Shinichi : Comments

Writer putcieput
putcieput at (5 years 22 weeks ago)

selamat, anda telah membuat saya penasaran dengan situs ini dan memilih untuk membuat akun di sini :v

dari ceritanya cukup asik, penyampaian, bahasa yang digunakan. enggak muluk-muluk tapi lumayan bisa dipahami (lupakan sejenak soal cacing yang juga sekolah sd, smp, dan punya motor ninja), tapi dialognya sempat kagok dan butuh beberapa kali mengucapkan sampai ketemu logat yang pas :v *efek oleng bayangin cacing naik ninja*

karena baru baca cerita ini, saya agak enggak paham saat disitu tertulis "cacing". saya pikir saya salah baca, saya baca terus ternyata ini semacam fabel :v

udah deh, gitu aja kayaknya, sebelum saya dihajar masa, hahaha mampir juga lah di lapak saya :v

Writer amanda.joyce333
amanda.joyce333 at (5 years 22 weeks ago)

Eh saya suka ini. Lumayan bisa mengerti ttg bahwa yg dibawa pulang itu roh. Lalu, saya juga merasa perwujudan sisik pohon sawit itu cuma karna takut aja, dan garuk garuk leher atau apapun itu ya cuma karena lagi resah saja. Manusia kan punya kecenderungan garuk garuk kalau resah atau salting, kalau kucing biasanya jilat jilat..loh kok malah bahas kucing..saya juga suka penjabaran detil ttg settingnya. Taapi ada satu hal yg saya ngga ngerti. Belu meminum obat tapi tidak tertidur maksudnya apa ya?

Writer Nine
Nine at (5 years 22 weeks ago)

