Ini Terlalu Sulit (Membunuh Sang Presiden)

“Sudah berapa lama kau terdiam?”

Berjam-jam. Saya tidak bisa memulai. Ini terlalu sulit.
”Kau bercanda.”

Sebut apa saja, tetapi inilah kenyataannya.

“Ingat, kau pernah jatuh cinta pada melukis dan hanya aksara-aksara itu yang kau temukan di sana. Rumah-rumah beratap yang kau bilang lebih menyerupai huruf ‘A’, pegunungan sewujud rangkaian huruf ‘M’, liukan sungai seperti huruf ‘S’ dan wajah-wajah kosong huruf ‘O’. Kau melukis, tetapi jiwamu tetap menulis.”

Tetapi, ini terlalu sulit. Mengertilah.

“Baiklah, kuberi tahu kau sesuatu. Dan tuliskanlah sebab hanya kau yang mampu melakukannya.”

******
Sang Presiden duduk sempurna di tempat teristimewa yang dipersembahkan khusus untuknya. Bangku kedua sebuah sedan indah dan termahal yang pernah ada. Tak seorang pun berhak di sana, kecuali dirinya. Hidup memang selalu sarat akan ketetapan yang relatif sekaligus mutlak. Hal-hal tertentu hanya diperuntukan bagi orang-orang tertentu pula. Dan siapa pun berhak atas sesuatu yang tertulis atas namanya.

Ia masih tersenyum menebar pesona kepemimpinan-abadi-nya yang wangi angin surga untuk negeri tercintanya. Di dadanya masih berkobar api demokrasi dan keadilan yang selalu diMIMPIkan setiap orang. Dan di pundaknya masih bergelayutan nasib anak-anak bangsa yang mengotori jalanan protokol bahkan nekat bunuh diri karena malu belum membayar SPP, ada pula jasa besar para guru yang mestinya tak cuma cukup dengan gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, nasib para korban pasca-bencana yang terlunta-lunta, dan rakyat yang sekarat karena terpaksa berpuasa setiap saat dan tak kuat berobat.

Lalu semua orang bertepuk tangan atas kehebatannya: masih bisa bersikap seakan tidak terjadi apa-apa dengan negaranya yang payah dan kondisi keluarganya yang berantakan. Dan Sang Presiden pun bertepuk tangan atas kehebatan semua orang: masih bisa bersikap seakan Sang Presiden tidak pernah berbuat apa-apa di tengah isu KKN dan serangkaian pelanggaran yang ia lakukan.

Sampai tiba-tiba...

Sesuatu bernama Amunisi menghentikannya. Menerobos masuk, tepat ke dalam kepalanya setelah berhasil melubangi dinding sedannya--yang katanya anti peluru itu. Seketika, peluru itu melumpuhkan segala pemikirannya tentang bagaimana cara untuk menyejahterakan rakyat setelah sukses memakmurkan anak-cucu tujuh turunan dan dirinya sendiri.

Akhirnya ia tamat juga di tahun ketiga puluh sekian dari masa jabatannya.
******

Secepat itu kisah ketamatannya?

“Kita memulainya tepat di akhir. Atau, cara kematiannya yang kurang kejam? Tapi, kupikir ini sudah cukup kejam, mengingat penjagaan dan pengawalan bagi seorang Presiden teramat ketat. Entahlah, kau ada ide gila untuk lebih dapat mendramatisir kematiannya?”

Mungkin, sebelumnya perlu ada penjelasan kenapa ia harus dibunuh, sedang berada di mana ia saat kejadian itu, untuk apa ia di sana, siapa yang melakukannya dan bagaimana keadaannya ketika itu.

“Memangnya kau sedang menulis cerita Berlibur ke Rumah Nenek untuk PR bahasa Indonesia?”

Wah, itu sudah hampir dua puluh tahun berlalu.

