reYna - bagian pertama [utuh]

Aku ingin menjadi yang terindah untukmu…
Hingga lekang waktu menghapus perih luka itu
Bersama tiap hela nafas yang kerap kali kurindu,
Mengikrar janjiku, satu, kepadamu…

Sebisa aku mencari sela sela mimpi, untuk sekedar melihat sosokmu yang begitu jauh… hari ini kembali aku temui kau menangis dalam senyuman.

Kotaku, beberapa waktu silam…

Aku jatuh cinta, setelah kudengar ia bernyanyi. Entah lagu… atau dirinya yang membekas di hati. Tapi kuyakinkan, aku sungguh jatuh hati…

Tak banyak kenanganku tentangnya. Hanya kutahu, ia ada. Selebihnya, adalah bayang yang kerap kali bermain dalam pikirku.

Hingga suatu waktu… aku memberanikan diri menyapa. Berharap, ia sekedar membalas, seulas senyum saja.

Taman kota, saat senja…

Di bangku, di satu sisi bermekar anggrek, aku duduk. Membolak balik halaman buku bersampul biru. Tak sadar aku bergumam,

“Pernah suatu kali berkata padaku – tak peduli seperti apapun dirimu – sungguhkah itu kau? Seribu Tanya meragu. Dan aku, hanya tersenyum pada kesendirianku…”

Lalu.. kudengar suara, tak asing…
“Maaf…….?”

Aku menoleh. Kucari pemilik suara itu. Sungguh aku tak menyangka, kini ia duduk di sampingku.
Kehilangan seluruh kata, aku hanya membisu. Kalau ia tak tersenyum,… mungkin akan tetap hening.

“Maksudku… bukan kau.” Aku terbata. Lagi lagi ia tersenyum.
“Boleh aku tahu siapa kau?” tanyanya.
“Is that important? Maybe… I’m nothing for you. But I know you.”
Sederet kata bodoh, yang kuyakin membuatnya bingung.
“What ever you are….”
Kutatap bening mata itu.
“Aku…”

Kalimatku menggantung.. seperti juga rasa ini. Menggantung…
“Boleh kutahu semua tentangmu…?” tanyaku.
Lagi lagi… pasti ia menganggapku aneh.. semoga saja tak lalu pergi.

“Apa yang ingin kau tahu tentangku…?”
jawabannya membuatku bisu.

Kembali pada senja di lain hari…

“Kemarin… kau pergi tinggali tanyaku.”
“Maaf… tiba tiba aku ingat, ada janji dengan kawan. Boleh kujwab sekarang?”

Ia mengangguk. Tersenyum.
“Aku ingin tahu hatimu. Hatimu…”
Sejenak ia berpikir.
“Mungkin seperti itu.” Ia menunjuk serumpun anggrek. “Secantik mawar, tanpa duri, tentunya. Bagaimana denganmu?”
“Aku?” mencari kata yang tepat, aku diam. “Andai aku adalah putri, mahkotaku kini hilang. Dan aku sedang mencari, seorang pangeran yang tulus mencintaiku.” Ia tersenyum.
“Kau tahu? Anggrek itu sedang menunggu seorang putri, untuk memetiknya dan merangkainya menjadi mahkota.”

Aku tersipu. Dengan makna kata yang tak kutahu pasti apa, sekejap kurasakan dalam di mata bening itu, sesuatu menggapaiku.
“Siapa ia, yang kau ijinkan memetiknya?”
“Aku tak tahu… mungkinkah kau?”
“Aku? Bahkan kau tak mengenalku.”
“Ya… bahkan aku tak mengenalmu, … tapi, jika suatu hari nanti aku bertemu putriku, aku tak peduli siapa dia, darimana… seperti apapun… Biar saat itu hatiku bicara.”

Matanya menerawang jauh… di langit merah itu, seakan ia mencari sosok bidadari…

Beberapa saat, aku memutuskan untuk tidak menemuinya. Hariku telalu padat. Banyak yang harus kuselesaikan. Sementara buku bersampul biru itu, tak juga habis kubaca. Hanya sesekali ku bawa, terlupa.

Pagi saat aku meluangkan sedikit waktu…

Aku berjalan sepanjang tepian danau di taman itu. Daun daun masih sedikit berembun, sedang udara mulai menghangat. Kudengar sayup petikan gitar.
Gazebo sepi itu berpenghuni. Ia duduk memangku gitar. Jejemari memainkan benang senar. Dari bibirnya teralun lirik lagu yang dulu ia nyanyikan.

Saat itu, aku hanya memandangi sosok yang nyaris terlupa dua minggu terakhir. Entah ia masih mengingatku atau tidak.

Seperti menyadari keberadaanku, ia mencari.
“Hai.. lama tidak bertemu. Kemana saja kau?” sapanya hangat, begitu ia temui sosokku.
Aku menghampirinya.
“I was busy. Apa kau kesini setiap hari?”
“Kadang. Di sini banyak hal yang menarik.”
“Menarik?”
“Ya. Banyak sekali. Termasuk kau. Kau, paling menarik diantara apa yang aku pernah temui di sini.”
“Menarik atau aneh?” tanyaku dengan wajah memerah. Malu.

Ia tertawa. Baru kali ini kulihat tawa lepasnya.
“Mungkin juga aneh. Tapi… kau memang menarik. Sungguh.”
Aku tahu ia tak berbohong. Atau mungkin sekedar gurauan saja. Namun cukup, mengawali hariku dengan senyuman.

Malam perayaan kota

Hari ini malam hari jadi kotaku. Panggung sederhana apik itu telah siap dengan berbagai atributnya. Panggung tempat ia akan bernyanyi nanti. Itu alasanku datang. Karna aku sungguh cinta keheningan. Tidak hiruk pikuk ini.

