The Triangle Murder (Chap. 1)

I

DUA orang sedang duduk di ruangan itu.
“Itu tidak adil. Benar-benar tak adil,” ujar Helena penuh emosi.

“Memangnya apa yang tidak adil menurutmu?” kata wanita yang duduk di depannya seraya menopang dagu.

“Apa maksudmu dengan ini?” ujar Helena. Ia memperlihatkan sebuah rancangan busana pada secarik kertas. “Bukankah ini adalah hasil busana rancanganku. Katamu ini rancangan gagal, tapi mengapa kau tega sekali mencuri rancanganku. Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Kau benar-benar...”

Orang yang diajak bicara itu tersenyum licik, menyeringai, memamerkan deretan giginya yang seperti macan.

“Sadarlah. Inilah dunia yang sebenarnya, bukan negeri dongeng yang sering dibacakan Ibumu sebelum kau tidur setiap malam saat kau kecil. Inilah hidup, kau harus menyadari itu,” jelas wanita itu. “Sekarang akulah atasanmu dan kau bawahan. Kau tahu kan bagaimana seharusnya bawahan bersikap kepada atasannya. Begitulah seharusnya kau bersikap.”

“San, kau benar-benar bajingan betina,” hardik Helena, “Kau menusukku dari belakang. Lihat saja nanti pembalasanku dan jangan lupa tentang itu. Aku akan melaporkannya kepada Ibu Nagita.”

Ia bermaksud keluar dari ruangan namun Santi kemudian berseru. “Terimakasih banyak atas segala usahamu hingga membuatku memperoleh jabatan ini, dan bilang saja padanya. Toh dia tidak percaya kepadamu lagi dengan apa yang telah kau perbuat padanya.” Wanita itu menyeringai, sebuah senyuman jijik tersungging dari bibirnya.

Pintuh dibanting hingga menggema di dalam ruangan.

***

Seorang pegawai wanita sedang memfotokopi beberapa berkas, dan mempercepat gerakannya ketika seorang wanita dengan rambut sebahu berjalan menyusuri lorong meja pegawai di kanan-kirinya.

“Bu... Ibu Nagita,” panggilnya lengkap. Rok selutut serta sepatu berhak membuatnya kesulitan berlari. Kumpulan berkas tergenggam di tangan kanannya.

Nagita menghentikan langkahnya kemudian berbalik.

“Ini berkas-berkas dari Ibu Helena yang Ibu minta tadi untuk difotokopi,” ujar pegawai itu terengah-engah.

“Oh... sudah selesai. Terimakasih ya. Jangan lupa berikan sisanya ke personalia,” ucap Nagita sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

Nagita terkejut setelah masuk ke dalam ruangannya. Ia mendapati Santi sedang duduk asyik di kursinya.

Santi sontak berdiri dan dengan sikap malu, ia tersenyum. “Apakah Anda sudah mendapatkan berkas yang tadi saya berikan kepada Nani?” tanyanya sambil berjalan ke arah atasanya.

“Buat apa kau ke ruanganku?” tanya Nagita.

“Saya hanya mau memastikan berkas itu sampai pada Anda,” ujar Santi.

“Menurutku, kau datang ke sini bukan dengan tujuan itu. Itu hanya basa-basi. Jangan berpura-pura lagi dengan kedokmu sebagai bawahan yang baik, patuh, dan penjilat. Aku sudah tahu apa maksudmu yang sebenarnya. Banyak sekali gosip yang beredar tentang dirimu di kantor ini. Kau mau merebut posisiku bukan?” ujar Nagita.

Santi kembali tersenyum, tetapi senyumannya kali ini lebih menakutkan daripada sebelumnya. “Apakah gosip itu Anda ketahui dari Helena?” ujarnya.

Nagita tak menjawab. Ia terus menatap Santi tajam, matanya seolah-olah dapat menembus pikiran wanita itu dan mengetahui apa yang sedang direncanakannya.

