Perbedaan Usia

Hari ini aku merasa binggung dengan keadaan yang sedang terjadi, mataku merah dan tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Walaupun telah kuseka berpuluh-puluh kalipun air mata ini masih saja terus mengalir seperti aliran air yang tidak pernah kering. Aku binggung karena mengapa di jaman semodern ini aku masih harus berhadapan dengan kepercayaan orang jaman dahulu.

Bukan mudah bagiku untuk mendapatkan cintanya. Sejak dari SMP aku sudah mulai menyukainya tapi perasaanku tidak pernah terbalas. Dia selalu menganggap aku sebagai gadis kecil yang selalu mengekorinya. Yansen, tetanggaku dia lebih tua dari pada aku dan sudah menjadi teman bermainku dan abangku sejak kecil.

Hubungan kami sudah sangat dekat sejak dulu tapi dalam artian hanya sebagai sahabat dan mungkin adik kecil baginya. Hubungan kami mulai menunjukkan perkembangan sejak aku patah hati beberapa sbulan yang lalu. Aku yang sudah tidak berani berharap lagi Yansen akan membalas perasaanku mulai jatuh cinta pada seorang pria yang sering datang ke apotik tempat aku bekerja. Dia adalah sales yang menawarkan produk-produk obat, Bima. Pria yang ganteng, ramah, supel dan baik hati dan yang pasti dia sangat sopan. Dia selalu memberi aku perhatian yang lebih. Mau mengantarkan aku pergi kuliah setelah aku pulang dari menjaga apotik. Menawari bantuan bila aku sedang kesulitan. Entah mengapa dari hubungan sebagai teman itu, aku mulai suka padanya. Tapi sialnya hubungan kami tidak bisa berjalan dengan mulus. Dia berbeda kepercayaan denganku. Aku tidak menginginkan dia terpaksa pindah kepercayaan karena aku demikian juga sebaliknya. Tapi yang jelas dia begitu teguh pada pendiriannya soal kepercayaannya.

Aku mulai curhat kepada Yansen mengenai hubunganku dengan Bima. Dia selalu memberikan perhatian, memberikan nasihat-nasihat yang terdengar baik ditelingaku. Pada satu ketika saat aku menceritakan kalau Bima ingin aku jadi kekasihnya dan berharap aku mau mengikuti dia, Yansen mulai terlihat gusar dan kesal. Dia berkata agar aku segera mengakhiri semua hubungan aku deengan Bima. Semula aku tidak senang dengan kata-katanya. Sesaat kami terdiam, setelah kesunyian yang pnajang itu Yansen mulai berkata dedngan lembut, “May, maafkan atas kelakuanku tadi. Kata-kataku yang kasar tadi. Aku tahu kalau aku tidak boleh bersikap begitu terhadap dirimu. Tapi bolehkah aku jujur padamu, selama ini setiap kali kamu bercerita tentang Bima rasanya hatiku terbakar dan ingin marah. Tapi karena kamu begitu baik kepadaku dan sudah menganggap aku sebagai abangmu aku tidak berani menganggu keberadaan ini. Aku tidak berani berkata kalau aku suka padamu dan tidak ingin memberikan kamu pada orang lain. Tidak ingin menjagamu hanya sebatas sebagai abang yang setiap saat harus siap bila adiknya akan memiliki pacar. Aku ingin menjadi pacarmu bukan hanya seperti ini,” kontan saja aku kaget mendengar ucapannya.

Aku tertawa dan berusaha tetap tenang. “Jadi ini serius atau bukan? Bukan hanya perasaan sesaat?” Yansen menarik tanganki dan berkata lagi, “Masa kamu tidak percaya?” aku mengangguk pelan dan tersenyum kepadanya. Akhirnya kisahku dengan Yansen dimulai dan kututup kisahku dengan Bima. Inilah yang kuimpikan sejak dulu.

Hari itu perasaanku berbunga-bunga, kata temanku saat aku menceritakan kepadanya dia merasa aku seperti berenang di kolam berisi beribu-ribu bunga. Aku tidak perduli dengan kata-katanya. Dia menyuruh agar aku tidak boleh terlalu terbuai mimpi, dan harus lebih berpikir rasional. Saat itu aku tidak perduli, tidak ada satupun yang dapat menghentikan langkah kami rasanya semua gerbang dapat kami dobrak.

Sebulan setelah kami jadian dia berangkat ke Jakarta untuk bekerja, sungguh menyedihkan. Perasaanku saat itu seperti seorang pengantin muda yang harus ditinggal suamiku tapi apa boleh buat. Kami terus saling komunikasi melalui telepon, sms dan e-mail. Jadi bagiku tidak ada masalah dengan semua itu.

