Setelah Janus Pergi

Layla Kemal selalu memulai giliran jaganya dengan mengujungi kamar-kamar di sayap kanan University Hospital Utercht. Itu adalah bangunan terpisah yang dikhususkan untuk merawat pasien-pasien AIDS stadium lanjut. Orang-orang berkulit sepucat mayat dengan sariawan-sariawan yang tidak pernah sembuh.
Tidak terasa sudah hampir tiga tahun Utrecht menjadi rumahnya. Dia telah menghabiska dua tahun pertamanya untuk belajar mengenai infectious diseases di Utrecht University dan tahun ketiganya akan dihabiskannya sebagai seorang residen, magang sebagai dokter spesialis, di rumah sakit riset milik kampusnya ini.
Layla mendekap clipboard nya kemudian mengetuk pintu pertama. Dia menarik nafas.
Dua orang yang sedang berciuman. Keduanya laki-laki. Layla menelan ludah susah payah kemudian mengetuk pintu lagi sekedar untuk menyatakan kehadirannya. Keduanya memisahkan diri.
Mereka adalah Klaus dan Jan. Janus Nijman adalah pasien di rumah sakit ini. Sedangkan Klaus adalah.... Layla melirik sebentuk cincin di jari manis Klaus Bediksen. Klaus adalah ’suami’ Jan.
”Pagi, dokter Layla,” Klaus menarik kursi agak jauh dari tempat tidur. Dia sudah tahu persis apa yang akan dilakukan dokter berjilbab itu dalam pemeriksaan rutin tiap paginya.
”Pagi, Klaus. Bila kau tak keberatan, tolong buka tirai nya. Kamar ini gelap sekali,” Layla memberikan perintah tanpa menoleh pada Klaus. Dia sedang membaca dengan serius laporan kesehatan Jan yang dituliskan oleh dokter jaga sebelumnya.
”Bagaimana kabarmu hari ini, Jan?” tanya Layla. Dia mengisyaratkan agar Jan membuka mulut. Layla mengeluarkan senter kecil dari sakunya. Dia sedikit mengernyit ketika menemukan ada bercak-bercak putih di gusi yang memerah seperti terbakar.
”Aku merasa baik. Iya kan, Klaus?”
Klaus yang bersandar di jendela mengangguk. Dia berpaling pada Layla.
”Dan bagaimana keadaan Jan menurutmu, dokter Layla?”
Layla mengendikkan kepalanya. Dia menatap Klaus penuh arti. Klaus merasa ada yang tidak beres. Dia menyesal mengajukan pertanyaan itu karena Jan sekarang sedang menunggu jawabannya.
”Well, Jan. Kurasa setelah sarapan, kau harus berpuasa. Aku akan menjadwalkan pemeriksaan sore nanti. Rongten dan...sedikit CT-scan. Bagaimana?”
Jan memandang Klaus, bingung. Rona wajah yang tersisa kini hilang samasekali dari kulitnya yang pucat kekuningan. Klaus menghampiri tempat tidur. Dia memeluk Jan yang mulai menangis.
”Apakah aku akan mati, dokter?”
Layla berusaha untuk tersenyum. Bibirnya menarik garis seperti karet yang direnggangkan dengan susah payah.
”Bahkan aku pun akan mati, Jan. Ini hanya masalah waktu,” Layla masih menarik ujung bibirnya selama mungkin.
Klaus dan Jan terdiam. Mereka meresapi kata-kata Layla barusan. Kemudian Jan kembali menangis dalam dekapan Klaus.

