TULISAN DALAM BOTOL

Aku duduk sendiri diatas pasir dengan tatapan kosong kearah laut. Sudah hampir satu harian aku duduk sendiri disana. Entah menunggu apa. Akupun tak tahu. Badanku terasa lemah dan tak berdaya. Teriknya mataharipun tak ku hiraukan. Aku bingung dengan masalah yang kuhadapi. Begitu sulit dan hampir membuatku gila. Uang. Ya masalah keuangan yang kuhadapi. Ibuku tiba-tiba menelepon dari kampung dan bilang kalau Rincan, adik perempuanku yang paling bungsu sakit dan butuh dana untuk segera dioperasi. Sementara aku hanya seorang karyawan bawahan dengan gaji yang pas-pasan

Aku teringat omongan Agnes yang menawarkan untuk berkencan dengan Robby. Robby merupakan salah satu orang penting diperusahaan tempat aku bekerja. Dia adalah manejer operasional.

“Gimana?” tanya Agnes setelah dia bercerita banyak tentang Robby
“Sudahlah, kamu pilih mana adikmu mau selamat atau …”
“Aku masih bingung Agnes” Jawabku dengan suara yang hampir tak terdengar
“Kamu gak bakalan hamil, tapi itu semua terserah kamu”
“Tapi..” jawabku ragu
“Ya, sudah kalau kamu mau saya akan mengatur waktunya. Hubungi aku kalau kamu sudah ok” komennya sambil berlalu tanpa menunggu jawab dariku

Robby. Lelaki muda yang mempunyai karir yang bagus. Aku sudah sering mendengar tentang dirinya yang suka main perempuan. Tapi selama ini bila aku berhubungan kerja dengannya dia sopan dan sangat ramah. Aku segera tersadar setelah aku terkena percikan air laut yang asin. Aku melihat arloji dipergelangan tanganku. Pukul 18.30Wib. Terang telah berganti menjadi gelap. Aku harus segera mengambil keputusan.

Aku segera berdiri dan beranjak meninggalkan pantai. Aku mengeluarkan HP Nokia dari saku celanaku. Segera kucari nama Agnes disana.

“Tuhan kirimkanlah aku kekasih yang baik hati…” Nada dering Agnes berbunyi
“Ya, ada apa Rey?” Agnes menyebut nama panggilanku. Rey, Reyna Prabowo
“Agnes, aku setuju dengan tawaran kamu kemarin. Tapi tolong jangan bilang sama Pak Robby kalau aku yang mau kencan” Pintaku kepada Agnes
“Ok. Aku akan segera menghubungi Robby. Ntar aku kasih tahu info selanjutnya sama kamu”
“Ok.”

Aku berjalan menuju tempat kost yang sudah hampir dua tahun kutempati. Aku segera berbaring ditempat tidur tanpa mempedulikan bajuku yang sedikit basah terkena percikan air laut. Badanku terasa lemah sekali. Aku tertidur sampai HP ku berdering tanda pangilan masuk

“Ya” Jawabku dengan malas
“Rey, ayo bangun. Malam ini kamu akan kencan dengan Robby. Aku akan sms alamatnya. Ok. Kamu bersiap-siap ya”
“tutttututtttututuututttt” Agnes menutup HPnya tanpa menunggu jawaban dariku
Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Otakku seakan berhenti berpikir. Aku tak dapat berpikir lagi apa tindakanku ini sudah benar.
Pukul 20.35 Wib aku telah tiba di depan hotel megah. Aku segera membaca sms yang dikirim Agnes dan menuju kamar yang telah dipilih. Ketakutan itu sirna seketika. Aku segera memasuki lift dan membawaku kelantai 3. Aku memasuki kamar itu. Masih gelap. Kunyalakan lampu dikamar itu. Dan aku duduk disofa dekat jendela kaca yang besar dan memandang indahnya malam dari sana. Aku terkejut seseorang membuka pintu. Jantungku seketika berpacu sangat cepat. Suara tumit sepatu itu semakin mendekat kearah dimana aku duduk. Aku segera berdiri Sampai akhirnya aku bertemu muka dengan Robby.

