SURPRISE!!!

PAGI yang menakjubkan. Langit ceria, embun sedikit memberikan kemilaunya pada ujung runcingnya daun. Matahari sedang jatuh cinta, nampak dari raut wajahnya yang kemerah-mudaan. Mungkin tadi malam dia berhasil mengencani sang rembulan. Makanya pagi ini sekumpulan burung gereja yang biasanya hanya mampu berteriak-teriak selamat pagi, mulai menyanyikan lagu cinta yang mengapungkan rasa.
Saras membuka jendela kamarnya lebar-lebar, tidak mau kehilangan momentum ini. Beberapa saat setelah dia menikmati panorama indah pag itu, diliriknya seorang lelaki bertubuh atletis tengah terkulai pulas di tempat tidurnya yang besar. Bute. Saras menghampiri lelaki itu. Menatapinya lekat-lekat. Menghayati setiap sudut dan lekuk tubuh indahnya yang hanya terbalut kain putih yang kini telah ternoda oleh getah cinta mereka semalam. Saras teringat kembali akan apa yang mereka lakukan tadi malam. Sebuah petualangan cinta yang hebat dan menakjubkan.
Bute terbangun. “Ada apa, beib?” tanyanya manja. Saras menggeleng. Kemudian Bute merengkuh dan membawanya ke pelukan terhangatnya. “Kenapa? Kamu lagi mengenang kejadian semalam?”
“Te, kamu tahu nggak, kamu adalah lelaki pertama yang berhasil membawaku terbang jauh ke angaksa. Bahkan jika boleh aku berhiperbola, kamu berhasil membawaku pada tempat yang lebih tinggi dari angkasa ketujuh. Dan meskipun ini bukan yang pertama kita lakukan, aku selalu merasa baru pertama kali mengalaminya.” Kata Saras sambil memainkan jemarinya di dada Bute. Kemudian Bute nencium Saras dengan penuh kemesraan. Saat mereka tengah asyik masyuk itu, tiba-tiba terdengar dering telfon. Keintiman mereka terpaksa terhenti sejenak.
“Halo? Papa? Mama kangen banget sama Papa.” Saras berusaha semanja mungkin saat mengucapkan kata itu. “
“Papa juga,” sahut seorang lelaki di seberang telepon.
“Papa kapan pulang sih?”
“Kalau ditanya itu, Papa juga nggak tahu. Pokoknya papa janji, begitu urusan papa selesai, papa akan langsung pulang. Papa udah nggak sabar pengen cepet-cepet ketemu Mama buat...”
“Ngasih kejutan! Pasti itu kan? Tapi, kejutan apa lagi?”
“Ada deh. Nggak seru dong kalo papa kasih tahu. Perkara villa di Puncak, berlian, atau Jaguar yang udah papa kasih aja lewat,” ujar lelaki itu angkuh.
“Wah, kayaknya emang bakalan mengejutkan banget! Mama jadi nggak sabar.”
“Makanya doain papa biar urusan di sini cepet kelar. Eh, Ma, anak-anak apa kabarnya?”
“Baik. Mereka semua sehat-sehat, nggak kurang satu apa pun.”
“Papa percaya sama Mama.”
“Aduh, Pa. Udah dulu, ya. Mama lagi masak nih, takut gosong. Sebenarnya mama pengen banget bicara lama-lama sama Papa. Tapi...”
“Udah, papa ngerti kok. Dah, Ma...” Cp! Terdengar semacam kecupan di ujung telepon sana. Kemudian mereka menyudahi pembicaraan itu.
“Siapa, beib?” tanya Bute.
“Mas Yandri,” jawab Saras sambil melempar telepon ke sofa.
Bute mengangkat alis, “O...”
***
Sore itu hujan mengguyur kota. Langit mendung gelap padahal hari belum malam. Saras nampak tertahan di depan sebuah swalayan dengan sekantong belanjaan. Beberapa taksi yang lewat nampak sudah terisi penumpang. Kalau saja Saras sudah bisa menyetir, dia tidak perlu seorang sopir yang malah sering sakit-sakitan. Terpaksa dia menelepon Bute untuk menjemputnya.
