Air Mata Di ujung Malam...(Bag 2)

Seragam serba hitam bak pasukan rela mati memenuhi ruangan rumah Mery. Wanita paru baya yang tak berhenti menangis selalu berada di samping tubuh kaku ayah Mery yang tak lain ibunya. Raga mengurung diri di dalam kamarnya. Dia tak mau keluar melihat ayahnya. Mery bingung mencari kemana perginya Raga. Sambil menggendong Kinanti, Mery mencari Raga. Mery menaiki anak tangga untuk mencapai ruang atas. Mery menuju ke kamar Raga yang berada didekat tangga rumah mereka. Mery membuka pintu dan melihat Raga duduk tertunduk dengan tubuh basah kuyup. Mery tak kuasa melihatnya, Mery meletakkan Kinanti dan mengambil handuk untuk melap badan Raga. Mery melap badan Raga hingga kering sambil meneteskan air mata. Mery tahu betapa terpukulnya Raga. Betapa tidak kuatnya dia menghadapi kenyataan bahwa dia tidak punya ayah lagi.

“Raga…”Panggil Mery pelan
“Kakak tahu kamu sangat terpukul, kakak tahu kamu sangat sedih tapi tolong jangan hukum dirimu…hanya kamu satu-satunya penerus keluarga kita saat ini. Apa Raga mau melihat ibu lebih menderita lagi…ayolah kita kuat dan berserah kepadaNya” Mery tak kuat menahan pilu hatinya dan langsung memeluk Raga. Ya ampun sudah berapa lama tubuh Raga basah. Tubuhnya begitu dingin. Mery mengambil pakaian yang baru dan menyuruh Raga untuk segera mengenakannya.
“Raga ga tahu kak…”
“Raga ga tahu apa Raga bisa kuat..”suaranya hampir tak terdengar diiringi dengan airmata yang meleleh di pipinya
“Raga ga tahu apa Raga masih dapat sekolah nantinya dan melanjutkan cita-cita Raga”
“Semua telah terjual…bagaimana kita akan hidup kak…” isak Raga semakin kencang
“Bagaimana lagi dengan Kinanti sementara usia Ibu sudah semakin tua”
“Siapa yang akan menjamin masa depan Kinanti kak? Raga semakin tak kuat dan terus menangis. Mery memeluk adik-adiknya. Dan menghusap kepala Raga dengan penuh kasih sayang.
“Jangan khawatir..semua akan Tuhan cukupkan”
“Percayalah…”Mery semakin kencang memeluk tubuh adik-adiknya
“Apa benar Tuhan itu ada…saat ini aku merasa Tuhan itu sama sekali ga ada” kata Raga setengah mengejek
“Aku merasa Tuhan itu ga ada” Jerit Ragapun lepas seolah ingin melepaskan semua kesesakan yang ada didalam dadanya. Mery menangis melihat Raga, adiknya yang putus asa. Aku harus kuat batin Mery. Aku harus tegar.
“Kamu tahu..Tuhan itu begitu menyayangi kita”
“buktinya Dia memanggil ayah sebelum segala sesuatunya habis…”
“Dia masih menyisakan rumah, usaha kita dan kita masih bisa makan dari usaha itu”
“Dan kita dalam keadaan sehat saat ini”
“Cobalah untuk selalu mengucap syukur untuk segalanya…meski dalam keadaan yang terburuk sekalipun”
“Mari mendekat pada kakak…”Mery menarik tangan Raga
Raga membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lemah. Mery menghusap rambut adik-adiknya hingga mereka tertidur. Tuhan…sebenarnya aku juga berpikir seperti apa yang Raga pikirkan. Bagaimana kami nantinya? Bagaimana Kinanti? Bagaimana Ibu yang tanpa seorang ayah? Apa kami sanggup? Ya Tuhan kuatkan hambaMu ini. Ucap Mery dalam hati sambil meneteskan airmata.

***

Mei, 03.00 Wib

Mery menuruni anak tangga untuk melihat kondisi Ibunya. Mery berjalan menuju ruang depan. Dan Mery masih melihat banyak orang disana. Mery menghampiri Ibunya. Mery memegang Ibunya. Tubuhnya dingin sekali. Mery memberikan baju hangat kepada Ibunya.
“Ibu…”panggil Mery lembut
“Ibu lelah bu…Ibu letih ya bu…ato ibu sudah tidak punya harapan lagi” Mery mencoba mengajak ibunya berbicara karena mulai dari ayahnya di bawa kerumah Ibunya hanya diam dan airmatanya menetes tak berhenti.
“Ibu minun ya…bu, ini Mery bawakan teh hangat”
“Ibu…ibu…”Mery semakin sesak dan airmata itu lagi-lagi jatuh
“Ya..Ibu baik-baik aja, sayang” suara Ibu hampir tak terdengar lagi
“Ibu minum ya Bu..”
“Makasih sayang” Ibu mengambil segelas air teh hangat dari tangan Mery. Mery tahu betapa hancurya hati ibunya. Bahkan ia sampai lupa menanyakan keadaan Raga dan Kinanti yang selama ini tak pernah lupa meski sesibuk apapun dia. Mereka terdiam. Wajah ibunya begitu pucat, matanya cekung menandakan ia semakin kurus.
“Mer…”Panggilnya
“Ya…Bu” sahut Mery sambil memegang tangan ibu
“Kamu besokkan mau ujian? Apa kamu sudah belajar”
“eh….sudah Bu”Mery berbohong takut menambah kekhawatiran ibunya
“Ya…walau bagaimanapun kamu harus kuat ya sayang…”Ibu Mery berkata sambil memeluk Mery. Mery tak tahu harus melakukan apa. Dia tidak konsentrasi untuk belajar. Ya Tuhan..tolonglah aku. Doa Mery tak henti-hentinya.

