Malam itu, Di Sebuah Cafe

Café ini terlalu sepi. Hanya ada kau dan aku, serta beberapa pasangan yang menikmati malam. Kita duduk menyendiri di pojok ruangan. Segelas Ice chocolate almond kesukaanku dan double espresso milikmu masih belum tersentuh. Sebuah laptop mungil berwarna putih ada di hadapan kita. Kau duduk termangu sementara aku sibuk browsing. Hanya musik dari café yang mengalun lembut dan aroma kopi yang demikian kental temani kita.

“Sudah malam. Kapan kamu akan pulang?” tanyamu perlahan.

“Aku malas pulang. Bahkan jika bisa aku tak mau pulang.” Jawabku acuh. Kuulurkan tanganku untuk meraih minuman yang sempat terlupakan. Mataku mengikuti sekelompok remaja yang baru saja masuk. Murid SMA tebakku, bebas menikmati minggu malam walaupun besok mereka harus sekolah. Betapa asyiknya mereka, masih belum tahu kesulitan hidup, yang mereka tahu hanya belajar, bermain, mencari pacar, dan meminta uang kepada orang tua sebagai modal pacaran. Ah, ini hanya rasa iriku saja, karena toh aku tak tahu kehidupan seperti apa yang mereka jalani dan aku juga tak berhak menilai mereka.

”Lagipula sofa ini sungguh nyaman, menggodaku untuk tetap duduk.” Komentarku lagi. Sofa empuk berwarna hijau muda dilapisi beludru lembut, ditambah dengan koneksi internet wireless tanpa batas membuat pengunjung betah berlama-lama duduk dan bercengkrama di cafe ini. Kita pun sering menghabiskan waktu akhir pekan hanya duduk berdua, kau dengan kopi kesayanganmu dan aku dengan minuman cokelatku. Beruntunglah cafe ini menyediakan varian minuman kopi dan cokelat yang bisa kita cicipi. Untuk kopi, dari mulai kopi tubruk, kopi bandrek, coffee latte, macchiatto caramel, cappucino, espresso, dan juga berbagai liqueur coffee seperti amaretto ice coffee, tersedia di sini. Namun sangat disayangkan, varian minuman cokelat lebih sedikit dibandingkan dengan kopi, hanya ada hot chocolate, ice chocolate, chocolate almond latte, ice chocolate caramel, chocolate milkshake, dan frozen cookies and cream.

”Kenapa kamu tak mau pulang? Ah...aku tak mau menanyakan kenapa.” sungutmu kesal. Pertanyaan kenapa adalah salah satu pertanyaan yang hampir pasti tak kujawab. Aku malas menerangkan alasan atas sebuah tindakan. Kurasa hanya aku yang perlu tahu mengapa aku melakukan sesuatu. Sikapku yang seperti ini sering membuatmu kesal. Belum lagi keras kepalaku ketiksa sudah memutuskan sesuatu. Tapi aku tak peduli, atau tak mau peduli. Betapa egoisnya aku.

”Tapi kau menanyakannya juga.”

”Tentu saja aku harus menanyakannya.” jawabmu setelah terdiam beberapa saat. Kau menghela nafas panjang. Kebiasaanmu ketika kau sedang galau, seperti kesukaanmu memesan double espresso ketika moodmu sedang kacau karena pahitnya menghantam syaraf dan menenangkan badai emosi katamu, seperti saat ini. Ketika hatimu tengah bersenandung riang, kau lebih memilih kopi dingin seperti frozen cappucino atau amaretto ice coffee yang memberimu sensasi dingin menyegarkan namun tetap mengandung cafein. Aku sendiri selalu memilih chocolate almond yang legit menggoda dengan wangi almond yang manis.

”Mengapa?” tanyaku lagi.

”Karena aku harus mengantarmu pulang.”

Ah ya. Aku lupa bahwa setiap kali perjumpaan kita, kau selalu mengantarku pulang. Bahkan dari tempat sejauh apapun. Tabu untuk membiarkan perempuan pulang sendiri, apalagi di malam hari. Itu adalah prinsipmu. Entahlah apa sekarang masih jaman untuk prinsip gentleman semacam itu, di mana transportasi begitu mudah dan seorang perempuan tanpa kendaraan pun dapat pulang sendiri dengan menggunakan taksi atau sarana transportasi lain. Tapi aku senang jika kau mengantarku pulang. Itu berarti aku dapat bersama denganmu lebih lama lagi.

”Aku bisa pulang sendiri kok. Sudah biasa.” jawabku acuh.

