High Water (level 1/2) part 3

Suatu hari di sebuah Food Court di depan bioskop sebuah mall, Salia bertanya padaku.
“Apa kau suka film horor ?”
“Hmm. . suka.”
Pacarku tercinta semakin bahagia. Ia mendekati wajahku sambil tersenyum.
“Film horor jenis apa ? Kalau aku sukanya hantu soalnya tampang hantunya serem banget sih.
“Kalau aku sukanya film monster. Kayak Alien.”
“Monster?”
“Iya soalnya aku suka yang berbau sci-fi. Kalau ada unsur ilmiahnya kan bisa menjadi ada beneran. Hii.”
Aku menyeringai menakuti pacarku, tapi dia hanya terdiam, tidak tertawa ataupun ketakutan.
***

Jakarta, 24.00

Aku terdiam dan terpaku di sudut boat. Begitu juga dengan orang – orang di dekatku. Di hadapanku ia menyeringai, sosok makhluk raksasa yang mengerikan.setinggi 2 meter Kepalanya memiliki dua tanduk pipih di dahinya seperti naga. Matanya yang tajam berwarna biru kemerah – merahan tajam menatap kami. Di rahang terdapat 2 taring besar dengan puluhan gigi kecil tajam bagai gergaji. Aku bahkan melihat potongan tubuh manusia terselip di tengah – tengahnya. Aku berpikir diakah yang membunuh orang – orang saat ini ?

“Makhluk apa itu?” tanya seorang yang selamat di dalam boat.

Aku masih belum bisa menyimpulkannya. Sebagian tubuhnya masih berada di dalam air. Tidak, makhluk hitam dengan bintik merah dan bersisik itu tidak berdiri tegap seperti Godzilla. Ia terlihat merayap seperti kadal. Mungkin tepatnya salamander. Ya, monster salamander. Lucu sekali, aku menamakan makhluk pemakan manusia ini seperti nama monster film Power Ranger. Kenyataannya Power Ranger itu tidak muncul saat kubutuhkan.
***

Sunyi sekali. Tak ada suara apapun selain air yang terdengar di sini. Semuanya mematung dalam ketakutan. Aku bahkan bisa mendengar denyut jantungku sendiri, bahkan suara orang disebelahku yang sedang menelan ludah.

“Se-semuanya. . .jangan ada. .yang bergerak. . .”

Salah satu tim SAR memberi instruksi dengan suara pelan. Ia mencoba menjalankan tugasnya untuk melindungi rakyat dengan mengumpulkan keberanian. Monster itu masih mengamati kami dengan seksama. Aku mendengarnya menggeram setiapkali ia menghembuskan nafas. Sepertinya ia belum bisa memastikan mangsa hanya dengan melihatnya.

“Krrssk. . .posko kepada macan 2, posko kepada macan 2 bagaimana situasi, ganti krssk. .”

Tiba – tiba terdengar suara panggilan radio CB (walkie talkie) memecah kesunyian, mengejutkan kami semua. Suara itu berasal dari mayat Agus, seorang petugas SAR yang tewas dan mengambang tak jauh dari kami. Seketika itu, monster bereaksi. Ia meraung. Suaranya yang serak dan melengking bagai mengiris gendang telinga. Ia membuat telingaku sakit.

“Lompat dari boat !” seru SAR.

Bergegas kami lompat dari boat, menceburkan diri ke air yang dingin. Lelet sedikit saja, aku bisa dimakan hidup – hidup karena ia segera meluncurkan kepalanya ke arah boat. Sambarannya menimbulkan gelombang besar. Sayangnya, wanita dan petugas SAR lain yang ikut di boat terlambat melompat, ia pun tewas tersambar monster.

“Ayo mas, cepat ke sini!”

Sekuat tenaga aku berenang ke arah atap tempat wanita yang menolak diselamatkan itu berdiri. Ia terus berteriak memacu kami untuk mencapai atap secepatnya sebelum monster itu menangkap kami. Beruntung posisiku lebih dekat dengannya sehingga bisa sampai lebih dahulu. Wanita itu menarik tanganku ke atas.

Sementara itu si petugas SAR masih berenang di air. Di belakangnya, monster itu meluncur membelah air mengejarnya dengan kecepatan tinggi. Aku dibuatnya tegang seperti kejar – mengejar antara Valentino Rossi dengan Nicky Hayden pada MotoGP tahun lalu. Hanya saja, bukan garis finish yang mereka kejar. Sementara wanita di sampingku masih sibuk menyemangati petugas SAR .

Dalam perjalanan, tiba – tiba monster itu masuk ke dalam air dan menghilang. Petugas SAR itu terus berenang, hingga akhirnya mencapai atap. Aku tidak mengerti, mengapa monster itu menghilang. Permukaan airpun menjadi tenang. Mungkinkah ia pergi ?

Petugas SAR itu mengulurkan tangannya. Aku menariknya seperti yang dilakukan wanita itu kepadaku. Belum seluruh tubuhnya terangkat, tiba – tiba monster itu muncul kembali dari dalam air. Kali ini ia melompat meninggalkan air, menutupi bulan dengan tubuh besarnya. Kami bertiga berteriak ketika ia menukik menjatuhkan diri ke arah kami.

“AWAASS!”

