Takdir Laila

TAKDIR LAILA

Laila berjalan melawan angin, melangkahi rerumputan dan ilalang yang mengering karena kemarau. Gadis remaja itu melangkah memasuki pintu rumah mungilnya yang kini terbuka lebar. Angin yang berhembus kencang membuat pintu yang engselnya mulai berkarat itu bersuara berdecit layaknya rintihan seekor tikus. Laila mengamati sekitarnya. Rumahnya kini begitu sepi tanpa ada satupun lampu dinyalakan. 'Gelap sekali' Dia memaki dalam hati.

Laila memasuki dapur keluarganya. Tak ada kompor menyala ataupun asap mengepul dari setiap panci yang ada. Laila melihat salah sebuah panci, yang bagian bawahnya sudah menghitam karena jelaga. Dia mengenang, ibunya selalu memasakkan bubur kacang hijau setiap sabtu sore dengan panci itu, Laila membencinya dan tidak pernah mau memakannya. Tapi entah kenapa saat ini dia begitu ingin makan bubur itu. Dia tidak pernah sadar sudah berapa lama dia tidak bertemu dengan ibunya. Laila hanya tahu dia selama ini tersesat, dia terus berjalan dan berjalan entah dari mana sampai akhirnya tanpa sengaja menemukan rumahnya. Dia merasa rindu sekali.

Laila menyentuh kompor itu. serta merta perasaan sesak menguasai dadanya. Dia cepat-cepat menjauh karena takut dengan tangan gemetar. Laila kembali teringat kejadian beberapa minggu lalu di rumah ini. Ketika itu Laila sedang bertengkar dengan kakak perempuannya. Dia iri sekali mengetahui Ayahnya membelikannya mobil.

“Buat apaan sih pake dibeliin mobil segala! Giliran Laila minta dibeliin komputer baru nggak pernah dikabulin! Rajuk Laila emosi. Benak Laila mengenang dialog yang pernah terjadi di rumah itu.

“Safira kan kuliahnya jauh di depok, lagian papa belinya mobil bekas kok. komputer kamu kan masih bisa dipakai!” Argumen Ayah Laila tidak mau mengalah.

“tau nih Laila, kakak kan butuh, lagian kakak nggak maksa papa beliin kok” Safira membela diri.

“komputer Laila layarnya suka kedap-kedip, papa belinya bekas sih, padahal kalau beli baru harganya nggak beda jauh!” kata Laila ketus.

“iya papa tahu, nanti ya kalau sudah ada uang. Sementara kita servis aja ya?” bujuk ayah Laila.

“nggak mau! Laila sebel!” pembicaraan itu diakhiri dengan suara pintu kamar Laila yang ditutup dengan keras.

Laila tersentak dari lamunannya, perasaan kesal dan iri hati meluap dari dadanya. Dengan geram Laila beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Lantai yang mulai berdebu di sana-sini membuat laila risih. 'Kemana sih semuanya? Kenapa rumah bisa kotor gini?' Laila mengomel dalam hati. Dia cukup heran tatkala melihat pintu kamarnya yang selalu dikunci kini terbuka lebar.

Laila langsung melihat Safira sedang membelakangi punggungnya. Di sisinya ada Raffi, teman kuliah sekaligus kekasihnya. 'Ngapain mereka berdua-duaan di kamarku? Liat aja bakalan saya aduin ke mama' Bisik Laila geram dalam hati. Safira tampak sedang mengeluarkan baju-baju Laila dari lemarinya dan menumpuknya, entah untuk apa. Mata Laila melihat sepotong gaun menggantung di lemarinya. Gaun biru yang seharusnya dia kenakan di hari pernikahan tantenya yang sudah berlalu.

Perang antara dia dan kakaknya berlangsung berhari-hari. Seluruh keluarga tampak tetap berpihak pada Safira. Mereka bersikeras mempertahankan mobil Safira tanpa mempedulikan perasaan Laila. Ketika itu seluruh keluarga sedang bersiap-siap pergi ke resepsi pernikahan tantenya.

“Laila nggak ikut” kata laila tegas sambil menyuapkan sesendok es krim rasa coklat belgia kegemarannya.

“jangan begitu dong sayang” Ibu Laila membelai rambut putrinya yang masih belia, bersaha membujuknya dengan kelembutan.

“biarin ma, nanti kita bungkusin makanan aja” kata Safira dengan maksud menggodanya.

“nggak butuh!”

“masih marah ya?” Tanya papanya yang sedang membetulkan dasi. Laila tidak menjawab.

“terserah kamu deh kalau gitu, ada sop jagung di kompor, kalau mau makan panasin aja ya?” sahut Ibunya. Laila mengangguk cuek.