****
”Kamu selalu berkata begitu.” ujarku sedikit kesal. Kamu dan segala prinsipmu tentang kemandirian. Bukan aku tak menghargai kemandirianmu, namun bagaimana mungkin aku tega membiarkan perempuan yang kucintai pulang sendiri? Banyak marabahaya yang bisa merebut dan menyakitimu. Kamu pun masih saja tak pernah mengizinkanku terlalu dekat denganmu. Selalu ada jarak di antara kita.

”Aku bisa naik taksi. Jadi kau tak perlu mengantarku. Istirahat sajalah, tadi katanya kau capek.” Alasan yang sama lagi. Pada situasi yang hampir sama. Sudah berapa kali kita membahas hal ini?

”Apakah kamu tak suka aku mengantarmu pulang?” tanyaku lirih.

Kamu tak segera menjawab. Tanganmu lincah menari di antara tuts keyboard laptop kesayanganmu. Entah apa yang kamu cari atau bahkan dengan siapa kamu mengobrol via Yahoo Messenger, aku tak tahu.

Aku pun hanya bisa ikut diam sambil memandangi suasana cafe ini yang unik dan benar-benar menerapkan motto bahwa tamu adalah raja. Di sini pengunjung dapat berbuat sesuka mereka. Ingin berdiam diri dari pagi sampai jam tutup cafe, tak akan ada yang protes atau pelayan yang mengusir. Hendak mengerjakan tugas kuliah atau kantor sambil minum kopi tapi takut batere laptop habis, ada stop kontak di setiap meja. Bosan surfing di dunia maya, ada mesin dindong menawarkan hiburan bagi pecinta game. Jika datang berombongan dan tak ingin duduk terpisah-pisah, atur saja kursi dan sofa yang tersedia sesuai keinginan, meja dan kursi di cafe ini bebas diatur sesuai dengan keinginan pengunjung, dengan catatan tentu saja tidak mengganggu pengunjung yang lain. Ingin menikmati angin segar, bukan AC, tersedia teras dengan kursi dan meja alumunium, di bawah lindungan payung bundar berwarna-warni. Mungkin juga ingin menyeruput kopi dan mengintai gadis-gadis, duduklah di salah satu sisi cafe yang hanya dibatasi oleh kaca dan pengunjung bisa bebas melihat (dan tentu saja dilihat) oleh orang yang lalu lalang di mall ini. Satu-satunya ketidaknyamanan cafe ini adalah tidak tersedianya toilet di dalam cafe, pengunjung harus keluar dan berjalan beberapa meter di dalam mall untuk ke toilet. Tapi jangan khawatir, pelayan cafe yang ramah dan selalu siap membantu, bersedia menjaga laptop dan barang-barang milik pengunjung yang akan ke toilet.

“Bukan tidak suka. Aku tak mau merepotkanmu. Jika aku memutuskan tak akan pulang, tentu kau akan kerepotan.” Akhirnya kamu menjawab. Repot? Sejak kapan kata itu ada di kamusku? Sejak kamu hadir dan segala penolakanmu akan tindakanku, atas nama ‘tidak mau merepotkan’.

“Kalau kamu tidak pulang, tentu aku tak akan pulang.” Aku lelah, dan malam sudah larut. Tidakkah kamu lelah? Para pelayan cafe tentu juga merasa lelah. Beberapa dari mereka mulai membereskan cafe dan menghitung pendapatan hari ini. Gelas-gelas mulai diatur dan ditata kembali dalam lemari kaca di sebelah counter kasir, bersama dengan toples-toples berisi biji kopi dan daun teh. Beberapa pengunjung yang tadi masih menikmati malam kota Bandung pun mulai beranjak pulang. Dingin mulai merambah masuk ke dalam cafe.

“Cafe ini akan tutup sebentar lagi. Tak mungkin aku membawamu ke kost temanku. Apalagi membawamu kembali ke Jakarta malam ini juga. Apa kamu mau menginap di hotel? Kalau begitu, akan aku antarkan.”

***

Kau selalu mengikuti keinginanku. Kapan kau ingin sesuatu dariku? Jika kau bilang aku terlalu tertutup, maka dirimulah yang sesungguhnya tak mau membuka dirimu. Katakan saja apa yang kau inginkan, bukan apa yang aku inginkan. Hubungan ini dibangun oleh dua orang, bukan satu orang. Seringkali aku mendesakmu hingga kau marah, tapi kau tak pernah mengungkapkan apa yang ada di hatimu. Kau selalu diam. Bagaimana aku bisa mengerti? Bagaimana agar kau mengerti?

“Untuk apa ke hotel? Buang-buang uang saja.” Sahutku.

“Supaya kamu tak perlu pulang tapi tetap bisa beristirahat. Ingat, besok kamu pulang ke Jakarta.”

