jat0 cinTa tu senGsara

Sore menjelang petang, pada hembus angin wajah ini menghadap dan mencari. Bertanya dimana ia. Kiranya bisa beri tahu, sebatas arah saja…..

Semakin rasa ini mencabik, membungkam diam mulutku. Tak urung dirundung gelisah, dihantui mengapa. Selera makan hilang seketika. Perut ini kenyang hanya dengan lamunan. Begitu rasanya. Walau lambung merintih meminta sesendok nasi, sepanjang lidah oesofagus menolak hadirnya rasa, selain hambar…

Lagi-lagi titik ini terpecah, satu masalah hanya separuh terselesaikan. Separuh lagi sisai berat dan penat. Begitu enggan menyapa kesibukan, sedang kerja menumpuk berderet antri. Sirna sudah tanggung jawab yang semula merecoki, masa bodoh dengan segala rutinitas tugas membosankan…

Kucoreti lembaran kertas kertas bekas. Gambar bulatan, tarikan huruf tak terbaca, dan goresan abstrak lainnya. Melukiskan kecamuk gelisah, rindu, dan rasa aneh dalam hatiku. Serba tak menentu. Ketidak pastian yang pasti hadir… membuat semuanya merunyam.

Diskripsi rasa ini berujung pada satu simpulan, aku ingin menemuinya. Memberikan bungkusan yang sudah 3 hari teronggok di lemariku. Sengaja sembunyi, biar hanya aku yang tahu. Tapi bagaimana caranya?

Jelas aku tak mau dianggap aneh. Memeberi buntalan hijau dengan al kitab di dalamnya, pada seseorang yang mungkin – besar mungkin itu – tak tahu siapa aku.
Tapi aku, lebih tak ingin kekacauan ini berlanjut. Memecah titik, mencabik dada, melebur sibuku menjadi debu, hingga tak kuanggap berarti. Yang paling menyedihkan, lambungku pasti makin asam karena HCl bertumpuk tanpa ada pun segenggam gandum. Sungguh menyedihkan.

Berpusing pada pilihan simalakama, tympaniku kusibukan dengan musik-musik yang biasa kudengar jika aku – hatiku – kacau !!

Ah……….. bisa-bisa aku gila !!! Yang mengacaukanku !!!! Tapi tak bisa kusalahkan ia. Sedang dosanya hanya memberi seulas senyum padaku. Itu pun dalam hitungan menit tak ada. Aku saja yang terlalu mendramatisir. Konyol !!!!!!!!!

Sebegitu lekat wajah dan sosoknya, namun rangkai huruf nama, tak pernah sanggup kutulis tanpa getar. Seluruh sel tubuhku memanggilnya, tapi tak sepatah pun terucap oleh bibirku. Sebegitu mengerikannya rasa ini !!!!

Sungguh aku tak pernah mencicipi rasa teramat asing, berlalu lalang kisah, hanya berbuntut rentetan keluh sesaat,… Tapi keanehan ini… dalam waktu sekedip mata, membuat organ organ lesi, bahkan linguaku tak mampu sekedar berkeluh erang…
Menakjubkan… !!!!

Kuputuskan mencari tahu hunian hari. Agar dadaku tak lagi sesak… tak lagi seperti tercemeti,…. Besok, bila usai tugas ini, sedikit akan kubagi lagi cerita… tentangku, hatiku, dan rintihan lirih mucosa lambungku, …..

Tiga hari nyaris membuatku tiris, kuberanikan diri memberi. Pun tak lewat tangan ini. Luluh lantak rasanya. Seperti tak percaya. Begitu buntalan itu berpindah tangan, kakiku tak lagi mampu menopang. Aku lemas… mendadak lesi…

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer imr_aja
imr_aja at jat0 cinTa tu senGsara (14 years 34 weeks ago)
70

masih datar

Writer bunda_ery
bunda_ery at jat0 cinTa tu senGsara (14 years 34 weeks ago)
50

I don't understand what the point of this stroy...I am really sorry...but don't stop to write..jayooooo

Writer KD
KD at jat0 cinTa tu senGsara (14 years 34 weeks ago)
100

kosakata(8), alur(3), bentuk(8), kedalaman(3)
*************************
nuansa: LEVIATHAN
*************************
saran: tipe tulisan yang menjadi sasaran empuk dekonstruksi pembaca. Saya tidak terlalu suka. Hanya terasa emosi, namun makna tidak jelas.