Black Black Thursday

Aku dimana?
Ngapain aku tiduran disini?

Aku mengerjapkan mata, berusaha mengingat-ingat dimana aku berada dan sedang apa aku disini. Keadaan di sekitarku gelap, hanya sesekali lampu neon di salah satu sudut ruangan menyala, lalu sedetik kemudian mati lagi. Sepertinya lampu itu sudah korslet atau apa.

Cahaya lampu neon yang cuma setengah-setengah itu ngga cukup buat aku mengenali ruangan tempat aku berada, yang jelas aku terbaring kaku di atas lantai kotor yang penuh debu. Aku sama sekali ngga bisa ngerasain tangan, kaki atau bahkan jempolku. Kayaknya semua sarafku mati rasa.

Aku kembali mengingat-ingat...

Oh ya, ini hari pertamaku kerja. Masih jadi staff bawahan yang kerjanya disuruh-suruh sih, tapi kan tetap aja. Kerja gitu loh, usaha buat dapat uang dari hasil keringat sendiri. Aku ngga tau buat orang lain tapi aku sih bangga banget, meskipun harus pindah ke Jakarta dan sementara harus jauh dari keluarga.

Tapi, kenapa aku malah tiduran di ruangan gelap dan pengap ini

Namanya juga hari pertama kerja, masih pengenalan. Baru dikasih tugas-tugas ringan yang sebenernya ngga perlu keterampilan seorang sarjana lulusan universitas negeri seperti aku buat ngelakuinnya. Fotokopi dokumen, ngetik surat-surat ngga jelas, sampe ngisi tinta printer yang habis, dan...kalau nggak salah untuk keperluan itulah aku ada di ruangan pengap ini. Ngambil tinta printer di gudang inventory yang letaknya di basement gedung.

Ah...bener! Basement gedung. Gudang tempat nyimpen barang-barang inventaris kantor, and then...?

Aku ingat keluar dari lift dan belok ke bagian belakang gedung, tempat tangga darurat yang mengarah ke basement berada. Sedikit-sedikit aku melirik peta yang digambar secara asal di bekas bon fotokopian oleh salah satu seniorku di kantor—yang nyuruh aku ngambil tinta printer itu.

Aku memutar kunci dan membuka pintu gudang. Ruangan didalamnya sempit dan agak gelap. Sebuah lampu neon panjang yang tergantung miring di salah satu sudut jelas nggak bisa memberi penerangan yang cukup untuk ruangan pengap itu. Aku memandang berkeliling, selain sempit ruangan itu juga penuh sesak sama rak-rak berisi file-file lama dan kardus-kardus berisi entah apa.

Katanya, tinta printer itu disimpan di rak paling kanan, yang menempel di tembok.

Aku berjalan ke rak yang dimaksud dan mulai menyisiri dari bawah ke atas, mencari tinta printer yang dimaksud, dan...

“Ah...ini dia,” gumamku pelan waktu itu sambil menghela nafas lega dan mengambil dus ink cartridge yang dimaksud.

Aku baru mau berbalik dan berjalan ke arah pintu waktu tiba-tiba aku mendengar suara seperti ledakan yang sangat keras. Ruangan tempatku berada seketika berguncang sangat keras, dan...dan...

Aku ngga inget apa-apa lagi sampai aku membuka mata dan menemukan tubuhku terbaring kaku diantara bongkahan langit-langit yang runtuh, rak-rak yang ambruk, dan lembaran-lembaran kertas yang berserakan.

Ah...ya...ledakan itu.

Ledakan sekeras itu, yang pertama kali terlintas di otakku kemungkinan besar sih ada bom lagi, dan mungkin sekarang diluar sana dunia sedang heboh. Yah kalo memang begitu kejadiannya, semakinlah Indonesia dicap sebagai sarang teroris, padahal menurutku sih belum tentu orang Indonesia beneran yang mendalangi semua pemboman itu.

Aku menghela nafas kesal lalu mencoba bangkit—yang ternyata dapat aku lakukan tanpa kesulitan sedikitpun, meski sebelumnya aku agak ragu karena hampir ngerasa mati rasa.

