The Secret Of Fat Guy (Chap. I)

I

“MA... maaf. Ada masalah penting yang ingin saya bicarakan denganmu, oleh karena itu saya memanggil kamu ke sini,” kata seorang pria gugup. Tampak sebuah garis hitam di bawah bibir matanya.

Sehari yang lalu, melalui Inspektur Andrian, Tommy di beritahu bahwa ada seorang pria yang sangat membutuhkan bantuannya. Dia sedang tertekan akibat sebuah masalah yang melanda rumah tangganya. Ia bersama Nadia datang memenuhi panggilan tersebut dan menjumpai seorang laki-laki yang menderita karena ketidakpastian. Ia menderita secara fisik dan psikis, masalah yang ia hadapi pastilah sangat berat dan pelik. Akhir-akhir ini hatinya sangat teguncang dan bertanya-tanya akan sikap istrinya.

“Saya selalu mendengar tentang kejeniusanmu ketika membuat analisa tentang sebuah kasus kejahatan yang sedang ditangani oleh polisi.” lanjutnya.

“Darimana Anda mengetahuinya?” tanya Tommy.

“Dari Inspektur Andrian. Dia adalah teman saya saat duduk di bangku SMU. Dia tak hentinya bercerita kepada saya mengenai kehebatanmu. Kamu telah banyak membantunya dalam mengunggkap berbagai kasus kejahatan.”

Pria itu berpostur tinggi kurus, tapi badannya sedikit bungkuk ke depan. Janggut halus tumbuh di sekitar dagunya yang lancip. Pria itu sebenarnya tampan, menawan dan penuh kharisma, namun semuanya itu seakan luntur oleh kecemasan yang tersirat jelas dari kedua bola matanya. Rambutnya yang hitam, tak tersisir dengan rapih. Jas dan dasinya lengkap, terbuat dari rajutan benang sutra halus, melambangkan bahwa ia merupakan orang yang berkelas dan berselera tinggi.

Sebelah matanya melirik ke arah Nadia.

“Gadis di sebelah saya ini adalah Nadia Radiyatma,” ujar Tommy memperkenalkan.

“Jangan-jangan kamu...” kata pria itu terputus.

“Iya benar. Saya anak dari Inspektur Adrian Radiyatma.”
Laki-laki itu tersenyum, “kamu memang cantik. Persis seperti yang diceritakan Ayahmu kepadaku.”

Tommy kembali bersuara.

“Baiklah, coba ceritakan masalah Anda?”

Raut wajah pria itu berubah lagi. Kali ini tampak jelas beban berat dari sebuah kejadian yang telah dialaminya.

“Sebaiknya saya perkenalkan dulu diri saya. Nama saya Ivan Ardiyansah. Saya bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan swasta, sebut saja Perusahaan Garmen.”

Ia menghembuskan nafas, kemudian melanjutkan kisahnya.

“Saya adalah seorang kepala keluarga yang menurut saya sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Keluarga saya tidak kekurangan dalam masalah materi, tapi akhir-akhir ini bisnis saya memang sedang mengalami masa yang sulit sehingga mengharuskan kami hidup sedikit berhemat. Namun beberapa hari yang lalu seorang pria datang menemui saya. Ia bermaksud ingin berinvestasi di perusahaan saya, tapi ada beberapa hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum pria itu bisa menginvestasikan uangnya untuk...”

Belum kata-katanya selesai, Nadia langsung menyela, “bukankah itu malah menguntungkan Anda? Investasi yang orang itu berikan dapat membantu perusahaan Anda keluar dari masalah tersebut.”

“Me... memang benar, ta... tapi...”

Tommy menatapnya tajam. Dengan kode dengan jari telunjuknya, ia membuat gadis itu kembali diam.

“Tapi di balik itu semua, investasi itu sama sekali tidak menguntungkan saya. Di sinilah letak permasalahnya. Istri saya mendadak berubah sikap dan tingkah lakunya ketika saya menceritakan hal tersebut. Dia jadi sering keluar rumah dan pulang malam. Sempat saya mengikutinya sebelum bertemu dengan pria yang berinvestasi di perusahaan saya tersebut. Istri saya tiba-tiba berhenti di depan sebuah apartemen mewah dan masuk ke dalamnya dengan terburu-buru," ia berhenti sebentar lalu kembali melanjutkan,
"Dalam batin saya terjadi pergolakan antara rasa penasaran dan takut. Namun akhirnya rasa takut itu lebih mendomiasi batin saya dan saya memutuskan tak mengikutinya masuk karena takut ketahuan. Sambil menunggunya keluar dari apartemen tersebut saya merokok di dalam mobil sambil tetap memperhatikan pintu keluar apartemen tersebut.”

