kejutan di ulang tahun ke 17

Hujan masih saja turun. Malam bertambah dingin dan kelam. Maya terbaring lesu di tempat tidurnya sambil menatap sedih angka-angka kalender yang dipegangnya. Hari ulang tahunnya yang ketujuh belas makin dekat. Maya tak tahu pasti perasaannya saat ini. Makin dekat dengan hari ulang tahunnya, ia semakin gundah.

Maya membuka diary merah muda miliknya. Sejenak ditatapnya lembaran kosong diary tersebut, lalu tangannya mulai merangkai kata sebisa mungkin untuk melukiskan suasana hatinya saat ini.

Dear diary,
Ulang tahunku semakin dekat. Tapi kenapa aku masih saja gundah? Bukankah aku harusnya bahagia?
Papa dan mama telah berjanji untuk mengadakan pesta besar untukku, dan mereka mengijinkanku untuk mengundang siapapun semauku. Tapi kenapa aku masih merasa ada yang kurang?
Oh diary… apa yang harus aku lakukan?
Enam bulan sudah berlalu sejak Roy memutuskan hubungan cintanya denganku. Enam bulan pula aku merasa kesepian. Aku merindukan kasih sayang seorang cowok.
Seandainya saja ada kakak kelas yang keren mau menjadi pacarku, pasti aku akan sangat bahagia di ulang tahunku nanti.

Dering handphone menghentikan gerakan tangan Maya. Ia menutup diary-nya lalu menyambar handphone yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. Tertera nama Lisa. Sahabatnya.
“Halo!”

“Hallo May!” jawab suara di seberang. “Lagi apa nich?”

“Lagi tiduran aja. Kenapa, Lis?”

“Gak kenapa-kenapa sich, Cuma lagi iseng aja.”

“Owh… lagi banyak pulsa ya?”

“Enggak! Gue lagi bete aja gara-gara ujan. Padahal tadinya gue mau ke rumah loe sama Dina.” Dina adalah sahabat baik Maya dan Lisa. Mereka selalu kompak di sekolah. Teman-teman menjuluki mereka dengan sebutan “The Power puff Girl”.

“Mau ngapain?”

“Pinjem buku kimia”

“Ya udah, besok aja gue kasih di Sekolah.”

“Oke dech! Thanks ya,”

“iya,”

“Ya udah gue tutup dulu, udah ngantuk nich!”

“Oke, gue juga udah mau tidur.” Jawab Maya “Sampai ketemu di sekolah ya,”

“Bye May!”

“Bye Lis!”

*****
Jam istirahat. Maya, Lisa dan Dina berkumpul di kantin sekolah. Mereka adalah siswi kelas dua IPA 1.
“Lis, sory ya! Buku kimia-nya ketinggalan,” ucap Maya pada Lisa. “Entar kalian ke rumah gue aja dech buat ambil bukunya.”
“Oke dech,” jawab Lisa.

“Tapi di rumah loe ada makanan kan, May?” Tanya Dina yang bertubuh gemuk namun seksi, menurut pendapatnya.

“Ada kok! Tenang aja, Din.” Jawab Maya. Lisa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dina.

Sepulang sekolah, mereka langsung menuju rumah Maya. Rumah besar bercat biru laut itu tampak lengang. Mereka melewati taman depan rumah yang dihiasi serumpun tanaman mawar sebelum tiba di teras rumah.
“Sepi amat, May” celetuk Dina ketika mereka mulai memasuki rumah tersebut.

“Iya May, kok sepi?” sambung Lisa.

“Ortu gue lagi keluar kota. Baru pulang minggu depan” jawab Maya. Orang tua Maya adalah pengusaha kain yang sangat sibuk. Tidak jarang mereka bepergian keluar kota, bahkan keluar negeri.

“Owh!” sahut Dina dan Lisa paham.

