Tedjo : Comments

Writer dorarossi46
dorarossi46 at (7 years 25 weeks ago)

no comment, poin saja...

Writer dorarossi46
dorarossi46 at (7 years 25 weeks ago)

bagus banget, nggak heran lah kalo total poinnya selangit..hhehe

Writer snap
snap at (11 years 22 weeks ago)

runtut sekali ya........

Writer rayaKafka28
rayaKafka28 at (11 years 23 weeks ago)

sederhana...tapi eksklusif..keren

Writer vanzenciel
vanzenciel at (11 years 37 weeks ago)

paragraf 1 nya uda asik tuh!
cuma sayang pas paragraf 2, kalimat penjelasannya kurang dramatis...

Writer Amian_zanggol
Amian_zanggol at (11 years 46 weeks ago)

^^salam kenal.

Endingnya rada mengejutkan. Tapi rada simple juga. Berubah pikiran dalam semalam, tanpa perdebatan spiritual yang berarti. Mungkin jika isi mimpi itu tidak disampaikan hanya lewat sebuah kalimat batin, mungkin dengan pendiskripsian ala puisi pendek yang penuh isi, mungkin cerita ini akan memiliki nilai yang lebih.

^^

Writer Tedjo
Tedjo at (11 years 46 weeks ago)

Villam wrote:
tedjo, kuasumsikan dirimu sedang bereksperimen menggunakan gaya bahasa dengan kalimat terpatah-patah seperti ini, yang cukup menarik jika digunakan secukupnya, tapi mendekati kemonotonan jika dipaksakan untuk dilakukan sepanjang cerita.

aku juga bertanya2 kenapa cerita dibuka dengan dua paragraf awal berPOV orang ketiga terbatas milik Ridho, sementara dari paragraf ketiga sampai akhir sebenarnya ini adalah cerita milik Sukur, dan disampaikan melalui POV milik Sukur (yang sebenarnya sudah bagus). jadi, memang perlukah adegan dua paragraf pertama itu? kenapa tidak fokus saja pada Sukur?


Thank you Villam sudah memberikan masukan untuk saya dan iya dirimu benar saya masih merasa eksprimentasi kalimat pendek-pendek gini masih mentah,butuh banyak belajar saya :) awalnya memang menghindari bicara banyak setting, tapi penokohan. dan maka dari itulah saya mencoba explore baik sukur dan Ridho. Thanks untuk apresiasinya.

Writer Villam
Villam at (11 years 47 weeks ago)

tedjo, kuasumsikan dirimu sedang bereksperimen menggunakan gaya bahasa dengan kalimat terpatah-patah seperti ini, yang cukup menarik jika digunakan secukupnya, tapi mendekati kemonotonan jika dipaksakan untuk dilakukan sepanjang cerita.

aku juga bertanya2 kenapa cerita dibuka dengan dua paragraf awal berPOV orang ketiga terbatas milik Ridho, sementara dari paragraf ketiga sampai akhir sebenarnya ini adalah cerita milik Sukur, dan disampaikan melalui POV milik Sukur (yang sebenarnya sudah bagus). jadi, memang perlukah adegan dua paragraf pertama itu? kenapa tidak fokus saja pada Sukur?

eniwei, seperti biasa dirimu selalu mengangkat masalah sosial yang menarik dalam tulisanmu. salut.

Writer Armanda
Armanda at (11 years 48 weeks ago)

A

Writer zupeh
zupeh at (11 years 48 weeks ago)

sempurna,untuk endingnya..termasuk untuk konfirmasi data nya.... (nyata!!)