pemujakata : Comments

Writer pemujakata
pemujakata at (7 years 40 weeks ago)

Makasihh :)

Writer pemujakata
pemujakata at (8 years 1 week ago)

hehehe, makasih, salam kenal

Writer citapraaa
citapraaa at (8 years 30 weeks ago)

air mata menurut saya ga sejuk.. wkwk.. baguss

Writer almaocha
almaocha at (8 years 30 weeks ago)

Makasih buat ayahku
Puisinya bagus, keren..

Writer pemujakata
pemujakata at (8 years 36 weeks ago)

makasih

Writer pemujakata
pemujakata at (8 years 36 weeks ago)

iya.. makasih masukannya :)

Writer Agyasaziya
Agyasaziya at (8 years 36 weeks ago)

Ada beberapa typo, kalimat yang nanggung dan kagok. Konfliknya belum terasa, tapi lumayan, kok.

Writer pemujakata
pemujakata at (8 years 36 weeks ago)

wah.. makasih banyak masukannya. :)
saya memang punya masalh dengan pemulisan cerpen... masih butuh banyak belajar.. ditunggu tulisan selanjutnya.. :)

Writer Shinichi
Shinichi at (8 years 36 weeks ago)

saya balik berkunjung :)
.
pembukaan yang oke saya rasa, kecuali soal penggunaan "benda putih". nggak ada yang salah di situ, hanya saja analogi begitu, menurut saya, nggak enak bacanya. dan nggak usah dibuat jugak gpp siy. toh, orang-orang pada tau salju yang gimana. dan nggak ada rasanya keperluan salju tsb digambarkan dalam nama lain. namun akan oke, bila ada info lain semisal julukannya berdasarkan kebudayaan atau mitos lainnya, yang tetap harus berhubungan dengan isi cerita. benda putih, nggak greget. lalu, kalimat terakhir paragraf pertama mengapa nggak pakai tanda tanya, sedangkan kalimat sebelumnya ada?
.
berikutnya soal kalimat penjelas. saya udah ratusan kali sepertinya mengomentari hal ini :) di setiap cerpen yang keliru cara menuliskannya. saya nggak bosan-bosan aja sepertinya. ahak hak hak. mengenai ini bisa siy digoogling biar lebih oke, tapi coba saya jelaskan.
.
dialog (kalimat langsung) biasanya diapit dengan tanda petik. biasanya ada kalimat setelah dialog tsb ya kan? kalimat itu bisa dikenali dengan adanya kata-kata seperti ini; kata, ucap, ujar, teriak, pikir, racau, sebut, isak, dsb yang menjelaskan tokoh yang sedang berdialog. kalimat tersebut dikenal dengan istilah kalimat penjelas (atau pelengkap). fungsinya sudah pasti menjelaskan/ melengkapi kalimat langsung (dialog) sebelumnya. kalimat penjelas ini nggak punya inti kalimat. dengan kata lain, itu nggak bisa berdiri sendiri. kalimat yang berdiri sendiri artinya kalimat utuh, diawali dengan huruf kapital. jadi, jika kalimat yang nggak bisa berdiri sendiri atau nggak punya inti kalimat, nggak boleh diawali huruf kapital. maka, penulisan kalimat penjelas nggak bisa diawali kapital, kecuali awal kalimat penjelas itu memang harus menggunakan kata yang berawalan kapital seperti nama tokoh.
.
berikutnya, saya belum begitu mengerti dengan penggunaan tanda baca yang berbeda secara berurutan. contohnya di salah satu dialog cerpen ini:
.
Jangan!, rumahku?
.
lalu terdapat pemisahan kata benda (dan yang lain) dengan kata ganti orang yang menandakan pemilikan yang keliru. rumah ku itu mustinya disambung. dengan mu juga. apa ini error waktu mengetiknya? juga "dihatiku" itu "di" seharusnya dipisah. lalu kata "sebongka" masih ketinggalan huruf 'h'. dan terlalu banyak "beku" di cerita ini. berkali-kali kamu menggunakannya yang sepertinya itu untuk menguatkan kesan emosi pada pembaca. tapi itu nggak terlalu berhasil menurut saya. bila itu memang tujuan penulis, cara yg jitu adalah mengemas konflik yang menyentuh/ dekat dengan kehidupan pembaca (umum). atau membuatnya sedemikian rupa nyata. dengan demikian pembaca bisa merasakan konflik sang tokoh, dilemanya, masalahnya, hingga membekas dalam benak mereka. pengulangan kata-kata nggak akan pernah berhasil, menurut saya, bila konfliknya sendiri nggak dibangun dengan baik.
.
mohon maaf bila kurang berkenan. tapi cerpen ini butuh banyak perbaikan :)
kip nulis dan stay fit

Writer Sulum87
Sulum87 at (8 years 36 weeks ago)

nice