KAU LIHAT BINTANG ITU?

“Kau lihat bintang itu?”
“Ya.. kenapa dengan bintang itu?”

Devi berpaling sejenak, dipandangnya Sandi – cowok yang berbaring di sampingnya. Sudah hampir sejam mereka berbaring di atas mobilnya, berbincang tentang banyak hal sambil menatap langit. ”Sepertinya semua penghuni di sana membawa cinta dalam hati masing-masing.. Sehingga mereka bercahaya begitu terang”, lanjutnya.
Sandi tertawa pelan mendengarnya. ”Begitu menurutmu?”
”Iya.. mungkin saja..”
”Ohh..”

”Bisa saja kalau semua orang di bumi ini sedang jatuh cinta dan terus menjaga perasaan itu di dalam hati, maka bumi akan mengeluarkan cahayanya..”, kata Devi. ”Lalu penduduk di angkasa sana akan menunjuk-nunjuk ke bumi sambil berkata.. Lihatlah bintang itu, terang sekali....”, lanjutnya sambil terus memandangi bintang yang bertebar di langit..

Sandi bukan tipe orang yang senang menikmati fantasi. Tapi juga bukan orang yang tidak mau mendengarkannya. Tapi dia merasa geli dengan kalimat yang baru saja ia dengar. ”Hehehe..Kau dengar dari mana dongeng itu?”
”Dongeng? Ini bukan dongeng kok...”, sanggah Devi cuek, ”Bisa saja kan? Kita tak pernah tau..”

”Kamu tau, sayang?”, tanya Sandi tiba-tiba.
”Apa?”
”Orang-orang...”, cowok itu menahan kalimatnya. Ia ubah posisi berbaringnya, menghadap ke Devi sebelum kemudian melanjutkan. ”Mereka selalu membikin dongeng dari tempat yang tak bisa mereka jangkau..”

Devi melirik ke arah Sandi, dan mengerutkan alisnya. ”Oh ya??”, katanya. ”Coba jelaskan padaku..”

Sandi hanya tersenyum, ia sebenarnya senang mengobrolkan apa saja dengan cewek yang sudah jadi pacarnya selama setahun itu. Malam ini pun, mereka sebenarnya sedang merayakan hari jadi mereka yang pertama. Jalan-jalan berdua keliling kota mengendarai mobilnya, mencari tempat makan yang agak sepi dan romantis – tapi kemudian berakhir parkir di pinggiran kota, tiduran di atas mobil, menatap langit sambil ngobrol santai.

Sandi merasa bersalah karena tidak menyiapkan acara malam ini sehingga bisa jadi lebih berkesan. Meskipun Devi nampak tidak mempermasalahkannya, tetap saja ia merasa tidak enak. Dan ia merasa tambah bersalah ketika baru saja ia menertawakan pikiran pacarnya itu tentang ‘Cinta dan bumi yang mengeluarkan cahaya’. Ia tahu kalau Devi – yang memang hobi menulis itu – memiliki imajinasi yang bebas, hal itu pula yang membuatnya tertarik pada cewek itu. Selalu ada yang perlu mereka bahas setiap harinya, tentang mana yang lebih penting – logika atau imajinasi?

Sementara Sandi sibuk dengan rasa bersalahnya, Devi merasa cowok itu mendiamkannya. Sandi belum menjawab pertanyaannya tadi. Diliriknya Sandi yang ternyata sedang melamun sambil menatap dirinya. ”Eh, kamu mau jelasin dongeng atau mau ngelamar aku? Kok malah diem..”, tanya Devi setengah flirt.

Sandi tertawa saja mendengar kalimat itu. Dibuangnya sebentar pandangannya ke jalanan yang sepi. ”Baiklah.. Jangan salahkan aku kalo ini bakal membosankan..”, katanya sambil membalikkan pandangannya ke arah Devi.

”Tenang.. aku sudah siap mati bosan saat kamu nembak aku setahun yang lalu.. hahahha”, Devi menjawabnya dengan tawa lepas. Sandi tersenyum. Ingin sekali ia balas ledekan itu, tapi itu bakal menghabiskan semalaman. Jadi diputuskannya untuk mulai bercerita.