“Aku tak mau sendiri. Jika di hotel, tentu aku akan sendirian lagi. Untuk apa?” Tidakkah kamu mengerti? Aku ingin bersamamu, bukan masalah aku tidur di mana tapi bagaimana aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Aku tak suka sendirian. Pulang berarti aku berpisah denganmu. Pulang berarti rumah kosong. Aku benci sendiri dan sepi.

“Sebenarnya apa yang kamu inginkan?” kau bertanya, dan lagi-lagi kau menghela nafas. Pelayan cafe sudah mulai mencuri pandang pada kita, mungkin menanti kita untuk segera pulang.

“Aku ingin bersamamu.” Mengapa selalu aku yang mengucapkannya? Tak pernah kudengar kau berkata ingin bersamaku. Rasa tidak aman ini bisa-bisa membunuhku. Apakah benar kau mencintaiku ataukah hanya aku yang merasakan hal itu?

“Bukankah aku bersamamu sekarang?”

***

Kamu tersenyum sedih. Aku ingin bisa menghapus kesedihan di matamu. Aku ingin membuatmu bahagia.

“Aku tak mau sendirian.” Jawabmu perlahan. Aku tahu bagaimana kamu membenci kesendirian dan sepi. Aku tahu bagaimana kamu berusaha mati-matian untuk menghalau sepi. Semenjak kamu tinggal sendirian, dan aku tak lagi ada di Jakarta untuk menemanimu, kamu seringkali merasa sepi. Aku ingin membunuh sepi untukmu, tapi aku tak bisa. Jarak dan waktu pisahkan kita.

Tahukah kamu, hatiku teriris setiap kali kamu merasa sepi? Tentu kamu tidak tahu karena aku selalu menyembunyikan perasaanku. Aku tak mau membebanimu, namun justru sikapku yang diam ini sering membuatmu kesal, seperti halnya aku kesal dengan keras kepalamu. Ah sesungguhnya dua hal itu sama saja bukan? Kita sama-sama egois dengan cara kita sendiri.

“Katakan, apa yang kamu ingin aku lakukan agar kamu tak lagi sendirian?” tanyaku. Pertanyaan yang seringkali tak terjawab. Kamu dan aku tak tahu bagaimana menjawabnya.

“Aku tak tahu. Aku hanya ingin tak lagi sendirian. Pulang menyiksaku. Tak ada kau di sana.”

****

“Aku ada disini. Tidakkah itu cukup?” Seberapa besar cinta dan sayang yang harus kuberikan untukmu? Seberapa banyak waktu dan jarak yang harus kutempuh untuk bisa bersamamu? Agar kamu merasa cukup?

“Belum. Itu belum cukup.”

****

“Apakah cintaku belum cukup?” kau kembali bertanya.

Aku ingin pulang dan menemuimu di penghujung hari. Melewatkan malam di pelukanmu. Mengecupmu selamat pagi. Menghabiskan akhir pekan bersamamu. Cintamu, yang begitu diam dan tak menuntut, berubah menjadi sesak. Terlalu banyak rasa membuncah dalam hatiku. Keinginan begitu dalam untuk memilikimu dan selalu bersama denganmu. Apakah cintamu sebesar cintaku?

****

Aku tak tahu. Apalagi yang harus kulakukan untuk membuat dia percaya bahwa aku mencintainya.

Kamu hanya diam. Lalu kita pun beranjak pergi ketika lampu pertama cafe mulai dipadamkan. Tanpa ada ada penyelesaian. Kembali dalam status quo. Seperti yang kita miliki setahun terakhir ini.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Lignify
Lignify at Malam itu, Di Sebuah Cafe (12 years 2 weeks ago)
80

Pantesan saya bingung, kok kayanya watak dan karakternya berubah ubah sih. Dua sudut pandang tooohh!

Writer pouzienk
pouzienk at Malam itu, Di Sebuah Cafe (12 years 39 weeks ago)
90

BGUSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS

Writer coretanna
coretanna at Malam itu, Di Sebuah Cafe (12 years 43 weeks ago)
80

na suka awalny..dbgn awal uda nggambarin suasana..tp sayang walo pake 2 sdt pandang tp tkesan sama..jd sdkt bingung ngbedain

walo na jg blum tentu bsa nulis dr 2 sdt pandang..

Writer imr_aja
imr_aja at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 2 weeks ago)
80

noir banget

Writer radysha
radysha at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 12 weeks ago)
100

Hmmmm cerpen ini menjawab ceritaku.
Mungkin, sepertinya begitu.
Emosinya dapet banget.
Aku suka ... sangat suka ^o^

Writer snap
snap at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
70

mmmhh awalnya binun... tapi oke

Writer za_hara
za_hara at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
70

Karena cerpen ini dibikin untuk eksplorasi riset, jadi aku bahas soal settingnya aja ya, Fan.