“Setelah kira-kira tiga puluh menit saya menunggu, betapa kaget dan terkejutnya saya. Bukan istri saya yang keluar dari apartemen tersebut justru seorang pria gendut, berkacamata, dengan rambut putih dan kumis yang berbaris menghiasi atas bibirnya. Pria itu adalah orang yang beberapa hari yang lalu berinvestasi di perusahaan saya.”

“Saya hilang akal dan begitu terpuruk saat itu. Sekarang pun pikiran saya masih stres dan kepala saya pusing dibuatnya,” ia mengakhiri kisahnya. Wajahnya yang kelihatan kusut dibenamkan di antara kedua telapak.

“Tenang saja Pak. Jangan biarkan hal itu membelit dan membebani pikiran Anda, nanti malah membuat situasi bertambah buruk,” hibur Nadia.

Setelah melihat pria itu sedikit tenang Tommy berkata, “benar apa yang dikatakan gadis itu Pak. Nah, sekarang coba ceritakan mengenai istri Anda? Kelihatannya saya mulai tertarik.”

Pria itu mengangkat mukanya. Kali ini wajahnya jauh tampak lebih tenang. Mungkin karena ia sudah menceritakan unek-unek yag mengganggu pikirannya selama ini.

“Istri saya sebenarnya wanita yang baik, bahkan sangat baik. Menurut saya dia adalah wanita sempurna yang pernah saya temui. Dia seorang istri, sekaligus ibu yang baik bagi anak-anak saya, penuh dengan kasih sayang dan cinta. Namanya adalah Vira Rahayu Shinta," pria itu menjelaskan.

"Sangat beruntung sekali saya bisa menjadi suaminya. Selama ini dia telah mengurus keluarga dengan sangat sabar, walaupun terkadang kedua anak kami yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar membuat berbagai masalah. Maklum, mungkin karena mereka masih anak-anak, sehingga sifat mereka yang masih ingin bermain dan penuh dengan rasa ingin tahu, masih menguasai diri mereka.”

Ia menguatkan dirinya dan kembali meneruskan.

“Istri saya sebenarnya keturunan darah biru. Ayahnya adalah seorang Gubernur di kota ini dan Ibunya bekerja sebagai model papan atas. Saat kecil dia sangat sering dimanja oleh Ayah dan Ibunya, tetapi saat menikah denganku, kemewahan dan sifat manja yang dulu kental pada dirinya rela ia tinggalkan. Sebelumnya, dia sempat tinggal di Belanda selama beberapa tahun untuk memperdalam ilmunya sebagai ahli make-up dan akting, karena sudah lama ia ingin bergelut dalam dunia seni peran seperti itu.”

“Benar-benar wanita yang hebat,” pikir Nadia.

“Dia juga turut prihatin atas kondisi yang dialami oleh perusahaan saya. Sebagai tanda keprihatinannya itu, ia pernah menawarkan sejumlah uang untuk membantu perusahaan saya keluar dari krisis tersebut. Saya menolak bantuannya itu dengan alasan tidak mau merepotkannya dan karena ini adalah masalah saya sendiri.”

“Pria ini benar-benar keras kepala,” Nadia kembali mendengus dalam hati.

“Pernah juga sekali orang tuanya datang ke rumah kami dan mencoba menawarkan kepada saya sejumlah uang untuk membantu saya keluar dari kesulitan tersebut, tapi saya tetap menolaknya. Saya tidak ingin merepotkan siapapun, apalagi sampai membawa persoalan perusahaan saya itu ke tangan mertua saya.”

“Kapan tepatnya Anda membuntuti istri Anda?” tanya Nadia.

“Emm... sekitar dua hari yang lalu, beberapa jam sebelum saya menemui pria gendut yang berinvestasi itu.”

“Sudahkah Anda menanyakan hal itu kepadanya? Maksud saya bicara berdua dengan istri Anda?” ujar Tommy lagi.

Sambil tertunduk pria itu lalu berkata, “sa... saya tidak berani. Takut istri saya tersinggung nanti. Saya tidak mau melihatnya marah dan dituduh meragukan kesetiaannya sebagai seorang istri. Dia sudah banyak berkorban demi saya dan demi keluarga kami. Saya tak mau menambah pikirannya.”

