpengalaman, kedua pramugari itu membagikan segelas kopi hangat kepada para penumpang.

Coffee, Sir?” tanya seorang pramugari berambut sebahu dan berbola mata biru kepada Tommy.

Yes, please!” serunya.

Berbeda dengan Albert Edison yang duduk di sebelahnya. Dengan sebuah tanda yang tegas dari sebelah tangannya, ia menolak tawaran tersebut.

Satu jam telah berlalu dengan begitu cepat. Bel pemberitahuan berbunyi nyaring, sehingga para penumpang pesawat langsung memfokuskan pendengaran mereka ke suara itu. Suara pramugari terdengar dari loudspeaker.

“Sekitar tiga puluh menit lagi, kita akan segera mendarat di Bandara Internasional Hong Kong. Silahkan memasang sabuk pengaman dan menegakkan kursi Anda.”

Albert Edison berdiri tegak setelah pemberitahuan selesai diumumkan. Ia lalu berjalan menuju tempat pilot bersama rekannya yang berada di deretan kursi berbeda. Badannya yang gemuk membuatnya agak susah berjalan di lorong pesawat yang memang agak sempit baginya, sehingga ia pun harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyelipkan tubuhnya di antara deretan kursi tersebut.

Selang berapa lama, terdengar kembali bel pemberitahuan berbunyi nyaring dari balik cockpit. Kali ini bukanlah suara seorang wanita yang tadi menyampaikan pemberitahuan, karena suara kali ini terdengar agak sedikit nyaring dan begitu berat, formal pula.

Albert Edison-lah yang berbicara dari loudspeaker itu. Setelah ia memperkenalkan siapa dirinya yang sebenarnya, ia lalu mengumandangkan sebuah pengumuman penting. Setiap penumpang pesawat tersebut diwajibkan untuk mengeluarkan identitas mereka masing-masing, namun sang kepala polisi itu tidak menjelaskan maksud yang sebenarnya dari tindakan itu.

Beberapa menit kemudian Albert Edison duduk lesu sambil mendengus, tidak puas atas hasil temuannya.

“Bagaimana hasilnya, Sir? Apakah Anda sudah menemukan sebuah petunjuk atau mungkin Anda sudah mampu membongkar penyamaran dari narapidana yang kabur itu?” tanya Tommy.

Albert Edison menghela nafas panjang. Dengan suara yang agak berat dan serak, ia lalu berkata, “tidak banyak petunjuk yang kami dapatkan. Kami tidak menemukan banyak kemajuan penyelidikan yang berarti. Tapi...”

Ia setengah berbisik. “Kami telah mencurigai empat orang penumpang pesawat ini sebagai peyamaran dari narapidanan itu.”

“Maksud Anda?”

“Benar, keempat orang itu telah kami curigai jauh sebelumnya. Kami telah mengawasi mereka sejak di bandara Heathrow. Kami dibantu oleh beberapa agen federal Inggris, namun mereka tidak mau membantu kami lebih jauh lagi sebab kata mereka, ini bukanlah tugas mereka yang sesungguhnya. Kau tahu, hubungan polisi dan para agen tersebut tidak berjalan dengan baik selama ini," berhenti sejenak kemudian melanjutkan, "Mereka selalu merasa lebih berguna daripada kami, para polisi. Hanya karena tugas yang diembankan kepada mereka lebih penting dari pada tugas kami seperti melakukan tilang bagi pegendara yang melanggar atau semacamnya. Sementara tugas mereka jauh lebih eksklusif, tugas yang berhubungan dengan urusan negara.”

“Misalnya mata-mata seperti yang dilakukan dalam film James Bond,” pikir Tommy ingin tertawa.

Albert Edison melanjutkan,

“Menurut para agen itu, keempat penumpang tersebut adalah orang yang patut dicurigai.”

“Memang apa alasannya?” tanya Tommy.

Pria itu diam tak menjawab. Suasana sunyi beberapa detik.

“Buat apa Anda melakukan pemeriksaan identitas para penumpang pesawat tadi, jika Anda memang telah mencurigai empat dari para penumpang pesawat ini?”

