AOM 11 : Nocturno part 2

*************************

Hidup adalah goresan masterpiece sang Pencipta. Tidak ada satupun manusia yang mampu menebak alur takdir yang diciptakannya. Manusia hanya tokoh dan hidup hanya sebuah kisah bersambung yang tidak akan ada habisnya. Kata orang manusia dilahirkan dengan benang-benang merah yang terpaut dengan siapapun yang kelak akan berperan dalam hidupnya. Bertambahnya usia, benang merah itu makin memendek dan takdirpun makin mendekat.

****************************

Taylor menganggap kejutan itu manis. Pertemuan itu indah. Ketika mereka tidak sengaja bertemu di hutan itu, ketika tanpa sadar pemuda itu memberikan ciuman yang pertamanya, ketika mereka tanpa sengaja bertemu kembali di cafe itu, ketika setelah itu dia harus mengalami kecelakaan itu, ketika dia harus menghabiskan waktu di rumah sakit ini dan akhirnya bertemu kembali dengan pemuda itu sekarang. Semua rangkaian kisah itu membuat gadis itu berpikir.

Apakah salah satu benang merahku memang bertaut padamu?

Pemuda itu tampak terkejut melihatnya. Dia bergegas mendekatinya.

”Kau,-”

Dia memandang Taylor dengan heran. Taylor mencoba tersenyum. Dia masih sama seperti yang Taylor ingat, pemuda paling tampan yang pernah dilihatnya. Ciumannya kembali menari-nari dalam pikirannya. Kali ini membuat Taylor memerah.

”Hai,” Taylor berusaha tidak terpengaruh dengan perasaan hatinya yang tiba-tiba kacau-balau.

”Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pemuda itu heran.

“Aku mengalami kecelakaan tepat setelah bertemu denganmu di café waktu itu,” cerita Taylor.

Pemuda itu terkejut.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

Taylor mengangguk malu. Entah kenapa dia merasa tersanjung.

Kau yang pertama mengkhawatirkan diriku selain keluarga dan teman-temanku.

“Aku sudah dua minggu di sini. Dokter bilang kondisiku sudah pulih. Kurasa besok aku akan pulang.”

Pemuda itu menggumam lega seraya duduk di sampingnya. Taylor berusaha bersikap normal. Dia mengamati pemuda itu sesaat. Pandanganya kemudian tertuju pada balutan perban di lengan kiri pemuda itu.

“Aku yang seharusnya bertanya,” kata Taylor kemudian. Hatinya berdesir ketika merasakan bahu mereka bersentuhan tanpa sengaja.

”Kenapa lenganmu?’ tanyanya pelan. Pemuda itu tersenyum pahit.

“Seorang pemabuk sialan menyerangku dengan pecahan botol.”

Taylor tercengang. Pemuda itu menunjukan jahitan di lengan kirinya.

“Tidak terlalu parah, sih. Tapi lumayan juga,”

Taylor memandangnya dengan prihatin.

“Kuharap lenganmu cepat membaik. Kejadian seperti itu pasti menyebalkan.”

Pemuda itu memandangnya sesaat lalu tersenyum mengiyakan.

“Tidak seberapa,” balasnya. ”Keadaanmu pasti jauh lebih parah sehingga harus menginap di sini selama dua minggu,” gumamnya lagi.

Pemuda itu menoleh.

”Harusnya kau beritahu aku. Aku pasti akan menengokmu.”

Taylor memerah.

Bagaimana aku bisa memberitahu kamu? Bahkan namamu pun aku tidak tahu.

“Apa yang terjadi?” tanya pemuda itu kemudian.

“Sebuah mobil menabrakku.”

“Wah, pengendaranya pasti mabuk,” komentarnya.

Taylor tersenyum dan menggeleng.

“Aku yang kurang hati-hati,” katanya pelan.

Pemuda itu memandangnya lagi. Kali ini dengan penuh perhatian. Taylor mengalihkan pandanganya tidak kuasa bertemu dengan mata biru kristal milik pemuda itu.

Kenapa kau memandangku seperti itu?

”Ada apa?” Taylor memberanikan bertanya tanpa berani membalas pandangannya.

