The Secret Of Fat Guy (Chap. II - Finish)

II
Seorang cleaning service bendiri di depan sebuah pintu apartemen. Badannya yang bungkuk terlihat menyedihkan. Wajahnya lesu, tatapan matanya kosong, alisnya hitam tebal dan sepasang gigi seri yang besar terlihat meonjol walaupun mulutnya sudah tertutup rapat. Ia memarkir troli logam berisi alat-alat kebersihan di sampingnya.

Pria bungkuk itu berdiri lama di depan pintu. Pintu itu otomatis, dengan sebuah kotak box dari logam melekat di sisi bagian kiri gagangnya. Jika pintu ditutup dari luar, maka akan langsung terkunci tanpa perlu susah payah memasukkan anak kunci lagi ke dalam liangnya. Tiga menit kemudian ia mengetuk pintu, tapi tak ada reaksi dari orang di dalam kamar tersebut. Diketuknya pintu itu lagi, kini dengan ketukan keras. Pintu terbuka dan ia langsung berhadapan dengan pria penghuni kamar itu.

Sambil mengunyah permen karet, cleaning service itu menatap pria pemilik apartemen tersebut dengan tatapan semu. Pakaian pria penghuni kamar itu rapih dan tampaknya ia ada kegiatan lain di luar sana yang harus ia kerjakan.

Room service.”

“Kemana cleaning service yang biasa membersihkan kamar saya?” tanya laki-laki itu curiga.

“Dia sedang cuti, menengok istrinya yang sedang sakit di kampung halamannya,” jelasnya.

“Oh, baiklah kalau begitu. Silahkan masuk!”

“Terimakasih.”

Cleaning service itu meninggalkan trolinya di luar, lalu mengambil sapu dan sendok sampah untuk dibawanya ke dalam. Ia mulai meyapu dari bawah kolong meja. Sebuah foto berbingkai indah terpajang di atas meja itu. Orang-orang di foto tersebut tampak begitu ceria. Ketiga orang itu memamerkan senyuman terbaiknya.

“Ada apa?”

“Emm... tidak apa-apa Pak.”

Laki-laki itu memandangnya curiga.
“Apakah karpetnya mau sekalian dibersihkan Pak?” ia langsung berkata.

“Tidak perlu. Saya ada keperluan lain di luar. Saya buru-buru sekali.”

“Baiklah Pak. Saya permisi dulu.” Cleaning service itu menghentikan pekerjaannya, padahal ia baru memulai pekerjaannya lima menit yang lalu.

Pria yang aneh, katanya dalam hati.

Sebelum keluar, ia tersenyum kepada pria di dalam apartemen lalu pintu tertutup pelan.

Setelah sepuluh menit berlalu dengan cepat, pintu itu terbuka lagi. Kali ini pemiliknya yang keluar. Ia membawa koper kecil di tangan kanannya. Menutup pintu lalu pergi dan menekan sebuah tombol di depan lift. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka. Ia masuk. Pintu lift tertutup lagi.

Seorang pria muncul dari balik tembok di ujung lorong. Sejak tadi ia memperhatikan pria gendut yang baru saja naik lift. Ia berjalan menyusuri lorong itu lalu berhenti di depan lift. Lampu di atas pintu lift tersebut menyala dan berhenti di angka ke lima kemudian turun lagi hingga ke menampilkan angka satu.

“Akhirnya aku bisa leluasa,” katanya. Ia menganga mengambil sesuatu dai mulutnya. “Aduh gigi ini benar-benar menyusahkan. Penyamaran ini berjalan dengan lancar. Kurasa tadi ia tidak menyadarinya.”

Ia mengantongi gigi palsunya kemudian kembali berjalan.
Kini Tommy berada di depan kamar apartemen 201, ia lalu mendorong pintunya dan ternyata terbuka.

“Berguna juga permen karet ini.”

Tadi Saat ia masih menyamar menjadi cleaning service, ia menempelkan permen karet yang tadi dikunyahnya saat ia keluar dari kamar apartemen tersebut. Ia menepelkannya pada kotak box logam yang terdapat di samping gagang pintu, mengakibatkan pintu itu tidak dapat terkunci dengan sempurna.

Dengan ketelitian penuh, ia menggeledah setiap sisi ruangan di kamar itu tetapi tidak menemukan apa-apa. Pandangannya lalu tertuju ke tempat sampah yang terletak di samping meja.