“Apakah Anda masih percaya padanya?” Santi melanjutkan, “Maaf jika saya lancang, tapi bukankah dia sudah merebut kebahagiaan Anda? Maksud saya, dia sudah merebut kekasih Anda padahal beberapa hari mendatang Anda akan melangsungkan pernikahan dengannya.”

Santi masih memancing emosi atasannya. Tiap kata-katanya bagai bisa yang paling mematikan di bumi.

“Tidak saya sangka, Anda sangat baik hati dan bijak sekali dapat memaafkan perbuatannya. Jika saya menjadi Anda, tidak ada tempat lagi buatnya di perusahaan ini.”

Nagita terdiam masih mepertahankan gejolak hatinya. Jauh di sana―di hatinya yang paling dalam, ia tidak dapat berbohong bahwa ia memang kesal setengah mati akan kejadian itu. Peristiwa itu dijadikannya sebagai peristiwa yang paling memuakkan dalam hidupnya. Dendam yang telah lama tertimbun lapis demi lapis jika tak dikeluarkan akan membusuk di sana.

Suatu saat akan aku lampiaskan dendam ini, katanya dalam hati.

“Cepat keluar dari ruangan ini, sebelum aku berubah pikiran dan memecatmu sekarang juga,” bentak Nagita.

“Baik... baiklah, saya akan keluar. Sejujurnya, saya juga turut bersedih mendengar peristiwa itu, Bu,” komentar Santi.

“Cepat keluar kataku!!!” suara Nagita langsung naik beberapa oktaf.

***

Pukul dua belas siang merupakan waktu istirahat bagi semua pegawai perusahaan tersebut. Perusahaan yang terkenal dengan label Summer itu merupakan salah satu penguasa pasar busana anak muda di Indonesia saat ini, bahkan di benua Asia dan beberapa negara di Eropa. Beberapa busana malamnya bahkan ada yang digunakan oleh aktor dan aktris luar negri seperti Malaysia, Singapura, Korea Selatan bahkan Jepang sekali pun.

Beberapa cabangnya di Eropa meraup untung yang tidak sedikit. Dengan penghasilan jutaan dollar per bulan.

“Kalian tahu tidak, Bu Santi?” ujar seorang wanita berkacamata memulai pembicaraan. Tampaknya mereka sedang asyik bergosip.

“Iya. Memangnya kenapa?” ujar wanita lain bersamaan.

“Gosipnya, dia ingin merebut jabatan Bu Nagita sebagai wakil direktur perusahaan ini. Kau tahu sendiri kan watak wanita itu bagaimana?” ia memelankan suaranya, “Aku malah kadang merasa jijik jika bertemu dengannya, walaupun di mukaku ini masih tersirat senyum manis tapi di dalam hatiku ingin muntah. Jujur saja aku benci dia.”

“Betul. Aku juga merasa begitu,” ujar wanita bertubuh ramping setuju. “Baru naik jabatan saja lagaknya sudah seperti bos besar, memerintah kita dengan seenak jidatnya lagi. Lagipula jabatannya itu diperolehnya dengan cara licik.”

Wanita lain berkomentar,
“Kabarnya, dia mencuri desain rancangan Helena. Padahal mereka itu kan sahabat dekat. Tega sekali wanita itu. Bagiku, dia seperti wanita bermuka dua. Benar-benar tidak berperasaan.”

“Wajar saja Ibu Nagita juga tidak menyukainya, bahkan tadi aku mendengar mereka beradu mulut di ruangan Bu Nagita. Dasar wanita licik. Aku betul-betul tidak menyukainya. Sungguh...” ujar wanita berambut pendek.

“Kamu nguping ya?” tanya wanita berkaca mata.

“Nggaklah... aku nggak nguping. Aku bukan orang yang seperti itu. Aku bukan orang yang suka menguping pembicaraan orang lain. Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.”

“Sama saja kalau begitu. Itu juga namanya nguping,” jelas yang lainnya berbarengan. Bebrapa dari mereka cekikikan menahan tawa yang meluap-luap.