Salju tebal melapisi lapangan rumput di luar jendela kafetaria. Namun di dalam, musim semi begitu nyata. Di meja kasir, daffodil kuning berdiri anggun dalam vas kristal jangkung. Sedangkan di tiap meja yang bertaplak kotak-kotak merah, diletakkan vas keramik bulat kecil yang berisi daisy putih dan merah muda.
Kafetaria masih lengang karena ini belum jam makan siang. Di salah satu pojok ada dua orang yang sedang tenggelam dalam sunyi.
”Pneumocystis cranii, apa maksudnya itu?” Klaus bertanya.
Layla menarik nafas panjang sebelum menjawab.
”Itu adalah pneumonia yang disebabkan oleh jamur. Aku melihat gejalanya tadi. Bercak-bercak putih di gusi,” Layla memandang Klaus dan berkata serius, ”Ini menular. Kau harus meminum antibiotik yang kuberikan padamu.”
”Berarti tidak parah, bukan? Aku hanya perlu meminum antibiotik.”
Layla menggeleng.
”Tidak bagi Jan. Ini adalah penyebab kematian terbesar dalam kasus AIDS.”
Klaus tersentak. Dia menegakkan kepalanya dan menatap Layla dengan mata yang melebar.
”Jan mengalami masa-tanpa-gejala yang sangat singkat. Hanya dua tahun seingatku. Kukira sejak dulu, ada masalah dengan sistem kekebalan tubuhnya,” Layla menghela nafas.
Sepasang mata hijau Klaus berkaca-kaca.
“Rasanya menyakitkan melihatnya tergolek lemah seperi itu. Pucat, tulang berbalut kulit. Padahal dulu dia adalah orang berwarna yang sangat hidup.”
Ketika mendengar kata ’berwarna’, yang ada di kepala Layla adalah pengalaman yang menyambutnya di Utrecht tiga tahun lalu. Suatu senja menjelang tahun baru di taman kota, Layla menyaksikan untuk yang pertama kali dalam hidupnya, dua orang laki-laki yang berciuman di bawah terangnya lampu taman. Salah satunya adalah laki-laki dengan rambut dicat biru menyala. Laki-laki satunya juga tidak memiliki selera mode yang lebih baik, karena rambutnya dicat kuning stabilo. Warna yang tidak lazim dipilih orang. Sangat bagus untuk tanda bila kita tersesat di rawa-rawa. Namun bukan itu yang terlintas di pikiran Layla. Saat itu perutnya mual dan dia betul-betul muntah di wastafel kamar mandi umum terdekat.
Layla tidak dapat terus-terusan muntah setiap kali menyaksikan adegan itu kembali. Dia ada di Belanda sekarang. Salah satu tempat di muka bumi yang melegalkan pernikahan sejenis. Dia bekerja di rumah sakit yang memiliki instalasi khusus perawatan AIDS. Dan kebanyakan penghuninya adalah....kau tahu.

Jan mulai demam tiap malamnya. Dia pun kesulitan bernafas. Nafasnya hanya berupa tarikan-tarikan pendek. Jan tidak lagi dapat tidur dengan nyenyak di malam hari karena batuk yang terus menerus. Oleh karena itu, di bawah matanya lingkaran-lingkaran hitam menjadi tampak sangat jelas.
Terkadang di tengah malam, ketika lampu telah dipadamkan, Klaus terjaga. Dia memandangi wajah Jan dengan cahaya temaram lampu meja di sebelah tempat tidur. Dia mengamati tulang pipi bertonjolan di wajah Jan yang sama sekali tidak indah. Kulit pucat dengan mengerikan tertarik ke segala sisi karena begitu tipis lapisan lemak di bawahnya. Dia benar-benar tampak seperti kematian itu sendiri, batin Klaus.
Dia telah dikutuk. Dan pada gilirannya aku pun mungkin akan mengalaminya. Dia dikutuk karena menentang hukum alam. Sering di bawah sadar, kata-kata itu yang bergaung. Namun ada suara-suara lain yang memantul-mantul. Suara Pendeta Kirk,
...aku tidak dapat memisahkan apa yang telah disatukan oleh Tuhan
Bila keraguan mulai mencengkeram dadanya dan kebimbangan mulai menyelimuti, Klaus hanya dapat mengulang-ulang sumpah pernikahannya. Aku mencintai Jan. Aku mencintai Jan.

