Godeliva Silvia : Comments

Writer khall
khall at (8 years 26 weeks ago)

Nice story

Writer Shinichi
Shinichi at (8 years 30 weeks ago)

ini, menurut saya, kurang sinematik #halah.
maksudnya, peristiwanya sendiri berupa dialog, yang kurang aksi. adegan. lain halnya sebuah cerita yang dituturkan melalui dialog, ini rasanya kurang greget aja.
saya membayangkan semacam peristiwa yang bukan dialog yg sesungguhnya terjadi. btw, hanya komentar. semua kembali kepada penulis. salam.

Writer oaktrre
oaktrre at (8 years 30 weeks ago)

Nakal dan pintar. Itu pemikiran saya saat membaca cerpen ini sambil tersenyum sendiri. Kamu harus terus menulis dengan gaya ini. Saya suka sekali.

Dan satu lagi, menurut saya, dua kalimat di akhir cerpen itu seperti sebuah konklusi. Akan lebih menarik jika dua kalimat tersebut tidak ada.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at (8 years 30 weeks ago)

bagian pertama ini cukup memancing rasa penasaran akan bgm interaksi antara bu dosen dg mahasiswanya, tapi jadi inget nih sama Cintaku di Kampus Biru hihihi. maksudnya kalo arahnya ke cecintaan, agaknya udah ga baru lagi antara dosen-mahasiswa atau guru-murid (sekarang jadi inget dorama yang ada Hideaki Takizawa), tapi siapa tahu juga arahnya ternyata bukan ke situ.
ijin atau izin? coba cek lagi pengertian kata "diacuhkan". penulisan "bu" (dari ibu) sebagai kata sapaan di akhir kalimat langsung bukankah mestinya diawali dg huruf kapital?

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at (8 years 30 weeks ago)

permasalahannya belum terpecahkan ya. ngambang gitu.
sempet rada bingung sama oper2an dialognya. siapa yang ngomong apa. semisal di dialog awal. ..."Kenapa?" tanyaku,... itu kan jelas aku yang bertanya, namun di paragraf kedua .."Capek, mau tidur," aku mengeluh dalam hati... si "aku" seolah nanya sendiri jawab sendiri, apalagi karena tanda baca di akhir kalimat langsung tsb berupa koma, disambung narasi berawalan huruf kecil sehingga kesannya masih satu kalimat/kesatuan. lalu ada dialog soal manja secara harafiah, penulisannya pun demikian di dialog sebelumnya, "dia" mengatakan "dimanja" menurut pengertiannya, ada keterangan ...Dia mulai belajar bicara panjang... sehingga pembaca menangkap "dia" yang bicara, lalu dialog berikutnya berupa sanggahan atas pengertian tsb yakni manja secara harafiah, namun disambung dg tanda koma dan ...Dia menghembuskan nafas... (o ya coba cek lagi penulisan kata "hembus" dan "nafas" di kbbi), sehingga kesannya "dia" ini seperti bermonolog. bicara pengertian manja, eh selanjutnya dia sendiri yang nyanggah. dan seterusnya.
coba cek lagi juga penulisan "ke lima" dan "ke enam" apa memang dipisah atau disambung.
pembicaraan antar punggung itu tampaknya pernah ditulis oleh penulis wanita juga, tapi saya ga inget siapa, udah lama.

Writer Godeliva Silvia
Godeliva Silvia at (8 years 30 weeks ago)

thanks Rieka ^^

Writer Godeliva Silvia
Godeliva Silvia at (8 years 30 weeks ago)

^^

Writer Riaekasari
Riaekasari at (8 years 31 weeks ago)

aku suka ceritanya :)