Dendam

Dendam

“Tidak bisa!, ini masalah harga diriku sebagai laki-laki dan suami!”. Darah Mat Sholeh telah mengalir ke ubun-ubun. Clurit sepanjang satu meter itu telah dihunus dari sarungnya. Matanya memerah. Seperti serigala yang siap memangsa binatang buruannya.

“Jangan, Mas. Aku telah memaafkannya”. Narsih mengiba. Ia merasa menyesal menceritakan peristiwa itu pada suaminya.

Peristiwa itu bermula ketika Narsih pergi belanja. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba ia dicegat oleh Tohar yang tak lain adalah bekas pacarnya. Tohar mengira Narsih masih perawan. Maka, syahwat kelelakiannya bangkit ketika melihat Narsih berjalan neter kolenang1 dan ketika melihat betisnya yang seperti podak nyongsang2. Apalagi jalan yang dilalui Narsih sangat sepi. Tohar mendekati Narsih dan hendak memperkosanya. Narsih menjerit dan berlari menjauh. Tohar mengejarnya. Namun malang bagi Tohar karena tak berapa jauh kakinya tersandung batu yang cukup besar. Ia meringis kesakitan. Narsihpun selamat. Setibanya di rumah ia menangis dan menceritakan kejadian itu pada suaminya.

Sekali api berkobar dalam dada Mat Sholeh maka susah untuk dipadamkan. Api itu telah menjalar ke seluruh tubuhnya dan menggerakkan kakinya menuju rumah Tohar. Tiga kilometer jarak yang ia tempuh tak menyurutkan sedikitpun niatnya untuk menghabisi nyawa Tohar. Sedetikpun tak ada yang mampu menghentikan langkah pemuda yang paling ditakuti di desa Darseh itu.

Narsih berlari mengejar suaminya. Ia terus mengiba. Merangkak. Memohon kepada suaminya. Tapi semuanya sia-sia. Narsih takut salah satu dari keduanya terluka atau bahkan meregang nyawa. Bagaimanapun, Tohar adalah laki-laki yang pernah hidup dalam hatinya.

“Tolong kasihani anak-anak kita, Mas”. Narsih memeluk suaminya dari belakang. Berusaha menghentikan lajunya. Namun, pelukan itu terlalu lemah bagi Mat Sholeh hingga dengan sangat mudah ia melepasnya.

***

“Tohar!!dimana kau!”. Suara Mat Sholeh menggelegar di rumah Tohar. Rumah yang hanya dihuni oleh tiga orang. Tohar, Ibu, dan seorang adiknya yang bernama Hasan.

Tohar yang terkenal angkuh dan sombong naik pitam melihat ada yang mengusik ketenangannya. Setelah berlari ia mengambil clurit di dalam kamarnya kemudian keluar menemui Mat Sholeh yang telah terlebih dahulu mengacungkan cluritnya ke udara. Ibu Tohar sedang berjualan di pasar sedangkan Hasan yang masih berumur 6 tahun itu tak mampu mencegah kakaknya yang juga tengah dilanda ‘kebakaran’.

Carok3 tak bisa dielakkan. Tanpa banyak bicara, Mat Sholeh langsung menyerang. Clurit yang tajam itu langsung diarahkan ke dada Tohar. Namun, dengan sigap Tohar bisa menghindar. Ia membalas serangan dengan gerakan memutar dan mengarahkan cluritnya horisontal ke leher Mat Sholeh. Mat Sholeh nyaris lengah. Namun kemudian ia sadar dan segera menunduk. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Mat Sholeh untuk melayangkan tinju dengan tangan kirinya ke perut Tohar. Toharpun terjungkal. Ia sadar bahwa nyawanya terancam. Maka, ia segera bangkit dan menjauh beberapa meter dari Mat Sholeh. Setengah berlari Mat Sholeh mengejar dan memberikan tendangan telak ke punggung Tohar. Tohar kembali terjungkal dan malang baginya, karena clurit yang ia pegang terlepas dari genggamannya. Peluang yang besar itu segera dimanfaatkan oleh Mat Sholeh untuk menyabetkan cluritnya ke tubuh Tohar yang sudah tak berdaya. Seketika sayatan hebat merobek punggung Tohar. Darah mengucur deras.