“Dasar bodoh, bagaimana aku bisa melupakan tempat berharga ini?” umpatnya pada diri sendiri.

Tommy mengambil secarik kertas tipis berwarna merah jambu dari dalam tempat sampah itu. Kertas itu merupakan sebuah kwitansi pembelian celana panjang, lengkap dengan kemeja, jas dan sepatunya di sebuah toko busana terkenal. Nama si pembeli tertera di kanan atasnya. Nama itu ditulis dengan tinta hitam tebal.

Misteri ini sudah terpecahkan. Rupanya hanya begitu triknya. Bagaimana aku bisa dikelabui olehnya? Aku memikirkan kasus ini terlalu tinggi, hingga pikiranku terfokus pada satu titik saja, gumamnya dalam hati.

Ia mengambil pulpen dan secarik kertas dari atas meja lalu mulai menulis sesuatu pada kertas tersebut. Setelah selesai ia biarkan kertas itu di atas meja. Ia tersenyum sambil menengadah ke langit-langit kamar.

“Bukti ini saja sudah cukup untuk membuka kedoknya.”
Ia mengantongi kwitansi tersebut lalu keluar.

***

Siang itu Tommy sedang duduk sendiri di kafe tempat dimana ia pernah bertemu dengan Ivan Ardiyansah beberapa hari yang lalu. Terdengar bunyi alunan musik. Pintu terbuka dengan lebar. Seseorang baru saja masuk. Orang itu mencari-cari seseorang di dalam kafe. Lehernya memanjang memperhatian setiap sudut ruangan.

Tommy melambaikan tangan menuntun wanita itu berjalan ke arahnya. Orang itu terkejut oleh tampang Tommy. Ia tak mengira orang yang menyuruhnya datang ke tempat itu masih terbilang muda, pantas menjadi putranya.

Vira Rahayu Shinta adalah seorang wanita yang sangat luar biasa. Jarang ia melihat sesosok figur yang begitu gemulai, dengan penampilan feminin, dan wajah secantik itu. Rambutnya agak pirang keemasan dan ikal pada ujungnya. Mata yang tajam terlihat begitu indah, dibalik kelopak matanya yang telah dihiasi oleh kosmetik dan selebihnya wajahnya pastilah sangat sempurna. Ia duduk dengan anggun, menggambarkan bahwa ia adalah keturunan seorang ningrat yang menawan, dihormati, dan tahu sopan santun tentunya.

“Selamat siang!” sapa Tommy duluan.

“Apa yang kamu maksudkan dari surat yang kamu tinggalkan ini?” tanya wanita itu dengan nada tinggi.

Semua orang di tempat itu memandang ke arahnya, namun ia tak perduli.

“Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Hal ini berhubungan dengan masalah suami Anda yang terjadi belakangan ini. Anda tentu menyadarinya bukan?”

Sekejap wanita itu tampak kaget. “I... iya, tentu saja. Memangnya ada apa dengan suami saya?” Wajah ayunya tak lagi memancarkan cahayanya yang sesempurna tadi.

“Perkenalkan, nama saya Tommy Arthur Verdhana tapi Anda bisa memanggil saya Tommy,” ia memperkenalkan diri.

“Memangnya ada masalah apa dengan suami saya?” wanita itu mengulang pertanyaannya tadi.

Tommy teringat akan pesan Ivan Ardiyansah saat pertama kali bertemu. “Aku mohon selesaikan masalah ini secepatnya. Aku akan membayarmu berapapun yang kamu mau dan tolong jangan sampai istriku mengetahui hal ini.” Itulah bunyi pesannya. Tommy tidak memperdulikan pesan itu, ini lebih pening dari sekedar pesan.

“Wanita ini harus mengetahuinya,” pikirnya.

“Saya ditugaskan untuk mengawasi Anda.”

“Apa maksudmu? Apakah suamiku yang menyuruhmu melakukannya?”

“Ya...” jawab Tommy singkat.

“Apa alasannya?”

“Karena menurutnya sikap Anda sangat aneh akhir-akhir ini, berbeda dari biasanya. Anda menjadi suka keluar rumah dan pulang larut malam, tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu.”

“Buat apa kamu mencampuri masalah rumah tangga orang lain. Apa kamu tidak ada pekerjaan lain yang lebih berguna dari ini? Lagipula apakah dia tidak percaya lagi padaku? Aku benar-benar kecewa,” suaranya yang tinggi terdengar oleh pengunjung yang lain.

