Shinichi : Comments

Writer Shinichi
Shinichi at (4 years 34 weeks ago)

sulit membedakannya ya? ahak hak hak. maapken. saya bener2 enggak sedang ingin berpov 2. bahkan saya benci pov jenis itu. bencinya ya karena merasa aneh dan maksain. semacam penulis yg pengen membuat terobosan baru XD. nah, kecuali dalam cerita pov 1 dan pov 3 yg umum, saya belum pernah mikirin atau fokus ke bagaimana membedakan siapa si narator dan sudut mana yg diambil. rasanya saya kurang jenis bacaan. ahak hak hak.
.
jadi, sekalipun ini kayak pov 2, saya sama sekali enggak meniatkannya, apalagi belajar membedakannya dengan tokoh. ngalirnya begini. blam! jadilah. ehehehehe. sebagai petunjuk, anggap aja si kau itu narator. tapi naratornya di dalam cermin, saya jadi mikir begitu.
.
lalu soal pov campuran, ah... itu maksudnya apa? saya bener2 enggak tau. btw, makasiy komentarnya. kip nulis dan kalakupand. ahak hak hak

Writer kartika demia
kartika demia at (4 years 34 weeks ago)

.
Saya sulit membedakan antara narator(penulis) dengan 'aku', baiknya 'aku' gak usah dikasih porsi, kecuali ini pov2 campuran. Sulit memang menulis dengan pov2, narator pun tak punya kuasa penuh untuk mengetahui isi hati tokoh 'kau', narator hanya bisa menilai isi hati tokoh dari mimik yang ditampilkan. Penggambaran rasa-rasa dari roti ini saya suka, endingnya juga pas sakit hatinya. Lalu untuk karakter 'kau' yang dulunya 'di atas langit' dan sekarang 'di bawah', penggambarannya saat bertemu kembali dengan Rena, kayak kurang ada rasa rendah diri atau malu karena keadaannya, biasanya kan gitu kalo ketemu temen trus kita lagi kere lalu temen kita kaya, kita kan merasa minder. Hehe. Apalagi ini mantan gebetan. Gak tau juga kalo sifatnya 'kau' ini emang dari sononya gitu, gak minderan. Overall oke ini, Bang. Cuma mengganjal dengan ketawanya naratornya itu saja. :)

Writer kukuhniam
kukuhniam at (4 years 34 weeks ago)

Saya boleh tanya bang, atau sedikit protes
saya baca ini
-Aku bisa mengenalinya karena sejak pindah ke sekolah ini, kami pernah mengobrol beberapa kali.

lalu baca paragraf ini

-Aku tidak setuju dengan cinta pada pandangan pertama. Tapi pada Nina, aku benar-benar jatuh cinta ketika pertama kali ia datang ke sekolah. Gadis kecil itu tampak mungil dan rapuh. Membuatku harus menemaninya ke manapun ia pergi. Mengantarkannya ke sekolah, menjemputnya lagi. Di akhir pekan kami akan berlibur, piknik ke tempat-tempat wisata. Malam hari kami bisa bercengkerama di ruang keluarga. Menonton Cartoon Network atau apa saja. Malam-malam di hari sekolah, aku berdiri di belakangnya, membantunya mengerjakan PR—dengan sorot lampu belajar dari masa kecilku.

dari yang pertama saya nangkap tokoh Aku belum akrab dengan nina. sementara di paragraf kedua akrab sekali. atau itu orang yang beda?

Writer samalona
samalona at (4 years 34 weeks ago)

Ditunggu ya :)

Writer Shinichi
Shinichi at (4 years 34 weeks ago)

ayuk modalin
biar buka kios jualan Roti Masa Lalu
ahak hak hak
makasiy hudah mampir XD
kip nulis

Writer kukuhniam
kukuhniam at (4 years 34 weeks ago)

sudah tiga kali saya baca om. bukan nggak ngerti. Nagih.
saya belajar banyak dari sini. cerita bagus nggak harus bahasa rumit yang dipuitis-puitisin. Ceritanya seperti memang ada, gaya ngomongnya, gaya ngerokoknya, meliriknya, penasarannya.
Ngomong-ngomong ide bisnisnya bagus om

Writer Shinichi
Shinichi at (4 years 34 weeks ago)

penutupnya pake toping cokelat. coklat perkebunan tapinya. ahak hak hak.
makasiy udah mampir. hohohoho

