Shinichi : Comments

Writer kartika demia
kartika demia at (4 years 46 weeks ago)

.
Untuk fabel ini berat, tapi berbobot. Beratnya karena berbobot, berbobotnya karena beratnya. #ngomongopo XD
Cerpen-cerpen khas media ini. Rapi, unik, walau saya sulit nangkep maksut ceritanya. Hehe.
Judulnya sangat menarik, dan menjual banget. Pertamanya saya pikir itu burung yang diceritakan, karena penulis berbicara soal bulu. Padahal, untuk kucing, orang utan dan manusia. Rambut lebih tepat sebutannya daripada bulu. *iya, klo bahas IPA, dodol!* #plak
Udah gitu aja.
Salam manis :v

Writer Shinichi
Shinichi at (4 years 46 weeks ago)

makasiy udah komeng. ahak hak hak. kesan dongeng emang harus, meski enggak saya patokkan secara sengaja. lebih kepada saya punya rekaman yg gak bisa dibuktikan secara empiris #plak dongeng fabel yg saya baca waktu saya masih imut-imut. lalu, saya punya ide, menentukan bahwa ide itu bagus digarap sebagai dongeng fabel, namun temanya lebih berat tinimbang fabel yg unyu-unyu yg pernah saya baca itu. hohohoho.
-
ide ini dari fabel kucing dan harimau, tentu saja. dan seperti biasa fabel yg sulit dideteksi asal-usulnya darimana, 2 versi yang saya dengar, langsung dari orang-orang di sekitar saya. ahak hak hak. jadinya, fabel yg jd sumber inspirasi saya itu tentunya berlatar kebudayaan di tempat saya tinggal. makanya, saya pakai nama-nama dalam bahasa suku saya, meski ya kisahnya sendiri enggak mencerminkan prilaku hidup masyarakat di kampung saya. okesip. itu terlalu banyak untuk penjelasan. ahak hak hak. kip nulis kalakupand.

Writer Thiya Rahmah
Thiya Rahmah at (4 years 46 weeks ago)

Selain nama yang kelewat aneh diucapkan di lidah saya (iya, saya aja kayaknya) keseluruhan cerpen ini nikmat buat saya.
Kesemua kronologinya runut, dari kejadian satu ke kejadian lain. Sampai ending dan akhirnya saya paham makhluk apa yang dari tadi ngomong (dih, otaknya lemot).
.
Anyway, gak tau mo komen apa sih, sepanjangan membaca saya diem dan mingkem aja (yaiyalah). Suka. Kesan dongeng ala fabel dapat meski terasa lebih rumit daripada fabel biasanya (saya bacaannya kancil mulu, btw).
.
Akhir kata, cuma mau nanya sih Bang, itu idenya dapet di mana? :D

Writer Shinichi
Shinichi at (4 years 46 weeks ago)

dua kucing, anyway
ahak hak hak
makasiy udah mampir eaaa =))
kip kalakupand

Writer hidden pen
hidden pen at (4 years 46 weeks ago)

gk bisa komen yg berbobot neh bang. ^_^ tapi aku terkejut dan wow saking terpikatnya dengan cerita jergem, si bugan memilih takdirnya sendiri dan sahabatnya cuma bisa mengingat kisah dua orang di pengasingan dan cakar yg memenuhi langit #ngomong apaan coba. :v :v hmm ok , kaabbuurr

Writer rian
rian at (4 years 50 weeks ago)

Keren, Abang. Suka sama dialog minimalisnya, suka sama keunikan dialek percakapannya. Suka sama penggambaran latarnya.

Awalnya saya mikir kenapa Nina mesti diikutsertakan di cerita ini, ternyata untuk "mewakili" keinginan tokoh utama punya anak. Jadinya narator enggak cuma sekadar bilang "aku mau punya anak", tapi kita sebagai pembaca dikasih liat pemikirannya itu gimana akarnya, dari mana asalnya, melalui hubungannya sama Nina.

Tentang lonceng. Saya enggak nyampe mikir ke simbol lonceng sebagai "pertanda sesuatu yang buruk", awalnya saya mikir itu sekadar bumbu, semacam keanehan-keanehan khas yang ada di hidup setiap orang. Tapi saya suka simbol itu. Cerpen ini jadinya utuh.

Kalau ada yang harus dikritik, mungkin... alurnya yg terlalu datar? Tapi bagi saya oke-oke aja sih. Toh cerita ini tuntas menyampaikan konflik batinnya tokoh utama, meskipun konfliknya itu sendiri enggak selesai. Memang akan selalu ada perasaan kecewa, kayak, yaaaah, ternyata gini aja. Tapi itu bukan masalah besar buat saya. Pas rasanya di cerita keseharian macam begini.

Writer atitha_suwito
atitha_suwito at (4 years 51 weeks ago)

iya kk , salam kenal, jangan lupa mampir ke halamanku yaa :)

Writer just_hammam
just_hammam at (4 years 51 weeks ago)

Kabar baik...kayaknya mau sering2 mampir. :D

Writer Nine
Nine at (4 years 51 weeks ago)

Hoaaaaaahh, ya ya ya, hayati ngerti, bang.
Makasih atas pencerahannya. ^^
Awalnya saya ngira bunyi lonceng sebagai simbol kerinduan karena saya nganggap nina yang rindu (mungkin) sama kehidupan yang menetap (ngak pindah2), terus tokoh si Aku yang merindukan kehadiran seseorang (yang menetap) dalam kehidupan asmaranya.

Writer Shinichi
Shinichi at (4 years 51 weeks ago)

ahak hak hak.
ada bung hammam jugak sampek mampir segala. kyaaaaaa... apa kabarnya, Om? XD semoga Om jg sukses. ehehehehe