“Tapi kau masih menghiraukannya. Dan apa lagi yang kau hiraukan selain hal itu hingga membuatmu nampak sedemikian payah?”

Entahlah. Mungkin masalah pemerintahan, kenegaraan, politik. Argh, yah, saya selalu benci dunia politik dan segala tetek-bengeknya. Saya selalu lebih memilih menjadi penulis yang tinggal di gubuk sederhana daripada (membayangkan) menjadi kepala negara yang tinggal di Istana selama lebih dari tiga puluh tahun. Dan lebih baik menjadi penulis berkawan komputer pentium II yang teramat berguna daripada menjadi anggota dewan dengan laptop dua puluh juta rupiah yang memangkas anggaran cukup banyak tetapi sia-sia. Dan saya tidak bercita-cita menjadi seorang aktivis HAM yang bernasib semiris Munir, apalagi hanya sekadar menjadi seorang demonstran yang rela mempertaruhkan urat suara--bahkan nyawanya yang hanya terbayarkan nasi bungkus berlauk tempe dan kerupuk (itu pun seberuntung-beruntung nasib baginya). Sejak kecil, Ibu lebih banyak mengajari saya untuk berbicara tentang kehidupan, cinta dan kasih sayang daripada politik tai kucing yang semakin diumbar malah hanya mengeluarkan bau busuk yang tajam.

“Hm, bukan berarti kau tak bisa menulis sesuatu tentang itu, bukan? Ayolah, ini cuma cerita fiksi.”
Kamu tak mengerti?

“Kau yang sulit. Sudahlah, biar kubantu sekali lagi.”

******
Tertulis dalam headline sebuah surat kabar harian:
Kasus penembakan Sang Presiden Terlama Kita yang diikuti ledakan bom bunuh diri dan menewaskan kurang lebih 227 orang di tengah hiruk-pikuk massa yang melakukan penyambutan di sepanjang jalan Djoeanda kemarin siang (8/3), kian menggenapi catatan pembunuhan pemimpin negara di dunia. Pelakunya disinyalir masih memiliki keterikatan dengan gembong teroris, Dr. Ass-hari.

******

Ah, teroris lagi... terorisme lagi! Maksudmu, orang-orang berjanggut sangat lebat dan fasih berbahasa Arab yang bernyali luar biasa dan, ehm, kejam itu? Membosankan.

“Hus! Jangan as-bun! Kau tahu, dari beberapa referensi, terorisme disebutkan sebagai serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Dan teroris itu sendiri, menurut para kontra-terorisme, adalah mereka yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut, yang melakukan aksi-aksi tak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi.”

“Kau ada masalah dengan teroris-teroris itu? Maksudku, kenapa kau terkesan keberatan dengan keterlibatan teroris dalam pembunuhan itu?”

Tidak. Hanya, kumohon, jangan pernah mencari kebanggaan dalam keseragaman. Jadilah bagian dari keberagaman.

“Maksudmu?”

Kamu jangan berpikir bahwa kamulah satu-tunya penulis yang memfiksikan tragedi pembunuhan Benazir Bhutto di Rawalpindi dan mengambinghitamkan teroris sebagai pelakunya. Atau, kamu pikir tak akan ada penulis lain yang menyalin ulang alur berantai yang aneh dan sangat mistis dari kisah terbunuhnya presiden Amerika: Abraham Lincoln dan John F. Kennedy? Terlebih, hal-hal tentang penembakan dan peledakan bom oleh pihak teroris sudah cukup umum.

“Kupikir, itu bukan sesuatu yang buruk. Aku tak perlu mengambil contoh cerita fiksi sukses siapa yang murni diadaptasi dari kisah nyata, atau masih banyak penulis-penulis yang menonjol dan diakui eksistensinya diantara keseragaman karya yang kau maksudkan. Itu cukup menjelaskan tentang bagaimana cara kau mengolah semua sumber daya yang ada padamu.

