Jejak Luka

Saya tidak suka anak kecil, tidak pernah suka. Setiap kali melihat mereka rasanya ada yang menikam hati saya. Ada sesuatu yang tak saya tahu, yang membuat luka. Meski pada akhirnya saya memilikinya. Seorang anak lelaki, Darren namanya.

Sepasang mata bulat itu menatap saya. Sisa-sisa airmata masih ada di sana. Dengan isak yang perlahan, dia mengiba, meminta jatah susu dalam botolnya. Saya hanya diam tak bergeming menatapnya. Menatap sepasang mata yang dia punya.

Anak lelaki itu mengingatkan saya pada dia. Pada Rendra, suami saya. Satu-satunya cinta yang saya punya. Cinta pertama sekaligus terakhir bagi saya. Cinta yang tak pernah disetujui oleh Karin, sahabat saya. Karena katanya, lelaki seperti Rendra tak pantas untuk saya.

***

”Lihat Karin, ada Rendra !” seru saya pada Karin, histeris. Sedang Karin menanggapinya dengan meringis.

”Buat apa sih kamu suka sama lelaki macam dia ? Dia itu banyak pacarnya. Laki-laki buaya !” Karin bertanya sekaligus menghina –saya rasa-. Karin adalah sahabat saya. Dia tak pernah suka dengan Rendra, entah mengapa. Firasat seorang sahabat, saya rasa.

Saya dan Karin sudah lama bersama. Sejak kami jadi mahasiswi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bandung ini. Itu berarti lima tahun berbagi tawa, mengobati luka, menyimpan cinta dan menyulam duka. Maka itu saya rasa, mungkin Karin punya alasan pasti. Mengapa dia begitu membenci Rendra.

Karin terus saja meyakinkan pada saya. Bahwa sebenarnya Rendra tak sebaik yang saya kira. Tak sesempurna seperti pikir saya tentang sosok lelaki sempurna. Tapi terkadang, cinta itu buta. Membuat saya tak peduli nasehat Karin, sahabat saya. Membuat saya melakukan apa yang diingini hati saya. Menutup telinga saat semua orang bicara. Menutup mata untuk semua hal tak sempurna tentang Rendra.

Lagipula sampai saat ini saya tak mengerti. Apa alasan sesungguhnya Karin begitu membenci. Saya rasa mungkin saja dia iri. Tapi sepertinya prasangka saya salah sama sekali. Karena saat itupun, Karin sudah memiliki belahan hati. Saya tak begitu peduli. Biar itu menjadi rahasia bagi kami.

* * *

Saya dan Rendra mulai berpacaran. Dunia yang nyinyir tak kami pedulikan. Karin pun tetap teguh pendirian. Meskipun cinta saya dan Rendra banyak dipertentangkan, namun kami bisa sampai ke pelaminan.

Pernikahan ternyata bukan akhir dari banyaknya pertentangan. Justru mula dari benih-benih pertengkaran. Saya tak menyana kalau yang selama ini dikhawatirkan Karin sungguh terjadi. Salah saya, terlalu buta karena mencintai. Tak berpikir dengan logika dan nurani.

Saya tak tahu siapa dia. Wanita yang merebut hati suami saya. Setelah dua tahun pernikahan kami. Yang sepi tanpa kehadiran seorang buah hati. Dan bertambah sunyi ketika hati Rendra ikut pergi. Pergi kepada perempuan lacur itu. Yang bahkan namanya saya tak tahu.

Saya ingin menghubungi Karin lagi. Tapi rasanya hati ini terlalu malu mengakui. Kalau nyatanya semua yang dikhawatirkannya terjadi. Tiba-tiba saya menjadi terlalu rendah diri. Untuk sekedar berbagi luka hati. Kendatipun dengan sahabat saya sendiri.

* * *

Lamunan saya tersentak tangisan. Darren rupanya mulai tak sabaran. Dia berteriak kelaparan. Dengan hanya mengucapkan sepatah kata yang baru bisa dia lafalkan. ”Mama...”, katanya sambil menggapai-gapai tangan. Isaknya sudah terdengar payah. Akhirnya saya menyerah. Memberikan sebotol susu itu pada Darren yang mulai lelah. Darren menerimanya dengan sumringah.

