Shinichi : Comments

Writer caturharis
caturharis at (5 years 16 weeks ago)
Writer aydiriku
aydiriku at (5 years 16 weeks ago)

Sudah kuduga..

Writer hidden pen
hidden pen at (5 years 16 weeks ago)

whoa seperti kita bercermin ya. Kanan jadi kiri hi hi. Sangat bagus bang. ^^

Writer saya_waktu
saya_waktu at (5 years 16 weeks ago)

halo, salam kenal. ini menyentuh. mencomot urusan pelik yg biasa saja menurut org yg mengalaminya. saya menahan nafas dan ingin ini jadi urusan serius sampai meja hijau? tapi nyatanya, baiklah, Penulis menncomot saja apa yg terjadi di dunia nyata. keren. emosi mendekat lalu emosi menjauh, ambil saja hikmahnya.

Writer Shinichi
Shinichi at (5 years 18 weeks ago)

saya benci harus mengatakan ini, Om. pasalnya saya marahnya karena Liyas, yang masih kelas lima itu, dicekokin dengan pandangan harus ini itu, tidak boleh begini begitu, harus begini dan begitu, oleh guru-gurunya. itulah yang dipikirkan tokoh aku, yang mungkin enggak mulus saya sampaikan kali ini.
.
tengkyu komentar cetar membahananya :D
ahak hak hak.

Writer Nine
Nine at (5 years 18 weeks ago)

Walau konflik yang diangkat di sini terasa sangat kesedihannya, entah kenapa pada saat membaca paragraf terakhir, saya merasakan ada perasaan damai di situ. Konfliknya memang menggantung, tapi di bagian paragraf terakhir itu, saya seperti ikut pasrah juga sama permasalahan Liyas dan Ibunya. Sama seperti tokoh Ian itu. Merokok lalu kemudian pikiran menerawang ke awan-awan. Cerita ini ditutup dengan manis. Dan paragraf terakhir seperti memudarkan konflik yang harusnya menjadi pertanyaan bagi saya: bagaimana kelanjutan permasalahannya? Apa nini Liyas sekarang sudah memberi izin pada Liyas untuk ketemu Ibunya? Apa Liyas sekarang tidak takut lagi ketemu Ibunya walau sang Nini masih melarangnya? Pertanyaan-pertanyaan saya jadi luntur dan menghilang seketika ketika membaca paragraf terakhir. Intinya, seakan membaca cerita ini sudah puas walau dengan konflik yang menggantung. Tidak ada keluhan dari saya. Setidaknya itu yang saya rasakan, Bang Chris. Mungkin karena faktor itulah juga mengapa cerpen ini sangat pas jika diceritakan menggunakan POV 1 lewat tokoh Ian.
.
Berhubung saya sangat suka dengan genre “kehidupan”, jadi saat membaca ini sayanya “larut ke dalam”-lah. Penulis membuat saya benar-benar menaruh simpati pada Malem dan Liyas lewat sudut pandang orang lain. Saya juga sebenarnya ingin bertanya, mengapa tidak menceritakan ini lewat sudut pandang Ibunya Liyas saja? Atau dari sudut pandang Liyas itu sendiri? Namun, setelah saya berpikir-pikir lagi, kemungkinan jika konflik diceritakan lewat sudut pandang ibunya Liyas—atau Liyas, maka belum tentu saya bisa menaruh simpati padanya sama seperti saat cerpen ini diceritakan lewat sudut pandang orang lain—yang hampir tidak memiliki hubungan apa-apa terhadap Liyas atau Ibunya.
.
Konflik yang ada di sini menjadi kental lewat dialog dan tingkah laku tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, tidak melalui pergolakan batin para tokoh yang mengalami masalahnya (Ibu Liyas, Liyas, dan Neneknya). Beberapa adegan yang membuat saya seakan masuk lebih dalam lagi ke dalam konflik adalah pada saat:
*Ibu Liyas duduk di kursi piket sekolah lalu curhat mengenai Nini Liyas
*Saat Nini disidang oleh para guru dan kepala sekolah
.
Yang saya tangkap itu begini, konflik di dalam cerpen ini diperjelas lewat dialog karakter-karakter yang berkaitan langsung dengan masalahnya, sementara peran para guru dan kepala sekolah adalah memancing agar para tokoh utama mengutarakan kegelisahan batin mereka. Dan itu semua diceritakan lewat sudut pandang si Ian itu. Sehingga saya menjadi lebih paham dengan apa yang Malem, Nini, dan Liyas keluh-kesahkan. Kira-kira begitu yang saya tangkap, Bang Chris.
.
Oh ya, salah satu yang bikin saya ketawa-ketiwi itu pas selingan si Ian mijit-mijit jerawatnya sampai pecah! Padahal lagi ciyus-ciyusnya saya menonton si Nini lagi disidang, hahahaha! XD
.
Mungkin itu saja dari saya, Bang. Manislah cerpen ini. Mohon maaf juga kalau ada kata yang kurang berkenan, atau kesalahsilapan dari saya pribadi. Mudah-mudahan berkenan. Saya undur diri, Bang.
.
Salam Olahraga, hehehehe

Writer Shinichi
Shinichi at (5 years 18 weeks ago)

itu kayaknya cara berdialog untuk beberapa orang. yg saya maksud itu, seperti di narasinya :) bahwa manusia tidur dengan mata tertutup, sementara ikan tidak.

Writer jloba
jloba at (5 years 18 weeks ago)

cerita yang menarik.

“Matanya kan terbuka sih!” jawab Lata.

Disini saya penasaran, maksud penulis mengutarakan

"matanya kan terbuka!"

atau

"matanya terbuka sih!"

yah?

Writer Yua
Yua at (5 years 18 weeks ago)

Saya orang lama Oom
dulu pake nama Tsukiya_arai, tapi bikin akun baru karena lupa password dan email

Writer Shinichi
Shinichi at (5 years 18 weeks ago)

hihihihi. lebih mudah rasanya nulis apa yg dilihat daripada apa yg di pikiran. tinggal amati aja siy. pindahin. begitu, Bung :D
.
anyway, saya gak sempat mikirin ini mau dibikin jadi minimalist. mungkin itu cara penamaan yang dirimu sematkan. aslinya, di pikiran saya cuma ingin "menunjukkan" memang dengan tanpa terlibat ke dalam permasalahan. jadi begitu kalik ya yang disebut minimalis :D makasiy komentarnya, Bung. ahak hak hak.
.
untuk paragraf terakhir, saya sendiri pusing bikinnya itu. meski yg paling bikin saya uring-uringan justru paragraf awalnya. soalnya, saya kepikiran gimana biar cerita ini lengkap aja. jujur, masih belum sreg sama endingnya. berasa itu bukan saya aja. mungkin, karena sayanya yg memandang dari sekian jarak aja sama permasalahannya. dan karena temanya agak serius, saya berani sumpah ini hal yang serius yang terjadi di depan mata saya, ahak hak hak, saya kepikiran enggak mau jenaka atau konyol-konyolan. malu. secara ini pernah kejadian dan ya memang kepikiran terus abis itu. ahahahahaha.
.
makasiy udah mampir, Bung. salam super.
.
NB.
judulnya? biar sajalah. meski itu saran yang bagus :)