Adiknya Yansen mulai mencium ada perbedaan dalam hubungan kami. Yudi mulai menginterogasi aku. Dan akhirnya aku mengakui kalau aku sudah berpacaran dengan Yansen, abangnya. Yudi berkata “selamat” tapi ekspresi wajahnya terlihat aneh. Apa yang sedang aku pikirkan, tak mungkin kalau dia tidak suka dengan hubungan kami. Kami berteman baik sejak dulu, dia hanya berbeda satu tahun usianya denganku dan bagiku dia seperti teman yang sangat baik yang bisa diajak bergurau dan berbagi cerita.

Berita hubunganku dengan Yansen diketahui oleh abangku, dia menelepon Yansen dan mengancamnya “Awas kalau adikku sampai menangis akan kuhajar kamu” aku gembira karena abangku tidak marah dengan hubunganku ini. Hanya Yudi saja yang tetap terlihat tidak senang.

Suatu hari ibuku memanggilku dia meminta aku untuk duduk dan mendedengarkan penjelasannya. “May, sekarang kamu sudah dewasa dan sudah menjadi gadis yang cantik. Tidak pernah ada seorang ibu pun yang ingin menghancurkan kebahagiaan anaknya. Tapi ibu mohon kepadamu untuk melupakan Yansen. Hubungan kalian tidak lah baik. Kalian tidak cocok” Aku merasa kesal tapi perasaanku sebagai seorang anak yang baik masih kujaga. “Ibu, dapatkah ibu memberi aku penjelasan yang lebih mendalam. Mengapa ibu melarang kami? Kalau semua yang ibu katakan masuk akal dan memang yang terbaik untuk kami tentu akan May lakukan. Tapi ibu tahukan kalau May benar-benar suka sama Yansen. Dan Yansen juga bukanlah pria yang jahat, ibu mengenalnya sejak kecil dan bahkan selalu berkata kalau akan lebih baik kalau kami berdua menjadi pasangan, jadi mengapa saat ini menolak dan meminta aku mengakhiri hubungan yang baru saja kami bangun dengan susah payah ini?”

Ibu terdiam sejenak, kemudian dia berkata “Ibu sudah bertanya kepada abangmu, Yansen dan kamu berbeda 3 tahun usianya dan itu tidak baik menurut hitungan kita. Pasangan yang memiliki beda usia 3, 6 dan 9 tidak akan berlangsung langgeng. Setiap saat akan terjadi percekcokan, setiap saat akan terjadi permasalahan dan akan berakhir dengan tidak bahagia.” Aku berpikir dalam hatiku, aturan macam apa ini. Datang darimana aturan seperti ini? “Ibu, walaupun kami memiliki perbedaan usia 1,2 atau berapapun kalau kami tidak bisa mencocokan diri tetap saja tidak akan langgeng. Dan orang yang perbedaan usia pasangannya selain 3,6 dan 9 tahun pun selalu bertengkar dan berakhir deengan kisah yang sedih juga. Ibu saat ini kita tidak perlu memperhatikan hal-hal seperti ini lagi.”

Ibuku memandangiku dengan kesal,”Ibu hanya ingin yang terbaik bagimu. Kamu lihat tantemu dia berusaha tidak memperdulikan aturan ini juga, kamu lihat sekarang kehidupannya. Dia hidupnya mendedrita, setiap hari dia bertengkar dengan suaminya. Dan kamu juga bisa lihat banyak sekali contoh-contoh hidup yang bisa kamu ambil dan pelajari. Rata-rata berakhir deengan perpisahan yang menyedihkan,” ibu terlihat sangat kesal. “Ibu kita hidup di jaman yang sangat modern jadi saya rasa aturan yang sudah lama itu sudah tidak perlu dijadikan acuan lagi. Saya rasa aturan-aturan lama itu dibuat oleh orang-orang dulu dan hanya untuk kepentingan mereka dulu. Kita orang-orang yang hidup di jaman sekarang, aturan itu hanya akan mempersulit langkah dan gerak kita. Ibu bisa lihat aturan tentang pantangan ini dan itu semua itu tidak ada benarnya!” ucapku deengan suara yang agak meninggi.