“Untung...gue masih hidup dan ngga kena cedera apapun,” gumamku sendiri sambil mencoba berjalan melewati rak-rak yang roboh ke arah pintu.

Aku menggenggam pegangan pintu dan memutarnya, tapi ngga ada yang terjadi. Pintu di depanku ngga bergerak sedikitpun, meskipun setelah itu aku nyoba narik-narik sekuat tenaga, ngedobrak, bahkan sampai nyongkel-nyongkel kuncinya, pintu itu tetep ngga nunjukkin tanda-tanda mau ngebuka.

Gawat! Aku ngga mau mati konyol kekeram disini. Udah selamat dari ledakan bom, tapi mesti mati cuma gara-gara ngga bisa ngebuka pintu kan ngga lucu banget.

Aku pun mengubah strategi dengan menggedor-gedor pintu sambil berteriak minta tolong sekeras mungkin, siapa tau ada orang yang kebetulan lewat dan ngedenger, tapi tetep aja...

Aku menghela nafas pasrah sambil merosot di pintu, dan mulai terisak.

Aku belum mau mati...

Hidupku baru aja dimulai. Ini masih hari pertama aku kerja. Belum ada apa-apanya. Aku belum ngehasilin apapun dalam hidup, belum bisa ngebalas semua yang udah dikasih papa dan mama, masih ngerasa belum ada gunanya sebagai manusia.

Aku belum jadi siapa-siapa.

“Tuhan...aku ngga mau mati disini...” aku meratap lirih.
Seperti menjawab permohonanku, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari balik pintu. Aku buru-buru bangkit dan kembali menggedor-gedor pintu sambil berteriak minta tolong.

Beberapa saat kemudian pintu di hadapanku terbuka, beberapa sorotan lampu senter menari-nari menerangi ruangan.

“Aduuuh...terimakasih, Pak! Saya kira saya bakal mati disini,” aku menghela nafas lega saat beberapa orang petugas berseragam masuk ke dalam ruang gudang.

“Coba cari di sekeliling ruangan, siapa tau ada korban yang masih hidup,” ujar seorang petugas yang tampaknya pimpinan dari mereka.

Para petugas itu menyebar ke seluruh gudang, sementara pimpinan mereka berdiri mengawasi di dekatku.

“Saya gimana, Pak?” tanyaku bingung karena ngerasa dicuekin.

Petugas di depanku menoleh sekilas ke arahku, sebelum tiba-tiba salah satu anak buahnya berteriak, “Sebelah sini, Pak!”

Aku mengikuti petugas di depanku yang bergegas menuju sisi kanan ruangan dengan heran, rasanya selain aku nggak ada orang lain di ruangan ini.

“Kami menemukan satu korban, Pak. Tampaknya meninggal seketika saat ledakan terjadi,” ujar salah satu petugas yang berjongkok di sisi kanan ruangan.

Oh my god! Jadi selama ini aku seruangan sama mayat dan nggak nyadar sedikitpun?!

Aku berusaha berjinjit agar bisa mengintip sosok mayat itu. Badan para petugas itu rata-rata besar dan tinggi, aku harus menunggu sampai sang pimpinan membungkuk untuk memeriksa kondisi jenazah, baru aku bisa melihat sedikit mengintip.

Seketika sekujur tubuhku merinding saat melihat sesosok tubuh kaku yang disorot oleh beberapa lampu senter sekaligus itu.

Ini ngga mungkin... Mana bisa kejadian kayak gini?

Aku kenal tubuh yang tergeletak kaku, setengah tertimpa rak itu. Kenal setiap incinya, kemeja putih yang dipakainya, rambut sebahunya yang terikat, setelan blazer yang baru dibelinya untuk hari pertama kerja, cincin tunangan di jari manis kirinya.