“Aaa..”. Tohar Meradang

Namun, Mat Sholeh belum puas. Satu kali lagi tusukan ke punggung Tohar tembus hingga ke dadanya. Darah semakin mengucur deras.

Mat Sholeh menyeringai. Ia seakan puas melihat tubuh Tohar terkapar dengan dua tusukan. Hasan yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menangis dan berteriak meminta tolong.

“Tolong,tolong..kakak kuleh mateh4 ”. Hanya itu yang bisa dilakukannya.

Melihat Tohar sudah tak bernafas lagi, Hasan segera berlari ke pasar untuk memanggil ibunya.

Bukan main pedihnya hati Siti, ibu Tohar melihat anaknya tewas dengan cara sangat mengenaskan. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa yang membunuh anaknya adalah Mat Sholeh, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Rasa benci itu kemudian tumbuh dengan sendirinya dalam dada Siti. Ia bertekad bahwa Mat Sholeh juga harus mati. Nyawa harus dibalas nyawa.

Ia melepas baju anaknya yang berlumur darah kemudian menunjukkannya pada Hasan

“Cong5, taretanna mateh e tanang Mat Sholeh, dileh rajeh deggi’ be’en geduh males6”. Ada dendam yang besar dalam diri Siti yang kemudian terpaksa harus dibagi dengan anak bungsunya. Tekadnya sudah bulat. Mat Sholeh harus mati di tangan Hasan.

Kemudian baju yang berlumur darah itu ia simpan di kamar Hasan. Agar bara dendam yang telah dikobarkan tak pernah padam hingga dendam itu terlampiaskan secara sempurna.

Setiap Hasan melihat baju yang berlumur darah itu. Keinginan untuk memenuhi permintaan ibunya selalu bangkit. Namun, ia tahu tidaklah semudah itu menghadapi Mat Sholeh. Ia harus memiliki otot yang kekar, dada yang bidang, dan tentunya clurit yang tajam untuk bisa mengalahkan Mat Sholeh.

***

Laki-laki itu terbujur kaku di antara hamparan sawah yang kekuningan. Darah mengalir deras dari lambung kirinya. Membaur dengan genangan air kecoklatan, sissa-sisa hujan yang bercampur tanah persawahan.

Dua jam yang lalu ia masih bersenandung indah ketika baru berangkat dari rumah menuju sawah yang hanya setengah kilometre jaraknya. Mat Sholeh, nama laki-laki itu, tidak pernah menyangka bahwa itu adalah hari terakhir hidupnya. Fisiknya yang kekar telah sering membuat orang-orang gentar, apalagi setiap keluar rumah Mat Sholeh selalu menyelipkan sebilah clurit di pinggangnya.

Tapi, dendam juga sering merenggut kehidupan. Api yang dinyalakan oleh dendam bisa membakar apapun dan siapapun. Tak peduli kuat atau lemah, tua atau muda. Seperti dendam yang bersemayam dalam diri Hasan. Dendam itu telah mampu mengoyak jasad Mat Sholeh yang tebal, laki-laki yang membunuh kakaknya sepuluh tahun lalu.

Hasan puas dendamnya terbalaskan. Ia akan bisa tidur nyenyak kali ini. Dan berita gembira ini harus segera ia sampaikan pada ibunya tercinta, Siti.

Sementara itu Desa Darseh gempar. Laki-laki yang paling ditakuti telah tewas dengan sangat tragis. Ususnya terburai. Lambungnya keluar. Keperkasaan yang sering ia pertunjukkan seakan hilang dihadapan seluruh penduduk Darseh.