“Hmm... Kami mau mendata, maksudku memeriksa rute tujuan kunjungan mereka berempat, tentunya sambil menyamarkan penyelidikan itu. Sebab pesawat ini akan mendarat di Bandara Internasional Hong Kong dan akan melakukan transit bagi penumpang yang ingin melanjutkan ke Indonesia dengan menggunakan Cathay Pascific Airways dari Hong Kong.”

“Bagaimana kalau narapidana itu kabur? Bisa saja di tempat transit nanti dia kabur dan tak kembali lagi,” Tommy berkomentar.

“Itu tidak mungkin. Di sinilah fungsi dari data kunjungan keempat penumpang itu. Mereka yang tidak transit di Bandara International Hong Kong, jelas-jelas adalah penyamaran narapidana tersebut. Kami bersama polisi Hong Kong telah bekerja sama dan mereka telah tersebar dan bersiaga di seluruh area bandara, tinggal menunggu perintah dari kami. Jadi tidak mungkin narapidana itu bisa keluar bandara seenaknya untuk kabur walaupun saya berada di dalam pesawat menuju ke Indonesia.”

“Memangnya tujuan kunjungan keempat orang itu kemana?”

Pria itu tersenyum, lalu berkata “Indonesia...”

“ Kalau saya boleh tahu, Sir. Siapakah orang-orang itu?”

Sambil memperlihatkan identitas keempat orang tersebut, ia menjelaskannya satu-persatu dengan singkat.

“Dia adalah Edie John, seorang pengusaha sukses. Namun di balik kesuksesannya itu, ia banyak dibenci oleh para pesaingnya, karena kelicikannya dalam menjalankan bisnisnisnya. Dia sering melakukan kecurangan-kecurangan dari setiap bisnis yang ia jalankan.”

Ia kemudian menambahkan sambil berbisik, lebih mendekatkan wajahnya ke telinga Tommy.

“Menurut berita yang beredar belakangan ini, pria itu juga terlibat dalam sejumlah tindak kejahatan dan penjualan obat-obat terlarang. Namun entah mengapa, dia selalu bisa lepas dari semua tuduhan itu. Tak ada satupun bukti yang dapat memberatkannya, dan walaupun kejahatannya sudah terlacak oleh polisi, tapi tetap saja ia selalu berhasil lolos.”

“Ia duduk di bangku kedua di depan kita, di deretan bagian kanan dari kursi tempat kita berada,” lanjutnya dengan ketus.

Tommy sedikit menaikkan duduknya. Bertopang pada kedua kakinya, mencoba mengintip di antara kepala-kepala yang berjejeran di hadapannya. Seorang pria dengan rambut sedikit jarang di tengah-tengah kepalanya, sedang tertidur dengan kepala yang dimiringkan ke kanan dan bersandar ke bantalan kursi. Kerah jas dan kemejanya terlihat begitu rapih.

“Yang ini adalah Paul Osborn,” sambil menyerahkan kartu identitas yang kedua.

Tampak olehnya seorang pria berambut pirang pendek, dengan kulit kecoklatan yang sedikit terbakar sinar mentari sedang membaca sebuah majalah yang telah disediakan sebelumnya di dalam kantong kursi di depannya. Ia mengenakan kemeja putih bermotif kotak-kotak bergaris dengan lengan pendek.

“Dulunya, dia bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta yang terkenal di Inggris. Bergerak dalam bidang transportasi. Tetapi menurut penuturannya, sebulan yang lalu dia baru saja dipecat dan dengan uang pesangonnya itu, dia berlibur ke Indonesia―ke Bali. Jauh dari hiruk pikuk suasana London yang begitu sesak. Hanya itu alasan yang dapat kuperoleh darinya. Tapi sepertinya aku tidak begitu percaya dengan semua alasannya itu.”

“Bagaimana dia bisa dipecat dari perusahaannya itu? Apa alasannya?”