“Bukan kau saja yang tidak menyukainya. Semua pegawai di sini juga begitu. Mereka semua memendam dendam kepadanya, apalagi Helena,” ujar wanita bertubuh ramping. “Pernah sekali aku mendengar tangisan gadis itu dari dalam toilet. Aku sungguh kasihan sekali padanya. Padahal hubungan mereka dahulu sudah seperti saudara―kakak-adik. Tapi hanya karena jabatan dan kedudukan semata, salah seorang di antara mereka rela berbuat seperti itu. Benar-benar keji.”

“Tapi menurutku, Helena juga tidak betul-betul rugi. Buktinya sekarang, dia berpacaran dengan Roman. Sudah wajah pria itu tampan ditambah lagi dia juga kaya.”

“Kalian tahu tidak,” kata wanita yang paling tua. “Roman itu dulunya bertunangan dengan Ibu Nagita, tapi entah karena masalah apa Roman malah membatalkan pertunangan itu. Namun seminggu kemudian Roman sudah berpacaran lagi dengan Helena, aneh tidak? Apa Helena sengaja melakukan itu? Atau ini hanya kebetulan yang tidak disengaja?”

Pembicaraan para pegawai itu makin menjadi-jadi, menceritakan semua kebaikan sebagai kebusukan dan kebusukan sebagai bangkai yang menjijikkan. Memang benar kata orang bahwa selayaknya kita sebagai manusia menjaga lidah dan mulut kita. Sesungguhnya itulah anggota tubuh yang paling sering berbuat dosa, entah disengaja atau tidak.

“Itu kan sudah wajar. Helena cantik dan Roman tampan. Dia juga punya masa depan yang cerah. Wanita mana yang tidak mau menjadi pendamping hidupnya. Bukankah mereka pasangan yang sangat serasi dibandingkan dengan Ibu Nagita,” jelas wanita berkacamata. Mulutnya berkoar-koar bagai kicauan burung di pagi hari.

“Tapi bagaimana ya perasaan Ibu Nagita sekarang? Apa dia marah pada Helena karena kejadian itu?” tanya wanita berambut pendek.

“Aku rasa tidak. Buktinya hubungan mereka baik-baik saja sampai sekarang, lagipula Helena tidak dipecat karena kejadian itu, bukan?”

Semuanya mengangguk.

“Kalau aku yang jadi Ibu Nagita sih, pastinya langsung marah. Mungkin saja aku akan dendam kepadanya,” kata wanita bertubuh langsing sambil tertawa.

“Itu bisa jadi kalau aku juga berada di posisi yang sama seperti Ibu Nagita,” wanita kacamata setuju.

“Hei kalian!!! Apa yang kalian lakukan bergerombol di sini?” bentak suara dari belakang. Para wanita yang tadi bergosip, terkejut melihat sosok Santi bediri memelototi mereka. Mereka hanya terdiam menerima makian demi makian.

“Bukankah jam istirahat sudah habis dari tadi? Kalau saja aku yang menjadi pemimpin kantor ini, sudah kupecat kalian semua dari dulu,” maki Santi.

“Wanita-wanita yang hanya pintar bergosip dibanding bekerja. Dasar pegawai-pegawai yang payah. Buat apa kalian digaji kalau kerja kalian hanya seperti ini. Pantas saja jabatan kalian tidak naik-naik dan tetap menjadi pegawai rendahan seperti sekarang ini.”

***

Nagita sedang duduk bersantai di ruangannya. Ia mengambil sebungkus rokok dari dalam laci meja.

Tinggal dua batang lagi, gumamnya dalam hati.

Ia mengambil satu kemudian menyulut dan menghisapnya dengan penuh kenikmatan. Dihembuskannya asap berwarna kelabu itu dari mulutnya, membentuk gumpalan awan, sama seperti saat seekor naga mengembuskan kobaran api dari dalam mulutnya. Tampaknya ia sangat menikmati kegiatan barunya itu belakangan ini ketika pikirannya sedang kalut dan kacau. Itu seperti obat paling mujarab yang bisa ditemukannya saat ini.