***
Di sebuah kamar kost. Seorang perempuan muda nan jelita nampak sedang menyisir rambutnya yang panjang dan basah. Terdengar kucuran shower dari kamar mandi yang tak jauh darinya. Terdengar pula lantunan lagu yang sedang in saat ini, namun dalam nada yang benar-benar fals. Suara laki-laki yang seperti baru mengalami masa pubertas.
Tiba-tiba terdengar getaran ponsel di dalam saku celana yang nampaknya milik seorang lelaki di punggung kursi. Perempuan cantik itu awalnya cuek saja. Namun, getaran itu tak mau berhenti juga. Karena sang pemilik ponsel masih berdendang dalam shower, perempuan itu pun meraih ponsel tersebut. Nampak olehnya sebuah nama muncul di layar ponsel itu. Saras. Langsung saja perempuan itu mengangkat dan hampir menjawab panggilan tersebut. Namun saat dia hendak membuka suaranya, lelaki yang baru muncul dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggang itu dengan cepat merebut ponsel miliknya.
“Kenapa, Ras?”
***
Bute datang dengan mobil bututnya saat Saras sedang mengobrol dengan seorang ibu yang juga sedang menunggu jemputan.
“Nah, itu, pacar Adek sudah datang,” kata ibu itu sambil menunjuk Bute yang menghampiri Saras.
“Mari, Bu,” pamit Saras.
“Kamu ke mana aja sih? Ngangkat telponnya kok lama banget?” tanya Saras pada Bute di perjalanan.
“Emm... aku, aku tadi... ya lagi kuliahlah! Lagi di kampus. Hpnya sengaja aku geterin. Dosennya suka tiba-tiba stress kalo denger dering Hp.” Jawab Bute ragu namun pada akhirnya bisa juga dia mengelabui Saras. “Kamu kenapa? Cemburu?”
“Enggak,” jelas iya.
“Beib,” saat melewati lampu merah, Bute sempat mengecup sesaat bibir manis Saras. “Kamu percaya deh sama aku. Aku tuh cinta dan sayang banget sama kamu. Nggak ada perempuan lain di hati aku kecuali kamu.”
Memang dasarnya perempuan haus akan pujian dan sanjungan gombal laki-laki, Saras pun luluh begitu mendengar kata-kata Bute.
***
Sesampainya di rumah, Saras dikejutkan dengan kedatangan Yandri, suaminya. “Mas Yandri?!” pekiknya seakan sedang melihat setan.
Lelaki bernama Yandri itu ternyata lebih tua dari usia Saras. Jelas nampak di bagian rambutnya yang lebih banyak berwarna abu-abu keputihannya. Selain itu, kulit yang mulai mengeriput tak bisa menutupi berapa usia lelaki itu saat ini. Jika boleh bilang, lelaki itu sama sekali tak pantas menjadi suaminya melainkan bapak, bahkan kakeknya.
“Papa boong. Katanya, urusannya belum selesai.”
“Ini bagian dari kejutan itu, sayang. Memangnya Mama nggak seneng kalau papa cepet pulang?”
“Bukannya gitu tapi...”
Tanpa membiarkan istrinya yang cantik dan belia itu menyelesaikan kalimatnya, Yandri langsung memeluk dan menciumi istrinya.
Keterkejutan itu tak hanya dirasakan Saras melainkan Bute yang sedang berada di situ juga, membawakan belanjaan Saras. Alangkah terbakarnya hati Bute saat menyaksikan kekasihnya yang cantik sedang bercumbu dengan suaminya. Ingin rasanya dia menghajar bahkan membunuh lelaki tua yang tidak tahu diri itu.
“Eh, ada Bute,” Yandri baru sadar bahwa bukan hanya mereka berdua di ruangan itu. Seakan dia terjatuh dari sebuah limosin yang nyaman. “Udah lama, Te?”
“Lu-lumayan,” sahut Bute tergagap.
“Habis belanja, kamu?” tanya Yandri pada Bute.
“A-a-ku baru ngejem-put Saras belanja.”
“Saras?” Yandri menaikan intonasinya.
“Mak-sudku Ma-ma. Ya, aku barusan ngejemput MAMA belanja. O iya, Papa apa kabar?”
***
Malam itu, Saras sudah tidak sabar menantikan kejutan apa yang akan diberikan suaminya. Dia jadi mengira-ngira. Tapi dia tidak mau berlama-lama membayangkan segala kemungkinan. Dia ingin segera mengalami hal nyata itu.