Setelah melewati ruang tamu, mereka menaiki tangga menuju kamar Maya di lantai atas. Kamar Maya berukuran cukup besar dengan kamar mandi didalamnya. Semua barang tertata rapi, maklum Maya sangat memperhatikan kamar tidurnya. Ia tidak suka jika kamarnya terlihat berantakan.
“Lis, buku kimia-nya ada di meja sana dekat komputer, ambil aja ya!” ujar Maya pada Lisa “Gue mau ganti baju dulu”

Lisa melangkah menuju meja yang dimaksud Maya. Ia lalu mengambil buku kimia yang ingin dipinjamnya. Tiba-tiba mata Lisa melihat buku warna merah muda juga tergeletak disana. Diary Maya. Terbesit di pikiran Lisa untuk melihat idi diary sahabatnya itu, namun ia bimbang. Akhirnya dalam kebimbangan itu tanpa pikir panjang ia mengambil diary Maya dan memasukkannya kedalam tas bersamaan dengan buku kimia Maya.

Selang beberapa waktu, Maya telah selesai berganti pakaian.
“Eh May, sory nich! Kue yang diatas lemari buku gue abisin” seru Dina ketika melihat Maya keluar dari kamar mandi.

“Gak apa-apa kok. Gue masih ada banyak.” Jawab Maya sambil tersenyum melihat Dina.

“Bener May, masih banyak? Wah… boleh dong buat bawa pulang!” sahut Dina sambil nyengir.

“Huu… dasar ‘karung beras’!, makan doang kerjanya.” Celetuk Lisa.

“Biarin, daripada loe kurus kering” balas Dina pada Lisa yang bertubuh sangat kurus.

“Udah…udah… jangan berantem, emang gue yang paling ideal” canda Maya sambil tertawa.

“Yee narcis!” sahut Lisa dan Dina bareng. Mereka tertawa lepas.

Siang berlalu berganti senja. Lisa dan Dina pamit pulang. Di perjalanan Lisa menceritakan perihal diary milik Maya yang diambilnya secara diam-diam pada Dina.
“What?? Gila loe, Lis!” ucap Dina kaget.

“Habis gue penasaran, Din” sahut Lisa.

“Trus kali Maya nyariin gimana?”

“Tenang aja, besok gue nyamper dia pagi-pagi trus gue balikin diary-nya tanpa sepengetahuan dia.’

“Ya udah buka sekarang! gue juga mau liat” Dina ikut penasaran.

“Yee… dasar loe,” Lisa mencubit lengan Dina. Gemas. Dina hanya cengengesan.

Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk sejenak di bangku taman pinggir jalan sambil mulai membaca diary Maya. Mereka sempat tertawa ketika ada tulisan yang lucu, sedih, bahkan kaget ketika membaca tulisan terakhir Maya.
“Ternyata Maya pengen punya cowok lagi,” ujar Dina.

“Iya Din, gimana kalo kita cariin jodoh aja?” usul Lisa.

“Wah boleh tuch! Tapi kita gak boleh salah pilih. Jangan sampe cowok kaya Roy lagi yang jadi pacar Maya.”

“Iya, gue setuju! Gue juga udah muak banget sama cowok itu. Dasar cowok bajingan!” umpat Lisa kesal.

Sesaat mereka terbayang kejadian enam bulan lalu saat mereka memergoki Roy sedang mencium seseorang di taman kota yang sepi. Tak terlalu jelas siapa yang dicium oleh Roy, namun mereka sangat yakin bahwa itu seorang cowok.
“Gila! Roy seorang gay” Dina memekik saat itu.

“Gue bener-bener gak habis pikir, apa sich enaknya hubungan kaya gitu?” ujar Lisa jijik.

“Gak tau dech!”

“Kasihan Maya, padahal Roy sangat beruntung mendapatkan dia.” Ucap Lisa sedih.

“Iya, dasar cowok brengsek!”

Mereka memutuskan untuk merahasiakan apa yang mereka lihat pada Maya. Lisa dan Dina tak sampai hati bila Maya tau pacarnya selingkuh, dan yang lebih parah Roy selingkuh dengan seorang cowok!.

Malamnya Maya menelpon Lisa dan menceritakan perihal Roy yang memutuskan hubungan cintanya dengan Maya malam itu.
“Halo May, ada apa?” Tanya Lisa ketika mendengar suara Maya agak berbeda dari biasanya.

“Gue diputusin Roy, Lis” ucap Maya sambil terisak.

“Hah!! Kok bisa?” Lisa tampak kaget.

