High Water (Level 1/2) Final Part

Di kala break kuliah, Kurnia, teman sekelasku yang idealis bertanya padaku.
“Kau percaya Tuhan ?”
Aku terkejut mendengarnya. Aku berpikir sahabatku menjadi seorang atheis.
“Hah? Tentu saja aku percaya, mengapa kau meragukannya ?”
“Oh, tenang – tenang, aku belum atheis, aku juga sangat mempercayai keberadaanNya.”
“Lalu mengapa kau bertanya ?”
“Ya, hanya bertanya. Just asking.”
Sungguh tidak lucu. Seharusnya itu pertanyaan retoris yang harus dijawab oleh penanya sendiri.
“Hei, Fin.” Ia memanggilku.
“Ya ?”
“Dengan kecanggihan teknologi, kemampuan berpikir saat ini, menurutmu, bisakah manusia dapat menyamai kemampuan Tuhan ?”
“Hah? Are you out of your mind? Kamu kebanyakan nonton Evangelion ya ?”
“Sudah jawab saja.”
“Kupikir tidak mungkin.”
“Ya, aku setuju denganmu, tapi. . “
Tiba – tiba raut wajahnya menjadi sangat serius.
“Suatu saat jika manusia berhasil memodifikasi suatu makhluk hidup. Ia berpikir telah menciptakan makhluk hidup. Kemudian ia membuat organisme baru yang lebih hebat dari yang lama lalu dengan menganggap dirinya Tuhan, ia memusnahkan organisme yang lama dengan yang baru. Manusia tidak dapat menyamai Tuhan, tapi ia berpikir dapat bermain sebagai Tuhan.”
Aku tak bisa berucap apapun saat mendengarnya.
***

Jakarta 00.40
Malam yang panjang

Hujan kembali turun ke kota Jakarta yang telah tenggelam ini. Sedikit demi sedikit air bertambah tinggi. Rumah – rumah semakin tenggelam. Sebuah kilat menyala terang membelah langit tepat di atas kepalaku, diikuti suara guntur yang berdentum memecah kesunyian dan memekakan telinga. Ini tidak membuatku kaget.

Lagi – lagi mataku membelalak terpaku melihat sosok mengerikan yang ada di hadapan. Mahkluk yang belum pernah kulihat dan kukenali, yang kulihat pertama kali memakan manusia persis di depan mata. Makhluk yang tak akan ada satupun yang mempercayai jika kuceritakan. Itupun jika aku selamat.
Ia meraung sekeras – kerasnya. Merintih kesakitan. Mengaburkan batas kengerian dan rasa iba. Jika melihatnya langsung, kau akan merasakan bagaimana rasanya jika sesuatu yang besar dari dalam tubuhmu mencuat keluar, menembus daging dan kulit sedangkan kau masih keadaan sadar. Itulah yang kurasakan saat ini. Dari punggungnya keluar tonjolan yang semakin lama semakin tinggi. Lapisan kulit yang tertarik ke atas semakin kencang dan berada di ambang batasnya.

“Astaga ! Tuhan ampuni aku.”

Aku tak percaya apa yang kulihat. Kulit yang menonjol itu sobek. Darah menyembur ke udara seperti air mancur. Monster salamander itu meraung keras. Keras sekali sampai mengiris hati untuk yang terakhir kali kemudian terkulai. Kupikir ia mati. Dari dalam tubuhnya, keluar satu makhluk baru yang kelihatannya berbeda dengan induknya. Aku menganggapnya bayi walaupun tubuhnya sudah sebesar manusia dewasa. Aku membayangkan seberapa mengerikan ia ketika dewasa nanti

Sreek . sreek.. .srueek

Makhluk bayi itu berusaha mengeluarkan tubuhnya dari lubang di tubuh induknya. Ia memperluas lubang itu hingga menimbulkan suara yang menjijikan. Beberapa saat kemudian seluruh tubuhnya berhasil keluar.

Bayi itu tampak lemah. Tubuh merah jambu itu masih gemetaran. Ia mengendus – endus daging manusia yang berserakan di tanah. Kepalanya lonjong, matanya kecil, mulutnya penuh dengan gigi tajam. Di atas dahinya terdapat perisai pipih.

Ia memakan daging manusia tersebut. Entah mengapa aku mulai terbiasa melihatnya. Bayi itu berdiri dengan 4 kaki seperti anjing, tidak merayap seperti induknya. Tanpa kusadari, muncul satu ekor lagi dari tubuh induknya. Mereka berpesta daging manusia di depan mangsa yang masih hidup, aku. Terdengar suara geraman saat mereka makan.
***

Tidak. Ini bukan acara pemberian makan harimau di Taman Safari. Aku harus segera pergi dari sini sebelum mereka memakanku. Tangga Fly Over sudah dekat. Sementara bayi – bayi itu masih asyik dengan pestanya. Inilah kesempatanku. Perlahan – lahan aku merangkak mundur sambil menahan napas. Berharap mereka tidak melihatku. Seluruh tubuhku basah oleh keringat dingin, termasuk telapak tanganku yang licin ini. Akupun khawatir detak jantungku yang berdetak keras terdengar oleh mereka. Jarak tangga itu sebenarnya sudah sangat dekat tapi entah kenapa terasa amat jauh.