”Kopi, Klaus?” dokter Layla menyodorkan gelas styrofoam padanya.
Klaus menyambut gelas itu dengan senang hati. Dia tersenyum pada Layla. Dokter yang sangat berdedikasi, pikirnya. Begitu perhatian pada setiap pasien dan mendampingi keluarganya pada masa-masa sulit.
Mereka berdiri di depan ruang isolasi. Di balik kaca, mereka dapat melihat Jan yang tampak menyedihkan dengan banyak selang seperti spageti yang dipasang di seluruh tubuhnya. Alat monitor jantung berkedip-kedip dengan sinar hijau menandakan setidaknya sosok yang terbaring di sana masih hidup.
”Hanya soal waktu, bukan?” Klaus mendesah.
Layla merasa tidak perlu menjawab pertanyaan itu.
”Setiap orang harus belajar untuk merelakan. Apa-apa yang kita cintai sekarang tidak akan kekal. Kapan dia akan diambil, kita tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Serahkan saja pada Tuhan.”
Klaus menatap Layla. Dia tersenyum karena tidak tahu harus berkata apa. Klaus tidak mungkin berkata bahwa terkadang dia tidak begitu yakin Tuhan itu ada. Jelas, itu tidak pantas diucapkan sekarang. Setelah dia melihat banyak kematian di tempat ini, Klaus tidak mungkin berkata bahwa Tuhan itu tidak ada. Selain itu, dia sangat menghormati wanita konservatif di sebelahnya. Wanita yang begitu konservatif nya sampai-sampai menghalangi semua akses yang memungkinkan kecantikannya untuk terlihat.
Layla Kemal. Klaus pernah berlaku tidak adil padanya. Pada masa awal perawatan Jan, Layla Kemal lah yang menjadi penanggung jawab. Klaus berulangkali mengajukan keberatan kepada kepala rumahsakit. Dia tidak ingin Jan dirawat oleh seorang fundamentalis yang beranggapan bahwa orang-orang seperti dirinya dan Jan pantas dibunuh dengan dijatuhkan dari menara tinggi.
Namun semua keluhan, cacian dan komentar pedas Klaus berhenti ketika dia melihat dari balik pintu, Layla yang membersihkan muntahan Jan. Saat itu malam natal dan kebanyakan staf rumah sakit libur. Kemudian, Klaus ingat dengan jelas, ada kecelakaan beruntun di jalan raya akibat es yang menutup jalan membuat ban mobil selip. Oleh karena itu, tidak ada yang menjaga gedung sayap kanan kecuali dokter Layla. Dokter yang dengan sabar membersihkan wajah dan tubuh Jan sambil membisikkan sesuatu yang membuat Jan tersenyum. Setelah malam itu, mereka bertiga pun mulai memanggil satu sama lain dengan nama depan.
Klaus menunduk sedikit. Dia berkata pelan pada Layla,
”Terima kasih telah ada bersama ku.”