Sebelum saya berkomentar, saya malah duduk menatap kolom komentar karena bingung mau komentar apa. Saya juga menyesal tadi--saat scroll ke bawah melihat komentar teman-teman yang lain dan balasan darimu, bang--karena saya jadi tahu apa yang ingin saya tahu. Padahal sudah buat semacam "notes" untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. -__-
.
Jadi ini tentang kehilangan. Secara pribadi, yang saya tangkap itu begini:
Pohan itu adik Belu yang sudah kerja (saya anggap saja dia PNS, karena ada keterangan ia baru pulang dari Kota Kecamatan--kalau misalnya saya anggap dia penjual kacang, kecil kemungkinan orang pergi ke Kota Kecamatan cuma mau jual kacang) dan tipe-tipe orang yang apa ya? Rasional mungkin (?). Sementara Tangkup, dia orangnya kan bekerja di ladang, jadi saya tangkap Tangkup itu orang yang lebih condong ke emosional.
.
Setelah cerita mulai mengangkat konplik kehilangan Belu, di situ sempat ada konfrontasi pisik antara Pohan dan Tangkup perihal beda setuju mereka dengan cara merawat Belu. Pada bagian-bagian selanjutnya, ada selipan kalau dulu itu Belu masih waras, tapi sejak negara api menyerang, atau lebih tepatnya mulai sakit-sakitan, ia berubah menjadi orang yang kurang waras. Semenjak itu, orang-orang menjadi prihatin dengan keadaan si Belu ini. Saya melihatnya begini, bang. Si Belu ini secara tidak langsung adalah pengikat hubungan antara si Pohan dan si Tangkup.
.
Cerita berlanjut, dan di situ mulai masuk unsur-unsur mistis (orang pintar, kelapa sawit, dan hantu, hiiiiii). Saya seperti ikut kebawa pikiran si Aku yang tidak setuju dengan mencari orang yang hilang pakai orang pintar. Di bagian ini saya merasa sudah mulai dibawa masuk ke dalam dunia ghoib:
"Gatal di tengkukku. Kugaruk di dekat rambut. Sepertinya ada butiran pasir yang menggesek kulit. Bergemerisik. Ah, mendadak ingin merokok ...." Dan seterusnya saya dibawa--melalui pikiran si aku--untuk mulai berpikir bahwa ada suswanto (baca: sesuatu) yang tidak beres ini. Melihat di situ dijabarkan ketakutan si Aku dengan penampakan pohon-pohon kelapa sawit di tengah malam.
.
Saat mereka akhirnya menemukan Belu untuk pertama kalinya. Di situ sudah ada petunjuk kalau Belu yang dulu, bukanlah Belu yang sekarang (alias Belu itu sebenarnya sudah jadi arwah):
"Tubuhnya dingin dan berat."
Hal ini juga didukung dengan pembahasan tentang hantu pada bagian-bagian sebelumnya. Kemudian di akhir cerita, si Belu hilang lagi, ditemukan lagi, tapi sudah tak bernyawa.
.
Kesimpulan yang saya tarik itu begini:
1. Kita baru akan merasa kehilangan, ketika kita sudah kehilangan. Saya melihat tingkah laku Pohan dan Tangkup (walaupun di sini tidak diceritakan bagaimana perilaku Pohan dan Tangkup pada Belu sebelum Belu hilang) sama-sama tidak terlalu peduli dengan Belu yang sudah kehilangan kewarasan itu. Baru nanti ketika ia hilang sampai tengah malam, mereka berdua mulai khawatir. Artinya di sini, kebanyakan kita memang begitu. Nanti nenek sudah mau sakaratul maut baru kita datang berkunjung. Nanti keluarga sudah mulai sakit-sakitan parah baru kita mau bersilaturahmi. Nanti pacar sudah mulai selingkuh baru kita sadar untuk memberi dia perhatian lebih. Saya melihat hal ini dari kisah si Belu ini.
2. Manusia hanya akan peduli, jika yang dipedulikan juga peduli. Artinya harus ada timbal balik. Si Belu ini, dulunya suka merawat Pohan dan Tangkup. Ketika si Belu sudah kehilangan kewarasan, Pohan dan Tangkup mulai tidak peduli dengan Belu seperti Belu yang sudah mulai tidak peduli dengan mereka (karena hilang akal). Karena saya merasa mayoritas masyarakat kita membangun hubungan sosial, berdasarkan prinsip timbal balik. Lu kasih baru saya kasih. Hanya sedikit dari kita yang benar-benar memberi dan tidak mengharapkan pamrih.
.
Sebagai penutup, cerpen ini manis, tidak berat, bikin penasaran, dan juga seru. Hehehehe :)
.
Segitu saja dari saya, bang chris. Mohon maaf kalau-kalau ada kata yang kurang berkenan, atau hal-hal yang saya salah tangkap.
.
Salam Olahraga :)

Writer nycto28
nycto28 at (5 years 23 weeks ago)

Saya terhibur, sungguh! Cekakak-cekikik sendiri pas baca XD
Meski ada satu-dua hal yang bikin saya bingung (cacing naik ninja, cacing ke sekolah) tapi itu bukan masalah, karena saya ketawa di sana, hahaha
Tapi... kalo misalnya si cacing sama si nila bareng sama si pemancing, mereka nge-jones dong? Saya ngeh-nya mereka ditaruh di aquarium (yg buat ikan) atau toples (buat cacing) sesampai di kediaman pemancing, lalu mereka nggak bisa ketemu tambatan hati lain sampai si pemancing membawa ikan atau cacing lain (atau dilepaskan lagi ke kolam) XD #abaikan
Terakhir, saya nggak nyangka si penulis sempet-sempetnya nongol di tengah cerita X'D
Sekian dan mohon maaf kalo ada salah kata :)

Writer Wanderer
Wanderer at (5 years 24 weeks ago)

Saya sudah baca berulang kali tapi belum kunjung benar-benar paham @.@
Cara penceritaanmuuu, mantap amat. Enak ngikutinnya. Isi ceritanya kaya sekali dengan unsur kedaerahan, dan dituturkan dengan rinci dan lancar, jadi nyaman aja bacanya.
Sampai akhir, masih menyisakan banyak misteri buat saya.
Salam kenal.