Ok, sejauh ini aman. Tanganku berhasil meraih anak tangga tanpa menarik perhatian mereka. Aku mulai memanjat dengan perlahan. Setidaknya sampai tubuhku masuk ke badan flyover. Harapanku, mereka tidak lagi bisa mengejarku.

Aku tidak tahu sudah berapa anak tangga yang kulalui. Yang pasti sedikit lagi, aku mencapai platform atas. Aku semakin bersemangat memanjat. Kemudian aku merasakan firasat yang buruk. Suara – suara ramai pesta makan daging tak lagi terdengar. Mereka sudah tidak ada saat kulihat di sana. Ke manakah mereka pergi. Penasaran, aku melihat ke dasar tangga.

Graauk!

Sepasang rahang penuh gigi tajam menutup tepat di depan wajahku dan hampir mengenai hidung. Aku terkejut setengah mati hingga penganganku hampir terlepas. Aku ketahuan! Bayi – bayi itu berada di dasar tangga dan mencoba meraihku. Aku tak percaya mereka bisa melompat setinggi 4 meter.

Akhirnya kepanikan melanda. Aku memanjatnya secepatnya sekuat tenaga. Tujuanku tinggal beberapa meter lagi. Bayi – bayi itu secara bergantian melompat mencoba menangkapku. Gagal berkali – kali, tak membuat mereka menyerah.

GRAB!
“Aaahh!”

Aku merasakan sakit yang amat sangat di betis kananku. Salah satu bayi berhasil menggigit kakiku. Rasanya bagaikan ditusuk seribu tombak.

“Tidaak! Lepaskan !”

Aku menggoyang – goyangkan kakiku. Meronta agar bisa lepas darinya. Namun itu hanya menimbul rasa sakit yang menusuk – nusuk saraf. Kakiku kini harus menopang berat tubuh bayi itu karena ia bergantung padanya. Hal ini membuatku kehabisan tenaga.

Kini giliran bayi itu menggoyang – goyangkan kakiku. Bagian itu sudah mati rasa. Tak ada lagi rasa sakit kecuali berat yang terasa di lutut. Tiba – tiba lutut pun terasa sakit. Sakit ini sangat luar biasa. Seluruh urat syarafku serasa ditarik keluar. Hingga kemudian

“UAAAA!”

Aku berteriak sekuat tenaga. Rasa nyeri ini luar biasa tak tertahankan. Air mataku, ingus, air liurku keluar. Bahkan mungkin aku kencing di celana. Anehnya setelah itu sakit itu berkurang dan mereda. Lebih baik aku mati daripada merasakan sakit seperti ini.

Ternyata aku masih hidup. Rasa sakit mereda. Beban di kaki hilang. Apa yang terjadi ? Saat aku melihat ke dasar tangga. Bayi – bayi itu terlihat memperebutkan sesuatu yang panjang. Aku merasakan sesuatu yang buruk. Benar saja, saat kulihat, kakiku telah hilang dari bagian lutut ke bawah. Menyisakan daging yang terkoyak. Darah mengucur keluar.

“Tidaak. . tidaak. .! ini tak mungkin terjadi!”

Aku kehilangan kaki kananku. Sekarang aku menjadi cacat. Ini membuatku frustasi ketika memikirkan masa depan hidupku. Aku berteriak – berteriak tidak karuan. Teriakan itu menarik perhatian mereka lagi. Bayi – bayi itu bersiap mengincarku.

Tidak. Aku tidak mau kehilangan anggota tubuhku yang lain. Sudah cukup. Aku memaksa diriku memanjat. Aku sudah tak dapat menggerakan kaki yang tersisa. Hanya tanganlah yang menjadi tumpuan hidupku. Aku tak akan menyerah walaupun kehabisan tenaga dan darah.
***

Akhirnya aku berhasil menggapai platform jalan tol flyover. Serta merta aku menarik tubuhku lalu menyeretnya ke seberang jalan. Aku membuat jejak darah yangmengucur dar kakiku yang buntung. Belum ada tanda – tanda kehadiran bayi – bayi monster. Semoga mereka tidak bisa hadir selamanya.

Tak akan ada satu kendaraan yang lewat di sini. Jalan ini telah terputus di bagian hulunya dan ditutup. Lampu – lampu jalan padam. Di sini sunyi, tak ada satupun suara kecuali suara hujan. Keadaanya memang tak lebih nyaman dan aman dari sebelumnya tetapi lebih baik daripada ladang pembantaian di bawah. Aku bersandar pada median jalan. Berharap helikopter SAR atau apapun yang lewat menemukanku. Minimal, aku tidak mati dimakan monster.

Clang. . .clang. . .

