Shinichi : Comments

Writer Shinichi
Shinichi at (5 years 18 weeks ago)

silakan. kalo minum, bayar yak :p
ahak hak hak

Writer Shinichi
Shinichi at (5 years 18 weeks ago)

apaan kamu bahasa terlalu tinggi. bahasanya (dialog) musti kepikiran tempat lain aja kok ini. ahak hak hak. btw, thanks udah mampir :)

Writer Shinichi
Shinichi at (5 years 18 weeks ago)

salam kenal kembali :)

Writer Shinichi
Shinichi at (5 years 18 weeks ago)

uummm...
kita pernah ketemu di posting yang mana yak? #pikun

Writer rian
rian at (5 years 19 weeks ago)

Jadi, setelah kisah Bolang Pagit yang katanya "punya ilmu", kisah pohon pola yang tragis, sekarang ada lagi Mate yang mati digebukin ramai-ramai. Saya malah ngerasa cerita-cerita sampingan itu yang paling menarik, yang paling ngasih kesan "ini tuh beneran di Lau Rempak!" Detail-detail kayak gitu penting buat ngebikin dunia yang utuh, kan? (meskipun lagi-lagi saya enggak yakin apakah itu cuma imajinasi pengarang atau dia comot dari dunia nyata. Yang manapun, tetep angkat jempol).

Di sini menurut saya pembawaannya minimalis sekali, beda sama cerita-cerita Lau Rempak yang lain yang rada "berapi-api". Pilihan pengarang untuk menceritakan ini dari sudut pandang orang-pertama-pengamat--yang sama sekali enggak melakukan apapun,btw--bikin ini jadi makin realistis dan makin miris. Konfliknya sebenernya bukan konflik baru lagi, kan, tentang perebutan hak asuk anak, tapi dengan kemasan budaya tradisional gini jadinya unik.

Saya suka perdebatan guru-guru itu. Karena narator cuma sekadar mengamati, enggak melakukan apapun, jadi cerita ini berkesan netral, enggak terlalu berpihak ke mana-mana. Saya jadi bisa nikmatin perdebatan itu tanpa embel-embel tendensi narator.

Saya suka endingnya. Bagian yang menceritakan Liyas "diinterogasi" guru-guru itu terasa efektif, lantas dipungkas sama pesan moral yang sebenernya klise tapi terasa nge-jleb aja, rasanya wajar ada di sana.

Paragraf yang paling akhir saya kurang suka. Terlalu sentimental--meskipun mungkin wajar aja karena ini kan "mengganggu pikiranku sampai berhari-hari"--padahal sebelumnya saya suka penceritaannya yang minimalis-to-the-point. Mungkin juga paragraf terakhir itu cara pengarang memberi petunjuk ke pembaca di mana dia berpihak dalam konflik ini.

Terakhir, mungkin saya mau mengkritik judul. Kenapa judulnya engggak disisipin bahasa Lau Rempak aja, semisal "Ibu" diganti "Mamak" biar kerasa cocok sama kontennya yang amat bermuatan lokal.

Sekian.

Writer Yua
Yua at (5 years 19 weeks ago)

Damn you oom Ichi!
udah lama ga baca cerita bikinanmu, saya tetep aja jatuh cinta <3

Writer joe_black
joe_black at (5 years 19 weeks ago)

Numpang baca bang shinici :) , cerita yg bagus :) , maaf :)

Writer Aesop Leuvea
Aesop Leuvea at (5 years 19 weeks ago)

Sempat tersesat di pertengahan cerita (bagian yang menjelaskan gerakan tokoh-tokoh setelah berbicara, atau mungkin karena saya aja lagi kurang fokus), tapi, itu semua bisa ketutup sama dialog-dialog mereka yang khas dan berkarakter banget.
Narasi di bagian akhir juga sangat membantu dan secara jelas merangkum sebagian besar isi cerita. Penutupan yang "manis". Dan perasaan penutur sampai ke saya sebagai pembaca.

Yap, mungkin itu aja dari saya, salam kenal ^^

Writer hidden pen
hidden pen at (5 years 19 weeks ago)

umm menurutku awalannya kurang greget, ampyuun ^_^ wauw ane merasa dialognya kayaq daerah sendiri. Punya ciri khas sendiri. Dan sikapnd mungkin khas sndiri dari lyas. Umm mungkin bahasanya terlalu tinggi bwat ane tetapi ane suka dan senyum2 ndiri di kamar. Ehm mohon diri bang. Permisi. ^_^

Writer samalona
samalona at (5 years 20 weeks ago)

Menarik sih. Chekhov atau bukan, saya kurang pendalaman juga, hehehe. Yang saya suka, di awal sarat dialog, kemudian sarat deskripsi, kemudian keduanya berbaur. Setidaknya begitulah kesan yang saya dapatkan.
Kalau tidak puas, bikin baru lagi aja. Iya kan?
Kip nulis deh :)