Mungkin kebencian saya pada Darren tidak seharusnya. Karena yang salah bukanlah Darren, tapi kedua orang tuanya. Namun menatap wajah lugunya sungguh membuat hati saya nyeri. Mengingatkan saya pada Rendra yang mengkhianati. Mengingatkan saya pada wanita yang seharusnya tak saya ketahui.

Lalu pikiran saya melayang lagi. Mencoba mengingat-ingat kembali. Mundur setapak menyusuri sakit hati. Kenangan pahit yang tak dapat saya lupakan. Yang malahan saya bingkaikan dengan pigura dan saya gantungkan di samping foto pernikahan.

* * *

Suatu kali saya memberanikan diri. Untuk menghubungi Karin lagi. Menceritakan apa-apa yang saya alami. Mencurahkan segala isi hati. Mengatakan kalau ternyata yang dulu dia khawatirkan memang kebenaran sejati. Juga meminta maaf atas ketidakpedulian saya selama ini.

Dan Karin hanya tertawa di seberang sana. Mengatakan kalau tentu tidak apa-apa. Katanya, memang terkadang cinta membutakan hati manusia. Membuat manusia lupa siapa yang sesungguhnya benar-benar berharga. Saya sungguh lega. Karena yang saya takutkan prasangka belaka. Karin tetap sahabat saya.

”Kamu belum punya anak ?!” Karin tersedak saat saya memberitahunya. Dua tahun memang waktu yang cukup membosankan, untuk menunggu hadirnya momongan.

”Sudah periksa ?” dia bertanya lagi. Kali ini nadanya serius, khawatir juga barangkali.

Saya mengangguk saja, mengiyakannya. Banyak dokter yang telah saya dan Rendra datangi, tapi yang dikatakan para dokter itu sama saja. Tak ada yang salah dengan kami. ”Mungkin belum waktunya saja...” begitu para dokter itu menghibur kami.

Dan saya juga bercerita. Tentang Rendra yang mulai terlihat berbeda. Entah apa itu hanya semua praduga. Tapi saya yakin memang ada yang lain dari Rendra. Saya bilang, mungkin Rendra punya istri kedua. Lalu saya menangis di bahu Karin, dia hanya berdiam saja.

* * *

”Mama...” Darren memanggil saya lagi. Padahal saya bukanlah yang dia cari.
Saya menatapnya sebentar saja. Mata saya basah oleh airmata. Hati saya menorehkan lagi sayatan luka. Darren menatap saya dengan mata lugunya. Sejenak wajahnya menatap iba. Tapi kebencian saya pada Darren tak juga sirna.

Saya menyeka airmata, melanjutkan menapaki kenangan. Sakitnya perasaan tak lagi terhiraukan. Saya hanya berharap dapat melupakan. Namun, setiap kali saya menatap Darren, bayangan kebencian itu muncul bergantian. Sosok Rendra dan perempuan rendahan. Sementara saya hanya dapat menghela napas menahan perasaan.

* * *

Saya masih ingat, hari itu Rendra pulang cepat. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Dia membawa saya menuju sebuah Rumah Sakit. Sedang saya hanya terdiam dengan dahi yang mengernyit. ”Ada apa ?”, saya bertanya. Namun Rendra diam saja.

Apa yang saya dapati di sana sungguh tak terkira. Sesosok tubuh terbaring kaku dan ditutupi wajahnya. Ketika saya membuka, ternyata itu Karin sahabat saya. Lalu saya pingsan. Tak sanggup melihat kenyataan.

Enam bulan lalu Karin berpamitan. Katanya dia dipindahtugaskan. Saya sungguh tak mengira akan bertemu dia dengan keadaan seperti ini. Separuh jiwa saya rasanya mati. Sungguh tak sanggup saya percayai.

”Karin meninggal saat melahirkan.” Rendra menjelaskan setelah saya siuman.