Terdengar suara ketukan dari luar. Dengan buru-buru Nagita mematikan rokok yang baru setengah dihisapnya itu. Suasana hatinya berubah saat seseorang masuk ke ruangan itu. Wajahnya ditekuk, senyumannya padam, sehingga sifat ramah dan lembut yang tadi terpancar dari wajahnya hilang seketika. Sungguh sangat disayangkan dan tak terduga, di balik wajah yang ramah itu tersimpan sesosok wajah lain yang sangat bertolak belakang dengan kepribadianya yang sebenarnya.

“Mau apa kau datang ke ruanganku?” Nagita sewot.

Santi terus berjalan menuju sebuah kursi di depan atasannya. Dengan nada bicara tanpa sopan santun sedikitpun, ia menjawab pertanyaan itu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol dengan Anda saja. Ya, tentu saja sambil melihat keadaan atasanku.”

“Aku tidak perlu mengobrol dengan wanita sepertimu. Cepat keluar dari ruanganku. Kerjakan tugasmu jika tak ingin kupecat,” jelas Nagita tetap meninggikan suaranya.

“Sejak kapan Anda merokok?” Santi tak mengindahkan perkataan atasannya tadi. “Aku tidak tahu kalau sekarang ini Anda hobi merokok. Kalau begitu, kita punya kegemaran yang sama.”

Nagita masih belum merubah sikapnya. Kesabarannya sekarang sedang diuji pada taraf yang paling tinggi.

“Buat apa kau menanyakan hal itu? Itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Kau tidak perlu tahu kapan aku mulai merokok. Itu urusanku dan kuperintahkan kau untuk keluar dari ruanganku sekarang juga.”

“Tenang... tenang, Bu Nagita,” Santi keras kepala.

Tampaknya ia tipe bawahan yang tak tahu diri, suka ikut campur, dan bicara seenak perutnya kepada semua orang.

“Aku datang ke ruangan Anda ini dengan damai. Aku tak mau memulai permusuhan dengan atasanku sendiri dan membuat pertengkaran baru. Apalagi dengan atasan yang baik dan ramah seperti Anda.”

Nagita diam, mencoba memberi sedikit waktu kepada bawahannya yang satu ini.

“Aku datang ke sini untuk memperbaiki hubungan di antara kita berdua. Oh ya... aku bisa membantumu untuk merebut kembali Roman dari Helena. Itu juga kalau Anda mau. Gampang sekali buatku untuk memisahkan mereka berdua, seperti membalik telapak tangan,” Santi menawarkan niat jahatnya. Bagi Nagita, tawaran itu bagai racun yang terkandung dalam sebuah obat, atau duri yang tertimbun jauh dalam tanah, atau bahkan bongkahan kotoran yang tertutupi lapisan puding yang lezat.

Santi masih melanjutkan,
“Sekarang ini aku juga sudah muak dengannya. Perempuan yang tidak tahu diri yang dengan seenaknya saja merebut kekasih orang lain. Berani sekali dia merebut kekasih atasannya sendiri,”

Nagita terdiam. Ia tertunduk mendengar Santi berceracau di depannya, menjelek-jelekkan bekas sahabat baiknya sendiri. Ha... ha... ha... bekas. Sebuah kata yang benar-benar merendahkan bagi orang yang menyandang gelar tersebut. Benar-benar memalukan.

Pada akhirnya, Nagita berbicara. Tampaknya ia sudah bisa mengambil kesimpulan dari semua perkataan bawahannya itu.

“Kau tahu, kau ini wanita bermuka dua. Ya, layaknya penjilat yang banyak tersebar di kursi pemerintahan. Di sisi lain menyanjung dan memuja-muja orang tersebut, sementara di sisi yang lainnya menceritakan semua kejelakannya bahkan menjatuhkannya dengan kata-kata itu.”