Writer Shinichi
Shinichi at (4 years 34 weeks ago)

saran ditampung Om. soal ketawa. ya, rasanya kebanyakan sih. ahak hak hak. btw, menarik membahasnya karena komentar Om ini. tapi saya ragu bakal curhat. wkwkwkwkwk. ide dasarnya jelas soal ironi masa lalu dan masa depan. roti itu. konsepnya yg udah ada sejak 2014. namun eksekusinya berjalan lambat banget, dan akhirnya tuntas kurang dari tiga jam. saya sendiri heran.
.
tentang POV kedua yg enggak sepenuhnya POV kedua ini, saya heran darimana datangnya. serius, saya benci POV kedua, menuduhnya terlalu abu2 dengan menjadi aku atau jadi bukan siapa2 di POV ketiga. iya enggak siy? ahahahahaha. dan saya enggak punya referensi. jarang saya lahap cerita POV kedua. saya enggak nyaman. tapi entahlah cerpen ini kok bisa langsung saya mulai dari POV itu. ini beneran, saya enggak tau. ahak hak hak.
.
lalu saya kira, ide besar tadi percuma atau klise jika hanya itu saja. bahkan dulu, ada terlintas adegan tokoh Rena datang lagi dan menyadarkan tokoh utama agar membuat roti masa depan saja, sebagai resolusi. namun betapa hambarnya itu, pikir saya. lantas saya bubuhkan aja konsep dinding keempat itu, yg sudah saya mulai di cerpen Rekapitulasi dan Teman Ngobrol. akhirnya mengarah pada ide licik ngerjain tokoh Ian, yg sering muncul di cerpen2 saya sebelumnya. "Kali ini kau kujadikan figuran enggak penting dan jauh dari khayalanmu." mengarah komedi, usul seseorang yang merasa dirinya tokoh Dina. gitu pikir saya dengan tawa jahat. serasa melengkapi, jadilah Roti Masa Lalu ini. ehehehehehe.
.
saya enggak yakin akan membuat POV kedua di kesempatan lain. tapi soal kedekatan narator dan kau, maaf itu benar-benar curhat. makanya ketika Om bilang suram/muram, saya kepikiran orang yang merepresentasikan tokoh Dina. dia pembaca pertama di email, yg lantas mengatakan hal yang ngena, muram, dan yaahh... kenyataan.
.
anyway, giliranmu, Om, posting cerita XD nanti saya kunjungin. ahak hak hak

Writer samalona
samalona at (4 years 34 weeks ago)

Pemilihan POV 2 dengan pembuka cerita seperti ini ternyata menarik. Paragraf pembuka membuat saya menebak-nebak, apa hubungan antara narator dan tokoh utama ("kau"). Tentu saja itu tidak penting, karena "kau" yang harus jadi pusat perhatian.
Masuk paragraf keempat, saya teringat pantun
Anak ayam dipanggang saja
Hendak dipindang tidak berkunyit
Anak orang dipandang saja
Hendak dipinang tidak berduit

Masuk dialog dengan Ian, saya nyengir sendiri. Teringat cerita saya yang belum rampung (belum ada lanjutannya sejak 5 tahun lalu?) yang juga menyinggung the fourth wall.
Mengikuti mood cerita yang rada muram/suram, saya merasa kalimat "[..] Siapa suruh jadi tokoh? [..]" tidak usah diikuti "Ha ha ha". Meskipun di paragraf lain sebelumnya juga sudah ada "ha ha ha", menurut saya kekerapannya perlu dibatasi sesedikit mungkin. Untuk mempertahankan kemuraman tipis itu, dan juga menjaga wibawa penulis :D.
Juga waktu disebutkan "aku" cemburu, saya kira agak berlebihan. Tapi situasi ini susah memang. Konsep ceritanya sudah ditakdirkan dari sananya. Sejak awal cerita, dengan pemilihan POV 2 saya secara otomatis memegang ekspektasi bahwa keterlibatan "aku" pasti akan ditekan sekecil mungkin. Bukankah konsep cerita dan POVnya ini merupakan kontradiksi yang menarik?

Writer The Smoker
The Smoker at (4 years 34 weeks ago)

Om Momod, baru singgah saya di lapakmu pake akun yg ini. Ahak hak hak...
.
Khas dirimu, ngalir, nggak ruwet dan ragam kegetiran dengan warnanya sendiri... Saya nikmatin sampe akhir, sampe penutup yg maknyus itu.
.
Ahak hak hak...