Yandri meminta Saras untuk menutup matanya dengan sebuah kain. Saat itu akhirnya tiba juga. Setelah Yandri mempersiapkan kejutannya dengan baik, Saras diperbolehkan membuka kain penututup matanya.
“SURPRISE!!!” seru Yandri.
Entah takjub atau apa, yang jelas Saras merasa...
“Pa, mana kejutannya?” tanya Saras pura-pura tidak tahu saat disodori sesuatu di hadapannya. Sambil hatinya berharap bukan itu kejutan yang dimaksud suaminya.
“Ya ini,” kata Yandri sambil memamerkan penisnya yang kini sudah bisa berdiri tegak secara sempurna.
O God! Saras pikir kejutan itu serupa kalung dengan desain indah yang terbuat dari platina, atau sebuah apartemen mewah, atau tiket keliling Eropa, atau mungkin pesawat terbang pribadi, atau bahkan sebuah pulau. Secara suaminya seorang pengusaha sukses yang sekaligus sebagai orang terkaya kesekian di Indonesia, harapan semacam itu sah-sah saja baginya.
“Ma, sebenarnya papa jauh-jauh ke luar negeri sana bukan untuk apa-apa melainkan khusus untuk urusan ini. Papa tidak mau membuat Mama kecewa terus menerus sama papa.”
Saras tidak tahu harus bilang apa. Kata-kata suaminya itu sama sekali tak pernah menjadi permasalahannya selama ini. “Kekurangan” Yandri sebagai seorang suami sejak awal tak pernah menjadi penghalang bagi Saras untuk menjadi istri kedua Yandri. Yang Saras inginkan darinya hanyalah materi. Persoalan malam ini ingin ditiduri siapa adalah hal yang mudah. Apa lagi sejak pertemuannya dengan Bute, anak kedua Yandri yang usianya lebih muda lima tahun dari Saras itu, Saras merasakan adanya getaran-getaran syahdu dalam hatinya. Awalnya memang dia berusaha menutupi perasaannya. Namun ternyata Bute memberanikan diri menyalakan api asmaranya karena memang secara fisik Saras adalah wanita yang amat sempurna. Maka terjadilah “Hubungan baik” anak dan ibu tiri itu. Dan memang Bute mampu memenuhi kebutuhan batin Saras sebagai seorang wanita sekaligus istri yang haus belaian.
Karena sudah terbiasa memasrahkan jiwa dan raganya pada Bute, Saras menolak saat suaminya mengajak dia melakukan apa yang selama ini jarang, bahkan nyaris tak pernah mereka lakukan berdua. Saras berdalih kalau dirinya sedang haid. Yandri tentu saja amat sangat kecewa. Penis barunya yang gagah perkasa itu sia-sia saja. Kejutan itu...?
Saras membiarkan suaminya tertidur kecewa di sampingnya. Saat tengah malam tiba, diam-diam saras terjaga dan beranjak dari tempat tidurnya. Dia teringat terus akan keperkasaan perkakas baru suaminya tadi. Dia jadi... horny. Tapi tak mungkin dia lakukan dengan sang suami karena di hatinya selalu ada sang anak tiri.
Pintu kamar Bute di lantai dua pun menjadi persinggahan ujung punggung jemari Saras. Diketuknya pintu itu pelan namun pasti. Sang pemilik kamar pun membukanya dan mengeluarkan sedikit kepalanya.
“Ada apa sih?” gumam Bute sedikit kesal dengan wajah yang kusut. Namun begitu tahu yang di hadapannya adalah sang bidadari malam, wajahnya kembali segar dan berbunga-bunga. Kemudian Saras masuk. Seolah tangannya sudah terlatih untuk tidak lupa menutup pintu dan menguncinya. Dan tanpa berlama-lama atau banyak bicara, mereka pun saling memberi surprise yang bertabur gairah.