Pantulan sinar matahari yang semakin terik di luar membut wajahnya terlihat bercahanya.

Menambah pikiran istrinya? Justru laki-laki ini yang menambah pikiran untuk dirinya sendiri. Tapi sepertinya, dia adalah salah satu anggota ikatan suami takut istri, Nadia iseng berkometar dalam hati.

Seorang pelayan kafe tempat mereka bertemu datang membawakan dua gelas jus yang sebelumnya telah dipesan oleh laki-laki tersebut.

“Silahkan diminum!” seru wanita itu kemudian tersenyum.

Tommy menyeruput orange jus yang terhidang di hadapannya, setelah itu, ia kembali berkata, “apakah sikap istri Anda berubah secara tiba-tiba, maksud saya dia berubah ketika Anda menolak tawarannya saat itu?”

“Be... benar! Bagaimana kamu tahu?” pria itu terkejut.

“Saya sangat menyesal mengapa pada saat itu saya menolak bantuannya. Seharusnya saya menerima tawarannya itu, sebab dia melakukannya semata-mata untuk kebaikan saya sendiri.” Lantas ia meneruskan, “saya begitu menyayanginya dan tak mau kehilangan dirinya. Jika disuruh memilih uang dan dirinya, saya pasti lebih memilih dirinya. Saya sungguh tak bisa hidup tanpa dia.”

“Apakah ini bukti nyata dari kekuatan cinta?” iseng Tommy berkata pada diri sendiri.

“Kapan Anda bertemu dengan pria itu lagi?” ia bertanya.

Pria itu lalu membuka buku kecil yang baru diambilnya dalam saku jas hitamnya, kemudian membaca tulisan yang ada di dalamnya dengan nada parau. “Sepertinya saya akan menemuinya besok.”

“Jam berapa tepatnya?”

“Sekitar pukul sepuluh pagi,” katanya sambil menutup kembali buku tersebut, menaruhnya kembali ke dalam saku jasnya.

“Emm besok ya... berarti hari kamis. Untung saja sekolah libur.”

“Libur?” Nadia kebingungan menatap Tommy.

“Besok ‘kan ada rapat guru, jadi hari itu diliburkan. Memangnya tidak ada yang memberitahu kamu?”

Nadia memandangnya tanpa mengatakan sepatah katapun.

“Baiklah Pak Ivan, sekarang tolong tuliskan alamat apartemen istri Anda. Saya pasti akan segera menyelidiki dan menyelesaikan permasalahan Anda ini secepatnya.”

Pria itu merobek selembar kertas dari buku agendanya tadi, kemudian menuliskan sebuah alamat pada kertas tersebut dengan cepat dan memberikannya kepada Tommy.

“Baiklah, nanti saya akan selidiki peristiwa ini. Setelah saya dapat memecahkan misteri tersebut, saya akan menghubungi dan memberitahu Anda mengenai keseluruhan hasil penyelidikan yang telah saya lakukan dan kesimpulan apa yang saya peroleh darinya.”

Pria itu buru-buru pergi tanpa menghabiskan secangkir kopi di mejanya. Sebelum pergi, ia sempat berpesan kepada Tommy dengan sungguh-sungguh.

“Aku mohon selesaikan masalah ini secepatnya. Aku akan membayarmu berapapun yang kamu mau dan tolong jangan sampai istriku mengetahui hal ini.”

***

Keesokan harinya langit begitu cerah, matahari bersinar tidak begitu terik, jalanan penuh dengan tubuh orang yang berjalan hilir mudik.

Tommy keluar seperti biasa dengan penampilannya yang sederhana, ia menemui Nadia yang sejak tadi telah duduk setia menunggunya di ruang tamu. Kali ini gadis itu terlihat begitu feminin dengan rok putih yang menutupi samapi pergelangan kakinya. Rambutnya yang panjang diikat dua seperti ekor kuda.

“Tom, aku mau ikut pergi denganmu!” pinta Nadia berharap.

Tommy menatapnya. Sebenarnya tatapan itu sudah menjadi jawaban bagi kalimat tadi. “Tidak...”

“Memangnya kenapa?”

“Sebaiknya kamu menunggu aku di sini. Kau tahu, ini sangat berbahaya. Bagaimana jika ini adalah kasus pemerasan atau kasus berbahaya lainnya, pasti ada resiko besar yang harus ditanggung. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam penyelidikanku.”