Nagita terus melanjutkan,
“Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika aku sampai termakan dan percaya atas semua kata manis dan rayuan yang kau ucapkan itu. Sahabat baikmu sendiri saja kau campakkan demi kekuasaan, apalagi aku sebagai atasanmu.”

“Terserah apa kata Anda. Anda atasanku, Andalah yang berkuasa, bukan aku. Yang jelas aku sudah menawarkan jasa. Jadi jika Anda tidak mau menerimanya, itu urusan Anda sendiri sekarang,” kata Santi. “Aku hanya memberikan saran kepada atasanku yang sedang tertimpa masalah. Itu saja, tidak lebih.”

Wanita itu lalu teringat akan sesuatu. “Oh, aku lupa... ini ada hadiah dariku. Hadiah dari seorang bawahan kepada atasannya. Semoga ini bisa membuat Anda melupakannya.”

Santi mengambil sebuah kotak rokok berinisial ST dari saku jasnya, kemudian menaruhnya di meja. Siluet senyuman yang tercermin dari kedua lapis bibirnya mengiringi kepergiannya. Tak tahu apa artinya. Entah senyuman yang tulus, pengucap basa-basi atau lambang permusuhan.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.20 siang. Tak tampak kumpulan wanita penggosip seperti hari-hari sebelumnya. Tampaknya mereka tak ingin membuat kesalahan kedua kalinya, yang nantinya akan mengancam pekerjaan mereka sendiri.

Santi membuka pintu ruang kerjanya. Perlahan... perlahan sekali. Ia seperti menikmati setiap kibasan angin yang menderu di telinganya seperti saat membuka pintu gerbang kerajaan di negri awan.

Tapi, ada yang aneh. Perasaannya mengatakan bahwa sebelumnya ia telah menutup pintu tersebut, walaupun tidak terkunci. Ia memang jarang menguncinya, hanya menutupnya begitu saja.

Ah, mungkin hanya perasaanku saja, ujarnya dalam hati.

Betapa terkejutnya ia saat sudah berada di dalam. Seseorang mengarahkan pistol ke arahnya. Moncong benda pencabut nyawa itu tepat mengarak kepadanya. Hawa dingin langsung menyelimuti sekujur tubuhnya bak sebuah selimut yang tak terlihat menyelubungi raga dan jiwanya. Bibirnya terkatup gemetaran. Bola matanya membelalak seperti mau keluar dari kelopaknya.

“Apa maumu? Apa yang kau mau lakukan dengan senjata itu?” ujar Santi ketakutan.

“Tentu saja. Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik. Bukankah begitu yang kau mau?” ia melanjutkan, “Bukan dengan cara seperti ini.”

Senyumannya yang tadi menyeringai bagai binatang buas kini berubah menjadi rasa ketakutan. Baru kali ini dirasakannya kematian begitu dekat dengan dirinya. Kematian yang begitu menakutkan, begitu mengguncang jiwanya.

Orang itu diam dan menyeringai tajam tanpa berbicara apa-apa.

“Mengapa kau mau membunuhku? Jangan... jangan lakukan itu. Kumohon...” ujar Santi memelas. Moncong pistol itu seakan menyuruhnya tak berbicara lagi.

Pistol berperedam itu tiba-tiba memuntahkan sebutir peluru layaknya anak panah yang tepat mengenai sasaran. Dengan kecepatan tinggi peluru itu kemudian mendarat di dadanya. Ia roboh. Darah merembes, berusaha keluar dari luka menganga itu bagai dinding bendungan yang retak dan memuntahkan berjuta-juta galon air.

Senyuman kemenangan menghiasi bibir si pembunuh. Setelah yakin bahwa wanita yang terbaring di lantai itu tewas, ia keluar sambil menyembunyikan pistol tersebut kembali ke tempat semula.