Tubuh itu...tubuh itu...tubuhku...!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer andrea
andrea at Black Black Thursday (13 years 47 weeks ago)
70

_The Others_, _The Sixth Sense_, _Mirror_; topiknya lebih ke _afterlife_ dibanding _cause of death_. _Out-of-date_ ato gak, itu bukan faktor. Tapi gantilah narasi sebelum mencapai 'Aku baru mau berbalik dan berjalan ke arah pintu [...]' dengan topik seputar _strangulation_, _attempted burglary_, _traffic accident_, maka ceritanya tetep jalan untuk mempresentasikan plot yang sama.

By the way, why does it have to be Thursday anyway?, if it refers to anything at all? Ato hari pertama masuk kerja adalah hari Kamis?

Juga ketika 'aku' memutar pegangan pintu, apakah 'aku' merasakan benda keras di telapaknya?, apakah pintunya berbunyi? Kalau ya, berarti arwah, nyawa, apapun itu, bisa menggerakkan material. Demikiankah?

Tapi narasinya, sungguh, ditulis dengan indah. Gue fan berat 'aku' dengan cara seperti ini.

Writer blackbutterfly
blackbutterfly at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)
70

Wah setelah baca niy cerpen jadi igt sama dunia kerja niy...endingnya ga keduga d..cerpennya lumayan,keep trying yah buat menghasilkan karya yang lebih okeh lagi^_^

Writer Alfare
Alfare at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)
80

Pres, gini deh. Sejauh ini, seserius APAPUN adegan yang kamu gambarin dalam cerita-ceritamu yang udah kubaca sejauh ini, entah karena apa, aku pasti ketawa.

Yang ini bukan pengecualian. Tapi ini muji lho! Betulan!

Writer opiendhut
opiendhut at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)
80

cukup salut karena saya sendiri terkadang juga masih bingung dengan penggambaran suasana setting cerita agar cerita menjadi lebih hidup dan menghayati. but overall that's good..:)

mohon kritik&masukan utk critaku jg yaa..
lgsg kasi comment aja ke opiendhut, ok??

Writer preschelle
preschelle at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)

heu trnyata emang ya gwbaru notice kalo nulis yang pendek2 gini emang trlalu takut nyelamin tokohnya.
whew, thanks so much for all the comments, guys!
appreciate it.

heu ketebak ya? sial!tar bikin lagi ah =D

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)
90

Ak serasa baca cerita misteri favoritku dech... =)

Walau endingnya mudah ke tebak, tp menurutku keren bgt ceritanya =)

keep writing ya n ak tggu karya2 ky gni lg ^_^

salam knal n k0men tulisanku jg ya,,,

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)
80

Bagus...

Writer elbintang
elbintang at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)
80

dari awal, kerna sudah dikasih prolog ini ada kitannya dgn bom-bom, maka di tengah saya sudah bisa menebak ending yg biasanya bakal di pilih...
dan yup! benul! :-) ...

ada baiknya kerna tema-tema ini sudah makin menjamur...
bikin beda dikit...
misalnya pas mayat si aku itu disorot senter...si bayang menggigil dan langsung menyadari itu tubuhnya dan berusaha untuk masuk "membangunkan" tubuhnya namun terperangkap di dalamnya..
he he he... itu kalu saya yg nge re-write...
kalu kamu pasti bisa lebih dahsyat lagi idenya..
--cheers!--

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)
90

Betul, aku setuju komen Villam, sebagai "aku", dikau masih ragu mendeskripsikan bahwa "tokoh" yang ternyata sudah jadi mayat adalah dirimu.

Sehingga penceritaan di tengah, masih kurang dramatis, unsur magis-nya masih hambar.

Tapi untuk ceritamu 9 deh.

Writer Villam
Villam at Black Black Thursday (13 years 51 weeks ago)
80

menarik...
tapi, mungkin bisa dibuat lebih dramatik lagi, terutama pas terjadi ledakan. kamu terlalu cepat bercerita di sana.

maaf, preschelle, tapi kurasa dirimu belum benar-benar masuk ke dalam tokohmu, begitu masuk ke adegan kedua, setelah terjadi ledakan. masih kurang sedikit lagi, menggunakan segenap inderamu dan mengeluarkan emosimu.

yeah... supaya ceritanya bisa lebih menegangkan lagi. hehe... perasaanku saja lho. pembaca lain mungkin berbeda...