Narsih tak bisa menahan kesedihannya. Ia menjerit mengetahui kondisi suaminya yang sangat tragis. Tiba-tiba bara api dendam berkobar di hatinya. Dendam yang sama seperti yang dialami Siti ketika kehilangan Tohar. Kandungannya yang sudah berusia 7 bulan semakin membesar. Ia telah menyiapkan segala sesuatu menjelang kelahiran anaknya yang kelima, termasuk baju berlumur darah yang dikenakan Mat Sholeh menjelang kematiannya. Kelak, jika anaknya lahir, ia harus tahu bahwa bapaknya tewas dibunuh dan baju itulah buktinya.

Dugaan Narsih tak meleset. Ia mendapat informasi dari penduduk sekitar yang melihat kejadian itu, bahwa Hasan lah yang membunuh suaminya. Dendam itu semakin berkobar. Ia mendatangi Sukiman, anak sulungnya yang telah menjadi sarjana dari universitas terkemuka. Sukiman adalah pemuda cerdas, hingga untuk biaya kuliahnya pun tak sedikitpun ia meminta pada orang tua. Ia selalu mandiri.

“Man, Bapakmu mati di tangan Hasan. Kau harus membalas dendam demi kehormatan keluarga kita!”. Narsih berapi-api. Bara di matanya persis seperti bara pada mata Siti 10 tahun yang lalu.

“Kehormatan?. Ini bukan kehormatan, Bu. Tapi kehinaan”. Sukiman tetap berusaha hormat pada ibunya meskipun ia tahu bahwa ibunya telah menyuruhnya melakukan kejahatan. Melakukan sebuah dosa besar yang dilaknat Allah

“Bu, jika kejahatan ini terus dilestarikan, maka akan menjadi dendam turun-temurun yang takkan berkesudahan. Bukankah hanya Allah yang berhak menentukan kematian seseorang?. Bukan kita atau clurit kita. Setiap kejahatan pasti akan ada balasannya. Jika tidak di dunia, di akhirat nanti pasti Allah akan membalasnya.”

Narsih terdiam. Airmatanya mengalir. Emosi sesaat yang disebabkan bara dendam itu tampak mulai surut. Sukiman melanjutkan.

“Kematian Bapak bukan karena Hasan, tapi karena sudah sampai pada ajal yang sudah ditetapkan olehNya”

Narsih adalah orang yang mudah luluh hatinya. Mudah tersentuh fitrahnya. Apalagi jika kata-kata itu berasal dari orang yang ia cintai. Kata-kata Sukiman membuatnya tersadar dan berusaha kembali ke jalan Tuhan.

Sukiman bertekad bahwa ia harus membagikan cahaya yang ia dapat di tanah Jawa pada adik dan orang tuanya. Ia harus menjadi pelita bagi gelapnya bumi Madura. Bahkan ia berusaha untuk kembali merekatkan hubungan kekeluargaan dengan Hasan. Karena ternyata Mat Sholeh adalah sepupu dari suami Siti, Bapaknya Hasan.

( Pameksan, 6 Februari 2008, Rafif Amir Ahnaf )

Ket: 1) istilah untuk cara berjalan yang pelan dan gemulai

2) istilah untuk menyatakan betis yang indah

3) budaya madura yakni berupa perang dengan menggunakan senjata khas clurit

4) kakak saya meninggal/mati

5) panggilan untuk anak laki-laki (madura)

6) saudaramu mati di tangan Mat Sholeh, kalau sudah besar nanti kamu harus membalasnya

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Dendam (13 years 30 weeks ago)
100

Ceritanya menarik. Mengangkat thema Carok di Madura. Semula saya berpikir cerita ttg pendekar betawi. Tetapi memasuki bagian tengah cerita baru sadar, setting ceritanya madura.

Menurut saya Judulnya saja yang kurang menarik. Dendam. Coba diganti pasti akan lebih menjual. Judul khan alat promosi penulis untuk dibaca tulisannya.