Seusai bernyanyi, ia menemuiku. Mengajakku berkeliling. Sekedar melihat keramaian sambil berbincang.
“Kita sering bertukar sapa. Tapi sampai sekarng aku tak tahu siapa namamu.”

Ah, ya…. Sejak awal aku dan dia bicara, tak sekalipun diantara kami menyebut nama.
“Reyn. El Reyna.”
Seperti heran, ia mengulang namaku.
“El Reyna?” ia mengulang namaku.
“Ya, aneh?”
“Tidak.. nama yang cantik. Walau agaknya asing. Boleh aku memanggilmu Rey? Kau boleh panggil aku Trian…”

Deras hujan mengguyur kotaku…

ia adalah kenang akhir sebelum hilang bentukku
ku mau hembus nafasnya rasai kematian jasadku
tertitip sebentuk “ntah” pada angin
biar tak busuk bersama raga ini
lalu beri padanya
setelah aku, jasadku, ragaku jauh pergi
ke dasar bumi, meraih langit
biar tak kudengar suara hatinya
tak kutahu ketiadaan “ntah” nya untukku
aku tak ingin tahu

Kusesali pengakuanku. Harusnya aku tetap diam. Cukup hanya aku yang rasai sendiri. Biar hanya aku yang tahu. Yang terjadi, kini hanya kutahu sesal. Percuma…

Aku pergi begitu saja. Menghilang. Saat kutahu, seorang putri bersanding di sampingnya. Tanpa kumau tahu, ia memanggilku. Memanggil namaku….

Bagaimana mungkin aku salahkan ia atas luka yang kurasa?

Empat tahun berlalu…

Jika sepi menyelimutiku, tak jarang aku teringat padanya. Kini dapat kudengar liriknya di setiap sudut kotaku. Nyanyian yang kini berwujud kepingan terjual.
Ia tak lagi bernyanyi di taman itu, mungkin. Sibuk dengan jadwal jadwal berputar. Kadang aku berpikir… apa ia masih mengingatku? Gadis aneh di taman kota, yang selalu duduk menemani bernyanyi, ketika tak seorang pun peduli. Yang begitu ingin tahu siapa ia. Lalu dengan bodohnya menyatakan cinta, saat ia baru saja menemukan putri, bidadarinya… dan lalu menghilang pergi.

Aku sendiri….

Air mata ini tak henti.
Memburai dalam sepi… tanpa isak dan suara,
aku mencoba mengemas keping ingatanku tentangnya.
Mengepak rapi dalam kotak memoriku.
Dia tak pernah bisa jadi kenang terlupa..
Tidak juga untuk menghantui hidupku..
Aku merasa berhak memulai hari baru,
Tapi cintaku sangat, ….
Mungkin mengingatnya bukan suatu kesalahan,
Kerna tak ada perih kurasa…
Kerna aku sungguh cinta ia,
Tulus….

^_^
(walau tak bisa kumiliki)

Gedung tinggi tempat aku bekerja…

Agak lelah, kulewati koridor panjang lantai lima. Tanganku penuh tumpukan kertas dan buku. Buku bersampul biru.

Mungkin terlalu letih, sampai sampai langkahku terhenti, jatuh. Serakan kertas putih penuh coretan memenuhi lantai. Seucap maaf terlontar bersamaan. Sempat buatku terkejut begitu ku tahu wangi yang menabrakku. Apa yang ia lakukan di sini?

Bergegas kurapikan semua yang terjatuh. Lalu pergi berlalu, menghilang, sesegera aku bisa. Mungkin ia mengenaliku. Mungkin ia ingat padaku. Mungkin juga tidak…
Biar aku, tetap tak tahu…

Di hari hujan…

Tangis langit menghujam. Membanjiri setapak jalan paviliunku. Sedang aku, tak tersentuh dingin angina. Dibalik kaca jendela, memandang jauh keluar.

Pagi ini hatiku seperti badai. Entah karena awal hari yang begitu suram – atau mimpi buruk yang terbawa hingga bangun.

Segelas kopi menghangatkan jemari tanganku. Sedang tubuhku hanya terbalut kemeja putih yang sedari malam menyelimuti tidurku.

Hingga pelangi mengganti tirai air yang deras, aku masih saja duduk melamun. Dari jendela kudapati sisa tetes tangis awan di lembaran hijau daun. Seperti embun memahkotai rerumputan pagi dulu. Pagi saat kusimak merdu syairnya.

Sesak penuh dadaku. Kini aku yang menangis…. Mengganti tangis langit… jika lalu langit cerah begitu habis air mata, aku butuh waktu untuk kembali tersenyum. Sudah tiga tahun, sejak tangisku dulu…

Dia

Kaki ini seperti tak lagi menginjak bumi. Kosong. Gelap.
Aku ingin lari. Menggantikannya berlari…
Aku ingin terluka… agar bias kurasai sakitnya….
Ingin kupapah ia, agar tak lagi terpuruk… hancur…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer mey
mey at reYna - bagian pertama [utuh] (14 years 34 weeks ago)

ngerti ceritanya??

masa si...??

Writer sekar88
sekar88 at reYna - bagian pertama [utuh] (14 years 34 weeks ago)
70

seru sih tapi kok aku ngerti ma ceritanya

Writer Gardhu
Gardhu at reYna - bagian pertama [utuh] (14 years 34 weeks ago)
60

Padahal ketiganya kan satu bagian. Ada kepuasan kalau kita membaca dari awal hingga benar-benar akhir. Kalau dipisah sembarangan, bisa membuat pembaca berhenti membaca karena cerita menjadi tidak lengkap (dalam sekali baca).

Apa lagi, ini kan kemudian.com. Kita juga mau kok, baca panjang-panjang, asalkan karyanya bisa memikat kita.