“Dia bilang gue membosankan, childish, dan manja.” Maya kembali menangis. “dan dia udah punya penggantiku yang lebih baik katanya,”

“Dasar cowok brengsek! Udah gak setia, sekarang pake ngomong yang enggak-enggak lagi,” Lisa sewot. “Udah lupain aja cowok itu ,May. Kamu pantes dapet yang jauh lebih baik dari dia.” Lisa coba menghibur.

“Makasih ya, Lis!”

“Iya! Ya udah istirahat dech, jangan nangis lagi ya! Sampai ketemu besok di sekolah,”

“Sekali lagi makasih banget ya, Lis. Bye!”

“Bye!” Lisa menghela nafas panjang, lalu menelpon Dina untuk menceritakan masalah Maya.

*****
Lisa memasukkan kembali diary Maya kedalam tasnya. Kini ia menatap dina.
“Sekarang siapa yang harus kita jodohin sama Maya?”

“Mmm… siapa ya?” Dina coba berpikir tentang kakak kelas cowok di sekolah mereka. “Gimana kalo Kak Andi aja?”

“Dia-kan udah punya pacar kali, Din.” Sahut Lisa.

“Kalo Kak rahmad?”

“Mana mau Maya sama cowok kuper kaya gitu,”

“Bener juga,” Dina tertawa.

“Gimana kalo Kak Arvi? Dia cukup keren, rapi, pinter pula. Pasti cocok dech!” usul Lisa.

“Boleh dicoba tuch, kita bias jadiin surprise di ulang tahunnya Maya.” Dina tampak senang dengan usul Lisa.

“Oke, besok kita mulai cari data-data tentang Kak Arvi.”

“Siiip!!”

*****
Sudah beberapa hari Lisa dan Dina jarang kumpul dengan Maya. Hal tersebut membuat Maya heran.
“Kalian pada kemana sich, kok tiap istirahat udah pada ngilang duluan?” Tanya Maya suatu kali pada Lisa dan Dina. Mereka sedang ngobrol di meja Dina, karena guru matematika sedang tidak masuk.

“Gak kemana-mana kok, cuma muter-muter sekolah aja” sahut Dina yang diikuti anggukan Lisa.

“Ngapain?” Maya masih bingung.

“Ada dech, masih rahasia tau!” Dina nyengir.

“Nanti loe juga tau kok, tunggu aja ya! Biar surprise!” ujar Lisa.

“Ya udah dech, gue tunggu” Jawab Maya pasrah. Lisa dan Dina tersenyum.

Hampir seminggu lebih Lisa dan Dina mencari tau segala hal tentang Kak Arvi. Mulai dari data diri, alamat, sampai segala hal pribadi yang disukainya. Kini mereka sudah cukup akrab. Kak Arvi pun jebih sering terlihat gabung bersama Maya, Lisa dan Dina di kantin. Semula Maya agak canggung dan heran, namun lama-lama ia mulai terbiasa.

“Kalian ada yang bisa anter gue gak buat cari pernak-pernik pesta?” Tanya Maya pada Lisa, Dina dan Kak Arvi saat mereka kumpul di kantin seperti biasanya. Hari ini dua hari sebelum ulang tahun Maya. Undangan telah disebar lima hari lalu.
“Gue gak bisa, udah ada janji sama nyokap.” Ucap Dina sambil memakan bakso kesukaannya.

“Wah… sory banget, May. Gue juga gak bisa,” Lisa terpaksa berbohong. Ia berharap Kak Arvi bisa menemani Maya, agar mereka lebih bisa berduaan.

“Gue juga sebenernya mau renang ntar sore, tapi bisa gue batalin kok,” ucap Arvi.

“Thanks ya, Kak” ucap Maya sambil tersenyum.

“Yup,”
Lisa tampak lega mendengar kesanggupan Kak Arvi.

Akhirnya Maya dan Kak Arvi pergi ke mall sepulang sekolah. Maya tampak senang dengan Kak Arvi, ia anak yang pandai supel dan pintwr mencairkan suasana.

