Ressurection of My Love

Februari adalah bulan kelabu bagiku. Membosankan. Bayangkan, jumlah harinya saja cuma 28 hari. Kalau tahun kabisat juga cuma nambah 1 hari. Apalagi pas tanggal 14 Februari. Meskipun namanya hari Valentine, tapi aku tidak mengharapkan adanya hari kasih sayang. Percuma. Sejak aku berpisah dengannya, aku mulai bosan menjelajahi lautan cinta dan kasih sayang. Aku lebih suka menyendiri dan membolak-balik buku pelajaran yang sudah usang karena sudah berulang kali kubaca. Sering pula tak kuhiraukan panggilan orang lain, kecuali kalau Pak Guru yang memanggilku. Percuma. Di dunia ini tak ada seorangpun yang kucintai. Yang kucintai hanyalah dia semata. Kini aku tak bisa menemuinya. Entah mengapa aku tak bisa. Mungkin karenanya, atau karena perbuatanku sendiri.

Sudah dua tahun sejak kepergiannya. Aku sedang melamun di balkon sekolah sambil memandangi mega yang menmggantung di angkasa raya. Kelasku memang terletak diselenggarakan dengan cara seksama lantai 2. Tiba-tiba, secara takkusadari, awan halusinasi itu menyelimutiku. Aku membayangkan sedang bersamanya. Memandangi langit malam dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang menyelimuti.

“Malam ini indah, ya?”

Aku tersenyum mendengar perkataannya. Awan halusinasi itu telah membawaku ke sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi bagiku. Pantai.

“Ya… Sangat indah.”

Matanya yang sebening kristal itu membuatku terpana melihatnya, bahkan kalau boleh aku sanggup memandanginya seharian penuh.

“Ramza…” katanya.

“Hmm…?” sahutku.

Dia memandangku dengan tatapan yang sangat tajam. Tatapan tajam dari seorang kekasih.

“Apakah kau mencintaiku?”

Aku terhenyak mendengar pertanyaannya. Pertanyaan yang sering, bahkan selau ditanyakannya dalam mimpiku.

“Tentu saja. Aku mencintaimu sepenuh hatiku.”

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Yang kudengar hanyalah hembusan angin disertai ombak besar yang berulangkali menghempaskan tubuhnya ke bibir batu karang di pinggir pantai.

Aku bertanya lagi.

“Mengapa? Mengapa kau masih tak yakin? Aku akan mencintaimu seumur hidupku, dan meski aku tak bisa menikahimu, aku akan tetap menjagamu sampai akhir hidupku. Aku rela mati untukmu!”

Setelah mendengar kata-kataku, diapun memandang ke langit. Langit malam yang penuh bintang, serta benda benda lain yang mungkin belum pernah diselidiki oleh umat manusia.

Sambil tersenyum, dia berkata kepadaku.

“Hanya itukah? Hanya itukah yang bisa kau berikan kepadaku?”

Air mataku mulai mengalir mendengar pernyataannya. Aku begitu bodoh, tak dapat memenuhi segala permintaannya.

“Aku akan memberikan segalanya untukmu! Apa yang kau mau? Kekayaan? Ilmu? Umur panjang?”

Dia terdiam, tidak menjawab apa-apa.

“Kalau kau mau kekayaan, biarkan aku menyelam ke dasar laut dan mencarikan mutiara terbaik untukmu! Kalau kau mau ilmu, akan kuajak Nabi Sulaiman untuk menemui dan mengajarimu, meski aku yang akan menjadi penggantinya di alam baka! Kalau kau ingin umur panjang dan awet muda, akan kutemukan Pohon Hayat dan akan kuambilkan buahnya untukmu meski aku harus mati dan pergi ke Firdaus dahulu!”

Dia tersenyum, dan malah mulai tertawa. Tertawa terbahak-bahak, tawa yang mengejek. Tawanya membahana di seluruh pantai.

“Mengapa? Mengapa kau menertawaiku? Mengapa?”

Dia merebahkan tubuhnya di atas hamparan pasir putih, di tengah kegelapan malam. Aku memandangnya sambil menangis. Air mataku mengalir ke mana-mana, membasahi seluruh tubuhku. Mataku, terlebih hatiku, tak dapat menahan rasa sedih dan hanya ingin menangis terus.

“Menangislah, Ramza…”

Suasana kembali hening, dan pandanganku mulai kabur. Segera tubuhku melayang di atas tanah. Setelah itu, aku tak tahu apa yang terjadi. Aku pingsan.

