rose:dreamy

::.prince frog dreaming abt u.::

Tak pernah kuharapkan cinta yang indah darimu…

Aku termangu memandang potretnya, kini rosa telah menjadi bintang iklan terkenal. Wajahnya menghias layar kaca, billboard, reklame dan dimana saja tempat keramaian. Di stasiun ini aku melihat wajahnya pada sebuah billboard. Sangat sempurna dan cantik. Aku bahkan seperti kodok yang melihat sang putri.

Lihat saja wajahnya mulus, bersih dan putih tak seperti muka ku, kotor, dekil dan leherku saja berdaki. Nasib siapa yang tahu. Bertahun lalu aku sekelas dengan rosa di SMU swasta favorit tempatku. Sekolah orang-orang berada yang jauh dari lingkungan kumuh seperti sekolah-sekolah pemerintah yang setiap semester di peras gurunya untuk membeli buku ini-itu. Buku-buku tak penting yang di jadikan bantal kala mereka tidur.

Dulu aku anak orang yang cukup berada. Setelah orang tua ku tak lagi ingin aku disisi mereka akibat kebandelan ku, aku benar2 merasa menyesal. Aku sering mencuri uang mereka, aku sering membuat keonaran, aku berani mabuk di depan mereka, bahkan aku berani menyuntikan cairan morfin di depan mata mereka.

Dulu Rosa terlihat simpati padaku, aku anak yg malu-malu. Aku pernah di cium olehnya ketika perpisahan SMU kami. Dia bilang “sampai katemu lagi ya oki, mudah-mudahan kamu berhasil…make your each days colorful” dengan berbisik di telingaku yg merah karena malu dan teramat malu….lalu seperti cerita-cerita anak muda lainnya yg terjerumus kepada pergaulan bebas, menimpa hidupku…

Dan disini lah aku…di stasiun kereta Gambir jadi sampah masyarakat…, aku tak peduli, benar tak peduli lagi pada hidupku. Ketergantungan ku pada morfin, heroin telah hilang bersama tekad ku dalam kemiskinan. Hobby ku berganti menghisap lem aibon.., lumayan dari pada tidak sama sekali…

Aku pemarkir sejati disini, diantara deretan mobil-mobil yang terpakir disini. Bang damon yang menyelamatkan hidup ku, ketika aku di pukuli hampir mati karena mencuri gorengan di tanah abang, aku lapar sekali ketika itu. Aku yang dua bulan kabur dari rumah orang tua ku di bandung tak tahu hidup harus seperti apa, bagaimana mencari makan, bagaimana mencari uang…aku lapar, aku haus…dan bang damon yg menyelamatkan ku…juga memberi pekerjaan disini sebagai pemarkir mobil.

Setiap hari aku harus setor kepadanya 40 ribu rupiah, kepada aparat pemda 30 ribu rupiah, kepada polisi 40 ribu rupiah, sisanya buatku dan teman satu jaga ku si semun anak purwodadi yang ingin jadi orang kaya di Jakarta.

Kulitku yang dulu putih bersih agak hitam sekarang walau mata-ku masih sipit seperti orang tuaku mungkin. Ah kenapa tiba-tiba aku teringat pada mereka. Mudah-mudahan mereka selalu terberkati.

Masih memandangi potret rosa, sangat cantik. Bahkan semun pun ikut memandangi billboard itu dengan decak kagumnya…”woi joki andai gue dapetin tuh cewek, kagak bakalan gue keluarin dari kamar, takut gosong kaya muke lu” dengan masih logatnya yang medok…aku tersenyum “atur aza bleh…” padahal hati ini kangen dan rindu dan mendambakannya, apatah kata-kata yang bisa ku ungkap tentang Rosa. Ingin ku ceritakan pada si semun gemblung ini, tapi manakah dia percaya bila aku pernah mengenal Rosa dan aku pernah di sun dipipiku ini. Paling dia akan mengatai ku dengan bahasa betawi logat medoknya…”aaah gimana sih lu, ngimpi kali lu, udah edan jangan edan beneran…”

Tak tahan ingin bercerita pada semun, pada siapa saja kalau aku mengenal wanita di billboard itu, aku bangga, aku rindu, tapi nanti hanya terdengar seperti orang melantur, orang sinting…malu ah…

Ah rosa kamu cantik sekali…kapan aku bisa bertemu dengannya…, aku harus nekat. Mulai saat ini aku harus berjuang jadi orang kaya, jadi orang hebat, biar aku tak malu bila bertemu rosa.