Samar – samar aku mendengar suara besi dari arah tangga tempat aku keluar. Seperti seseorang sedang memanjat tangga. Perasaan buruk kembali melingkupi. Jangan – jangan . . mereka . .

Clang . .clang . . Grrr. .

Aku tidak sepenuhnya yakin, tetapi pikiranku sudah memastikan bahwa bayi – bayi monster memanjat tangga mengejarku. Mungkin saat ini mereka sudah sangat dekat sekali. Jantungku kembali berdebar. Aku sudah tidak tahu kemana aku harus berlari atau apa yang harus kulakukan.

Kraakk. . GRAUU!

Sesuatu muncul dari dalam lubang tangga. Sosok itu kembali berada di depanku. Menatapku dengan dingin. Mulutnya seakan tak sabar untuk melumatku. Air liurnya meneter – netes. Badanku sudah tak bisa bergerak lagi. Pada akhirnya aku harus menyerahkan hidupku pada makhluk yang selama ini hanya kotonton di film. Ia mulai membungkukkan badannya seperti kucing yang hendak menerkam tikus. Kemudian . .

GRAAA! Ia melompat ke arahku.Aku menutup mataku untuk menerima terkamannya.

BLAARR!

Suara yang menggelegar meletus. Aku yang sudah menunggu kedatangannya tak kunjung merasakan. Apa yang terjadi? Saat kubuka mata, bayi itu telah hancur berantakan. Bahkan aku bermandikan darahnya. Bayi yang lain menggeram, ia melihat ke arah kiri lalu mencoba kabur.

BLAAR!

Sekelebat cahaya melesat di hadapanku bersamaan dengan letusan suara menggelegar. Cahaya itu mengenai bayi lalu meledak. Tubuhnya hancur seperti saudaranya.

“Aku. . . selamat. . . ada apa ini ?”

Rasa ingin tahu yang amat dalam membuatku menoleh ke arah kiri. Sebuah cahaya lampu sorot yang menyilaukan berasal dari helikopter yang menderu dan berlabel BioForce Chemistry. Cahaya itu membuatku nyaris tak melihat apa – apa. Sosok – sosok orang berjalan berdampingan, bersama – sama membuat derap yang seragam. Kupikir mereka tentara. Sayang, aku sudah tak punya tenaga untuk mencari tahu lebih dalam. Tiba – tiba semuanya menjadi gelap. Aku koma
***

Aku perlahan membuka mataku. Semuanya berwarna putih.

“Selamat pagi, subjek no. 35”

Aku terbangun. Seluruh ruangan berwarna putih. Aku mendapati diriku dibalut pakaian tipis dan selapis. Tangan dan kepalaku ditempeli kabel yang terhubung pada mesin besar di belakangku. Di depan, seorang berjas putih, tampak seperti ilmuwan berbicara di balik kaca dengan pengeras suara.

“Halo? Apa kau bisa mendengarku?” ilmuwan itu bertanya lagi.
“Ya, dimana aku? Apa yang terjadi?”
“Kau berada di laboratorium bawah tanah Noah Ark. Kau adalah objek eksperimen manusia kami yang berhasil. Sekarang kau adalah Renewal, jenis manusia baru.”
“Manusia baru ? Renewal? Noah Ark? Aku tidak mengerti.”
“Kau tidak perlu mengerti semua itu saat ini. Sekarang tidurlah kembali. Kau akan kubangunkan jika saatnya tiba.”
“Baik”

Tanpa ragu – ragu aku menuruti semua perintah pria itu seperti telah dicuci otak. Aku tak bisa mengingat apapun. Keadaan yang terjadi, namaku, identitasku, keluargaku, semuanya. Apapun kecuali perasaan yang amat bahagia ketika melihat seluruh anggota tubuhku lengkap.

tamat

note : dilanjutkan dengan Aurora Project : Story Behind High Water

Read previous post:  
46
points
(1069 words) posted by hikikomori-vq 13 years 18 weeks ago
65.7143
Tags: Cerita | lain - lain | action | blood and gore | sci-fi | violence
Read next post:  
Writer Super x
Super x at High Water (Level 1/2) Final Part (13 years 17 weeks ago)
80

jaman sekarang yang laku itu adalah drama... cekaman/ action tanpa drama dibaliknya membuat cerita berkurang kadar. gitu deh yang gue tau

Writer KD
KD at High Water (Level 1/2) Final Part (13 years 17 weeks ago)
100

kedalaman(10), kosakata(10), alur(10), bentuk(9)
**************************
nuansa: LEVIATHAN, INFERNO

Writer Gardhu
Gardhu at High Water (Level 1/2) Final Part (13 years 17 weeks ago)
80

Sangar... Memang menakutkan kalau kita bertemu dengan monster seperti itu, tanpa persiapan apa-apa pula. Rasanya sayang, kalau cuma berhenti di tempat ini. Akan berlanjut, kan?

No comment . .otakku sudah ngebul dengan cerita ini