Dan, betapa perfectionisnya seorang dirimu.”

Eksistensi bagi saya adalah menjadi individu yang berbeda. Tapi, baiklah, kita coba menulisnya dari awal. Kamu terlalu memaksa dan saya berusaha menghargainya.

“Thanks. This is your turn.”

******
Bagaimanapun, Sang Presiden sempat berdebar-debar dan sedikit gentar tatkala Badan Intelijen Negara (BIN) memberikan informasi tentang keberadaan sekelompok Mafia yang siap menghabisi nyawanya--maaf, maksudnya sesuatu yang lebih parah daripada sekadar mencederai. Tetapi, tentu saja ia bukan banci yang lantas bersembunyi, seperti banci-banci korupsi.
******

“Maaf, memotong. Kau ingin membuat tokoh Sang Presiden ini bersih dan aman dari korupsi?”
Hm, mungkin.

“Kau yakin? Kupikir akan menjadi kontradiksi. Kau akan dicap menutup-nutupi. Sudahlah, ia hanya manusia biasa, dan semua orang mengetahui semua gelagatnya, belangnya, abu-abunya.”

Ayolah, kamu bilang ini cuma cerita fiksi, bukan? Dan inilah versi--gaya saya.

“Oh, maaf. Silakan lanjutkan.”

******
Bahkan, dengan tegas, Sang Presiden yang gagah perwira sepanjang masa itu menyatakan tidak takut sedikit pun terhadap ancaman apa dan dari mana pun. Ya, tentu saja ia tidak takut selama para body guard itu mem-back-up-nya. Pengawalan yang super ketat pun semakin diintensifkan padanya beserta keluarga. Ia yang juga dinilai sangat ramah dan ‘membumi’ dituntut untuk membatasi diri dan tak perlu lagi berjarak lebih dekat dan berjabatan tangan dengan rakyatnya demi keselamatan jiwanya.

“Tindakan pengetatan ini hanya bersifat sementara,” ungkap juru bicaranya. “sampai situasinya dinilai normal kembali.”

Kebocoran informasi ini meresahkan banyak pihak. Sindrom Paranoid melanda negara.

Di lain pihak, bertempat di sebuah kompleks rahasia, sekelompok orang yang menamakan diri sebagai Mafia nampak sibuk memikirkan seribu satu cara untuk melancarkan rencananya. Mempertimbangkannya kembali, merancang ulang agresi-agresi yang akan dilakukan dan menyusun kembali daftar urutan nama-nama pihak yang menjadi sasaran. Bukan tidak mungkin jika pemerintah, kepolisian dan TNI sudah lebih dulu bersinergi mengambil langkah preventif dan protektif.

Semua ini dilatarbelakangi tindakan Sang Presiden yang dinilai berani dalam upaya-upaya memerangi korupsi, narkoba dan perjudian di dalam negeri. Jelas, para pelakunya bukan orang-orang sembarangan. Tak mustahil jika setiap kelompok besar itu berkomplot dan membangun kekuatan untuk melakukan gerakan-gerakan perlawanan, salah satunya dengan upaya membunuh Sang Presiden.
******

...

“Oow, kau nampak menjadikan Sang Presiden sebagai tokoh panutan dalam ceritamu. Amat membosankan! Tapi, terserahlah. Lalu?”

... ... ...

“Lalu--pembunuhannya?”

I have no idea. Bahkan saya akan menghapusnya.

“Oh, kumohon jangan kecewakan aku! Kau bahkan kalah telak dengan John Wilkes Booth (1) dan Lee Harvery Oswald (2) yang hanya dengan modal nyali nekat dan kegilaannya mampu menggetarkan dunia selama puluhan dekade lamanya. Dengan fantasi dan permainan diksimu yang luar biasa, aku yakin kau mampu jauh mengungguli kegilaan mereka berdua. Kau mampu menyentuhkan sisi melankolismu pada setiap orang sampai mereka menangis sesunggukan saat membaca karya-karya romanmu. Kau pun pernah membuat novel yang memotivasi dan mengubah hidup banyak orang menuju arah yang lebih baik. Maka, tak mustahil kau pun mampu menciptakan kisah pembunuhan pemimpin negara yang jauh lebih gila, ganjil dan penuh teka-teki yang mencengangkan daripada kasus pembunuhan Presiden Amerika itu sendiri.”