Oh ya. Sama seperti perkataan laki-laki itu yang juga tidak mau melibatkan istrinya untuk membantunya, kata Nadia dalam hati.

“Tunggulah di sini okey! Kemarin aku membeli beberapa DVD, mugkin kamu mau menontonnya sembari menungguku pulang. Semuanya ada di lemari itu,” katanya menunjuk sebuah lemari kecil dekat TV.

“Aku akan secepatnya pulang. Mungkin sekitar tiga atau empat jam aku akan pergi.”

Ia lalu melihat jam tangannya. Kedua jarum itu sekarang telah menunjuk jam delapan tiga puluh tepat.

“Baiklah aku pergi dulu.”

“Tom, hati-hati ya! Aku mau kamu pulang dengan selamat,” ujar Nadia saat pemuda itu hendak pergi.

Anggukan perpisahan dan siluet senyuman merekah dari bibirnya, membuat gadis itu juga menghadiahkan sebuah senyuman balasan yang mengiringi kepergian pemuda tersebut.

***

Film yang dibintangi oleh Daniel Radcliffe, Rupert Grint, dan Emma Watson kini telah memasuki frame terakhir, dimana yang tersisa hanya layar berlatar hitam dan beberapa tulisan yang muncul dari bawahnya, seolah-olah melayang entah kemana.

Tiga jam berlalu begitu lama tetapi Tommy belum juga muncul dari balik pintu yang tadi memisahkan mereka berdua. Baru kira-kira pukul 13.15 siang, pintu itu terbuka untuk yang kedua kalinya. Seorang pemuda masuk. Tampangnya lusuh, bajunya yang tadi kering sekarang sudah basah oleh keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya. Matanya berbinar-binar cemerlang, wajahnya memancarkan kepuasan menandakan penyelidikannya mengalami kemajuan. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya yang lemas itu di atas sofa terdekat. Dengan sigap gadis yang jejak tadi melihat tingkahnya itu lalu mengambil segelas air.

Belum sempat Tommy meneguk habis air mineralnya, gadis itu lalu mengajukan pertanyaan.

“Bagaimana hasil penyelidikanmu? Apakah biasa saja, memuaskan atau sangat memuaskan? Cepat katakan kepadaku. Semuanya.”

“Lumayan...”

“Lumayan?” Nadia melanjutkan, “Maksudmu?”

“Memuaskan. Semuanya memuaskanku, tapi sebaiknya nanti saja setelah makan siang aku menceritakannya kepadamu, perutku sudah keroncongan dari tadi. Aku lapar sekali.”

Ada taman kecil yang terawat baik dengan sebuah kolam ikan di sebelah kirinya. Miniatur air terjun memercikkan titik-titik air seperti melantunkan sebuah nada sumbang, membuat ikan-ikan koi di bawahnya tampak sangat menikmati setiap tetes-tetes air yang berjatuhan. Beberapa jenis angrek yang mendominasi taman tersebut merekatkan akar-akarnya di batang-batang pohon mangga tumpangannya. Dinding pembatas menjulang tinggi dan ditumbuhi tanaman merambat berdaun kecil. Sulur-sulurnya yang pendek seperti akar mengukuhkan tempatnya di situ. Tommy dan Nadia duduk di sebuah rumah kecil menyerupai saung di tengah taman tersebut.

“Nah! Sekarang tepati janjimu tadi. Ceritakan dengan lengkap hasil penyelidikanmu,” Nadia menagih janji.

“Ok, akan aku ceritakan, tapi ingat jangan menyelaku.”
Nadia mengangguk patuh, namun dalam hati ia berkata, “memangnya aku selalu berbuat seperti itu? Dasar.”

“Darimana sebaiknya aku harus memulainya?”

“Saat kamu berada di sana saja,” ujar Nadia sudah tidak sabar lagi. Ia membetulkan duduknya dan mulai menajamkan indra pendengarnya.

“Setelah aku tiba di apartemennya, aku bertanya kepada resepsionis di tempat itu mengenai wanita bernama Vira Rahayu Shinta. Dari situ aku mengetahui nomor apartemennya adalah 201. Aku mau menyelinap ke sana tapi sistem keamanan dan penjagaan di apartemen itu sangat ketat.”