Writer vinegar
vinegar at (5 years 25 weeks ago)

Cerita dengan banyak unsur lokalitas seperti ini selalu punya kekayaan tersendiri #halah. Tidak melulu soal isi ceritanya tapi juga dari unsur2 pembangunnya seperti setting dan latar budaya. Tapi memang iya, agak tersesat rasanya buat pembaca kaya saya yang gak punya pengetahuan soal budaya tersebut hingga memilih untuk membangun tafsir sendiri. Apakah ketidakwarasan Belu juga karena gangguan hal gaib, disusul hilangnya, lalu matinya. Apakah sisik2 sawit itu perwujudan dari ketakutan atau malah 'penculik' Belu. Meski mungkin melenceng dari yang dimaksudkan dalam cerita, tapi saya menikmati tafsir2 ngasal seperti itu :p.. Sekali lagi, salut buatmu bang shinichi karena setidaknya lewat komen2 sebelumnya saya tahu satu lagi kearifan lokal dari Lau Rempak.

Yasudah, demikian saja, sebelum komen saya makin ngawur :))

Writer citapraaa
citapraaa at (5 years 27 weeks ago)

SUKA BGT.
Aduh. Si penulisnya iseng bgt di tengah, mau bikin pondokan... makin suka dan ga rela pas udah abis x)
Kasian bgt nasib Lata.
Ini lancar bgt ceritanya. Lucu.
Keren x)

Writer niNEFOur
niNEFOur at (5 years 27 weeks ago)

ahahahahha :D
nah yang begitu begitu itu bang yang otak saya suka ngeyel kalo dibilangin..
masih aja dijadiin bahan pikiran :3
lagian bang shin ngebuat sudut pandangnya hampir sama dengan posisi saya "pengen ngejawab misteri"
udah bang, dibuatin aja versi misterinya..

Writer Shinichi
Shinichi at (5 years 27 weeks ago)

ahak hak hak. koplak dah. pertama yang musti ditekankan, dan mungkin saya enggak tau caranya melalui cerita, adalah cerita ini bukan tentang pembunuhan. tapi kehilangan. dalam hal ini, saya pingin pembaca membacanya bukan soal jawaban atau alasan Belu hilang, ketemu, mati, hantu, melainkan dia hilang. sama kayak tokoh aku, ketika semuanya berkaitan dengan "orang pintar" dia jadi enggak enak. jadi muak. karena ia mungkin seperti di posisimu juga: pengen ngejawab misteri. ahak hak hak.
.
kalau mau dijabarkan satu-satu siy, bisa. tapi alasannya enggak bakal sesuai, misal dengan pemahaman pembaca. pun, penulis di sini, enggak menekankan alasan. intinya, Belu hilang, ketemu, lalu hilang, dan ketemu lagi. begitu saja :D

Writer niNEFOur
niNEFOur at (5 years 27 weeks ago)

weh.. berarti ini sayanya yang lemot bang..
ahahahahah :D

yang jadi misteri, kenapa si belu gak tidur padahal dia kan udah minum obat?
dia memang ditemukan tidur (tanpa nyawa) tapi apakah yang membuat dia meninggal?
apakah obatnya?
kalau memang meninggal karna obatnya, berarti ada yang menyabotase obatnya, trus apakah salah satu dari kakak beradik itu pembunuhnya?

trus lagi, ini tentang gigauan belu : “…kalian tak mencariku?”
kenapa dia ngegigau tentang itu?

nah trus lagi, kan si belu udah di bawa pulang, tapi pagi2nya (agak siangan) kok si belu dibawa pulang tanpa nyawa?
apakah yang semalam dibawanya itu hantunya si belu?
atau itu memang si belu, tapi setelah semua pulang, si pembunuh membawa belu ke tempat dia di temukan lalu membunuhnya?

PS: ini bentuk pertanyaannya melingkar
ahahahahah :D
ah, bang shin pasti ngerti lah :3