Saya tak ingat Karin pernah memberi undangan pernikahan. Saya tak ingat kalau Karin bercerita dia sedang berpacaran. Yang saya tahu, sudah lama Karin tidak punya pacar, karena alasan pekerjaan.

”Ini...” Rendra memberikan saya seorang bayi dalam pangkuan. Bayi itu masih merah dan sedang terlelap dalam impian. Anak Karin, dalam hati saya menyimpulkan.

”Kita yang rawat anak itu.” Rendra berkata perlahan. Saya terkejut dan heran. Bukannya saya merasa keberatan. Tapi bagaimana dengan ayah sang bayi ? Mengapa yang merawatnya harus kami ?

”Aku ayahnya...” Rendra berkata lirih sekali. Namun, saya bisa mendengarnya pasti. Separuh jiwa saya yang tersisa pun mati. Sungguh saya merasa dikhianati. Oleh Karin yang katanya merasa sangat benci pada Rendra. Oleh Rendra yang adalah suami saya.

* * *

Saya menatap kenangan pahit yang saya bingkaikan dengan pigura dan saya gantungkan di samping foto pernikahan. Saya menatap foto di hari wisuda kami, foto saya dan Karin yang sedang bergandengan tangan.

Bandung, 05 Maret 2008, 11:08 PM
(catatan abu-abu)

Read previous post:  
179
points
(1644 words) posted by _aR_ 13 years 16 weeks ago
81.3636
Tags: Cerita | kehidupan | Adit | cinta yang tak saya punya | Lina | Papa
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer _aR_
_aR_ at Jejak Luka (12 years 25 weeks ago)
100

masih abu-abu untuk melina.

Writer sicksense
sicksense at Jejak Luka (13 years 1 week ago)
80

cocok dijadiin cerita sinetron tuh...hihihihi,great job!

Writer seto mada alone
seto mada alone at Jejak Luka (13 years 3 weeks ago)
50

catchy on title nii..
hehehe..
eniweii..gud story line..not bad.xP

Writer fisk_82
at Jejak Luka (13 years 4 weeks ago)
70

saya baca cerita-ceritanya aR... dulu baca pertama yang Untuk Lina Sahabat Setia... kemudian baca yang lain-lain... dan rasanya serasa dejavu antar ceritanya :D... walau dengan bungkus berbeda tapi isinya hampir sama satu dengan yang lain... Untuk deskripsi dan alur sih uda pasti ga ada masalah... Tapi secara garis besar saya suka dengan gaya cerita kamu kok ^___^

Writer mel
mel at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
90

hhhmmm ..
crita kamu slalu bagus ar!!

tapi inti ceritanya masii tetep sama yaa .. *terinspirasi dari melina??

mpe segitu dendamny sii ar??

Writer snap
snap at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
70

endingnya bisa ditebak. tapi jalan critanya masih enak dibaca. [padahal lom bisa nulis, bisanya kommeeenn aja].

Writer imr_aja
imr_aja at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
80

tapi, sedikit bisa ditebak, benci berlebihan, berakhir cinta... cuman yang soal anak itu..... belum kepikir sampe situ.

Kalimat pembuka menarik, jadi abis deh dibaca!!

Writer biruoranye
biruoranye at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
80

ada sesustu yang perlu dipelajari disini...

Writer shadow
shadow at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
70

Wow..
Cara penulisan yang rapi, enak dibaca..

Writer yufen
yufen at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
50

hebat...salutt

Writer 145
145 at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
50

dari teknik bagus tapi ya.... selera orang kan beda2. Semangat ya

Writer dikadiman
dikadiman at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
80

aku kagum dengan paragraf-paragraf berima kamu, aku yakin nggak mudah buat yang seperti ini.kupikir narasi berima ini bikin karakternya jadi hidup, tapi kalau sedikit saja berlebihan akan bikin ceritanya jadi agak bertele-tele. Mm, sebetulnya temanya agak klise, tapi berhubung karakternya hidup jadi termaafkan :) keep writing!

Writer poetry
poetry at Jejak Luka (13 years 6 weeks ago)
50

great