Saat awal membacanya, aku langsung merasakan suasana kafe ini. so sweet and romantic sehingga asik untuk berduaan berbicara cinta. dalam hal ini kamu juga membagi-bagi informasi tentang kafe ini ke banyak sisipan adegan sehingga pembaca tetap merasakan suasana kafe ini tidak pada satu momentum saja.

tapi terus terang aku belum merasa menyatu dengan suasana kafe ini, Fan. gambaran yang kamu berikan terlalu umum yang hampir di setiap kafe ditemukan. hal ini membuat setting gamang dan tak menjejak di mana-mana. aku menginginkan lebih!

setiap kafe memiliki "auranya" masing-masing, bukan? Nah, aku belum merasakan aura itu, seperti misalnya kafe yang dibangun dengan nuansa retro pasti memajang ornamen, wallpaper, bahkan foto selebritis tertentu pada zamannya; kafe bergaya Y2K pasti memajang segala aksesoris berbau silver atau milenium, dst.

Trus masih ada bagian yang menjelaskan setting terlalu bergaya reportase juga, Fan, contohnya pada paragraf 4 yang berbunyi:

"Beruntunglah kafe ini, ...."

pola penceritaan kayak gitu, entahlah, bagiku, rasanya merusak gaya tutur romantis yang sudah dibangun sejak bagian awal -- dan mungkin alangkah baiknya diikutkan dan ditambahkan pada gaya tutur di paragraf 7 saat kamu menjelaskan soal si tokoh kamu akan memilih frozen capuccino kalau lagi riang.

gitu aja kali ya, Fan? sori kalau kepanjangan ^_^

Writer malanita
malanita at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
80

Wuih penulisan dua karakter berbeda nih.. awalnya gw sempet bingung, nih sebenernya siapa sih yg ada di cerita lu.. tp akhirnya gw bisa ngikutin ceritanya.. Bagus ! oia sama tu ky gw, benci sepi dan sendiri.. jd inget deh.. hehehe

Writer mel
mel at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
90

mhhh bagus koq ..
x)

Writer yosi_hsn
yosi_hsn at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
80

Kalau nggak ada tanda pemisah itu mungin agak bingung saya. Soalnya karakter sudut pandangnya terasa sama (menurutku lho). Mungkin kalau lebih dalam lagi identifikasi karakternya bisa lebih terasa paragraf itu sedang menjadi siapa.
Misal, perempuannya lebih dinamis dan tegas (jadi cara dia bercerita juga berkesan dinamis dan tegas dan keras kepala). Prianya berkarakter lebih misterius dan diam (gaya berbicara dan berceritanyapun lebih tenang dang misterius).
Mungkin lho.. aku sendiri belum tentu bisa nulis dengan sudut pandang berganti-ganti begini.

Writer adechan
adechan at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
70

bagus ko, ceritanya cukup menarik

Writer _aR_
_aR_ at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
70

hmm, cerita yg menarik ^^
tapi bener kata Ary.. mesti hati2 bacanya biar tahu sudut pandangnya cewe or cowo nyah...

endingnya terkesan menggantung...
ceritanya terasa datar2 ajah.
but buat penceritaannya saya cukup suka koq...

*hihihi, saya juga gak bisa bikin cerita sebagus inih... masih belajar.
baca cerpen2 dan cerata(cerpenseratuskata) ku juga yah !

Writer Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
80

Pujianku untuk ceritamu, bagus.

Kalau umurmu masih kepala dua, ceritamu ini sangat cocok dengan karaktermu.

Untuk lebih menantang dalam pembuatan cerita, adalah penilaian pembaca.

Jangan lupa, baca juga cerita-ceritaku.

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
70

Wah, saya harus berhati2 bgt nich bacanya, takut salah tbak sdg jd si cewek ato cowoknya...

Tp menarik alur ceritanya =)

saya membAyangkan settingnya ada d cafe tempat saya krja =p hehe...

Ending?? Trasa kurang greget sich. Tp kalo saya yg bkin cerita ky gni, pasti bkn cm ending yg krg greget tp semuanya =p hihi...

Salam kenal ^_^

Writer Tedjo
Tedjo at Malam itu, Di Sebuah Cafe (13 years 27 weeks ago)
80

tetapi entah mengapa, bagi saya info detail kafe dan kopi tak mensupportya menjadi cerita yang utuh, seperti rasa espresso..hehe.atau saya yang tak menagkapnya..Kenapa sulit endingnya, mungkin cerpen begini tak perlu ending bombastis kali ya..ah tapi entahlah...