”Dulu dunia ini dipenuhi gunung dan hutan yang tak terjamah manusia..”, katanya. ”Lalu, ada seorang pria bernama Tristan pergi ke gunung, membunuh seekor naga, dan seorang Putri bernama Isolde.. pun jatuh cinta pada kisah keperkasaannya..”

”Oke, kamu baru saja menyingkat kisah petualangan panjang menjadi hanya satu kalimat”, kata Devi yang memang kenal betul kisah Tristan & Isolde, ”Dan nama cowok itu Tantris.. bukan Tristan.. cerita yang mirip tapi berbeda”

”Yah siapapun laki-laki itu.. intinya, selain si Tantris sendiri siapa yang pernah melihat naga itu..?? Tidak ada kan..??”, balas Sandi.

Devi tersenyum mendengar ucapan Sandi. ”Ya.. Lalu?”
”Lalu..?”, Sandi menarik nafas sejenak, ”Lalu, ratusan tahun kemudian.. ketika daratan sudah dipenuhi manusia. Hutan-hutan dibabat untuk pemukiman, gunung-gunung pun terjelajahi... Tetap saja tak ada manusia bertemu dengan naga. Akhirnya, dongeng tentang naga di gunung pun lambat laun dilupakan manusia.”

”Hmm...”, Devi bergumam sambil mengubah posisinya juga, berbalik ke arah Sandi. Disangga kepalanya dengan tangan agar rileks, ia mulai tertarik dengan diskusi ini. ”Terus?”

”Tapi manusia tak kehabisan akal.. Dipindahkannya dongeng naga itu ke laut.. Tempat yang hanya terjamah oleh kapal pedagang dan perompak.”

Devi diam, menunggu lanjutan kalimat cowok yang ada di hadapannya itu.

”Ya tau sendirilah.. Berapa banyak dongeng tentang bajak laut yang melawan naga atau monster-monster di laut..”, Sandi melanjutkan.
Devi kembali tersenyum.

”Dan kini setelah manusia bisa melempar satelit ke angkasa dan mampu mengambil gambar seluruh permukaan bumi dari atas.. Sekalipun belum pernah aku dengar ada naga kepotret..!!”, lanjut Sandi, ”Dongeng tentang naga di laut, di gunung, di pulau terpencil.. atau dimanapun sudah tak terdengar lagi.”
Sandi kembali merebahkan diri dan menatap ke langit. ”Setelah semua tempat di bumi tak lagi rahasia.. Kini manusia pun berdongeng tentang bintang-bintang.. tentang planet, galaksi.. Alien atau dunia lain yang ada di atas sana.. Apa sajalah.. yang jelas tentang tempat yang saat ini kita belum bisa menjangkaunya.”

Devi tertawa kecil mendengarnya. ”Ndi’.. kamu tau?”
Sandi menengok ke arah Devi. ”Apa?”
”Menurutku..”, Devi mendekatkan wajahnya ke wajah Sandi. ”..kamu terkadang perlu melepas kacamata logikamu dan biarkan pikiranmu lebih bebas.”
Kali ini Sandi yang mengerutkan alisnya.
”Bebaskan pikiranmu.. biarkan imajinasi datang.. Kunjungilah tempat-tempat yang tak bakal bisa kamu kunjungi dengan kendaraan logikamu itu...”, Devi meneruskan sambil menyentil genit hidung Sandi dengan telunjuknya, ”..Dan kamu bakal sadar kalo hidupmu selama ini membosankan, Pak Profesor.”
Kali ini ia mengatakannya sambil tertawa lepas.

