The Invisible Prisoner (Chap. III : Finish )

III

Tommy kembali ke kursinya dan mendapati Albert Edison duduk dengan tangan yang menopang dagunya. Sambil melihat kembali identitas keempat orang yang dicurigainya dan meletakkannya di atas sebuah meja plastik kecil yang melekat di kursi depannya, ia berfikir.

“Bagaimana, Sir? Apakah Anda sudah mengetahui penyamaran dari narapidana itu?” tanya Tommy membuyarkan lamunannya.

“Belum,” jawabnya singkat.

Semangatnya yang tadi tampak membara, rupanya sedikit demi sedikit sudah terkikis habis, meninggalkan keputus asaan yang kini melanda jiwanya.

“Sebaiknya Anda teliti lagi tingkah laku mereka. Ada seseorang yang melakukan kesalahan kecil dan kesalahan itu malah berakibat fatal untuk penyamarannya sendiri. Kesalahan itu juga yang akan membongkar kedoknya.”

“Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti sedikitpun.”

“Tunggu...” kata Albert Edison tersadar akan kata-kata itu.

“Jangan-jangan kamu sudah tahu narapidana itu menyamar menjadi siapa?”

“Cepat katakan,” lanjutnya.

“Betul, saya sudah tahu siapa narapidana itu dan saya juga sudah tahu dia menyamar menjadi siapa.”

Wajah Pak Albert Edison yang tadi tampak cemas dan putus asa berubah seketika.

Come on boy, tell me! Cepat beritahu saya siapa orangnya?”

“Saya harus menangkapnya sesegera mungkin, agar tidak ada seorang pun yang terluka karena perbuatannya nanti,” rengeknya.

Tommy menghela nafas panjang dan mulai berkata, “baiklah saya akan memberitahu Anda. Tapi sebaiknya saya menjelaskannya kepada Anda lebih dahulu mengenai bagaimana saya mengetahui, bahwa dialah penyamaran dari tahanan yang melarikan diri itu.”

Ia mengambil nafas panjang lalu memulainya;

“Anda pasti sudah tahu bahwa tahanan itu ahli dalam hal penyamaran.”

Albert Edison mengangguk menyetujui.

“Tidak heran dia bisa kabur dari salah satu penjara di Inggris yang terkenal akan sistem keamanannya yang sangat ketat. Dan sekarang dia sedang menyamar menjadi salah seorang penumpang di pesawat ini. Namun, Anda kemudian mencurigai empat orang di antara para penumpang.”

“Betul,” Albert Edison setuju.

“Pertama adalah Edie John, seorang bisnisman. Yang kedua adalah Paul Osborn, seorang pegawai yang telah dipecat dari perusahaan tempatnya dulu bekerja. Ketiga adalah Schoot Heddington, seorang narapidana yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara. Dan yang terakhir adalah Peter Malvolk, seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ternama.”

“Sejauh ini rencananya memang berjalan dengan lancar, tapi dia tidak menduga bahwa akan terjadi suatu hal yang tidak sesuai dengan rencana yang telah ia susun sebelumnya.”

“Anda pasti ingat dengan kejadian Edie John yang tadi sempat terserang asma,” kata Tommy sambil menatap mata Pak Albert yang bulat dan besar.

“Iya, saya ingat.”

“Dia meronta-ronta dan jatuh tersungkur di lantai pesawat. Dia kemudian dibantu oleh Peter Malvolk. Kamu tidak berfikir bahwa dialah penyamaran dari tahanan itu bukan?” tanyanya menuntut. Alisnya kini ditekuk ke atas.

“Memang dialah orangnya. Dialah narapidana yang kabur itu. Apa Anda tidak melihat ada kejanggalan dari perbuatannya saat itu?”

“Perbuatan apa? Memangnya dimana letak kejanggalan atas perbuatannya itu? Lagipula apa buktinya?” Albert Edison makin heran dan tidak meyangka ia telah mengeluarkan serentetan pertanyaan itu.

“Bukti? Anda masih memerlukan bukti?”

Tommy memamerkan senyuman dan suaranya kini sedikit dimainkan.

“Bukankah Anda tadi telah melihat bahwa Peter Malvolk telah salah mengobati Edie John. Padahal penyakit yang diderita Edie John hanyalah penyakit asma. Anda tahu kan, bahwa penyakit asma disebabkan oleh penyempitan saluran pernapasan yang merupakan respon terhadap rangsangan, yang pada paru-paru normal tidak mempengaruhi rangsangan. Penyempitan saluran pernapasan itu dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, misalnya suhu atau udara dingin, meskipun masih banyak lagi rangsangan yang dapat mempengaruhinya.”

“Sangat tidak masuk diakal, jika seorang dokter tidak menyadari hal sekecil itu. Bukankah Anda pernah mengatakan bahwa dia adalah seorang dokter yang profesional. Apalagi dia bekerja di rumah sakit yang ternama. Tidak mungkin dia teledor dalam memeriksa penyakit seperti itu. Dengan hanya melihat saja, kita sudah dapat mengetahui penyakit itu.”

