Robin Virgo Lee : Comments

Writer Sakura Arizuki
Sakura Arizuki at (8 years 46 weeks ago)

nice, ... ;)

Writer dorarossi46
dorarossi46 at (8 years 50 weeks ago)

bagaimana jika kata "hidupi" diganti dengan "hidupkan"..?
mungkin bisa lebih pas...
hheheh

ceritanya bagus, saya suka...
salam...:-)

Writer dorarossi46
dorarossi46 at (8 years 50 weeks ago)

bagaimana jika kata "hidupi" diganti dengan "hidupkan"..?
mungkin bisa lebih pas...
hheheh

ceritanya bagus, saya suka...
salam...:-)

Writer mira_hoshi
mira_hoshi at (9 years 4 weeks ago)

Ada typo.
.
.
Poin plusnya adalah cerita ini ada pesan moralnya! Bagus buat pendidikan! Uooogh!
.
T_T <- soalnya saya tipe yg slalu kalah lomba gara2 gak ada pesan moral
.
.
Back to topic.. Sebenarnya ketegangan udah mulai kebangun waktu ngobrol sama tukang koran, tapi pas ketemu hantunya,..
.
.
Gak bisa bayangin nyokap kepalanya berubah jd bawang...
.
Intinya kurang seram, semacam itu. Mungkin kayak saran Mr. Rendi, dibikin agak lebih slow pacenya. Dan seperti kata Mr. Sam_Riilme, karena gak ada tag horor, jadi gak masalah gak seram. Maafkan kekurangajaran daku~

Writer Rendi
Rendi at (9 years 5 weeks ago)

komen pertama gw~ ni cerita potensial bagus, banyak yang bisa dikembangkan dari premis dan pesan moral tapi~
.
not that horror. nuansa keputusasaan dari karakter utama tidak terlalu terlihat. kurang serem overall malah. karena nuansa kurang kebangun dalam dramatisasi *coba pelanin lagi motionnya dengan adegan slow. misalnya: menuju lokasi dengan pelan, mengintip dari balik pintu yang separuh terbuka, dan kasih sedikit gelap ato shade di sana-sini. setidaknya usahakan agar kemunculan si hantu grand entrance XD
.
bikin semacam konflik of disbelief dulu, jangan langsung nuding si anu itu hantu! bisa aja bikin gemeteran dan bilang yang mulai ngeracau cntoh: "Ibu. Ibu sedang bercanda kan?" tak ada respon dari makhluk itu. Aku menelan ludah "itu topeng beli dimana?" tanyaku tercekat. kumohon, jawablah... ibu tahu aku tidak kreatif bertanya kan...

.
“Sudahlah, jangan banyak mengeluh. Kau sebaiknya mencobanya. Kemudian, baru kau tentukan. Apakah sayur ibu ini enak atau tidak?” Rayu ibuku dengan lembut.

“Tapi, ibukan tahu. Aku sudah tidak suka sayur. Semenjak ayah meninggal karena sayur yang dimakannya, dirancuni seseorang. Ketika pertemuan penting itu.” Terangku pada Ibu sambil menahan air mata.
*ini momen emosionalnya agak kurang. gw rasa bisa ditambahin pause sedikit dan/atau suara tercekat. ini jadi keknya cuma dialog lempeng bae*

.
mengingati> mengingatkan?
mmm... benerkah maksudnya mengingatkan ato emang ada arti dari mengingati? ^^;

.
"Aku ada roh yang lahir dari mereka-mereka yang membenci sayur. Karena itu aku benci mereka dan ingin membunuh mereka. Hari ini adalah saat kematianmu, tiba.”
^ maksud lu: adalah? ato gw salah tangkep lagi?
.
dan adegan diatas, “...">Kata hantu itu dengan suara datar dan langsung melemparkan sebilah pisau tepat di jantungku. < ini terlalu cepet. again ketegangannya kurang terasa dari dialog, kalo bisa, secara teknis, lu buat lebih intimidatif lagi. jangan langsung dijleb wae. kalo perlu ditusuk dan diucapin dialog lagi sambil pelan-pelan merasakan dinginnya pisau menembus jantung.
.
maaf ya kalo sotoy, thanks for the story~ XD

Writer cat
cat at (9 years 5 weeks ago)

Hantu pengiris bawang ... hehehe judulnya unik.

1. Ada typo dan harus diperhatikan kembali.
untuk kata Ibu - bila panggilan pake huruf kapital.
2. Di suatu rumah (di sebuah rumah keknya lebih tepat)
3. pengambaran hantu pengiris bawangnya masih kurang membuat ketakutan.
4. apa hubungannya pengiris bawang dengan ketidaksukaan anak memakan sayur.maaf.

Tapi saya suka cerita yang terdapat pesan yang bermanfaat di dalamnya.

practices make perfect.

#lanjut baca lagi ah#

red_rackham at (9 years 5 weeks ago)

Well...saia sedikit banyak menangkap pesan di cerita ini.
Sayang (menurut saia) paragraf pembuka itu terlalu bertele2 dan kesannya agak berlebihan. Sebenarnya cerita bisa dimulai langsung dari paragraf kedua.
.
Idem dengan bang Sam dibawah (halo bang sam :-3). Berusahalah untuk konsisten dalam penggunaan POV. Kalau mau mengubah POV, lebih baik scene/event ditutup dulu. Baru pindah sudut pandang.
.
En...euh...rasanya ini tidak horor sama sekali. Maaf.
.
Anyway...keep on writing (o___<)b

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at (9 years 5 weeks ago)

Ada beberapa typo seperti kata yang harusnya dipisah malah disambung, awalan yang harusnya ga kapital setelah sebuah dialog, dan salah ketik.. Tapi bukan masalah besar sih buat saya..(baca: males nunjuk satu-satu)
.
Yang ga sreg adalah, perpindahan PoV di awal. Paragraf dimulai pake PoV 3, dan tau-tau jadi PoV 1 di paragraf 4. Aneh kalo buat saya.
.
Dan hantunya. Kayak cuma muncul lalu bilang, jadi kurang berasa seremnya (kalau ini maksudnya horor, tapi karena ga ada tag itu, abaikan saja komentar ini). Saya bahkan ga sadar kalau hantunya banyak, dan masih ga ngeh apa yang sebenernya terjadi sebelum bagian akhir.
.
Anyway, thanks fo the story~!

Writer sabbath
sabbath at (9 years 8 weeks ago)

err... penggunaan kata depannya masih salaaaahh!! >,<

Penantian di Bawah Pohon Sakura

disini --> di sini

dibawah --> di bawah

ketempat --> ke tempat

kalau bukan merupakan kata kerja, penggunaan "di" dan "ke" harus dipisah.

koreksi untuk kalimat yang ini juga

Aku langsung mengangkatnya dan tanpa ragu-ragu berkata “Kemana saja kamu? ...dst

seharusnya

Aku langsung mengangkatnya dan tanpa ragu-ragu berkata, “Ke mana saja kamu? ...dst

kurang tanda koma

lalu untuk kalimat ini

“Maaf, sepertinya saya salah sambung?” Kata seseorang yang suaranya tidakku kenal.

seharusnya

“Maaf, sepertinya saya salah sambung?” kata seseorang yang suaranya tidak kukenal.

karena merupakan dialogue tag, jadi "kata" tidak diawali huruf besar.

selain kesalahan2 yg perlu diperbaiki di atas, saia suka cara bertutur Anda...  ^ ^

 

 

Writer sabbath
sabbath at (9 years 8 weeks ago)

lagi dong haiku-nya... ^ ^