“Aku senang bisa melihatmu lagi,”

Taylor merasa ingin menghilang. Pemuda itu menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di kursi pengunjung. Sesaat mereka saling diam. Taylor tidak mengerti kenapa sekeliling mereka seolah menjadi begitu sunyi. Hanya suara dentingan piano lembut dari arah speaker yang terdengar di antara mereka. Entah kenapa Taylor merasa khawatir. Apakah kediaman mereka akan membuat pemuda itu pergi?

Taylor memandang ke arahnya. Pemuda itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan tampak terpejam. Alunan musik piano di ruang lobi itu masih mengalun.

“Apakah kau menikmati musik itu juga?” tanya Taylor iseng.

Anak muda itu membuka matanya dan menoleh.

“Musik apa?”

”Piano itu,” kata Taylor. ”Dari tadi aku menyukai lagu-lagu yang diputar mereka. Aku selalu menyukai suara piano.”

Anak muda itu terdiam sesaat.

”Kau suka piano?”

”Sangat suka.”

”Aku tidak suka piano.”

”Kenapa?”

”Panjang ceritanya.”

”Oh, baiklah,” kata Taylor pelan, merasa kecewa topik yang dia coba hadirkan tidak menarik perhatian pemuda itu. Lagipula bagaimana dia bisa berharap mereka akan membahas soal musik klasik pengantar tidur semacam ini? Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk tidak terlalu banyak berbicara. Taylor pasrah pada kediaman mereka berikutnya.

“Lagu tadi berjudul Trumerei karangan Schuman,” kata anak muda itu tiba-tiba memecah kebisuan, membuat Taylor menoleh. “Yang sekarang sedang kau dengar adalah Nocturne karangan Chopin. Lagu ini bercerita tentang keindahan bulan purnama di malam hari.”

Taylor mendapatkan pemuda itu sudah meluruskan punggungnya dan memandangnya.

”Kau bilang kau tidak suka piano,” kata Talor sedikit heran.

Pemuda itu tertawa pelan.

”Bukan berarti aku tidak mau berbagi apa yang kutahu tentang lagu ini denganmu.”

Berbagi? Kenapa kata itu terdengar begitu manis?

“Kau kelihatannya tahu banyak tentang lagu klasik.”

“Tidak juga. Itu lagu-lagu yang cukup populer, kok.”

Mereka terdiam sesaat.

”Aku suka Nocturne,” gumam Taylor kemudian. ”Kau tahu kalau malam ini bulan purnama?”

”Benarkah?”

”Ya, aku melihatnya di jendela kamarku tadi.”

”Aku tidak memperhatikan.”

Mereka kembali terdiam.

“Sebenarnya,” Taylor berhenti sesaat. ”Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Taylor kemudian memberanikan diri.

“Apa?” balas pemuda itu tanpa menoleh.

“Namamu. Boleh aku tahu namamu?”

Anak muda itu tidak segera menjawab. Taylor merasa hatinya mencelos. Wajahnya entah kenapa terasa panas luar biasa.

“Uh, maksudku, kalau kau keberatan, kau tidak perlu mengatakan--”

“Jordan,” kata anak muda itu singkat membuat Taylor termangu.

“Oh,” gumam Taylor kemudian. ”Aku Taylor,”

“Apakah kau keberatan kupanggil Kitty?”

Taylor tersenyum dan menggeleng.

“Terserah kau saja,” kata gadis itu malu-malu.

Jordan memandang Taylor sesaat. Taylor merasa hatinya tiba-tiba berdebar. Apakah anak muda ini akan menciumnya? Tapi Jordan kembali menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Jadi apakah kau akan terus berada di sini?”

“Kau akan pergi?” Taylor balik bertanya.

“Kalau kau menginginkanya,” balas Jordan penuh arti. Taylor memerah.

“A… aku tidak mungkin mengusirmu.”

“Tapi apa kau ingin mengusirku pergi?” Taylor terdiam sejenak.

“Tidak. Aku tidak punya teman untuk mengobrol,” jawab Taylor pelan. Dia segera terdiam dan memerah lagi. Hening. Jordan menghela nafas tidak enak.