”Hahaha..”, Sandi juga ikut tertawa. ”Memangnya apa pentingnya sih imajinasi?”, tanyanya setengah meledek.
”Ih, jangan salah yah...”, sahut Devi, ”Justru kita para penulis yang penuh imajinasi yang mendikte kalian para peneliti yang kekurangan ide.. hehehe”
”Enak aja..”
”Ya.. liat aja.. Star Trek sudah ditulis dari tahun 60an, sekarang kalian baru mikir gimana caranya bikin pesawat antariksa..”, kata cewek itu di sela tawanya.
”Ah, tetap saja itu cuma khayalan..”, Sandi tak mau kalah, ”Kami yang memasukkan logika-logika ke dalamnya..”
”Bilang saja kalian kehabisan ide mau bikin apa.. sampe harus nyontek pemikiran kami”, ledek Devi lagi. Dia mencoba meredakan tawanya. Diliriknya cowok di hadapannya, yang sedang tersenyum garing. ”Menurutmu semua hal di dunia ini harus kamu logika yah?”, tanya cewek itu.
”Karena semua hal yang ada di dunia ini adalah logis”, jawab Sandi cepat.
”Oya?”
”Pasti.”

”Lalu jelaskan padaku logika dari perasaan cinta!”, tantang Devi. Dia ingin tahu, bagaimana seorang mahasiswa sains seperti Sandi memandang perasaan yang agung itu.

Sementara Sandi hanya melirik sedikit ke wajah Devi, sambil tersenyum sedikit. ”Oke”, katanya, ”Semua karena otak tengahmu..”

”Jelaskan!”, Devi mendekatkan dirinya ke Sandi. Menatap dalam-dalam ke matanya.
”Otak.. otak adalah sumber segalanya..”, Sandi balas menatapnya. ”Saat kamu tertarik pada seseorang otakmu akan memproduksi senyawa bernama Phenyletylammine atau PEA”, kata Sandi sambil mengucapkannya dalam lafal asing, ”Senyawa inilah yang membuatmu merasa malu, wajahmu jadi tersipu, badanmu serasa panas... saat kau bertemu dengan cowok yang kamu suka.”

Devi tersenyum lebar mendengar kalimat itu. Cowok itu memang punya pikiran yang unik.

”Belum... Itu belum selesai di situ”, lanjut Sandi lagi, ”Senyawa tadi akan merangsang otak melepaskan Dopamine. Cairan inilah yang berlaku mirip drugs.. Membuatmu merasa bahagia, penuh semangat, ga doyan makan, susah tidur...”
”Hmm... terus?”
”Oiya.. Kamu tau? Cokelat banyak mengandung senyawa feniletilamine, makanya hati-hati kalo ada cowok ngasih kamu cokelat..”

”Okay..”, jawab Devi sambil tersenyum centil, ”Aku akan hati-hati kalo kamu membawakanku es cone cokelat, hehehe..”

Sandi tersenyum mendengarnya. Dipandanginya wajah cewek yang kini berada sangat sangat dekat dengan wajahnya itu. Diangkatnya tangannya mendekat ke wajah Devi, dan lalu mengusap pipinya lembut.

’’Lalu otak juga memproduksi senyawa norepinephrine..”, lanjutnya dengan nada pelan, “Senyawa itu mirip adrenalin, membuat jantungmu berdegup semakin kencang”. Ia berhenti sejenak, kali ini disibakkannya poni Devi yang jatuh menutup kening. ”Kamu merasakannya sekarang?”, tanyanya.
”Sedikit...”, jawab Devi pelan. Sambil tersenyum kecil, digigitnya bibir bawahnya. Dan melirik pada wajah Sandi yang nampak serius.

”Lalu...”, kini dialihkan tangannya lebih jauh, meraih belakang kepala Devi dan lalu mengelus rambutnya pelan. ”Lalu... ketika kau akan merasa bahwa dia adalah milikmu.. Saat itulah kadar serotonin dalam tubuhmu menurun”, jelasnya. ”Keadaan yang sama terjadi pada orang yang memiliki obsessive-compulsive behaviour.. hal ini menjelaskan perasaan obsesif-mu tadi dan..”
”Stop..!!”, tiba-tiba Devi berteriak kecil memotong kalimat Sandi. Diletakkan jari telunjuknya di bibir Sandi. ”Kamu tau..??”

Sandi hanya menatap cewek itu datar, ia tau itu hanya pertanyaan retoris.
”Kamu tau? Setalah setahun bersama kamu.. Baru hari ini aku yakin..”, kata Devi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sandi – benar-benar dekat, ”..kalau kamu pasti menderita penyakit aduh-hidupku-benar-benar-membosankan!!”