“Ramza…”

“Ramza…”

“Ramza…”

Meski aku pingsan, aku dapat mendengar suaranya memanggilku. Suara yang begitu lembut, menyelimutiku seperti kain sutera yang baru jadi. Suara itu begitu lembut, sangat lembut menyentuh hatiku.

Kelopak mataku mulai membuka… dan samar-samar, aku melihat bahwa sekarang aku berada di pelukannya. Pelukannya begitu hangat dan terasa di seluruh tubuhku. Aku tidak tahu mengapa dia memelukku.

“Ramza….”

“Ramza… Aku mencintaimu…”

Akupun menangis lagi. Menangis dalam pelukannya. Aku tidak tahu artinya ini tetapi sepertinya suasana cinta menyelimuti kami.

“Me too…”

Ya… Aku tahu bahwa dia benar-benar mencintaiku. Aku sangat terharu, dan akupun memuaskan tangisku – tangis bahagiaku di pundaknya.

Dia mulai berbicara lagi.

“Yang hanya kau perlu lakukan adalah, jagai aku. Lindungi aku. Cintai aku. Jangan sampai tangan-tangan yang berlumuran dosa dan darah menjamahku. Jangan sampai… Jangan kau tinggalkan aku, Ramza. Tetaplah di sini bersamaku.”

Aku kembali merasakan kebahagiaan Valentine seperti masa-masa dulu. Tetapi… Tetapi tiba-tiba kehangatan itu menjadi dingin, sangat dingin.

“Hei, Ramza! Sudah bel masuk! Ayo masuk kelas!”

“Oh, maaf Pak!”

Akupun tersadar dari awan halusinasi yang menyelimuti. Kedinginan yang kurasakan rupanya adalah hembusan angin yang cukup keras. Sepertinya hari akan hujan. Meskipun tadi hanyalah sebuah mimpi yang bukanlah kenyataan, aku tetap akan menjaga kekasihku. Cintaku. Aku akan menjaganya meski aku jauh darinya. Mother Sea, lihatlah! Saat Valentine nanti, aku akan datang menjemputmu! Aku akan pergi ke tempat kediamanmu meskipun harus berjalan kaki sepanjang 10 mil! Tunggu saja, aku akan membawakan hadiah yang spesial untukmu! Sebuah ciuman mesra untuk lautku tercinta, Laut Indonesia!

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer crossguard
crossguard at Ressurection of My Love (13 years 48 weeks ago)
90

Se7 banget!!!

Mari kita jaga alam kita!

Writer prayana
prayana at Ressurection of My Love (13 years 49 weeks ago)
50

wahhh ... fantastic ...
antara fantasi dan realistik :D
ungkapan cerita dan kata-kata...
cerita dari pengalaman diungkapkan dengan kata-kata gaya penyair dengan perumpamaan dan andaian ...
sedikit yang bisa memahaminya, hanya pujangga yang memiliki hati yang sama yang dapat melihatnya ...
fantastic :D

Writer PoEzZ
PoEzZ at Ressurection of My Love (13 years 50 weeks ago)
60

Agak membingungkan :D

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at Ressurection of My Love (13 years 50 weeks ago)
70

Agak bingung ak bacanya...

Terlebih pd kalimat "kelasku memang terletak diselenggarakan dengan cara seksama lantai 2" (ini salah ketik atau...? )

beberapa kata jg msh salah ketik...

Keep writing ya ^_^

Writer indra setiawan
indra setiawan at Ressurection of My Love (13 years 50 weeks ago)
30

ceritanya bagus, tapi saya kurang bisa merasakan alurnya.

Writer Villam
Villam at Ressurection of My Love (13 years 50 weeks ago)
80

temanya aku suka. kamu bicara laut, kalo di cerita 'wahai bulan'ku, aku bicara pasir pantai. hehe... cocok...

Writer Kirara
Kirara at Ressurection of My Love (13 years 50 weeks ago)
70

aku sih suka ceritanya, tapi akhirannya belum pas

Salam kenal yaa

Writer ramza_nightmare
ramza_nightmare at Ressurection of My Love (13 years 50 weeks ago)

wakakak...
jangan terkejut kalo baca cerita ini
anggep aja ini humor semata
ato sebuah kritik sosial utk negeri kita
biar laut kita ga dirampas foreign
or biar laut kita tetep asri
thx
and sorry kalo mbingungin
emang kubuat gitu endingnya
si Ramza nie emang cinta ma laut
tp dia lebih cinta ma teman imaginasinya
wakakak