Malam harinya Kak Arvi menelepon Dina. Ia bercerita sahwa ia menyukai Maya. Semula Dina tidak yakin dengan ucapan Kak Arvi, namun setelah ditegaskan ulang akhirnya ia tersenyum bahagia dan berjanji akan mendukung Kak Arvi 100%. Dina pun langsung memberitahukan berita gembira ini pada Lisa. Lisa langsung antusias mendengarnya.

Keesokan harinya Dina, Lisa dan Kak Arvi sibuk membantu Maya menghias rumahnya untuk pesta besok. Kak Arvi tampak semangat sekali membantu Maya. Maya pun mulai sering curi-curi pandang terhadap Kak Arvi. Lisa dan Dina hanya tersenyum melihat benih-benih cinta yang mulai tumbuh diantara Maya dan kak Arvi.

*****
Saat waktu telah menunjukkan pukul 00.01 WIB, Kak Arvi menelpon Maya. Ia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Maya sekaligus menyatakan perasaan cintanya pada Maya. Maya pun menyambut hangat pernyataan cinta Kak Arvi.
Maya hampir saja tak bisa meneruskan tidurnya usai “ditembak” oleh Kak Arvi. Hatinya sangat berbunga-bunga sekarang.

Pesta ulang tahun pun berjalan lancar, tampak semua orang berbahagia. Termasuk Maya. Maya mendapatkan banyak kado istimewa hari ini, namun Kak Arvi-lah kado terbaiknya. Lisa akhirnya menceritakan tentang diary Maya yang sempat dicurinya, dan Maya hanya tertawa mendengar penjelasan Lisa. Ia sudah tak perduli dengan masalah diary yang lalu, karena berkat itu ia memiliki Kak Arvi.

“Selamat ulang tahun, May!” tiba-tiba suara Roy terdengar dari arah pintu depan. Semua tamu sudah pulang, hanya tersisa Lisa, Dina dan Kak Arvi. “Maaf aku terlambat,”
Maya tampak kaget, begitupun dengan Lisa dan Dina, terlebih Kak Arvi yang tampak tak percaya.

“Terima kasih, Roy” Ucap Maya singkat. Ia sudah enggan melihat Roy.

“Tunggu, May!” cegah Roy ketika melihat Maya hendak pergi meninggalkannya. “Maafkan aku karena telah mengkhianatimu, bisakah aku memperbaikinya?”

Semua yang mendengar penuturan Roy tampak kaget.
“Maaf Roy, aku sudah tak punya rasa untukmu. Lagipula aku sudah mempunyai Arvi sekarang.” Ucap Maya. Roy tampak emosi menatap Arvi.

“Dia tak pantas untukmu, May.” Tegas Roy.

“Kamu yang gak pantes, Roy. Maya gak boleh punya pacar seorang gay” Lisa tampak kehilangan kontrol dengan ucapannya. Semua mata terbelalak menatap Lisa sekarang. Lisa jadi merasa serba salah, akhirnya ia menceritakan kejadian yang pernah dilihatnya bersama Dina waktu di taman dulu. Maya tampak jijik melihat Roy.

“Asal kalian tau, Arvi-lah yang kucium waktu itu,” Roy menjelaskan sambil menatap Arvi puas. Ia merasa sama-sama dipermalukan sekarang.

“Loe ngejebak gue, Roy!!” bela Arvi.

“Tapi loe suka kan gue cium?” serang Roy sambil menyeringai.

“Sialan loe!!!” Arvi hendak memukul Roy, namun dihentikkan oleh Lisa dan Dina. Akhirnya Roy perdi meninggalkan mereka. Maya langsung berlari menuju kamarnya dengan berurai airmata. Tanpa pikir panjang Lisa menyusul Maya untuk menenangkannya, sedangkan Dina segera meminta penjelasan kepada Arvi.
“Emang gue akuin, gue pernah dicium sama ,Roy. Tapi itu karena dia ngancem bakal nyita rumah gue,”

“Kok bisa?”

“Bokap gue kelilit utang sama ayahnya Roy, dan Roy memanfaatkan keadaan tersebut buat maksa gue jadi pacarnya. Dia itu ‘biseksual’, sedangkan gue cuma korban.”

“Tapi loe bukan biseksual kaya Roy kan?”