“Sebenarnya kalau kau menyuruhku pergipun aku tetap akan berada di sini,” katanya.

“Kenapa?”

“Aku bertengkar dengan kakakku dan aku malas untuk pulang ke rumah sekarang.”

”Kau punya kakak?” Taylor merasa sedikit detail tentang pemuda ini adalah informasi yang sangat berharga baginya. Apakah tanpa disadarinya dia telah terobsesi dengan pemuda bermata biru kristal ini?

”Ya, satu. Kakak perempuan. Cerewet dan sangat menjengkelkan,” gumam Jordan. ”Kami sering bertengkar. Mungkin hampir setiap saat.”

“Aku juga kadang bertengkar dengan saudara-saudaraku,”

“Saudara-saudaramu?” tanya Jordan. ”Kau punya berapa saudara?”

“Enam.”

“Wah, ramai.” Jordan tertawa. Taylor ikut tertawa kecil dan mengiyakan. ”Seberapa hebat pertengkaran kalian?”

”Tidak terlalu serius, sih. Kau tahu, aku tidak pernah bisa membenci mereka.”

”Termasuk ketika mereka mencampuri urusanmu atau mengaturmu?” tanya Jordan ingin tahu.

”Kupikir mereka mencampuri urusanku karena mereka peduli padaku,” kata Taylor membuat Jordan menoleh. “Kalau mereka peduli padaku, berarti mereka masih memperhatikan aku dan aku tahu mereka masih menyayangiku seperti aku menyayangi mereka.”

Jordan termangu sesaat. Taylor merasa tidak enak. Apakah pemuda ini menganggap kata-katanya membosankan?

”Kau kenapa?”

Jordan tersadar dan tersenyum. Senyum yang membuat Taylor serasa hanyut.

”Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir siapakah di keluargaku yang benar-benar menyayangiku dan apakah aku pernah benar-benar menyayangi mereka seperti kau menyayangi keluargamu.”

Taylor mengerutkan dahi tidak mengerti.

”Maksudmu?”

“Tidak apa-apa, lupakanlah,” kata Jordan. ”Sudah larut. Kau tidak tidur, Kitty?”

Taylor memandangnya pemuda di hadapannya sejenak.

”Bagaimana denganmu?”

”Mungkin aku akan bermalam di lobi ini, atau di rumah temanku, atau di motel. Well, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Jordan tersenyum.

Tiba-tiba suatu pemikiran muncul di kepala Taylor.

“Umm, kalau kau mau, kau bisa tidur di kamarku. Ayahku biasanya menemaniku dan tidur di sofa kamar. Tapi sekarang dia ada di rumah. Kau bisa memakainya.” Taylor nyaris tidak percaya kata-kata barusan keluar dari mulutnya sendiri.

Apa yang kubicarakan? Mengundangnya ke dalam kamarku sendirian? Aku pasti mulai mengantuk.

Jordan memandangnya.

“Kau serius?”tanya Jordan. Entah mengapa Taylor ragu mendengarnya. “Kitty, kalau kau keberatan kau tidak perlu-,“

Tidak! Aku menyukai pertemuan kita.

“Tidak apa-apa,” jawab Taylor lagi. Jordan memandangnya sesaat lalu tersenyum.

“Kalau begitu sebaiknya sekarang kita beristirahat,” katanya lembut.

Taylor menyetujuinya dan tersadar ketika pemuda itu membimbingnya bangkit dan memeluk bahunya ketika mereka berlalu. Taylor mendapatkan dirinya telah menyandarkan kepalanya dengan nyaman dalam pelukan pemuda itu.

Mungkin ini hanya pertemuan kita yang ketiga. Mungkin kita bukan siapa-siapa. Mungkin aku sempat merasa curiga padamu ketika kau menciumku waktu itu. Tapi aku selalu merasa tidak asing denganmu. Malam ini aku merasa begitu dekat dan nyaman bersamamu. Seolah ada deja vu di antara kita. Apakah kita pernah bersama di kehidupan lain? Tidakkah kau merasakan hal yang sama?

*************************

“Taylor!”