“Mungkin bagi kalian anak-anak jaman sekarang semua aturan lama itu hanyalah peraturan yang sangat menyusahkan. Tapi bagi ibu itu adalah petuah dan akan ibu jalankan. Ibu melihat dan menyadari sendiri sebagian besar dari tat aturan yang menurut kalian sudah kuno itu ternyata berguna dan baik bagi kehidupan kita. Lebih baik dari pada aturan-aturan baru jaman sekarang. Terserah kamu, apakah kamu mau mengikuti pendapat ibu atau tidak. Kamu sudah besar dan sudah mengerti apa yang harus kamu lakukan. Tentukan sendiri, ibu tidak ingin dianggap sebagai orang tua yang jahat!” ibu berlalu pergi dariku. Dia berjalan dengan pelan meninggalkan kamarku. Meninggalkan aku yang masih termenung dan terdiam. Tangisku meledak setelah ibu pergi. Aku tidak ingin mengecewakan ibu, dilain pihak aku tidak ingin kehilangan cinta yang sudah kuperjuangkan.

Hari ini air mataku kembali mengalir. Sudah seminggu sejak ibu mengatakan itu, sejak saat itu juga aku tidak membalas sms, e-mail dan telepon dari Yansen. Yansen berusaha menghubungi aku tapi tidak pernah kujawab. Saat ini yang kuperlukan adalah ketenangan dan aku ingin mencari jawaban di dalam hatiku dulu.

Aku mencoba menghubungi temanku, aku mencari tahu pendapat darinya. Kuceritakan betapa aku kesal deengan pendapat ibuku. Sejak awal aku pacaran dengan Yansen aku sudah pernah mendengar kalau hubungan pasangan yang memiliki beda usia 3,6 dan 9 tahun tidak akan berjalan baik. Tapi bagiku yang sedang berbunga-bunga semua itu tidak kuperdulikan. Helen teman baikku, memberikan pendepat agar aku menenangkan diri dan mencoba merenungi apa kata-kata dari ibuku. Kemudian bicarakan dengan Yansen, tanyakan pendapatnya. Lalu carilah contoh-contoh hidup dari pasangan yang bernasib seperti kami. Carilah dan yakinkan ibuku kalau ada pasangan yang berakhir bahagia walaupun menentang aturan ini.

Hari ini aku bulatkan tekadku untuk menelepon Yansen. Aku berdiri didepan meja riasku, mataku memandang hp-ku yang mungil dengan lampu yang terus berkedip-kedip. Aku mencoba meraih hp-ku tapi sesaat sebelum jariku menyentuh hp itu, ada dorongan dari dalam diriku untuk menghentikan semua tindakanku. Otakku dan tanganku tidak berjalan senada.

Jantungku bedegub kencang, aku terperanjat kaget saat mendengar deering sura hp-ku. Saat kulihat ternyata Yansen yang meneleponku, perasaanku semakin kacau. Aku mengambil hp dan mereject panggilannya. Beberapa saat kemudian Yansen kembali meneleponku, mau tidak mau aku menerima telepon darinya. “Halo, apa kabar cayang?” suaranya hari ini bagaikan air cuka yang menyirami lukaku. Tidak seperti biasanya, suaranya terasa membuat aku akan mencucurkan airmata lagi. “Kok, diam sih cayang?” aku diam tak berdaya. “Kalau boleh tahu nih, kenapa teleponku kok tidak pernah diangkat, e-mail dan sms-ku tidak pernah dibalas? Lagi kesel ya? Aku ada bikin salah apa nih?” lagi-lagi aku terdiam. Bagaimana mungkin aku bisa menceritakan semua yang kualami sekarang. Helen sih mudah Cuma memberikan saran ini dan itu tapi pelaksanaannya kan aku, dan aku tidak sanggup. “May, ngomong dong May, boleh kok ngomong,” dia mengoda aku dengan gaya bahasa iklan di tv. “Yansen, ...” suaraku hilang lagi. “Ada apa deenganmu? Suaramu sepertinya .... kamu nangis ya?” aku sudah kehilangan semua keberanian yang kukumpulkan. Akhirnya tangisku pecah lagi. Aku menceritakan semua yang aku alami minggu ini sambil diselinggi suara tangis. Yansen mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengumamkan kata o..., lalu, ya, jadi ... sepertinya dia tidak menanggapi serius kata-kataku. Setelah semua ceritaku selesai dengan mudahnya Yamsen berkata “Ya sudah, kalau begitu kita putus saja. Kita kembali lagi ke hubungan sebelum kita pacaran!”

Hatiku kesal sekali, saat itu juga aku menutup teleponnya. Dan sudah seminggu sejak telepon itu kami tidak pernah ada komunikasi lagi. Dia juga tidak berusaha menghubungi aku melalui sms ataupun e-mail semua hilang begitu saja. Ibuku senang saat mendengar aku dan Yansen putus. Dia berkata itu jauh lebih baik, dan dia menyakinkan pasti ada jodoh yang lebih baik untukku yang cocok dengan shio dan umurku. Dia mulai membuka-buka album foto lama, dan berusaha menjodoh-jodohkan aku dengan anak dari teman-teman lamanya.