Aku harus berhasil akan kutaklukan Jakarta, lihat Jakarta, lihat orang-orang urban, aku akan berhasil, tekad ku nekat, aku tak mau jadi pemarkir lagi. Mulai besok aku akan berusaha lebih keras, aku akan dagang aku akan berhasil…aku akan jadi makelar, aku akan jadi konglomerat seperti Donald trumph. Aku bersumpah…rosa tunggu aku ya…

Nasib siapa yang tahu, dulu saja aku kaya, walau pun orang tua ku yang kaya. Sekarang aku gelandangan, kenapa tidak kaya. Gelandangan juga punya mimpi…ini Jakarta…apa-pun bisa terjadi…

“semun besok kita dagang buah ya…” ujarku tiba2…, “ah ogah…malu” “maksud lo mun??” “mending jadi preman, gagah!!” “rayi mu koyo wedus mun..” menirukan ucapan mas yono tukang cendol yang mangkal di stasiun..”hahaha…cah gemblung” ujar semun geli menertawakan bahasa jawaku…

“mun, aku ingin jadi orang kaya…kamu mau tidak?” “yo mau..ki..”
“besok kita tidak usah jadi preman cemen lagi, kita dagang yuk..”
“kamu serius ki…”
“iya..”
“yo terserah sampeyan deh…”
“pinjem uang mu ya mun…buat modal….buat tambahin modal mun…”
“boleh, tapi gue untung kagak??” ya dia balik lagi ngomong betawi…
“untung…optimism un, si mbok mu pasti bangga…, kamu tidak mau kan mun jadi preman terus…apa kamu mau si mbok ku sedih kalau kamu mati jadi preman…”
“lho..kok begitu sumpahin gue mati lu.., iya mau goblooook…” ujarnya kesal…

kupeluk badannya yang bau keringat itu “mun kok tiba2 keringatmu enak baunya…hehehe..” “sundal…!”

berlari kami di lorong, wujudkan mimpi…esok kami mau jadi pedagang…, bang damon setuju, malah ia memberi sangu pada kami, setelah ia memberi nasehat dan kata2 kehidupan pada kami…ia berjanji akan selalu siap membantu dikala kami kesusahan…dunia jalanan memang dunia aneh, begitu sacral diantara kekasaran dan ketulusannya….jangan pernah khianati mereka…

besok aku akan meniti jadi orang kaya…

:.no time 4 loser.:

Kubeli gerobak bekas dari bang jaja, penjual minuman. Ku beresi gerobak itu, kurapihkan. Ku cat ulang. Ku beri kaca, untuk menaruh buah2an, biar terlihat menarik. Lalu kutulisi “semok” maksudnya semun dan oki.., bair si semun senang. Sudah seharian ini ia bolak-balik toko matrial, membeli cat, kuas, paku, kayu dlsb. Ia lelah tapi terlihat senang.

Beres sudah gerobak ku. Besok akan ku isi buah2an segar. Pagi2 sekali aku akan ke priok, aku akan beli langsung buah2an impor dari para tengkulak. Disana ada bekas langganan ku ketika aku masih bergelut narkotik. Sekarang dia menjadi tengkulak buah di priok.

Semun tersenyum manis sekali, lebih manis dari buah lengkeng di mulutnya, “mun jangan kau makan terus nanti habis” ujarku melihat ia lagi-lagi memangsa buah-buahan “iya kagaaak..” masih dan masih medok jawane..,

Aku akan mangkal disini saja di pertigaan cilincing-cakung, aku memang sengaja sedikit menjauh dari stasiun gambir. Agar aku benar2 mandiri dan tak tergoda lagi masuk lingkungan itu.

Tak mengapa aku harus membayar restibusi kepada satpol pp itu. Biar aku tak digaruk berdagang disini. Hampir sore hari buah ku tak juga laku. Tak satupun yang mau membeli. Padahal aku sudah haus dan lapar. Sejak tadi pagi aku belum makan dan minum. Aku terlalu senang dengan dagangan ini.

Semun mulai menggertu. Ia kipas-kipaskan karton pembungkus buah yang di sobeknya. “laper, panas, haus…, makan yuk..” ajaknya. Tak tega juga aku melihatnya, matanya berair kepanasan. Cilincing memang panas, lebih panas dari daerah Jakarta lainnya. “sudah mun, kamu makan saja duluan..” kuberi ia uang lima ribu rupiah…”bener nih ki..?” “iya..” muka di buat seiklash dan setulus mungkin…lari lah ia ke warung nasi seberang jalan…

Ah lama sekali ia di warung itu, makan atau tertidur ia di dalam. Benar-benar kurang ajar. Kuberi kebaikan malah semena-mena ia…, tiba-tiba seorang ibn-ibu dengan anaknya datang ke gerobakku…ia minta di bungkuskan sekilo jeruk. Ah ku tak punya kiloan. Bagaimana ini. Aku panic…keringatku jadi tambah banyak…”jadi jual gak nih bang…” tanya ibu itu tak sabar…anaknya merengek minta ibunya cepat-cepat. “jadi-jadi bu…” tanpa ku timbang ku berikan saja jeruk itu…aku kira-kira saja.., “ah si abang yakin ini sekilo? Kalau kurang bagaimana? Kalau lebih juga bagaimana?” tanya si ibu itu..