“Hai, apa khabar kamu?” Tanyanya begitu manis dan tetap sopan
“Kamu mau minum apa? Tawarnya lagi
“Tidak, terimakasih” Jawabku dengan suara yang sedikit gemetar
“Oh y, boleh aku duduk bersamamu” Dia masih tetap sopan
“Ya, silahkan” raut dan mimik wajahku tampak sangat tegang dan dia tahu itu
“Santai saja” Katanya dengan senyum
“Reyna Prabowo” lengkapnya dia menyebut namaku

Dia segera berpindah mendekat kepadaku. Sangat rapat sampai tak berjarak. Hawa panas tubuhnya begitu terasa menempel pada kulitku. Aku sangat ketakutan. Aku segera berdiri dan ingin beranjak dari sana, tapi dengan secepat kilat dia segera menarik tanganku dan tidak memberi celah sedikitpun padaku dan dia mendorong tubuhku merapat kedinding. Mata elangnya begitu tajam menatapku. Aku hanya diam dan tertunduk. Tangannya begitu kuat mencengkram pergelangan tanganku. Aku meronta. Semakin aku meronta semakin Robby mempererat genggaman tangannya. Robby menghujani leherku dengan ciumannya. Aku terlalu lemah untuk berontak. Akhirnya aku pasrah tertunduk. Kepalaku bersandar tepat dibahunya. Air mataku jatuh mengenai bahunya dan akhirnya Robby berhenti dan melepasku. Aku begitu lemah, seakan tak mampu berdiri diatas kaki sendiri. aku terduduk dan jatuh dilantai. Seketika ruangan itu terlihat gelap. Dan aku tak sadarkan diri lagi

Pukul 01.30 Wib dini hari. Aku tersadar. Aku masih begitu lemah. Perutku terasa lapar. Aku meringis menahan lapar dan haus. Dan alangkah terkejut aku ketika aku melihat wajahnya masih ada disana.

“Kamu Lapar?” tanyanya. Tanpa menunggu jawaban dariku dia segera memesan makanan melalui telepon kamar.
“Tadi kamu pingsan”Jelasnya dengan cuek sambil menuju pintu dan membawakan makanan yang telah dipesannya
“Ayo dimakan” Dia sungguh aneh. Seolah kejadian beberapa jam lalu tak pernah terjadi. Aku hanya diam dan tak berani memandangnya. Dia melihat arloji di tangannya.
“Oh ya, aku harus segera masuk kekantor. Kalau kamu masih belum kuat, istirahat saja disini. Dan satu lagi jangan lupa minum obatnya” Dia segera berlalu

Dalam keheningan kamar itu. Aku merasa sungguh malu. Dasar wanita murahan. Rutukku sendiri dalam hati menghina diriku. Aku berjalan menuju sofa untuk memandang keluar. Aku melihat sampul besar berwarna cokelat terletak disana. Aku membukanya, ada sejumlah uang disana. Dan secarik kertas putih didalam botol bertuliskan nama Robby dan gambar hati….

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at TULISAN DALAM BOTOL (13 years 35 weeks ago)
80

Dari segi ide cerita lumayan menarik, seandainya bunda lebih banyak menulis cerita pasti lama-lama cerita-ceritanya akan sebagus puisi-puisinya.

Oya, hanya edit di bagian kata-kata yang kurang pas aja, misalnya satu harian menjadi seharian.

Writer sefry_chairil
sefry_chairil at TULISAN DALAM BOTOL (13 years 49 weeks ago)
80

siip, siip..
btw, pendapatmu di pada satu bintang boleh aku masukan di buku? heuheu..
lihat di
PADA SATU BINTANG
makasih..^^