Buru – buru aku menarik tangannya kemudian terhempas ke belakang dan luput dari terkaman monster. Ia kembali tercebur ke air. Aku dan si wanita selamat, tetapi petugas SAR tidak. Yang aku tarik hanyalah potongan tangannya, sedangkan tubuhnya berhasil dilahap. Dengan risih, aku melempar tangan. Aku tak ingin memegang bagian tubuh mayat yang termutilasi. Membayangkannya pun aku tidak sudi.

“Ayo mas, kita lari.” Ujar wanita itu

Aku melihat wanita itu. Wajahnya menggambarkan kelelahan dan ketakutan yang amat sangat. Air matanya sudah mengering. Mulutnya sulit untuk menutup dengan rapat. Badannya pun gemetar. Tetapi aku salut padanya. Ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik. Sebagai lelaki. Aku harus melindunginya.

“Ayo!”

Sementara itu, monster itu kembali mengejar.

Beruntung daerah ini adalah pemukiman padat penduduk. Bangunan – bangunan letaknya saling berdekatan sehingga kami bisa berpindah atap dengan melompat. Badan kami sudah lelah, tapi kami tidak merasakannya. Perasaan takut serta semangat untuk tetap hidup menguasai pikiran. Aku merasakan monster itu mengejar dari bawah air. Tujuan kami adalah fondasi fly over (jalan layang) yang ada beberapa meter di depan.
***
Kami sudah dekat dengan fly over. Hanya tinggal melompati atap gudang ini, maka kami bisa mencapai tangga ke atas fly over. Harapan kami, monster itu tidak bisa mencapai tempat tersebut.

“Ayo kita lompat!”
“Ya!”

Aku memegangnya erat – erat kemudian melompat bersama. Berhasil. Kami tinggal berlari menyusuri atap kemudian meraih tangga. Karena kegirangan, ia tidak melihat tonjolan ventilasi gudang sehingga tersandung.

Wanita itu terjatuh dengan keras. Ia meringis kesakitan. Kakinya terkilir dan tak dapat berjalan. Aku tak mungkin meninggalkanya karena sudah sejauh ini bersama. Timbul inisiatif untuk menggendongnya.

Tiba – tiba dari atas, monster itu terjun. Ia menghujam kaki wanita itu. Ia menjerit keras sementara aku terkejut hingga tersungkur ke belakang.

“Mas, tolong aku mas, tolong. .”

Hatiku dipenuhi kebimbangan. Aku tidak tega meninggalkan wanita itu, tetapi aku berpikir aku juga akan mati jika mendekat karena ia sudah berada dalam kekuasaan monster. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali merangkak mundur menjauhinya. Monster itu menusukkan tanduknya pada wanita itu hidup – hidup hingga menembus ke belakang. Ia mengangkatnya ke atas lalu tiba – tiba tanduk itu membelah menjadi 4 bagian, merobek tubuh wanita itu bagai merobek kertas. Tewaslah ia. Isi tubuhnya berserakan. Permukaan atap menjadi merah darah.

Ok, aku memang menyukai adegan Alien mencabik – cabik manusia, tetapi hanya di film, bukan langsung di depan mataku. Perutku mual melihatnya, tapi sudah tidak ada yang bisa dimuntahkan lagi. Monster itu kini menjilati darah wanita. Kemudian ia mulai bertingkah aneh. Ia kemudian meraung lagi, tapi kali ini kondisinya lain. Ia seperti mengerang kesakitan. Tubuhnya gemetar hebat. Aku melihat sesuatu muncul dari panggungnya.

Bersambung.

Read previous post:  
72
points
(619 words) posted by hikikomori-vq 13 years 22 weeks ago
72
Tags: Cerita | horor | cerita banjir Jakarta | Non mistik
Read next post:  
Writer KD
KD at High Water (level 1/2) part 3 (13 years 18 weeks ago)
100

kedalaman(6), kosakata(8), alur(7), bentuk(7)
**************************
nuansa: LEVIATHAN

Writer Gardhu
Gardhu at High Water (level 1/2) part 3 (13 years 18 weeks ago)
80

Serem.... Mau jadi apa lagi, tuh, si monster?

Writer shining_star_13
shining_star_13 at High Water (level 1/2) part 3 (13 years 19 weeks ago)
80

jadi monsternya itu alien????
SERU DONG ntar ada movienya, MVA (Monster Vs Alien) ^^!

Writer imr_aja
imr_aja at High Water (level 1/2) part 3 (13 years 19 weeks ago)
80

tapi alurnya ngerti lah

Writer Super x
Super x at High Water (level 1/2) part 3 (13 years 19 weeks ago)
70

fokuslah VQ... cerbungmu kalo gak salah sekarang ini yang dalam proses penulisan ada 2 ya... yang ini dan yang tentang perang.
Kalo boleh saran fokus dengan 1 cerbung dahulu. Maksimalkanlah... baru buat yang lain.. ^^
***
BTW... konflik di sini agak berkurang daripada sebelumnya.

Writer sinten remen
sinten remen at High Water (level 1/2) part 3 (13 years 19 weeks ago)
50

Tapi krn bersambung, sisa nilainya buat episode berikutnya. He..he..he..

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at High Water (level 1/2) part 3 (13 years 19 weeks ago)

Uff, ternyata membuat cerita monster itu lebih susah daripada cerita perang. Ditambah lagi UTS yang mengurangi waktu berhayalku. Tapi , tenang, semua ceritaku pasti tamat, walau endingnya kadang2 ga sesuai harapan. Termasuk epic "Tales of Shining Blade"