***
Pagi yang menakjubkan. Langit ceria, embun memberikan kemilaunya pada ujung runcingnya daun. Mata hari semakin merah merona. Tadi malam dia berhasil mengencani sang rembulan untuk yang kesekian kalinya. Dan pagi ini sekumpulan burung gereja kian merdu menyanyikan lagu cinta yang mengapungkan rasa.
Bute membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Tidak mau kehilangan momentum ini. Beberapa saat setelahnya, diliriknya seorang wanita cantik bertubuh indah tengah terkulai pulas di tempat tidurnya yang kecil. Saras, sosok ibu tiri terbaik yang pernah ditemuinya. Bute menghampiri wanita itu. Menatapinya lekat-lekat. Menghayati setiap sudut dan lekuk tubuh indahnya yang hanya terbalut kain putih yang kini telah ternoda oleh getah cinta mereka semalam.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Bi Tum, pembantu mereka. Dengan gugup bercampur panik, Bi Tum memberitahukan sebuah kabar buruk tentang Yandri, tuannya.
Bergegas Bute menghampiri kamar papanya. Naas. Yandri ditemukan tengah dalam kondisi kaku serta tak bernyawa lagi. Keadaannya pun amat mengenaskan.
Setelah diperiksa, ternyata Yandri meninggal karena mengalami over dosis akibat viagra import yang dikonsumsinya. Saras amat terpukul akibat kejadian ini. Dia menyadari dan menyesali perbuatannya selama ini. Dia pun sempat mengalami tekanan batin yang cukup mengguncangkan dirinya. Namun demikian, dia tak bisa memalingkan perasaannya sedikit pun dari Bute.
Setelah kematian Yandri, mereka justru semakin bebas melakukan apa yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Meski terkadang hati kecil Saras selalu membawanya pada Yandri, namun gelora di dadanya tak mampu terbendung hanya dengan itu.
***
Suatu malam, setibanya Saras dari luar kota untuk mengurusi beberapa hal yang berhubungan dengan perusahaan almarhum suaminya, Saras berniat untuk memberi Bute surprise. Begitu tiba di rumah, dia langsung berlari masuk mencari Bute. Maka setibanya dia di kamar Bute, dia langsung membuka pintu kamarnya...
“SURPRISE!!!” serunya dengan nada riang.
Tiba-tiba saja semangatnya menyurut bahkan perutnya tersuruk untuk memuntahkan segala kotoran di dalamnya saat melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. Sebuah pemandangan yang biasanya dia lakukan bersama lelaki yang kini sedang melakukannya bersama perempuan lain yang bukan dirinya.
“Saras?!” Bute terkejut setengah mati saat melihat ibu tirinya melihat dirinya tengah bergumul dengan seorang wanita, teman kuliahnya. “Kok udah pulang?”***

| Rabu, 18 Januanri 2006 21:28 |

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer v1vald1
v1vald1 at SURPRISE!!! (15 years 25 weeks ago)
60

Kamu membuat cerita pendek ala majalah. Atau bisa juga disebut cerita bersambung, saking begitu banyak pergantian alur dan setting. Cerita kamu memang menggigit. Tetapi, untuk sebuah cerpen yang aku secara subyektif anggap "bernilai" tulisan ini masih kurang.

Writer sherlyne_dee
sherlyne_dee at SURPRISE!!! (15 years 26 weeks ago)
70

Waduh, aneh2 aja.
Nggak tahu siapa yg mesti dikasihani. Saras dan Bute? Jelas nggak lah. Lalu Yandri? Meski dia punya kelemahan, tapi kan dia punya banyak istri? Jadi kurang respect.
Tapi idemu boleh juga ya. Sesuatu yg nggak kepikirian olehku. Cuma saranku meng. endingnya, kayaknya sudah umum nih yg kepergok begitu di kamar tidur. Mengenai gaya bahasanya juga cukup mengalir. Ditunggu cerita lainnya ya?

Writer arien arda
arien arda at SURPRISE!!! (15 years 26 weeks ago)
60

seru...!!!
good story