“Menurut keterangan yang aku peroleh darinya. Dulu dia terlibat dalam sebuah kasus pemalsuan dokumen di perusahaannya, sehingga perusahaannya itu menanggung kerugian yang sangat besar. Kalau dihitung-hitung kerugiannya mencapai jutaaan dollar. Untung saja perkara itu tidak dialihkan ke meja hijau, dan buntut atas perbuatannya itu adalah pemecatan dirinya dari perusahaan tersebut secara tidak hormat. Malang sekali nasibnya.”

“Yang ketiga ini adalah Schott Heddington, mantan narapidana yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara, sekitar dua bulan yang lalu. Dia datang ke Indonesia karena ada seorang saudaranya yang tinggal dan menetap di sana.”

Mata Tommy lalu tertuju pada seorang pemuda bertubuh kekar bak seorang binaragawan. Rambutnya pirang panjang, diikat ke belakang dengan janggot yang mulai tumbuh di sekitar dagunya. Ia sedang menggoda pramugari yang kadang berjalan hilir-mudik melewatinya.

“Apakah Anda sudah memeriksa passport miliknya selama menetap di Indonesia nanti?” tanya Tommy.

“Sudah. Semuanya sudah lengkap, baik berupa passport maupun hal-hal lain yang diperlukan selama dia menetap di Indonesia nanti.”

Sempat Albert Edison menelan ludahnya sekali. Membersihkan saluran tenggorokannya yang kering, kemudian melanjutkan kembali penjelasannya;

“Dan yang terakhir ini...” sambil menyerahkan identitas orang yang dimaksud.

“Bernama Peter Malvolk. Dia berprofesi sebagai seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Inggris. Sama halnya dengan alasan Paul Osborn, dia juga ingin berlibur ke Indonesia.”

“Dia mengambil cuti dari rumah sakit tempatnya bekerja selama kurang lebih sebulan. Tapi anehnya, dia tidak mengikut sertakan keluarganya dalam liburannya ini.” jelasnya.

Albert Edison menunjuk seorang pria berpakaian jas rapih, memakai kacamata minus setengah, berbadan tegap; rambut dan matanya hitam serta hidungnya berkilauan, sedang membaca sebuah koran Time Express.

“Apakah Anda sudah menanyakan alasan, mengapa dia tidak mengikut sertakan keluarganya dalam liburannya?”

“Tentu saja, saya sudah menanyakan mengenai hal itu. Menurutku, itu merupakan hal yang sepele. Tak ada kemajuan berarti yang dapat kuperoleh dari informasi itu.”

“Kalau boleh saya tahu, apa alasannya?”

“Katanya, dia dan istrinya sedang dalam tahap perceraian, sedangkan anak-anaknya tinggal bersama istrinya.”

Ia merapikan keempat kartu identitas itu menjadi sebuah tumpukan kartu, kemudian memasukkannya ke dalam kantong jasnya.

“Bagaimana? Apakah ada yang kamu curigai di antara mereka berempat?” tanya sang kepala polisi.

“Aku berharap kamu memiliki kejeniusan seperti yang dimiliki Ayahmu. Hal itu dapat membantu kami dalam menangkap tahanan yang kabur tersebut.”

Tommy bertopang dagu, lalu berkata pelan;

“Informasinya masih terlalu sedikit, dan kebanyakan dari informasi itu seperti yang Anda bilang tadi, begitu sepele―tidak penting dan tidak berguna. Aku belum bisa menarik kesimpulan hanya dari sejumlah informasi yang seperti itu. Tapi menurutku, kecurigaan Anda tadi, di antara keempat orang itu benar. Pasti buronan itu menyamar menjadi salah seorang di antara mereka.”

“Aku pikir juga begitu,” katanya kemudian menambahkan.

“Memang benar narapidana itu sangat ahli dalam hal penyamaran. Dia dapat meniru wajah seseorang dengan sangat sempurna. Dulu kami sangat bekerja keras, sehingga dapat membekuknya tanpa perlawanan yang berarti darinya. Namun itu tidak menutup kemungkinan dia tidak bisa aku tangkap lagi untuk kali ini,” ujar Albert Edison tegas dan penuh percaya diri.

“Tapi dia kabur dari penjara dua hari yang lalu. Pasti ia tidak menyiapkan segala sesuatunya. Penyamarannya masih belum sempurna,” kata Tommy dalam hati.