Suara itu terdengar sayup-sayup di telinga Taylor.

“Taylor, bangunlah!”

Suara itu makin jelas terdengar. Taylor menggumam pelan.

“Taylor, ayo bangun,-”

Taylor tersadar. Seseorang mengguncang bahunya dengan lembut. Perlahan dia membuka mata dan mendapatkan ayahnya memandangnya dengan heran. Taylor terjaga.

Dad?”

Taylor terbangun dan memandang sekelilingnya dengan heran. Dia mendapatkan dirinya terbaring di sofa yang biasa ditiduri ayahnya. Taylor memandang selimut yang telah menyelimuti dirinya. Taylor tersadar.

Mana anak muda itu ?

“Tumben kamu bangun sesiang ini,” kata ayahnya menyadarkan Taylor. Ayahnya tampak sibuk memberesi semua perlengkapan Taylor dibantu oleh Clarke dan Zach.

“Yang lebih aneh lagi, bagaimana dia bisa tidur di sofa itu dan membiarkan tempat tidurnya kosong? Itu benar-benar idiot!” oceh Clarke lagi.

“Sudah, diam!” tukas Billy. “Beresi saja barang-barang adikmu,” perintahnya. Clarke makin panjang menggerutu. “Sayang, lebih baik kau bersiap. Dokter akan datang mengecekmu sebentar lagi. Setelah itu kami bisa membawamu pulang.”

Taylor tidak menyahut. Dia juga tidak mendengarkan ocehan kakak dan adiknya. Pikirannya beralih pada pemuda itu dan malam itu. Taylor menyentuh bibirnya tanpa sadar.

Kau menciumku lagi.

Malam itu entah bagaimana pemuda itu kembali menciumnya. Kali ini lebih panjang dan lama. Ketika pemuda itu melepaskannya dan memandangnya, Taylor merasa sesuatu benar-benar telah digariskan di antara mereka. Tapi kenapa sekarang dia pergi? Taylor tidak tahu apa yang seolah hilang dari hatinya. Dia kecewa. Dia tidak tahu apakah setelah ini mereka masih bisa bertemu lagi atau tidak. Apakah benang merah itu masih tersambungkan?

Kenapa kau menghilang lagi?

bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Ateng
Ateng at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 32 weeks ago)
70

Enaknya jadi Novel kali ya.Cinta Taylor jordan bolehlah kebarat-baratan,dan tadi ku pikir taylor tokohnya cowok nggak tahunya cewek,keren.ajarin dong cara bikin alur cerita yang enak,Great Story.Dan ini inspirasi dari pengalaman siapa ya?.

Writer rainvyza
rainvyza at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 32 weeks ago)
60

mb nokturno artinya apa yah? (berlalu dengan tanda tanya di kepala hehe)

Writer ina
ina at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 40 weeks ago)
80

it's wonderfull...
pengennya siy suatu hari bisa bikin cerita yang sepeti itu...

Writer Alfare
Alfare at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 41 weeks ago)
80

Mbak Yosi, saya tahu ini adegan yang manis dan aku bisa ngerti perasaan Taylor, tapi si Jordan itu ya, sejauh ini masih tergambar sebagai tokoh yang menyebalkan. Belum sepenuhnya mendapat simpati kami, para pembaca budiman.

Maka itu, potensi adegan romantis ini enggak cukup tergali.

Writer jugermix
jugermix at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 41 weeks ago)
70

nocturne itu sebuah lagu ya...i c, teh baca punyaku ya "pada suatu hari"

Writer satria
satria at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 41 weeks ago)
80

*/*

Writer FrenZy
FrenZy at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 41 weeks ago)
80

dialognya bagus, dan judulnya catchy :D br pertama kali nih baca serial yosi yang satu ini.

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 41 weeks ago)
90

Makin keren ceritanya ^_^

lanjut...!!

Writer abc
abc at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 41 weeks ago)
90

nice try...
i think, i really like it

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at AOM 11 : Nocturno part 2 (13 years 41 weeks ago)
90

Sedap dibaca, menurutku dialog-dialognya oke, mengalir mengikuti alur.