“Demi Tuhan, Din. Gue masih normal! Dan gue bener-bener jatuh cinta sama Maya.”

“Oke dech, kalo gitu. Sekarang loe pulang aja dulu, biar gue yang jelasin ke Maya nanti”

“Thanks ya, Din. Tolongin gue ya?”

“iya,”

Akhirnya setelah mendapat penjelasan dari Dina mengenai Arvi, Maya mulai mengerti. Namun ia butuh waktu untuk bisa mencintai Arvi seperti sedia kala. Dan ia memutuskan untuk berteman dulu dengan Arvi sampai ia benar-benar yakin, karena ternyata kejutan terakhir adalah yang paling membuatnya shock.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer pagi_bro
pagi_bro at kejutan di ulang tahun ke 17 (13 years 7 weeks ago)

ceritanya mau diarahkan kemana?

Writer heradin
heradin at kejutan di ulang tahun ke 17 (13 years 39 weeks ago)

Gak ada coment...cuma mo bilang..semua cerita kalian bagus..,

Writer heradin
heradin at kejutan di ulang tahun ke 17 (13 years 39 weeks ago)
80

Gak ada coment...cuma mo bilang..semua cerita kalian bagus..,

Writer i-rash
i-rash at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 26 weeks ago)
60

semangatttt

Writer mellkusuma
mellkusuma at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 28 weeks ago)
80

ceritanya ini bikinnya ngebut ya ri? ehm...salut, dng wkt sesingkat itu bisa bikin satu cerita.
semangat terus ya ri, walau waktu tak bisa di ajak kompromi. semangat!!!

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)
80

Komen dah diborong si penantang. Tapi saya juga akui, bikin cerita teenlit itu susah banget ^^
Apalagi dengan limit waktu dalam program tantangan. Setidaknya sekarang dirimud ah ada pengalaman nulis teenlit story. next time must be better ^^

Writer noir
noir at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)
60

Alurnya terlalu cepat, tanpa ada eksplorasi yang lebih mendalam. Deskripsi, penggambaran rasa, konflik, masih belum tergambar. Mungkin karena ceritanya dibuat buru-buru jadi feel buru-buru juga terasa di cerita ini.

Writer wehahaha
wehahaha at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)
50

gimana yah. Ceritanya terlalu biasa kecuali endingnya yang emang rada-rada klise. hehe. pikirku, ini cerita mau dibawa ke mana sih? Hehehe. Tapi salut karena telah menjawab tantangan.

Writer kavellania
kavellania at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)
50

kata aku ceritanya kurang bagus neh

Writer dimas_rafky
dimas_rafky at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)
70

Senangnya hatiku, sahabatku ini semakin semangat menulis. Terus semangat ya!

Moga betah juga di tempat kerja barumu..

Writer Tamhy
Tamhy at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)
30

Jujur aku tuh belom tau banyak tentang dunia nulis. Tapi, nggak pa-pa kan aku ngasih dikit komentar?
1.Ini cerita tentang anak SMU kan K?Dialognya tuh kurang segar.Pengekspresian akan dunia remaja tuh kurang.
2.Masalah yang diangkat kayaknya kurang seru and nggak nantang pembaca.
3.Orientasinya monoton and kurang menarik.
KeY??Sowry aku agak sok tau!!!

Writer prayana
prayana at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)
60

soktaunya gue tentang deskripsi hueheuheue. emang sih ada hal2 yang perlu diungkapin lebih dalem, seperti tentang sepi, diari dll. ungkapin semua perasaan kamu dan jiwai setiap moment dalam cerita kamu ...
pasti lebih seru :D

tapi gue suka. keep on trying girl :D

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)

Semula aku agak frustasi bg waktu antara buat cerita ini dgn kerjaan baruku (secara krja di resto, ak harus bnyk menghafal menu dan cr buatnya). kdg ak pikir mau buat ceritanya pas pulang krja aj, tp tnyata uda kecapean truz lgsg ktduran.

Akhrny br d hari trakhr n kbtUlan ak dpt libur, bru bs ak tUlis ceritanya.