Cukup. Ini terlalu sulit.

“Apa masalahnya? Kau perlu waktu?”

Mungkin.

“Baiklah, aku masih dapat diandalkan untuk merangsang ide-idemu.”

Terimaksih, tapi saya rasa tidak perlu. Saya menyerah.

“Kenapa? Kau takut?”

Tidak. Saya hanya merasa terlalu memakai hati untuk sekadar menuliskannya. Dan hati saya tak mengijinkannya. Sedikitpun.

“Apa maksudnya?”

Saya hanya mencintai Ibu. Dan selama Ibu masih ada, ia ingin tetap melihat Bapak baik-baik saja. Bagaimanapun, Ibu sangat mengasihi Bapak.

“Aku tak menyuruhmu membunuh atau melenyapkan nyawa Bapak Presiden Kita Tercinta itu, Penulis Tolol! Aku hanya ingin kau membuatkanku kisah pembunuhan untuknya. Hanya sebuah kisah.”

Untuk apa? Tak ada gunanya.

“Bukankah bisa kau jual? Lalu, kau dan Ibu punya tambahan bekal setelah sekian lama hidup kalian susah tanpa aliran dana dari Bapak Presiden Kita Tercinta itu.”

Saya tidak bisa, dan Ibu tidak akan mengijinkannya.

“Oh, keras kepalanya, kau; keras kepalanya bagian diriku yang PUTIH ini!”

“Dan, baiklah jika itu memang keputusanmu. Hanya, tolong dengarkan sedikit kisah dariku sekali lagi...”

******
Seorang pemuda 25-an mendatangi Istana dengan pakaian rapi dan sopan. Di tangannya, sebuah buku hasil karyanya yang menceritakan kekaguman terhadap Sang Presiden, berhasil meyakinkan para penjaga untuk memberinya ijin masuk dan menemui Sang Presiden yang kebetulan tengah luang. Duduklah mereka berhadapan dalam jarak yang cukup renggang. Sang pemuda menyatakan maksudnya untuk mempersembahkan buku tersebut pada idolanya, sekaligus ingin berbincang-bincang.

“Wah, terimakasih. Bukumu luar biasa, Anak Muda.”

“Ya, semua ini berkat Bapak juga tentunya, sang inspirator terbesar dalam penciptaan buku ini.”

Sang Presiden mengembangkan senyum bangga.

“Dan, ini juga berkat jasa seorang Ibunda yang membesarkan anaknya seorang diri. Beliau dan putranya hanya mengecap kebersamaan tak lebih dari setahun dengan Sang Suami yang kemudian meninggalkannya dan tak pernah kembali.”

“Malang sekali nasib Ibumu, Nak. Memangnya, Bapakmu ke mana?”

“Ia pergi menjalankan tugas negara, memimpin bangsa dan tentu saja kembali pada istri tua dan anak-anaknya di Istana.”

Sang Presiden terbelalak lalu membuka-buka isi bukunya dan semakin terkejut ketika melihat nama dan foto seseorang berada di sana. Kemudian jantungnya mendadak berhenti. Ia pun dilarikan ke rumah sakit, dan sang pemuda diamankan polisi.
******

Terserah, mau kau tulis atau tidak.***

pembunuh Abraham Lincoln
pembunuh J. F. Kennedy

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
40

isinya cerdas. sy smpe terpana. kisah pembunuhan memang selalu menarik. apalagi orang penting. salut to u.