Layla mengguncang-guncang bahu Klaus yang tertidur di sofa ruang tunggu. Saat ini pukul tiga pagi. Klaus membuka matanya dan melihat wajah Layla yang tegang.
Dia langsung bangkit tanpa ada sepatah kata yang sempat diucapkan. Layla tahu, begitu melihat mimik wajahnya, Klaus pasti dapat menyimpulkan....
Klaus berlari mendahului Layla. Suara langkah kakinya berdentam-dentam sepanjang lorong. Layla mengikuti dengan susah payah di belakangnya. Tiba-tiba Klaus berhenti, beberapa meter dari pintu ruang isolasi. Dia menoleh ke belakang, menunggu Layla.
Di depan pintu, dua orang intern berdiri kaku dan melirik gugup pada Layla. Dia paham. Mungkin ini adalah pengalaman pertama mereka menyaksikan kematian.
Kematian mengerikan yang menyambutnya di balik pintu yang terbuka di hadapannya. Klaus langsung menyerbu masuk, diikuti Layla dan dua dokter intern tadi. Klaus menyumpah pelan ketika melihat sosok Jan.
Mata Jan terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka. Dia terlihat seperti orang yang mati tercekik. Hanya Tuhan yang tahu apa yang mencekiknya.
Klaus menyumpah karena tidak dapat menghalangi pikiran-pikiran buruk yang memenuhi kepalanya. Dia merasa sangat jahat dapat berpikir seperti itu. Namun setelah melihat Jan, dia tidak dapat mengendalikannya.
...hanya kematian yang ada di sini...dia telah dikutuk...lihat mata kelabunya yang terbelalak...dengarkan teriakan minta tolongnya yang bisu...dia telah dikutuk...begitu pula denganmu.
Klaus berpaling dari pemandangan yang mengerikan itu. Layla mendekat ke sisi lain tempat tidur. Dia menutupkan telapaknya ke sepasang mata Jan yang terbuka. Klaus hanya mengawasinya dalam diam. Layla tengah mengerjakan sesuatu yang bahkan tidak sanggup untuk dilakukannya.
“Ada yang dapat kulakukan untukmu, Klaus?”
“Mungkin kau dapat menghubungi Anthony, sementara aku ingin berdiam diri di sini.”
Anthony adalah pemimpin komunitas gay di Utrehct.
Layla menggeleng.
“Maaf Klaus. Kamu tahu kenapa aku tidak bisa, kan?”
Klaus diam. Ya, dia tahu.

Jan disemayamkan di kediaman Klaus. Sebuah rumah bergaya Victorian dengan ruang tamu yang sangat besar. Di sana lah Jan berbaring dalam peti kayu ek-nya yang mewah.
Jan mengenakan setelah Armani terakhir yang dibelinya musim gugur sebelum dia masuk rumah sakit. Dia dibaringkan pada bantal sutra bersulamkan mawar putih, persis dengan mawar yang ada di letakkan di tiap sudut ruangan. Tanggannya bersedekap, seolah memeluk peralatan lukis kesayangannya yang sengaja diletakkan Klaus. Jan memang pernah berpesan agar kuas dan paletnya di masukkan ke dalam peti bersamanya.
Jan tampak sangat tampan setelah para perias dari rumah duka melakkan sedikit ini dan itu. Dan Klaus berterimakasih atasnya. Dia tidak dapat membayangkan apa komentar para pelayat bila melihat Jan dengan raut menakutkan yang disaksikannya pada malam kematiannya.
Anthony menghampirinya di samping peti. Dia memandang Jan beberapa lama kemudian berpaling pada Klaus.
“Dia kelihatan damai,” katanya pada Klaus, “Seharusnya para ekstrimis melihatnya. Mereka harus melihat bahwa kita bukan lah kaum terkutuk.”
Klaus tidak berkata apapun. Untuk mengangguk pun dia tidak sanggup. Di ruangan ini tidak ada yang mengetahui kebenaran apa yang terjadi pada malam kematian Jan. Tidak sampai akhirnya Layla Kemal datang didampingi oleh seorang wanita yang juga berhijab.
Kebanyakan pelayat yang merupakan pasangan sejenis itu menoleh pada dua orang berhijab yang baru memasuki ruang tamu. Klaus dapat merasakan pandangan menghakimi dari teman-temanya. Dia pun kemudian menghampiri keduanya.
“Layla, senang kau dapat datang.”
Layla mengangguk dan tersenyum. Dia mengenalkan dokter Zahara yang menemaninya kepada Klaus.
Masih di bawah sorotan berpasang-pasang mata, Layla, Zahara dan Klaus menuju peti Jan.
Layla tidak melongok ke dalam peti. Pandangan nya terpaku pada foto Jan yang dipasang di depan peti. Klaus ikut menatap foto itu.
“Dia terlihat sangat hidup, ya?”
Layla mengangguk pelan. Namun ada sesuatu yang lain dalam pikirannya. Klaus dapat membaca kebingungan Layla.
“Ada apa?” tanya Klaus.
“Kapan foto ini diambil, Klaus?” Layla tampak tegang.
“Tiga tahun yang lalu. Ada yang salah?”
Layla mengangguk pelan walau tidak menjawab apapun.
“Temui aku di rumah sakit, sesegera mungkin. Kau harus melakukan tes HIV.”
Klaus mengernyit.
“Untuk apa? Kalaupun hasilnya positif…aku sudah menduganya.”
Layla menggeleng cepat.
“Jangan keras kepala. Temui aku besok Senin,” Layla berkata dengan tegas. Dia mendelik pada pasangan gay yang dari tadi memperhatikannya dengan pandangan tidak sopan, “Apa yang sedang kalian lihat?”.