“Tenang. Anda tenang dulu. Suami Anda, dia adalah pria yang baik, bertanggung jawab, sangat mencintai dan khawatir dengan sikap Anda yang tiba-tiba berubah drastis. Sebenarnya dia melarang saya untuk mengatakan ini pada Anda, tapi hal ini harus saya katakan untuk mengungkap kebenarannya.”

Wanita itu tertunduk beberapa saat.

“Oh ya. Apakah boleh saya bertanya?”

Wanita itu mengangguk, mempersilahkan. “Apa yang Anda kerjakan di apartemen milik pria yang menjadi penanam modal di perusahaan suami Anda itu?”

“Sa... saya hanya ingin membantunya saya agar perusahaannya dapat keluar dari kesulitan. Saya ingin melihatnya bahagia dan menjalankan bisnisnya seperti sebelum masalah keuangan itu datang melandanya. Itu saja, tidak lebih.”

“Kau tahu, saya sangat menyayanginya,” kalimat itu spontan keluar dari mulutnya.

“Iya, saya tahu itu Nyonya,” bisik Tommy.

Wanita itu mulai bercerita lagi,
“Saya datang ke apartemen itu untuk memperlancar urusan mengenai penanaman modal di perusahaan suami saya. Pria penghuni apartemen itu adalah teman saya sewaktu bersekolah di Belanda. Apa kamu puas sekarang heh? Kamu benar-benar megganggu,” ia geram dan memperlihatkan tatapan sinisnya kepada pemuda di hadapannya.

“Maaf, bukan maksud saya untuk mengganggu Anda...” Tommy melebarkan senyumannya.

“Tapi menurut saya, Anda tidak menemuinya di sana bukan? Karena sebenarnya penanam modal itu adalah Anda sendiri. Anda menyamar menjadi orang lain.”

Wanita itu terkejut, raut wajahnya berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya. “Apa maksudmu?”

“Begini Nyonya, saya sempat datang ke apartemen itu dengan menyamar sebagai seorang cleaning service. Anda masih ingat bukan?”

“Oh! Jadi kamu yang menya...” ia tidak menyelesaikan kalimat itu dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Tommy tersenyum lagi. “Ya, Anda benar Nyonya. Jadi Anda sudah mengakuinya sekarang?”

“Mengakui apa? Memang apa yang saya lakukan?” wanita itu berkata ketus.

Sambil mengeluarkan selembar kertas berwarna merah jambu dari dalam kantongnya, Tommy lalu berkata, “apakah Anda mau mengelak lagi jika saya tunjukkan bukti ini?”
Wanita itu terkejut untuk yang kebeberapa kalinya.

“Kwitansi ini saya temukan dari dalam tempat sampah di apartemen itu dan nama Anda tertulis di kwitansi ini sebagai penerima dari barang-barang tersebut. Di bawah tanda tangan ini juga ada nama Anda, berarti jelas sekali ini adalah tanda tangan Anda sendiri bukan? Bukti itulah yang menegaskan bahwa Andalah yang menyamar menjadi pria gendut tersebut. Pria yang menjadi investor di perusahaan Ivan Ardiyansah―suami Anda.”

“Apalagi Anda ahli dalam hal merias wajah dan berakting.”

“Dari mana kamu tahu?” tanya wanita itu kaget.

“Saya mengetahui semua itu dari penuturan suami Anda, sewaktu bertemu dengan saya. Dengan kemampuan itu, pasti tidak begitu sulit bagi Anda dalam merubah penampilan dengan bantuan alat-alat kosmetik dan juga pakaian-pakaian yang Anda beli itu. Kemudian Anda berpura-pura menjadi investor di perusahaan suami Anda. Sudah jelas, Anda melakukan penyamaran itu agar bisa membantu perusahaannya. Anda benar-benar mencintainya bukan?”

Wanita itu diam sebentar, kemudian menatap wajah Tommy. “Baiklah saya menyerah. Memang investor itu adalah penyamaran saya. Sebenarnya, saya tidak mau melakukan cara ini. Dia malah menolak ketika saya memberinya uang untuk membantu perusahaannya dan dia juga menolak bantuan dari kedua orang tua saya.”

Suara wanita itu berubah lembut.

“Aku hanya ingin membantunya. Itu semua adalah kado baginya karena telah menyayangi dan menjaga keutuhan rumah tangga kami, selama aku berumah tangga dengannya.” Air mata mengucur dari kedua kelopak matanya.