Writer KD
KD at Ini Terlalu Sulit (Membunuh Sang Presiden) (12 years 47 weeks ago)
100

sip

70

ini bagus,mengajak bercerita dengan cerita.but de'ending?!i still figured out??? tapi sebelum kita "ngebunuh presiden en de'kroni",ayo kita "bunuh diri sendiri" dulu biar dlm mati kita bisa nemuin ceritanya atau berkonspirasi untuk,,,

80

Seru jg, walau memakai gaya penulisan yg kurang kusuka.

Writer cat
cat at Ini Terlalu Sulit (Membunuh Sang Presiden) (12 years 50 weeks ago)
70

cerita yg berat yg membuat dahiku berkerut.

anyway selamat telah melewati tantangan miss worm.

80

Dari tantangan yg berat, emang jd cerita yg berat jg ya...

Rd bingung c d awal bacanya, tp akhrny ngert jg

salut buat Dadun ^_^

kalo ak yg dpt tantangan ky g2, gmana ya?? Pusing....!!!

80

Berusaha tidak membaca komentar teman-teman sebelumnya agar dapat memberikan sudut pandang se-murni pemikiran saya.

1. Waktu miss_worm share plot tantangannya, aq pikir plot akan dibawa ke intrik perebutan kekuasaan, gaya2 rebutan kursi ke anaknya yang bermula dari sistem pemerintahan monarki (Jaman2 Pak S*H**T* yang mulai mendomplengkan nama Mbak T***T ke kursi kementrian untuk digadang2 jadi pengganti dia seterusnya)
atau
2. Format terorisme

Ah tapi jawabannya ternyata ... so... typical cerita sinetron yak...
"Kamu ketahuan... nannanananana"
Dan... akhirnya... the 1st Man ini tumbang.

Tapi aku suka cara membawakan yang bermula dari kebingungan penulis pembuatan cerita, alasan (kalau boleh mengatakan "alibi ceriti"), dan alur...
Kalau masalah sekuens, pas... memang tema semacam ini sulit dimengerti untuk yang tidak terbiasa cerita "absurd", (dan aku pikir dirimu kan terjebak dengan pola itu), tapi kamu mengetengahkan dengan sesuatu yang "real", bukan bahasa awang-awang.

And 4 the most of all, I'm very salute 4 this story. In less 4 a week U can make that's. Bravo!!!

80

salut buat MAS Dadun, penantangku, yng telah melewti tantangannya dari mbak Windry (miss_worm) .... (saya masih menunggu format tantangannya loh mas....)

hasil pembacaanku :

1. typo dan salah eja masih dapat ditolerir

2. konflik dan dialog yg dibuat sedikit njelimet kemungkinan membuat pembaca mudah lelah/bosan

3. ending kurang greget .. karena konflik antara Aku dan "Aku" sepertinya masih belum jelas penyelesaiannya ... padahal yg konflik tersebut merupakan bagian utuh dari keseluruhan cerita ... (mungkin)

4. maaf klo ada hal yg kurang berkenan, saya pun masih perlu banyak belajar ...

salam,

-Mirza-

100

mirip yah ama itu Kak Dadun...
tapi,,, cerita ini bagus banget...
kasus2 pembunuhan Presiden selalu bikin aku penasaran...
Dan membaca cerpen ini (yg dibutuhkan konsentrasi penuh dan mikir lama...) seru banget rasanya...

Entah kapan aku bisa bikin cerpen kek gini...
Buka les menulis gak Kak Dadun ???
*hehehe

70

Benar-benar gaya yang berbeda dari biasanya. Suspensenya terasa walau inti cerita berkisar tentang menulis, cuma flash back dan penggalan2 cerita yang italic agak kurang smooth masuk ke dalam cerita.