***

Mei, 07.00 Wib

Mery bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Mau tak mau Mery harus mengikuti ujian itu. Karena kalau tidak sama saja artinya Mery gagal selama ini. Dan itu tak mungkin terjadi. Mery menyapa adiknya Kinanti yang sudah ada dalam pangkuan ibunya.
“Kinanti sayang…kakak pergi sekolah ya”
“hehhhhehhe…”Kinanti tersenyum
“Bu…Mery pamit ya” Mery mencium telapak tangan Ibunya
“Raga ..kamu jaga Ibu dan Kinanti ya” ucap Mery sambil memegang kuat tangan Raga
“Iya..kak”Sahutnya
Mery membalikkan tubuhnya untuk segera beranjak pergi. Akan tetapi, tiba-tiba Kinanti memegang wajah ayahnya. Dan berusaha membukakan mata ayahnya. Karena dulu setiap paginya Kinanti selalu bermain dan digendong oleh ayahnya.
“A-yah” Panggil Kinanti yang baru belajar ngomong
“B-u…A-yah” Katanya lagi
“Iya..sayang ayah sudah tenang dan sedang bobo ya…”Ibunya mencoba menjelaskan sambil meneteskan airmata.
“A-yah…” Kinanti terus saja berusaha membukakan kelopak mata ayahnya
Apakah harus kukatakan bahwa ayah telah meninggal. Batin Mery. Langkah Mery tertunda. Tapi ach…terlalu sulit dia mengerti hal itu. Kinanti menangis karena panggilannya tak lagi dihiraukan ayahnya. Dengan sigap Raga segera membawa Kinanti bermain agar ia lupa.

Ibu hanya terisak pilu….entah sudah berapa banyak butiran air mata itu jatuh. Hingga kelopak mata ibu memerah hitam.

***

Senin, 6 Mei 1999 , Pukul 7.30Wib

Mery duduk di bangku ujian yang tertera nomor ujiannya. Ujian pertama yaitu PPKN dan Matematika. Mery selalu tergiang wajah ayahnya yang terbujur kaku. Tanpa terasa airmata Mery menetes di lembar jawaban Mery. Ibu Murni menghampiri Mery. Dan tertegun saat melihat air mata Mery mengalir membahasi pipinya dan jatuh ke lembar jawabannya.
“Mery…kamu baik-baik saja” Sapa Bu Murni sambil memegang oundaknya
“eh…”Mery tersentak
“Ya..Bu…”jawabnya gugup
“kertas jawaban kamu basah. Kamu menangis. Itu wajar tetapi berjuanglah karena ayahmu ingin yang terbaik, bukan?” kata Bu Murni lembut
“Ya..Bu, makasih” Jawab Mery tersenyum sambil berderai air mata

Tuhanku aku tak tahu harus bagaimana. Aku benci diriku. Mengapa aku begitu cengeng. Kenapa aku begitu rapuh. Aku tidak ingin dikasihani. Aku tidak ingin Tuhan. Tolong aku. Doa Mery dalam hati. Tak terasa bel berbunyi menandakan ujian pertama telah usai. Mery hanya duduk terdiam dan tak beranjak dari ruangan. Kepala Mery terasa pusing karena kurang istirahat semalaman.
Frida, merupakan teman karib Mery mendekat dan membawakan Mery kue. Frida duduk disamping sobatnya itu. Begitu pucatnya wajahnya. Bibirnya kering dan matanya merah. Ya ampun aku hampir tak mengenali sosok Mery. Sangat berbeda. Batin Frida
“Mer..gimana ujiannya” tanya Frida
“Ya…syukurlah berjalan lancer”
“Oh..syukurlah”timpal Frida
“Mer..kita sarapan ya..nantikan mo ujian lagi jadi harus ada tenaga” Frida mencoba membujuk Mery
“Ya ..makasih, tapi aku ga terasa lapar” tolak Mery
“Ayolah Mer..dimana Mery yang selalu optimis, periang, penuh tawa dan murah senyum itu?” tanya Frida untuk membangkitkan semangatnya

Mery tersenyum. Yah Mery tersenyum meski hanya sedikit tapi sudah menghias wajahnya yang memang manis. Entahlah itu senyuman apa. Begitu dalam artinya …..

****bersambung

Read previous post:  
36
points
(2401 words) posted by pikanisa 15 years 3 weeks ago
60
Tags: Cerita | drama | ........ complex | memorable love
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer FrenZy
FrenZy at Air Mata Di ujung Malam...(Bag 2) (14 years 43 weeks ago)
70

aku lebih suka baca yang pertama. di cerita kedua aku kurang merasa tersentuh, padahal sebenarnya bagian ini yang harusnya menguras emosi :) mungkin kamu bs menyisipkan adegan atau dialog yang menaik turunkan perasaan. :)

Writer bunda_ery
bunda_ery at Air Mata Di ujung Malam...(Bag 2) (14 years 43 weeks ago)

teman-teman maaf ya jika ceritanya tidak sesuai dengan yang teman-teman harapkan. tapi sudilah kiranya memberikan saran dan kritik. begitu juga kepada teman2 yg sudah memberi saran di bagian pertama. saya ucapkan terimakasih