Indigo, bikin bego!

Sejauh mata memandang, hanya terduduk seorang anak kecil dengan wajah kemerahan yang berusaha dengan sekuat tenaga mencurahkan kemampuannya.

Suasana terasa amat tegang, dengan jutaan liter air keringat menetes dan membanjiri lantai. Wajah Buba si anak indigo semakin kemerahan, dapat dipastikan ia sedang berusaha menerawang ke masa depan. Suatu peristiwa yang amat menarik mengingat para wartawan yang ada disana justru menampilkan wajah konyol begitu melihat ekspresi Buba tersebut, bersyukurlah Buba tidak melihat wajah-wajah yang mirip pantat kuda itu karena ia memejamkan matanya.
***

Langit sore berwarna kemerahan, namun warna merah yang muncul di wajah Buba justru lenyap seiring waktu yang berjalan. Dan Buba berkata dengan segenap kekuatannya yang tersisa,

“Tiga buah torpedo akan diluncurkan disini, satu jam lagi.”

“Apa!?” teriak para wartawan serempak, namun datar.

“Mana ekspresi-nya???” kata Ayah Buba yang muncul tiba-tiba.

Lalu Ayah Buba mengeluarkan sebatang rokok bertuliskan ABC-Mild dan mundur ke belakang dengan jari tangan menyiku membentuk suatu segi empat.

“Oke. Kamera... Rolling... Action!”
***

“Cukup!” teriak seorang wartawan dengan suara menggelegar.
Dan semuanya pun kembali serius.

Sepuluh orang agen CIA dipanggil untuk mengamankan tempat tersebut, disertai dengan penjagaan oleh pesawat Jet Strike Fighter di udara yang berjaga-jaga seandainya ada misil atau torpedo yang meluncur. Di sebelah utara juga, dimana ada hamparan pantai yang begitu luas telah dijaga oleh sekawanan submarine.

“Dimana Buba?” kata seorang agen Rahasia yang menyamar di tempat kejadian.

Tapi Buba tak ditemukan dimanapun. Diduga bocah indigo itu telah melarikan diri terlebih dahulu.
Lalu semuanya dikejutkan oleh suara mencurigakan dari kamar mandi rumah Buba.

Para agen CIA bersenjata berat berjaga di luar pintu kamar mandi, semuanya dengan lusinan peluru yang siap menggempur apapun yang ada didalam sana.

Semuanya semakin mencurigakan seiring timbul suara kesakitan dari tempat itu. Disertai suara orang yang mengerang dan berusaha ditutupi oleh derasnya air keran yang terus terbuka. Juga suara-suara aneh lainnya yang muncul seperti suara robekan benda. Disanalah, ada seseorang yang sedang mengadu kehidupannya sendiri, mungkin seorang teroris yang bergulat batin saat harus menekan tombol peluncuran torpedo.
Semuanya semakin menegangkan dan mencurigakan.
***

Plung
Plung
Plung

Akhirnya suara ini mengakhiri ketegangan disertai derasnya air yang mengguyur toilet. Buba pun keluar dari kamar mandi dengan wajah lega yang berseri dan berkata polos, “Ah, lega... Torpedo nya telah diluncurkan”

Read previous post:  
41
points
(502 words) posted by wehahaha 14 years 6 weeks ago
68.3333
Tags: Cerita | kehidupan | lari
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Indigo, bikin bego! (13 years 39 weeks ago)
80

Lucu...

Writer yufen
yufen at Indigo, bikin bego! (13 years 39 weeks ago)
50

kalo ini cerita humor pada saat ayah buba datang sampe penekanan tombol peluncuran torpedo agak menjemukan dan agak jayuz hanya saja endingnya yang menggelitik...diatas ada tulisan jutaan liter air keringat menetes lebih baik ditulisnya jutaan butir air keringat...

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Indigo, bikin bego! (13 years 39 weeks ago)
100

Pertama terima kasih sudah membuat lanjutan ceritanya.
Kedua, ceritanya sangat menghibur, karakter si Buba yang ada dalam benak saya persis sama dengan yang Raddar ciptakan.
Ketiga, saya ketipu di ending cerita. Hahaha gelo pisan euy akhir ceritanya.
:-D