“Lalu aku menyelinap ke ruangan petugas kebersihan di apartemen tersebut dengan maksdu menyamar menjadi salah satu dari mereka. Aku mengetahui ruangan itu berkat denah yang kulihat di lobby apartemen. Di sana, aku hampir saja ketahuan. Cleaning service yang tiba-tiba datang untuk beristirahat memergokiku saat hendak memakai baju petugas kebersihan yang tertinggal di ruangan tersebut, tapi aku tidak kehilangan akal. Dari wajahnya terlihat bahwa pria itu sangat mudah dipengaruhi dan mudah percaya pada perkataan orang.”

“Benarkah?” pikir Nadia.

“Saat ku katakan bahwa aku merupakan cleaning service baru di apartemen itu, dia langsung percaya begitu saja tanpa rasa curiga sedikitpun. Benar-benar payah.” Ia tertawa kecil.

“Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang langka itu. Aku bertanya tentang wanita yang tinggal di apartemen 201. Dia menjawab dengan santai dan jawabannya saat itu sungguh tak terduga olehku. Orang yang tinggal di kamar itu bukanlah seorang wanita menurutnya, melainkan seorang pria gendut dengan ciri yang sama diceritakan oleh Pak Ivan Ardiyansah. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh pria itu, laki-laki gendut tersebut sudah tinggal di sana sejak empat hari yang lalu.”

“Oh iya! Bukankah itu merupakan hari yang sama dimana sikap istrinya berubah drastis,” celetuk Nadia sok tahu.

“Betul. Yang anehnya lagi, cleaning service itu mengatakan bahwa saat pertama kali kamar itu terisi, yang mengisinya adalah seorang wanita cantik, namun pada hari-hari berikutnya yang tinggal di sana adalah pria gendut tadi. Itu aneh bukan?”

Ia mengangkat suara lebih tinggi ketimbang sebelumnya dan berkata dengan suara santai. “Namun saat aku akan menyelidiki kamarnya lelaki gendut itu sudah pulang. Entah kenapa bisa secepat itu? Apa yang menyebabkan pria itu kembali lagi? Jadi aku membatalkan saja niatku untuk menyusup ke kamar apartemennya. Memang sedikit kecewa, tapi aku mendapatkan informasi penting seperti yang sudah kusampaikan tadi bahwa yang tinggal di apartemen itu bukanlah wanita melainkan pria,” jelas Tommy membuat kesimpulan atas ceritanya sendiri.

“Apakah besok kamu akan pergi ke tempat itu lagi? Kamu tahukan maksudku, melakukan penyelidikan ulang,” jelas Nadia.

“Tentu saja. Kasus ini semakin membuatku tertarik,” jawabnya optimis.

>>Bersambung<<

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
dadun at The Secret Of Fat Guy (Chap. I) (14 years 20 weeks ago)
80

yuhuuu, secara si istri pernah mendalami ilmu sebagai ahli make up dan akting gitu.
Wew, tapi gak nyesel baca tulisan-lama-mu ini. Eh, saya suka deskripsi tentang taman, kolam, miniatur air terjun... adem aja bayangannya. Walaupun emang sih gak terlalu mendukung ke ceritanya itu sendiri.
Tadinya saya berharap ke-seruan si Tommy waktu melakukan penyelidikan dikisahkan secara langsung, bukan dari informasi dari mulut si Tomy. Tapi, hmmm saya rasa, deskripsinya pasti akan lebih panjang lagi. Hwahahaha... jadi, emang, lebih baik diceritakan Tomy sajalah.
Lanjuuut...

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at The Secret Of Fat Guy (Chap. I) (14 years 30 weeks ago)
80

Dari jalan ceritanya aku tunggu kelanjutannya dulu deh.

Tapi untuk sebuah cerita genre misteri oke banget.

Saranku, bagaimana kalo seri Nightmare dulu ditamatkan, kemudian kita baca the secret ini. Boleh gak sarannya?

Writer a1d4
a1d4 at The Secret Of Fat Guy (Chap. I) (14 years 30 weeks ago)
70

aku juga menduga seperti dugaan kodoklucu. tapi aku tetap penasaran sama kelanjutannya nech..

Writer kodoklucu
kodoklucu at The Secret Of Fat Guy (Chap. I) (14 years 30 weeks ago)
50

Wah kayanya ceritanya gampang ditebak yah....klo menurut aku ntah bener ato kagak si fat guy itu jangan2 istrinya sendiri yah yang ngerencanain semua menyamar jadi fat guy untuk bantu suaminya karena suaminya ga mau dibantu keuangan ma dia n ortunya juga. Bener ga yaaaa....