“Saya rasa sebaiknya Anda mengakui perbuatan ini padanya. Dia begitu cemas dan khawatir akan semua sikap Anda yang berubah drastis akhir-akhir ini. Dia betul-betul sangat mencintai Anda. Dan kalau boleh saya menyarankan, ada delapan kado yang mungkin diinginkan suami Anda atau suami-suami yang lain lebih dari apapun juga. Yang terindah dan tak ternilai harganya, bahkan tidak bisa dibeli di toko manapun juga.”

“A... apa? Apa itu?” tanya wanita itu. Bibirnya kini terlihat bergetar.

“Kehadiran, mendengar, diam, kebebasan, keindahan, tanggapan positif, kesediaan untuk mengalah, dan yang terakhir adalah senyuman,” jawab Tommy.

Beberapa menit kemudian mereka lalui dalam diam.
“Saya bukannya orang yang sempurna dengan semua hal-hal tersebut. Saya juga tidak bermaksud untuk menasehati Anda, karena itu bukanlah profesi saya.”

Tommy memandang keluar jendela. Di sana ada sepasang kekasih yang sedang duduk berduaan di tengah teriknya sinar matahari.

“Saya juga mempunyai beberapa orang yang saya kasihi dan mungkin dengan memberikan kado tersebut, membuat mereka makin bahagia.”

Tommy menghela napas dan memperhatikan wanita di hadapannya. Tampaknya kini ia sudah bisa menenangkan dirinya.

“Terkadang yang dibutuhkan seseorang bukanlah kekayaan yang kita berikan pada mereka, tetapi apa yang ada di dalam diri kita-lah yang dibutuhkan oleh orang-orang tersebut,” ujar Tommy mengakhiri.

~END~

Kado terindah :

# Kehadiran. Kehadiran orang yang dikasihinya rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Dengan berada disampingnya, Anda dan suami Anda dapat berbagi perasaan, perhatian, dan juga kasih sayang secara lebih utuh dan intensif.

# Mendengar. Hanya sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan sebuah hubungan, dalam hal ini suami-istri, amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Anda dapat memberikan kado ini kepadanya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, dan secara tak langsung Anda juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati.

# Diam. Kado ini bisa menunjukkan kecintaan Anda padanya, dibanding dengan memberinya sejumlah uang. Terlebih jika sehari-hari Anda sudah terbiasa, menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomelinya.

# Kebebasan. Mencintai seseorang bukan berarti memberi Anda hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang tersebut. Bisakah Anda mengaku mencintainya, jika Anda selalu mengekangnya? Memberikan kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang telah maupun akan dia lakukan.

# Keindahan. Semua orang akan bahagia, jika setiap hari Anda berpenampilan indah dan rupawan.

# Tanggapan positif. Cobalah Anda hadiahkan tanggapan positif kepadanya. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir Anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang telah dilakukannya demi Anda. Ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian, juga permintaan maaf adalah kado cinta yang sering terlupakan oleh setiap pasangan.

# Kesediaan untuk mengalah. Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apakah benar sebuah hubungan cinta yang selama ini terjalin dikorbankan dan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan seperti itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado spesial ini.

# Senyuman. Kado terakhir ini, terlebih lagi jika diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus-asaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang sedang resah.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

kado terindah yang benar-benar indah. Gak nyangka, abc se-peka ini. *terharu*
Hm, nanya: kotak box itu emang “kotak box” ya? kayak segitiga triangle gitu? Hehe... gak penting, dun ;P
Yup,yup, saya suka bagian ini secara teknis. Terlepas dari: hei, si cowok gendut itu udah gak secret lagi lho! Dan “detektivitas”(halah, detektivitas)-nya masih belum terlalu berhasil memukau pembaca. Tapi, tentunya ada ‘harta’ lain yang ingin ditelusuri pembaca seperti saya di sini. Heuheuheu...

Writer a1d4
a1d4 at The Secret Of Fat Guy (Chap. II - Finish) (14 years 28 weeks ago)
100

cool...
btw, aku copy kado terindahnya y? bole?

90

Sehabis membaca the secret of fat guy, dicatatan kaki mendapat kado terindah.

Bersyukur bisa membaca ceritamu.

Untuk ceritanya, sangat detail. Suatu hal yang sangat susah aku lakukan saat membuat cerita.

90

Saya suka. terutama artikel paling bawahnya ^_^