Kini mata mereka saling beradu pandang. ”Sayangnya.. aku memang lagi suka sama cowok yang membosankan..”, lanjut Devi sambil tersenyum ringan.
Sandi membalas senyumannya. ”Hmm.. mungkin satu ciuman bisa menyelamatkan hidupku yang membosankan ini..”, kata cowok itu tenang – setenang air danau yang tak terusik oleh musim.

”.. Atau setidaknya kita bisa sedikit berinvestasi agar bumi ini bisa bercahaya, seperti katamu tadi, karena cinta.”

Dan tiba-tiba malam itu jadi hening.

Sangat hening. Atau malah terlalu hening.

Saat bibir kedua manusia itu bertemu dalam kehangatan.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer panah hujan
panah hujan at KAU LIHAT BINTANG ITU? (11 years 42 weeks ago)
100

bagaimana jika... kukatakan, ada seseorang -- yang memiliki keduanya? -- di satu waktu.

both- logic and imagination :)

**

kulihat, persatuan adalah soal perbedaan-perbedaan.

I-E
D-N
F-T
J-P

dan perbandingan kadar dari sikap-sikap itu pasti kelihatan jelas pada diri seseorang. tiap orang memiliki komposisinya sendiri-sendiri.

saya adalah orang pertama yang akan menyatakan ketidaksetujuan jika penulis dalam cerita yang "betapa manisnya" ini, melulu membuat Devi sebagai gadis yang (kelihatannya hanya mampu) berimajinasi dan Sandi melulu sebagai Profesor yang berpemikiran begitu ilmiah.

Di cerita-cerita berikutnya, mungkin bisa membuat cerita yang lebih obyektif lagi?

atau karena ini kisah pribadi?

hehehhe..

--

untuk teori-teorinya, aku acungi jempol, karena sepertinya hanya "mereka-mereka" itu yang ada di kepalamu..? hahaha!

meni gombal pisan :P

Writer echanalukman
echanalukman at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 1 week ago)
50

O:) cinta..tak ada habisnya kata untuk mengungkapkan keindahan tentang cinta itu...

Writer mel
mel at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 28 weeks ago)
50

wiih keren!
perdebatan imajinasi dan logika.. sukaaa banget!!
* s e m a n g a t *

Writer kavellania
kavellania at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 28 weeks ago)
90

cerita yang sangat manis (gula kalee ya). aku suka ceritanya. jadi inget wktu SMA dulu aku sangat terinspirasi sama bintang hehehe. dan tentunya aku memang suka biologi ^_^

Writer vieajah
vieajah at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 29 weeks ago)
90

hebad...
penuLisannya canTik.. huhuh

Writer shadow
shadow at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 31 weeks ago)
90

Bagus banget...
Antara imajinasi dan logika..
An interesting couple..

Writer R41NY
R41NY at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 31 weeks ago)
70

Saat kamu tertarik pada seseorang otakmu akan memproduksi senyawa bernama Phenyletylammine atau PEA”, ”Senyawa inilah yang membuatmu merasa malu, wajahmu jadi tersipu, badanmu serasa panas... saat kau bertemu dengan cowok yang kamu suka.”
Mgkn kmu krg menambah unsur kimia yang satu ini, Pheromone, karena pheromone-lah yang bikin kita bisa tertarik dengan lawan jenis. Dan ini dihasilkan oleh aroma tubuh kita, yang tidak bisa kita tercium secara langsung, karena hanya otak yg bisa menterjemahkan bahasa si pheromone ini...
Penelitian di German mengatakan, pheromone dihasilkan oleh manusia yang sudah dewasa, seperti tumbuh jakun pada pria. Jika kamu merasa suka dengan lawan jenis, berarti kamu juga suka dengan aroma tubuhnya (aroma disini tanpa parfum, lho...).
Tambahan, pheromone wanita dengan pria itu berbeda...
Mengomentari komentar kamu, hmm....aku kalo bikin puisi/cerita ngalir aja sih. Aku hanya media bagi si ilham dan si ide. Berat atau tidaknya sebuah kata atau bahasa, hhm...aku pikir sih itu general dan relatif, ya?
Selama itu masih dalam suatu wadah yang namanya puisi atau prosa why not. that's it from me.
~ salam kenal ~