Laila merengut sebal ketika mengingat tingkah kakaknya tempo hari. Niat jahil seketika muncul di pikirannya, dia berniat mengagetkan Safira dari belakang. Dengan seringai nakal dan niat membalas dendam, Laila mengendap-endap mendekati kakaknya. Beberapa langkah lagi dia akan berhasil melancarkan serangannya. Satu…dua…

“jangan sedih terus fir” kata Raffi lembut.

Langkah Laila terhenti, Laila tercekat ketika melihat bulir-bulir air mata di pipi Safira. Matanya bengkak pertanda bukan sekali ini dia menangis. Kini kemarahan Laila tertuju pada Raffi, yang dia duga telah menyakiti hati kakaknya. 'Kurang ajar! Safira habis diapain tuh?' Umpat Laila.

“kalau saja aku, papa, dan mama tidak pernah merencanakan kejutan itu untuknya, kalau saja kami tidak pernah menyembunyikan apa-apa darinya…dia…dia pasti ikut ke resepsi” Isak Safira sesenggukan.

“ini namanya takdir” kata Raffi berusaha menenangkannya. Laila tidak mengerti apa yang tengah kakaknya bicarakan. Kenapa Safira membicarakan dirinya? Laila sekali lagi mengamati kamarnya. Dia sadar penglihatan matanya telah luput dari sesuatu. Meja belajar yang terletak di samping tempat tidurnya kini memiliki penghuni baru. Sebuah komputer baru! Laila nyaris melonjak kegirangan namun berhasil diredamnya.

“aku dan papa membelikannya untuk Laila sebelum pernikahan tante, kami sengaja pura-pura keras kepala biar Laila lebih surprise dan senang melihatnya” Laila terharu, air mata mengambang di pelupuk matanya, dia memuji ketulusan keluarganya. Dia menyesal telah salah kaprah selama ini, ternyata keluarganya begitu mencintainya. Laila berjalan mendekati kakaknya berusaha memeluk pinggangnya dari belakang untuk menunjukkan rasa sayang dan maafnya. Tapi tubuh Safira lolos dari sentuhannya. Laila bengong.

“Dokter yang mengautopsi jasadnya bilang Laila keracunan gas, aku yakin Laila ceroboh tidak mematikan kompor dengan benar waktu memanaskan makanan” isak Safira lagi sambil memeluk tumpukan pakaian Laila, yang rupanya tengah dikemasnya untuk disimpan.

Laila hanya bisa berdiri mematung, sambil bergantian menatap antara kakaknya yang tengah menangis karenanya dan seperangkat komputer baru idamannya yang tidak akan mungkin pernah disentuhnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer eraindrop
eraindrop at Takdir Laila (11 years 40 weeks ago)

weu... keren sis... tidak menyangka akhirnya begitu dramatis.. >.<

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Takdir Laila (13 years 17 weeks ago)
100

Jadi laila gak sadar kalau dia tuh dah mati ya... kasihan sekali. :''(

rip8 at Takdir Laila (13 years 33 weeks ago)
80

bagus^^

salam kenal ya lihat karya saya juga ya^^

Writer dimaz1305
dimaz1305 at Takdir Laila (13 years 41 weeks ago)
50

gw baca ni drama lumayan ke bawa

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Takdir Laila (13 years 50 weeks ago)
80

Writer ono
ono at Takdir Laila (13 years 50 weeks ago)
80

aku sempat mw nungis niy bacanya.....
comments punya aku juga ya.. :)

Writer someonefromthesky
someonefromthesky at Takdir Laila (13 years 50 weeks ago)
80

Entah kenapa ya? Saat ngebaca judulnya dan 1-2 paragraf awal, udah bisa ketebak kalo Si Layla yang diceritain udah meninggal. Mungkin karena cerita dengan pola kaya begini lumayan banyak juga. Tapi di luar itu, gaya penceritaannya asik kok, deskripsi cukup detil. Yang menarik dari endingnya adalah tentang komputer baru itu lho. Kesimpulannya, selain masalah Laila yang gentayangan, cerita ini punya pesan moral yang mendidik!

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at Takdir Laila (13 years 50 weeks ago)
80

"Laila langsung melihat safira sedang membelakangi punggungnya"

menurutku kalimat yg ini janggal dech...

Bagaimana mgkn laila bs melihat safira jika safira menghadap kearah yg sebaliknya dr laila,,,

menurutku kalimat yg tepat "laila langsung melihat safira sedang memunggunginya"

itu menurutku loch, mdh2an bener...

Keep writing n k0men karyaku jg ya ^_^

Writer you_know_who
you_know_who at Takdir Laila (13 years 50 weeks ago)
80

Tragiisss..tapi bgus kuq..apalagi endingnya..punya psen moral yg bgus bgtt..nice!
:)
Komen pnya saya y..d ..
tq..