“kalau kurang ibu boleh balik lagi kesini, kalau lebih tak mengapa bu…” ujarku.., “baiklah…ini uangnya bang” kuterima dua lembar uang lima ribuan…, ini bu kembalinya…”sudah ambil saja…” sambil tersenyum ibu itu..”ah tidak usah bu…” kata ku cepat…”sudah ambil saja bang…, lain kali pake timbangan ya jualannya…terus pake bajunya yang rapi..biar yang mau beli tidak takut..” lagi-lagi ia tersenyum…antara gugup dan senang aku mengangguk…”iya-iya bu…terima kasih”

syukurlah…rejeki pertamaku hari ini. Tiada seindah ketika pedagang di beli jualannya oleh pembeli. Ini benar-benar indah. Aku baru merasakan menjadi pedagang. Walau dulu aku pernah berdagang ganja tapi tidak seperti ini rasanya. Sangat berbeda.

Ditepuk punggung ku dari belakang oleh si semun..”yuk makan..”
“Lho kok dapat banyak mun…?” “banyak apanya hanya dua bungkus”
“iya kok kamu dapet banyak?” “udah jangan cerewet, tadi aku cuciin piring kotor sama bantuin angkat sayur dan beras di warung sana. Trus dikasih dua bungkus nasi ini. Nih uang lima ribu yang tadi…” sambil menyodorkan uang yg tadi kuberi…

ah mun, sungguh pintar kamu..bathin ku. Sungguh beruntung memiliki teman seperti dia. Sangat bisa di andalkan. Teman susah dan senang.

Telah seminggu aku berjualan disini. Pelangganku lumayan banyak. Baju ku sekarang rapi. Anting-anting di telinga dan hidungku, kucopot. Rambut kupotong rapid an kusisir. Semun pun demikian. Aku harus menjadi pedagang yang rapi dan bersih..biar banyak yang beli. Biar aku cepat kaya dan melamar rosa…eh bertemu rosa maksudku…

Buah-buahan yang yang kubeli semakin banyak dan beragam. Jeruk, lengkeng, apel, anggur, pir dlsb.

Hingga suatu ketika. Seperti mimpi disiang bolong. Petugas pp yang selalu ku beri jatah harian dan mingguan. Entah petugas yang mana, mereka datang beramai-ramai. Memberantas kaki lima di jalan ini. Aku berontak, aku hajar mereka satu-satu. Demi mempertahankan daganganku. Tiba-tiba aku tak ingat apa-apa lagi.

Semun terlihat sedih. Ia baik-baik saja. Hanya aku terbaring di ranjang besi ini. Di pojok ruangan yang berwarna putih kusam. Aku berada di klinik. Dirawat setelah kepalaku di pukul oleh satpol itu…entah yang mana…aku nyaris tak ingat. Kuraba kepalaku, perban basah…kepalaku di jahit. Tiba-tiba aku teringat daganganku. Uang di laci gerobak ku…”aih semun bagaimana dagangan kita…?”

Lalu aku tak ingat apa-apa lagi…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fairynee
fairynee at rose:dreamy (15 years 3 weeks ago)
50

ceritanya bagus tapi koq 'ga disambung see..pembaca kan pengen tau antara "aku" dan rosa yang tak terjangkau itu.

Writer argha
argha at rose:dreamy (15 years 19 weeks ago)
100

lanjutin dong!! ini sambungan dari tentang aku rosa dan mungkin kamu kan?

jadi penasaran..

Writer KD
KD at rose:dreamy (15 years 19 weeks ago)
100

keren, karena itu mesti disambung nih

Writer F_Griffin
F_Griffin at rose:dreamy (15 years 19 weeks ago)
70

Cerita sudah kuat.
Narasi sudah bagus.
Tapi bacanya susah. Mau tau kenapa? Dirapikan dong, tulisannya. Banyak tanda baca yang terlewat, berlebih, dan tidak pada tempatnya. Banyak ejaan yang salah. Banyak salah ketik.
Setelah itu dibetulkan, pemisahan paragraf perlu ditilik ulang.
Awalan dan akhiran sudah bagus.
Ayo perbaiki lagi yang rapi, lalu lepaskan dia ke media cetak harian edisi hari Minggu.

Writer yoshe
yoshe at rose:dreamy (15 years 19 weeks ago)
50

Sorry ya buat komen-ku ini. Sebenernya sih cara kamu nyeritain udah enak kok. Rasanya ngalir aja gitu. Tapi, mungkin karena temanya aja kali yang rada berat. Kalo kamu mau tetep exist dengan gaya bahasa kamu yang rada sinis gitu, kamu bakal susah loh nyari marketnya. (Mungkin?). Gud Luck 4 u deh.