Amplop putih dengan logo University Hospital Utercht tergeletak membisu di antara dua cangkir kopi yang mengepul di atas taplak meja kotak-kotak merah. Untuk kesekian kalinya Klaus dan Layla duduk di meja yang sama di sudut kafetaria rumah sakit.
Klaus meraih amplop itu. Sesungguhnya dia tidak khawatir terhadap huruf-huruf yang tereja di dalamnya. Namun mau tidak mau, di bawah sorot mata Layla yang begitu serius, dia pun merasa sedikit gugup.
Amplop dibuka dengan pisau roti di sampingnya. Pinggirannya terobek tidak rata. Klaus membuka lipatan kertas pelan-pelan. Layla masih mengawasinya. Klaus tidak membaca paragraf pengantar, matanya langsung menuju pada tulisan kecil dengan cetak tebal di bagian bawah. Klaus mengernyit, dia memandang Layla, bingung.
“Negatif,” kata Layla pendek.
Klaus menggendikkan bahunya.
“Kami melakukan seks aman.”
“Bukan itu poin yang kumaksudkan,” Layla mengaduk isi tasnya. Dia mengambil map putih dari dalamnya.
“Klaus, aku tidak pernah bertanya ini padamu sebelumnya. Seperti apa yang pernah kamu teriakkan padaku pada awal-awal pertemuan kita di rumah sakit, aku memang seorang wanita konservatif tradisional.”
“Dan?” Klaus menunggu.
Layla menarik nafas panjang.
“Aku tahu, mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi.”
“Kecuali bila aku menjadi pasien di Sayap Kanan.”
Klaus tersenyum. Layla pun ikut tersenyum meskipun tampak rikuh.
“Klaus, kepercayaan yang kuanut menyuruhku untuk membimbing orang yang tersesat ke jalan yang benar…,” Layla mengambil jeda. Klaus mengangkat alisnya tinggi, dia sedang menerka ke mana arah pembicaraan mereka.
“Kau tahu, Klaus, sejak awal aku tidak pernah setuju dengan pilihan yang kaubuat bersama Jan. Dan aku masih tidak setuju sampai sekarang. Sebelum aku bicara lebih lanjut, aku hanya ingin bertanya apa yang membuatmu untuk memilih jalan itu?”
Klaus tersenyum. Itu adalah pertanyaan tipikal yang telah dijawabnya ratusan kali.
“Kenapa aku memilih untuk menjadi gay?” Klaus menyimpulkan pernyataan Layla. Layla mengangguk.
“Pada suatu titik aku mati rasa terhadap wanita. Itu karena kurasa aku butuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang didapatkan Birkin pada Gerald .”
Klaus menerawangkan pandangannya ke halaman luar.
“Pada titik apa?”
“Apakah itu relevan?” Klaus mulai agak terganggu.
Layla mengangguk.
Klaus menghirup kopinya sebelum bicara lagi.
“Titik di mana…wanita sudah tidak tampak menggiurkan lagi. Titik di mana Katharine, kekasihku sebelum Jan, kupergoki berselingkuh di kamar tidur apartemen kami. Kukira aku trauma. Ya, aku trauma terhadap pengkhianatannya. Aku mencoba lagi berhubungan dengan beberapa wanita tapi tidak berhasil. Mereka tampak begitu menjijikan bagiku. Sampai akhirnya aku bertemu Jan,” raut wajah Klaus melembut ketika mengucapkan nama itu.
“Jan adalah belahan jiwaku. Dia yang begitu setia. Kau tahu, kan? Aku sering bepergian. Dia melengkapi apa yang tidak dapat diberikan oleh siapapun.”
“Apakah kau benar-benar ‘terhubung’? Physically? Apakah ini yang betul-betul kau inginkan?”
Klaus tertawa.
“Physically? Kau lucu sekali, dokter Layla. Tentu saja kami tidak ‘terhubung’. Kami tidak diciptakan untuk itu,” Klaus masih tertawa. Ketika tawanya mulai mereda, dia pun merenung, “Kau ingin menyadarkanku bahwa perbuatanku salah, dokter Layla? Bahwa aku menentang hukum alam?”
Layla mengangkat bahunya.
“Entahlah, Klaus. Aku hanya meyakini bahwa hubungan yang kalian jalani tidak wajar. Itu telah salah dari awalnya dan tidak mungkin bertahan.”
Wajah Klaus mengeras.
“Tidak dengan aku dan Jan. Kami saling mencintai.”
Layla mendesah.
“Bila cinta sejati bisa berdusta, maka kau adalah cinta sejati Jan.”
“Apa maksudmu?” Klaus menatap tajam Layla.
“Apakah kau mengenal Viktor Bremen?”
Klaus mengangguk. Viktor adalah seorang DJ klub gay di Amsterdam. Dia mengingatnya karena rambutnya yang kuning mencorong.
“Kau bisa saja menuduhku berbohong. Aku melihat Jan dan Viktor berciuman di bawah lampu taman tiga tahun lalu di malam tahun baru. Dan Viktor meninggal beberapa bulan sebelum Jan masuk rumah sakit. Dia juga pasienku. Kurasa Jan tertular dari Viktor atau mungkin dari yang lain. Oh, Klaus,” Layla tampak sangat prihatin.
“Tidak mungkin…,” Klaus mengucapkan apa yang bertentangan dengan akalnya. Dia memutar kembali kenangannya. New Year Eve, pesta kembang api meriah di Westminister Bridge, London. Klaus tidak berada di Utrecht saat itu.
“Bagaimana kau tahu…”, Klaus tampak sangat kelelahan.
“Rambut biru Jan. Aku tidak menyadarinya sampai kemarin lusa aku melihat foto Jan yang kau pajang di depan petinya. Dan Viktor yang kukenal rambutnya dicat kuning stabilo.”
Klaus mengumpat. Layla benar, itu adalah Jan dan Viktor. Dia menggebrak meja.
“Kenapa kau mengatakan ini padaku? Apa gunanya?” tanyanya dengan suara bergetar.
Layla kelihatan sangat tenang menghadapinya.
“Seperti yang kukatakan di awal, Klaus. Aku hanya ingin meyakinkan mu bahwa hubungan seperti itu tidak akan berhasil. Sejak awal kalian sudah tidak ‘terhubung’. Apapun yang kau rasakan, Klaus, sepertinya Jan tidak merasakan hal yang sama.”
Klaus menatapnya dengan marah.
“Aku benci wanita.”
Layla tidak terkejut, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa dia terluka. Namun Layla tetap tersenyum dan mencoba memahami hancurnya perasaan Klaus. Saat dia akan bicara, penyerantanya berbunyi. Di sana tertulis bahwa Layla harus siap untuk operasi limabelas menit lagi.
“Baiklah, Klaus. Aku tidak akan menarik apa yang telah aku sampaikan padamu.,” dia bangkit dari kursi, “Klaus, selalu ada jalan pertaubatan atas dosa-dosa masa lalu, yang perlu kau lakukan hanyalah mencobanya”.
Layla mohon diri. Dia mengucap salam yang diacuhkan oleh Klaus.