Writer bellabelle
bellabelle at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 31 weeks ago)
80

suka baca ini, lepas bebas, cinta tanpa batas

Writer _aR_
_aR_ at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 32 weeks ago)
80

yang laen komennya panjang2...
saya pendek ajah yah... =D
bagus ceritanya,,,
kata2 nya apik dan deskripsinya lancar...

yg laen idem ajah deh =)
*puisi udah ku komen dulu-dulu

Writer humnaifla
humnaifla at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 32 weeks ago)
80

apalagi lebih sip lagi kalau keduanya udah menikah ^-^;

Writer wehahaha
wehahaha at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 32 weeks ago)
100

...karena telah menemukan satu bahan ceritaan yang unik. Pemikiran anda sudah maju sekali. Tapi kalo mau bereksperimen dikit, gimana kalo endingnya dibuat jadi si Devi bilang: "tapi apakah kamu pernah melihat semua senyawa serotonin atau apapun itu? Kamu yakin itu bukan hanya imajinasi para peneliti yang kamu baca bukunya? Semua di dunia adalah imajinasi. Seratus tahun nanti orang2 akan bilang 'tahukah kamu bahwa orang zaman dahulu percaya dengan serotonin? betapa lucunya'," seperti di dalem Supernova nya Dee. Terus 22nya berdebat panjang lebar dilanjutkan taruhan dan penelitian2, dan jadilah novelmu.

Writer dirgita
dirgita at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 32 weeks ago)
80

Aku rasa, tidak. Hehe.
Ceritanya apik, meski ada ada yang keselo ketik (kurasa).
Rasa-rasanya, lebih asyik apabila deskripsi sedikit di-Indonesia-kan. Sementara dialog, dibuat santai tetapi tidak segaul mungkin. Maksudnya, "gue-elo"nya disortir, "nggak" dibiarin.

Writer noir
noir at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 32 weeks ago)
70

Cerita ini manis sebenarnya, cuma perlu eksplorasi dalam teknis penulisan dan pemaparan hingga tak terkesan menggurui. Dialog pun jangan digabung dengan deskripsi situasi, diberi spasi dan paragraf sehingga memudahkan yang baca.

Lalu sedikit agak terganggu dengan deskripsi tiduran di atas mobil, mungkin di atas kap mobil kali ya? Kok kebayangnya naek ke atas atap mobil hehehe

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 32 weeks ago)
90

Baca ceritanya pop banget, masalah percintaan memang gak akan abizzz, cerita yang paling enak untuk di eksplor.
Rangakain dialognya, very nice, lentur gampang dicerna.
Endingnya boleh juga, menggambarkan orang ciuman, dengan tidak vulgar.

Trims juga commentnya dicerita-ceritaku.
Novel tanpa bab, cerita nyata yang dibuat fiktif. Nah loh!

Writer nimcoholic
nimcoholic at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 33 weeks ago)
100

Oke, kayaknya emang gw butuh belajar banyak. Sedikit pujian yang ngga bisa gw tutup-tutupi, isi tulisan lu sedikit banyak serupa dengan Dewi Lestari. Bukan penyontek. Membaca cerita lu seperti membaca tulisan Dewi Lestari. Rasa-rasanya seperti semua hal bersangkut-paut, seperti teori konspirasi. Ngomong-ngomong Dophamine atau Endorphine? Baru kali ini gw denger Dophamine. Bagus banget lah tulisan lu, now I know why people called love sometime is chemistry. Btw, kalo gw penerbit terkemuka di Indonesia, gw bakal terbitkan nih cerita lu, hehehe...

Writer imperfect_princess
imperfect_princess at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 33 weeks ago)
80

menghibur..romantis..edukatif...lengkap!

-nad-

Writer mocca_chi
mocca_chi at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 33 weeks ago)
70

masih sama seperti dulu.wkwkkw
isi kesannya kok kayak ngejar poin.

tapi jangan sampai membuat pembaca bosan semembosankan pelajaran kimia.

Writer Azzurri
Azzurri at KAU LIHAT BINTANG ITU? (12 years 33 weeks ago)
70

nice...