>>Bersambung<<

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at The Triangle Murder (Chap. 1) (14 years 26 weeks ago)
80

Baru membaca yang bagian 1. Untuk apresiasiku atas ceritamu, aku nilai 8.

Sekarang mau lanjut baca bagian 2.

Writer andrea
andrea at The Triangle Murder (Chap. 1) (14 years 31 weeks ago)
80

Gue nyium pembangunan motif yang menarik. Kalo yosi_hsn bilang deskripsinya kurang, ini malah kebanyakan buat gue. Kecuali reputasi ato performa Summer misalnya, emang jadi elemen substansial di cerita. Pasalnya demikian.

Narasi sedemikian panjang tentang perseteruan Nagita vs Santi vs Helena pasti tidak akan (atau tidak boleh) berakhir dengan Nagita ato Helena terseret jadi tersangka, kecuali perjalanan untuk membuktikannya yang nanti jadi andalan. _Red herring_ yang bagus. Sudah ada hadiah bawahan ke atasan, kebencian, pencurian pasangan; tinggal nendang.

Dan siapapun pelakunya, dia tidak bertopeng, tidak asal tembak, menikmati ato tidak menjauhi proses membunuh, dan Santi mengenalnya. Sayang tidak disebutkan suara pembunuhnya berfrekuensi tinggi ato rendah, padahal pencerita pake _3rd person POV_.

Jangan-jangan, ini ulah Si Roman?

Inilah asiknya. Gue sampe ngembangin spekulasi ndiri. :D Habis, penembakannya muncul di blakang, sih.

Writer abc
abc at The Triangle Murder (Chap. 1) (14 years 31 weeks ago)
70

makasih untuk semua komentarnya...
sangat membantu untuk kedepannya bagi saya.... ^^

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at The Triangle Murder (Chap. 1) (14 years 32 weeks ago)
80

Cukup bagus, walaupun sedikit terasa kurang deskripsi (sama seperti yang lain).
Mungkin bisa mencoba untuk lebih mendalami karakter? Saya lihat kebanyakan (atau semua?) tokohnya perempuan. Tapi tokohnya masih terasa "laki-laki". Mungkin karena saya perempuan dan yang nulis laki-laki.
Bukannya saya mampu lho. Saya juga masih punya masalah yang sama. ^^

Writer adrian.achyar
adrian.achyar at The Triangle Murder (Chap. 1) (14 years 32 weeks ago)
70

Hmm, bro, pembukaannya mungkin bisa dikembangin lagi. Mungkin bisa dimulai dengan deskripsi ruangan dan dua orang itu. Ruangan interogasi beda kan dengan ruangan designer?

btw, ditunggu lanjutannya :).

p.s: kalo saya mau kasih point 7 tapi kalo point-nya 5, maaf ya. dari tadi browser saya agak error.

Guys, please read my poems & stories at K.com ^_^

Writer Arestes
Arestes at The Triangle Murder (Chap. 1) (14 years 32 weeks ago)
50

Wow cerita drama yah? Penulisannya bagus tapi menurutku terlalu cepat memasukannya dalam kejadian, biasanya selama gw baca Cerita Drama itu biasanya memunculkan juga perasaan dan emosi karakter itu sendiri, jadi agar lebih terasa lagi.

Hehehehe... tapi rasa2nya baca ini seperti sedang nonton di televisi, apa mungkin karena tidak mengemukakan emosi dan perasaannya sebelum berdialog?

BTW Good Work... Nice one... lanjut yah...

Writer humnaifla
humnaifla at The Triangle Murder (Chap. 1) (14 years 32 weeks ago)
50

tulisannya bagus tapi ceritanya klasik dan kurang detail.
terlalu cepat hendak dibawa ke kejadiannya.
Saya ingin tahu juga bagaimana hubungan nagita sama helena. Bagaimana pembicaraan mereka dll. Dan kayaknya nggak logis ah melihat santi yang seperti itu bisa seenaknya masuk kantor bosnya ^-^;