Ia terdiam sambil memikirkan berbagai kemungkinan yang ada di kepalanya, layaknya seperti benang kusut yang harus segera diulur dan diluruskan agar tidak bertambah parah kekusutannya, sehingga ia dapat mengambil sebuah kesimpulan dan keputusan yang tepat juga cermat.

Decitan roda pesawat terdengar saat roda itu telah menapaki landasan laju. Kedua pasang sayapnya bergoyang ketika pesawat itu masih melaju mulus menyusuri landasan. Salah satu pesawat dengan tulisan Dragonair pada badan pesawatnya telah siap untuk tinggal landas. British Airways mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Hong Kong.

Bel pemberitahuan berbunyi lagi ketika pesawat berjalan lambat menuju tempat pemberhentian terakhirnya. Suara pramugari kembali terdengar dari loudspeaker. “Terima kasih atas kepercayaan Anda telah memilih British Airways sebagai teman perjalanan Anda. Bagi penumpang yang akan transit menuju ke Indonesia, Anda dipersilahkan untuk melakukan pendataan ulang. Have a nice trip, thank you.”

>>Bersambung<<

“Pernah diposting oleh ghoz_roro dengan judul yang sama. Diedit kembali oleh ABC  the same id with ghoz_roro.”

Read previous post:  
240
points
(6 words) posted by abc 14 years 42 weeks ago
72.7273
Tags: Puisi | horor | kematian | takdir
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer layaty
layaty at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (13 years 43 weeks ago)
90

karya yg bgus sampai rasanya gak bsa kasih komentar,
cuma bsa bilang bagus, karena memang alur sebuah bahasa yg bagus

Writer mel
mel at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 22 weeks ago)
100

wahh.. deskripsinya kuat banget! bagus banget, ga bisa comment apa-apa!

Writer my_be
my_be at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 30 weeks ago)
80

saaalluuuuuut

Writer crossguard
crossguard at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 31 weeks ago)
90

Serasa baca novel terjemahan...
Reference-nya... nama bandara, dll.

Jd inget maut di udara-nya A. Christie...

Ajari aku berbahasa... haha...

Writer KD
KD at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 34 weeks ago)
100

jadi abc kakaknya panah hujan?

Writer ceritasenja
ceritasenja at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 34 weeks ago)
100

Trima kasih udah comment di ceritaku. Ceritamu memang luar biasa.

Ceritanya misterius sekali. Penasaran baca Chap.II

Writer abc
abc at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 34 weeks ago)
100

terimakasih atas komentar2nya yg sangat berguna buat saya hingga menjadi pembelajaran untuk diri saya maupun orang lain...

Writer elbintang
elbintang at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 34 weeks ago)
70

untuk pandangan scrollfast keknya keren..tapi ntar singgah lagi untuk baca lebi detail
-------------------------
like urs alot
-------------------------
cheers

Writer ukhti_fighter
ukhti_fighter at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 34 weeks ago)
70

seru! rasanya seperti membaca komik Detektif Conannya Aoyama Ghosho versi novel n versi inggris. but, becareful with the spelling. bad words wil ruin the beauty of the story....
two thumbs up anyway.....

Writer panah hujan
panah hujan at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 34 weeks ago)
100

gRead oPeNing I thOugHt...

tHen..

ada beberapa EYD yang kuRasa perLu abc pErhAtikan..

^^

masaLah peMiLihan namA...

Hahaha...

GokiLd! GokiLd!