Dua hari kemudian, Klaus kembali ke kafetaria rumah sakit setelah mengambil beberapa barang milik Jan yang masih tertinggal. Tadinya dia hanya ingin membeli secangkir decaf-latte, tapi kemudian dia membungkuk di depan etalase yang memajang kue pengantin indah dengan sepasang boneka kecil di atasnya. Sepasang. Klaus berpikir miris. Ia ingat betapa sulit mencari hiasan kue pernikahannya dengan Jan lima tahun lalu. Kebanyakan hiasan menampilkan sepasang pengantin. Sepasang. Bride dan bridegroom. Bukannya Bride #1 dan Bride #2.
Tanpa sadar, Klaus memutar-mutar cincin di jari manisnya. Cincin pengikat janji. Janji apa? Dadanya kembali sesak dengan perasaan marah. Dia marah kepada Jan. Dia marah kepada Layla. Dia marah kepada dirinya sendiri. Dia marah kepada dunia. Dia marah kepada Tuhan yang mematikan hasratnya kepada wanita. Saat ini dia berani menukar dengan apapun asal dia bisa kembali normal, merasakan lezatnya wanita-wanita di luar sana.
Dia memperhatikan boneka mempelai wanita yang mungil dalam gaun putih. Klaus pun tersenyum. Itu lah perwujudan seorang wanita yang seharusnya. Bersih dalam gaun putih. Belum terjamah sampai akhirnya kerudung rendanya dibuka di hadapan pendeta.
Tiba-tiba dia membayangkan Layla. Klaus bertnya-tanya, apa warna rambut yang Layla di balik kerudungnya. Pirang kah? Sehitam malam? Atau merah seperti gadis Perancis? Dia kemudian membayangkan senyumnya yang feminin. Suaranya yang halus ketika menyebut namanya….
“Klaus.”
Dadanya bergemuruh. Dia sudah kembali dapat mengkhayalkan wanita!
“Klaus?”
Layla memang sedang berdiri di sebelah dan memanggil namanya.
Klaus memasukkan tangannya ke dalam saku dan menegakkan punggungnya. Untuk pertama kalinya, dia memperhatikan Layla baik-baik. Wajahnya yang putih dengan pipi bersemu merah tanpa make-up. Matanya yang coklat dan lebar dengan bulu mata tebal dan lentik. Hidung prominent khas timur-tengah.
“Apa yang kau lihat?” tegurnya dengan galak.
Klaus mengangkat bahu dan menyeringai.
Di dalam saku, jemari tangan kiri Klaus berusaha melepaskan cincin emas yang dingin dari jari manisnya. Aneh, cincin itu pun lepas dengan mudah.