“Dari bukti-bukti itulah saya lalu menarik kesimpulan, bahwa tahanan itu menyamar menjadi dokter bernama Peter Malvolk.”

“Bagaimana kalau dia lupa? Mungkin dia sedikit gugup.”

“Itu sungguh tidak mungkin terjadi. Seorang dokter tidak boleh lupa, apalagi memiliki rasa gugup saat mengobati pasiennya. Mereka itu berperan atas nyawa seseorang. Hidup dan mati orang tersebut bergantung padanya, meskipun sesungguhnya sudah ada yang mengatur semua itu.”

“Tapi... sepertinya itu semua tidak bisa dijadikan bukti yang kuat,” Albert Edison sedikit pesimis.

“Pria itu sama sekali tidak tahu-menahu tentang kedokteran atau semacamnya. Waktu di bandara tadi, saya sempat berbincang-bincang dengannya. Dari sulaman NHS di tasnya saya bertanya kepadanya, apakah dia bekerja di Nationan Health Service, dia lalu menjawab benar, dia memang bekerja di lembaga kesehatan itu," ujar Tommy, kemudian melanjutkan, "Sudah tiga tahun dia bekerja di tempat itu. Namun ketika saya bertanya sekali lagi mengenai bagaimana pelayanan kesehatan lembaga itu dibiayai, dia menjawab bahwa NHS menerapkan sistem komersial dari para pasiennya. Katanya, ‘siapa yang masuk rumah sakit harus bayar. Itulah kewajiban yang harus mereka penuhi’,” Tommy mencoba menirukan.

“Itu tidak benar. Biaya pelayanan kesehatan bagi pasien di National Health Service, dibiayai oleh negara melalui pajak yang dipungut dari rakyat, sebab NHS merupakan lembaga kesehatan yang dimiliki oleh negara. Kalau begitu, berarti dia adalah...”

“Benar... Peter Malvolk adalah penyamaran dari narapidana itu. Dia mencoba membodohi polisi, tapi dia sendiri kena batunya. Sepertinya, dia tidak memikirkan lebih jauh mengenai hal itu. Mengenai latar belakang penyamarannya. Dia hanya terfokus pada penampilan fisik saja.”

Albert Edison tertawa beberapa saat, lalu berkata,

“Terimakasih, untung saja ada kamu yang membantu kami, sehingga bisa menangkap narapidana itu. Ternyata kamu memang mewarisi kejeniusan Ayahmu,” ia memuji.

Tommy tersenyum puas. Ia kembali bersandar di kursi empuknya. Menekan tombol lampu baca yang berada tepat di atasnya, kemudian membuka kembali halaman novel yang tadi baru setengah dibacanya. Bel pemberitahuan berbunyi lagi. Suara pramugari yang tadi melapor, kembali terdengar lagi.
“Beberapa menit lagi, kita akan segera mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Silahkan memasang sabuk pengaman dan menegakkan kursi Anda. Terimakasih.”

>FINISH<
~to be contiue next episode...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

keren.... tapi chap kedua gue udah bisa nebak siapa pelakunya....
keliatan banget klo tommy fokus pada si plaku

KEREN !!!

90

good.. tapi pelakunya masih gampang ditebak! jangan terlalu gamblang memberikan clue tentang pelaku sebenarnya kepada pembaca, lebih baik sedikit disembunyikan.. tokoh-tokoh lain yang juga dicurigai sebagai pelaku sebenernya masih bisa dieksplor lagi.. *hehee, maafkan kesoktahuan saia.. =D
terus menulis, SEMANGAT!!

100

cukup menegangkan... ^_^

100

hehehee gue suka :D

100

Tak kusangka Pelakunya malah Peter..

salah deh dugaanku

anyway...everything is prefect bro...

gila...keren lho

i tunggu cerita yg lain...aku ngefans ama Tommy..hehehe

caiyoo

100

100

terimakasih atas semua komentarnya.
terimakasih gw ucapin bwat:
>> Bamby Cahyadi
>> radysha
>> a1d4
>> elbintang
>> panah hujan
>> djava_wong ; memang klo cuman baca dari bab III agak membingungkan dan terasa sudah mengetahui pelakunya, masalahnya ini memang cerita finishingnya. tapi coba baca juga bab ke I dan II.

90

ceritanya sudah ok, tapi kurang seru soalnya pelakunya masih gampang di tebak. Mungkin perlu beberapa pengalih perhatian sehingga akhir ceritanya ntar bisa ngagetin yang baca

90

terima kasih telah menyajikan sampe the end :-)

crita yg menarik dan suwer...
nunggu ada pemberitahuan kapan dibukukan! :-)
-----------------------------
salute!

100

brillian....gw suka banget nech sama ceritanya.salam kenal y ABC

100

selesai yaaa (:D)
Yup, ABC ditunggu cerita2 selanjutnya ...

100

Lha, kok udah tamat??? Tapi ditunggu cerita lain dari ABC lagi.
Excellent story, i like it!