SuEr.. Baru keLiataN niH nArsisMe Lu di cErita iNii..

gw KeTawa pAs bacA :

Anak tunggal dari detektif hebat, Fandy Arthur Verdhana.

yAng beNer Aja??? Haahaahaa..

pAkE baWa-bAwa aNak tunggaL sgaLa.. teriNspirasi dR gw? Hahahaha..

hMmmm, yaaa... jg aDa.. Bali...

masaLah isi, refereNsi noveL detektif gw diBanding Lu muNgkin 1 : 1000,
yAng aRtinya, peNgetahuAn lu ttg dunia kedetektifan jauh meLampaui gw,
nAmuN, sbg pembAca paDa uMumNya, terUtama fiksi, gw rAsa ya,
peNdaLaman karAkter kuraNg pas.

mEnurut gw pribadi,
kalimat panjang yang diLontarKan oLeh anAk seMata-wayangNya Fandy --mEngenai
mEngapa Ia menGetahui baHwa aLbeRt eDisoN adaLah poLisi-- teRasa kurAng pErLu.
pAda saaT sEperTi itu, kuRasa leBih eNak hAnya mEngguNakan keKayaan Akan gEstuRe/bAhasa
tuBuh yanG seHarusnYa kau miLiki jiKa ingin bErkEcimpuNg leBih jauH ke DaLam tEma "deteKtif".

biAsanya oRang yAng pinTar, tidaK akAn bAnyak biCara..
aPalagii iNi.. kita SedAng meMBicarakAn sEorang geNius..

Lalu,

sEdikit maSukan, ide pribadi sih, paDa uMumnya para Pembaca iNgin "terlihat cerdas", hampir seLalu begitu.
Maka seBagai peNuLis, ada baikNya jika abc meNggunAkan beberApa triK.
jAngan tErLalu bAnyak menAruh umpan pada KaiL,
kArena JikA suAtu saaT diriMu tErkecoh, seLuruh umPanmu akan DitElan habis,
tAnpa kau mendapatKan apapUn.
MaksuD gw, jadilah "sedikit tertutup", sEmbuNyikan beberapa cluE2 peNting.
jiKa miSalNya kArya ini akan dipuBLish seBagai noVel, mAka seBaikNya,
jAngan gUnakan teMpo yaNg terLalu cepAd.. pErlaMbat situasi.
juGa, jikA meMang "kecerdasan"mu sebagai pEnuLis sangadlah "wah",
jAngan tErang-teraNgan meNunjukkAnnya.
siMpaNLah bEberaPa untUk diMasukkAn pAda bab-bab sELanjuTnya.

itu sAJa DuLu.

sELebiHnya gw sEtuju dGn kOmen2 kemuDianers yaNg laiN.

(dan SetiDaknya, lakUkanlah sedikid promosi terhadap kaRyamu ini, kArena kArya ini,
kuRasa layAk mEnemPati poiNT : <100)

salam,

panah hujan---recover

Writer radysha
radysha at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 34 weeks ago)
100

waah keren bangettt
jadi membayangkan situasi dalam pesawat itu. Diskripsinya baguus bangett...Jadi berimaginasi :D

Writer momocino
momocino at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 34 weeks ago)
100

Yup...sekali lagi..penggambaran latar n tokoh yang begitu hidup...buat penasaran(itu yg keren).ceritanya keren apalgi wktu Tommy dengan menebak bahwa Mr.Albert adalh polisi..pasti cool bgt..cocok dengan penggambaran si tokoh..sesuai deh

caiyooo...

Writer a1d4
a1d4 at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 35 weeks ago)
100

ga sabar nunggu lanjutannya nech. kebetulan gw suka banget cerita detiktif... keren bow... salam kenal

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 35 weeks ago)
100

Salu buat Abc, membaca ceritamu membuat pikiran segar.

Membayangkan sebuah trip dengan BA, dan mengimajinasikan tokoh2 dan percakapan di pesawat sangat luar biasa.

Ditungguh dech lanjutannya.

Writer cassle
cassle at The Invisible Prisoner (Chap. 1) (14 years 35 weeks ago)
100

mengingatkanku pada karya Doyle tentunya.. Sori ya kk, baru komen yang ini aja.. (yang nightmare blum selesai baca)..
Pertama, untuk di k.com, ada baiknya di pisah jadi beberapa part yang lebih pendek, mataku sampe melotot bacanya...
Untuk analisis, perkuat dengan bukti, istilah, dan penjelasan atas setiap kesimpulan supaya pembaca juga dapat bertambah pengetahuannya. Untuk deskripsi, nice. Oh, ada sdikit typos di Cathay Pacific Airways ya? ^^