Nai Elye Hiruva,
Ajeng K. Pramono

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ophelia
ophelia at Setelah Janus Pergi (13 years 37 weeks ago)
100

di annida jadi novel pertama edisi maret nih. kereeeen jeng :D

Writer Paijo RX
Paijo RX at Setelah Janus Pergi (13 years 38 weeks ago)
100

Kita telah menciptakan dunia dengan memainkan beberapa lakon dalam sketsa kita, menempatkan emosi di antara imajinasi dan menjadi algojo dalam "pembunuhan" cerita.
nice job. n_n
kok NGASIH poin SENDIRI dg nulis User Reviewv dewe , aneh ???

Writer prince-adi
prince-adi at Setelah Janus Pergi (13 years 39 weeks ago)
70

ternyata benar...
saat aku membaca setelah janus pergi di annida
hatiku bertanya, ini ajeng apa bukan???
gayanya yang khas terus mengetuk tanyaku...
taunya bener...
sial....

Writer prayana
prayana at Setelah Janus Pergi (13 years 39 weeks ago)
50

pasti maen copy paste dari word, lain kali di susun yah ... susah bacanya nih, cerita bagus jadi gak nyambung deh,
soalnya word terlalu tersambung :D

Writer alwafiridho
alwafiridho at Setelah Janus Pergi (13 years 39 weeks ago)

He... Jangan kasih nilai sendiri...,di k.com bukan ajang poin..., dilihat dari karyanya baru di kasih poin

Writer Laily Oktar
Laily Oktar at Setelah Janus Pergi (13 years 39 weeks ago)
100

huaaaa
nggak nyangka cerpen ini bisa lolos ke Annida.
Secara...pendekatan ketokohannya "mentah" banget