Oh ya Dun, typo ama salah eja masih banyak tuuuh...ntar kena jitak miss worm lho hehehehe

100

Konsep percakapan-tanpa-tubuh gini nih yang gua demen. Hehe. Idenya bagus juga. Bukan membuat cerita benar tentang membunuh presiden, tapi malah membuat cerita tentang seseorang yang membuat cerita pembunuhan presiden. Manthap!!! ^^

70

hege baca, sebetulnya nilai cerpen ini 6,8 tapi dibulatkan 7 ajah. traffic logic, sometimes its boring dude.

dan, endingnya jelek banget T__T

70

point plus di tulisanmu kali ini adalah kandungannya a.k.a. isi. nulisnya jadi pakai mikir pastinya kekeke. wajar, menulis harusnya kegiatan cerdas, begitu juga membaca (jadi, para pembaca ... dadun sudah menulis dengan pemikiran, bacalah dengan berpikir juga hehehe)

but hey, mari saya jelaskan kenapa nilainya 7 (bagi saya).

saya tidak menemukan sesuatu yang segar dalam tulisan ini. saya tidak melihat sesuatu yang baru. baik dalam hal ide maupun teknik. kasarnya, penulis terjebak dengan hal klise (saya setuju dengan pikanisa). perdebatan hati seorang penulis dalam menulis fiksi sudah terlalu sering diangkat, cerita ini menjadi membosankan bagi saya hanya dalam dua adegan di awal. semua teknik yang digunakan juga sudah pernah saya pakai. dan ini cukup krusial.

cerita di dalam cerita (kisah sang presiden yang itu sendiri) membosankan :D. tidak ada sesuatu yang benar-benar disuguhkan kepada pembaca. terkadang ini memang terjadi saat menulis prosa multiplot. keseluruhan tulisan juga begitu renggang, tulisan menjadi terasa kurang padat.

lalu saya kurang sreg melihat perpindahan adegan macam deretan garis melengkung itu. masih banyak cara yang lain.

masih ada beberapa typos, mungkin terburu-buru saat posting. it's ok. saya tidak ingin mempermasalahkan itu :D kuatir saya jadi terkenal cuma bisa kritik itu doang kekeke

di luar itu semua, dadun menulis sesuatu di luar kebiasaannya. so, well done. sering-sering lah eksplorasi. ^^ rasa puas saat menulis jauh lebih penting daripada komentar-komentar pembaca :D

segitu dulu, saya lupa tadi kita ngobrol apa aja di YM, Dun.

90

Dun, pas baca tantangan miss worm di forum aku berpikir "Ini terlalu sulit buat diriku".
Tapi dirimu membuatnya dengan cerdik. Aku nggak mungkin kepikiran sampai ke situ kali... ^^
Terlepas dari kekurangan yang lain, aku sudah salut banget sama cara penaympaiannya.
Jadi, baguuuussss..

80

Membaca cerita ini kebetulan aku selesai membaca sebuah buku berjudul KUDETA MEKKAH karya Yaroslav Trofimov dan membaca resensi film berjudul VANTAGE POINT (film tentang mencari dalang penembakan presiden Amerika, pemain Dennis Quaid).

So, menurutku alur ceritanya cukup apik, walaupun agak keteter saat bercerita flash back.

Unsur ketegangannya juga masih agak sedikit mengambang, tetapi konflik cerita lumayan terjalin dengan baik.

Secara keseluruhan cerita cukup menarik dan menantang untuk di eksplor.

Selamat ya, berhasil melewati tantangan sulit hehehe.

80

memang sulit buat menjawab tantangan dari miss.

Dan aq juga harus berusaha berpikir buat baca ini karena harus menebak-nebak kira2 aq bakal dibawa kemana, bagaimana akhirnya sang penulis menentukan harus dengan cara apa si penulis membunuh sang presiden.

Aq bilang ini bagus karena biarpun aq harus sedikit mikir, tapi enjoy bacanya.

Btw, apa cerita ini hasil dari dialog dengan hatimu sendiri, dun? gimana caranya membunuh sang politisi...^_^