Ternyata Yansen juga mendapatkan larangan keras dari orangtuanya, dan dia lebih memilih mempercayai aturan jaman dulu. Tapi aku masih tidak dapat percaya, dengan mudahnya dia melupakan aku? Setelah kata-kata yang indah dan perasaan yang dia berikan kepadaku? Sedikitpun dia tidak berusaha untuk memberikan penjelasan kepadaku! Aturan yang tetap ada hingga kini. Dan akhirnya aku juga mau tidak mau harus mengikuti aturan itu secara tidak langsung. Yang ingin aku ketahui apakah benar semua aturan itu benar adanya? Apakah di jaman semodern ini masih ada aturan seperti itu?

Sampai saat ini tidak ada penjelasan yang pasti. Dan yang pasti di daerahku semua aturan itu masih dipercayai hingga saat ini. Aku masih terus menerus memikirkan semuanya tapi yang harus kuyakini aku tetap harus melangkah maju. Dan yang jelas sekarang setiap aku memulai hubungan dengan seorang pria hal pertama yang harus kutanyakan adalah “Berapa usiamu sekarang?” dan “Berapa perbedaan usiamu dengan aku?”

“Cat”
Pontianak.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer luna.love
luna.love at Perbedaan Usia (10 years 31 weeks ago)
70

waah..., cerita pertama senior cat! keren...
semoga bsa jd masukkan nie kritikan

Writer Chandradyani
Chandradyani at Perbedaan Usia (13 years 5 days ago)

bagus tapi kurang mengalirrr karena terkesan buru2 c...

Writer dkutabali
dkutabali at Perbedaan Usia (13 years 31 weeks ago)
80

first posted! ceritanya dah mengalir kok...
Pengalaman pribadi nih kitt? :P

Writer R. Tanti
R. Tanti at Perbedaan Usia (14 years 45 weeks ago)
50

Hidup dengan aturan, tapi aturan bisa didobrak untuk menciptakan aturan baru...

Breaking the Rule... to make the "New Rule"

^_^

Writer KD
KD at Perbedaan Usia (15 years 27 weeks ago)
100

perbanyak dialog! Aku termasuk penulis yang mengandalkan dialog untuk menampilkan karakter dan konflik!

Writer _aR_
_aR_ at Perbedaan Usia (15 years 27 weeks ago)
50

Lumayan juga, tapi baru aja bedanya segitu...
Aku punya cerita nyata...yg bedanya 14 tahun...(ih, serem yah...)

Writer loushevaon7
loushevaon7 at Perbedaan Usia (15 years 27 weeks ago)
60

cukup menarik mengetahui bhw ada tradisi spt itu, lain kali dibaca dulu sendiri bbrp kali sblm di-post, spy salah ketiknya bisa direvisi.

Writer Super x
Super x at Perbedaan Usia (15 years 27 weeks ago)
70

topik boleh juga cuman pendalaman konflik sangat kurang, fokus bercabang-cabang.

Writer splinters
splinters at Perbedaan Usia (15 years 27 weeks ago)
50

kurang kuat, nih. soal tradisi yang kayak gini sepertinya agak jarang, ya. mungkin malah tradisi kesukuan, misalnya orang dari suku anu harus nikah dengan orang dari suku yang sama. atau di bali yang masih ada sistem pengkastaan (walau ga terlalu terang2an tapi tetap dipermasalahkan). mungkin tradisi yang kayak gini bisa lebih kuat jalinannya.

i got a feeling that you don't really believe in this story yourself (sok tau aja gue hehehe). tapi emosi dan konfliknya terasa kurang, coba di-polish lagi, deh. kali ini jangan buru-buru, try to find that quiet place inside of you, and write your story from there :)

Writer cat
cat at Perbedaan Usia (15 years 27 weeks ago)

Tradisi seperti ada, tapi uda banyak yg kagak percaya sih.
Emank agak buru-buru sih ngetiknya..
btw thx ya ...

Writer -riNa-
-riNa- at Perbedaan Usia (15 years 27 weeks ago)
50

ada ya tradisi kayak gitu?...

kesannya cerita ini diketik buru2, banyak kata2 yang salah ketik..

menurutku nih, tiap dialog dipisah2 gitu, dikasih jarak, ga nempel2, biar nggak pusing bacanya. soalnya kesannya jadi dempet2, ga enak diliat n dibaca...