Sempet pusing jg sich wkt ngetik nich cerita, semula mau bkin sekitar 1200 lbh dkit aja. Eh trnyata kok nyampe 2020 kata?? (ini cerita terpanjang yg pnah ak tulis)

saking bnyknya kata, jg menambh bnykny ksalahan. Tp ak lega akhrnya tantangan ini udah lewat, walau hasilnya gak memuaskan. Ak ga sempet cek ulang lg, coz uda 4 jam d warnet (mahal bro =p hehe)

thanx ya Bang Amri dah mau kasih masukan buatku ^_^

buat yg ikut pRogram tantangan jg, semangat ya!!!

Writer Super x
Super x at kejutan di ulang tahun ke 17 (14 years 29 weeks ago)
60

Ari… ga usah rendah hati dengan tiap karyamu huehehe. Yang jelas saya menilai dari keseriusan sebagai patokan nomor 1 dan teknik, eyd, dsb sebagai nilai yang ke-2. So, let we see about it (kritik dan saran di bawah ini adalah sesuatu yang keluar dari otak penulisan dari sepengetahuan saya yang masih cetek. Mohon diambil nilai benarnya dan buang nilai salahnya) ^_^

1. Paragraf pembuka kurang memaparkan sesuatu yang menarik. Kesan ‘to the point’nya kental banget tanpa embel-embel deskripsi atau pengantar ke sebuah cerita yang menawarkan sesuatu yang menjanjikan. Kata ‘gundah’ yang Ari pake tidak terlalu memiliki kekuatan karena hanya sekedar kata. Andaikan Ari lebih dapat mendeskripsikan ‘gundah’ itu lebih ke pen-situasi-an kondisi tokoh seperti --- Sudah pukul 2 malam, mata Maya tak dapat terpejam. Diary kosong yang tak pernah lagi diisi kata-kata cinta menemaninya walau tak berbicara. Dst… dst… dst… --- Pemakaian hujan dan malam dingin juga adalah sesuatu yang klise untuk menggambarkan kegundahan. Dan isi dari diary itu pun tidak terlalu sempurna untuk menggambarkan kegundahan itu.
2. “The Power puff Girl”… pasti ada latar belakang atau a meaning from that name. isn’t it. Menambahkan satu atau dua kalimat agar sebuah nama dapat mempunyai arti akan jadi langkah yang lumayan bagus.
3. Alur dari malam menunggu pagi untuk memberikan buku kimia trus balik lagi ke rumah karena bukunya ketinggalan membuat alur berlalu terlalu cepat dan menciptakan ruang kosong dalam cerita ini. Ada baiknya ya udah, dibikin plot entah si tokoh kedapetan melamun di sekolah sambil memegang buku diary yang tanpa disadarinya tiba-tiba telah lenyap direbut temen-temennya. Dalam satu waktu dan beberapa isi cerita tersampaikan.
4. Kembali seperti di poin ke-2. Pendeskripsian sepinya rumah Maya hanya dengan kata dan dialog, tidak memakai deskripsi.
5. Dari pertengahan ampe akhir ada beberapa kekurangan seperti yang disebutkan di atas. Adanya ruang kosong cerita, dan pendeskripsian yang tak sempurna.
6. Untuk ending saya rasa cukup bagus tapi cenderung belum maksimal. Sebenarnya plot simple, ending klise, pengulangan dari plot yang pernah dibuat pun bisa dijadikan sebuah cerita menarik asalkan penulis bisa menyusun sebuah cerita yang dari awal hingga akhir saling mendukung antara satu schene dengan lainnya. Namun keklisean di ending ini tercipta dari alasan yang juga klise ^^ (but a nice try anyway).
7. Yang saya bayangkan ketika memberikan tokoh anak ESEMU maka cerita ini akan menjadi sebuah teenlit yang lumayan segar. Tapi kayaknya tantangan ini nggak diluncurkan di saat yang tepat buat Ari hehehe (secara hari-hari pertama kali kerja adalah masa-masa yang menegangkan)… Huehehe… So, that’s fine.

Nggak usah berkecil hati walau pun saya menilai cerita ini belum sesuai dengan ekspektasi dari saya. Well… SELAMAT karena Ari membuktikan bahwa Ari already proof yourself being DARE to ANSWER THIS CHALLENGE. Well done Ari… ^_^