wacau : Comments

Writer Cafhraz
Cafhraz at (9 years 17 weeks ago)

tidak sia-sia, serius tidak sia-sia, mengharapkan ia mengerti.
hehehehe

Writer MAmphibian
MAmphibian at (9 years 19 weeks ago)

Hmmm..
Coba sedikit mengurai..
Maaf kalo salah, saya kan newbie :(

Sudut pandang 1 [makna secara filsafat]
/
[pada tiap penantian selalu saja kita bertikai dalam retorika imaji, mempertegas sesak dalam jeda yang semakin sempit. kita tidak pernah sepakat perihal kapan satu kepergian ditunaikan, meski takdir nyata ditulis pada selembar hari.]
Jadi masalahnya ada pada angan? Angan dan kenyataan yang ga sejalan? Padahal fakta mengenai masa depan, atau yang dibilang takdir itu jelas tertulis seperti tinta pada selembar kertas kan? Seolah2 kita menentang pada waktu, kalo semuanya seperti ga adil (kalo bahas ini jadi seperti membantah M-Theory tentang dimensi)
/
[“kau sendiri kan yang memilih aku,” kilahmu. “lalu mengapa kerelaan mengasing di balik sumur air mata. berulang kali kukatakan, mengenai pergi, keikhlasan hanya basa-basi pelengkap bicara, percaya kau sekarang?”]
Jadi si subyek ini seolah2 mo bilang,"Ah munafik lo, bilang ikhlas, tapi mata ga pernah bohong."
/
]“tetapi engkau tak perlu juga tergesa berdetak. izinkanlah sejenak, hening meruang di satu penunjuk supaya pesan yang terlambat punya kesempatan tiba di pintu keberangkatan, kelak sesal tidak mengenang pada esok yang luka.”]
Memprotes pada waktu yang bergerak cepat, dengan berkata, KALAU seandainya waktu itu masih sempat, aku ga kan nyesel, hiks T-T
/
[ah sia-sia saja berharap kau mengerti, toh kau juga tak bisa dengar teriakan diam tentang ingin yang paling ingin.]
"Percuma kalian baca puisi ini, kalian ga akan ngerti apa maksudku, karena kalian cuma baca doang tanpa berusaha memahami makna ataupun pesanku dalam puisi ini."
~
Sudut pandang 2 [yang ini ngaco]
Jadi ceritanya aku bercakap2 dengan waktu, memprotes, berusaha mencari kambing hitam. Padahal sebenernya segala bentuk keterlambatan faktornya kalo ga cukup peka akan perubahan, ya paling karena lalai kan?
Itu artinya sebenernya kadang kesalahan ada pada diri sendiri. Percuma menyalahkan waktu, percuma menyalahkan Tuhan, atau sebenarnya kita hanya bisa jadi manusia yang berkutat pada masa lalu tanpa berusaha beranjak? Think about it.
Wheeew slese..
Banyak teguran buat diri sendiri nih :(
Makasi, puisi yang sangat menginspirasi,
kosakata, emosi, pesan, makna dll nya perfect, jadi skornya 10 :)

Writer shofaniazhari
shofaniazhari at (9 years 20 weeks ago)

KEREN! Keep writing :D

Writer gusbadung
gusbadung at (9 years 29 weeks ago)

no koment...(sedang meresapi hujan)

Writer gusbadung
gusbadung at (9 years 29 weeks ago)

lebay sih menurutku, cuman nyaman aja untuk di nikmati...

karena alirannya memang aku suka

^_^

keep writing

Writer naery
naery at (9 years 29 weeks ago)

Suka sama puisinya wacau ini. Bait 1-nya ada kata yang dah lama gak dipakai, alias arkaik. Kata KBBI, rekata itu artinya "kala" dalam pengertian rasi atau gugusan bintang. Emang "kala" bisa diartikan "waktu", seperti yang naery liat, wacau bermaksud menghindari kata "kala" dua kali.
Kok kebetulan ya, naery juga mau posting puisi tentang pantai nih :p
Salam wacau.

Writer sanssouci89
sanssouci89 at (9 years 33 weeks ago)

terlepas dari komentar yang sudah ada, selalu keren kalau menikmati puisi.

Writer toebugz
toebugz at (9 years 36 weeks ago)

kelemahan kekom memang tidak ada klasifikasi kemahiran dalam menulis... Resikonya ketika yang advance dalam berpuisi mengkritik tidak memikirkan bahwa seseorang baru mulai berkarya, atau temen2 yang baru juga jadi tersinggung atau sebagainya. Lalu yang terjadi adalah, kita ramai2 membela newbie inih... Sebenernya menurut sayah gak sehat juga siy :D
.
Tp kalo om wacau siy sebagai person yang mahir berpuisi pasti memiliki pemikiran yang dalam, mengapa sebuah karya dimunculkan. Tp yaa, mungkin karena kebiasaan tadi, jadinya kritik belum bisa dihadirkan dengan bermartabat :)
.
Pun dalam menghadapi kritik sayah selalu mencoba dan menawarkan ini: marah boleh, asal jangan marahmarah.
.
Tapi bagaimanapun, mudah2an kita bisa lebih proporsional... Terutama sayah :)

Writer wacau
wacau at (9 years 36 weeks ago)

sebaik2nya memang kalok ada solusi, (bagi saya) pun ga ada ya ga jadi soal juga sih, kan kemampuan orang beda2. cuman yg jangan itu nunjuk2 orang lain gak konstruktip, padalan sendirinya juga enggak punya solusi. [bukan si om lho ya]
*
seeep om, marih sama2 belajar :D

Writer toebugz
toebugz at (9 years 36 weeks ago)

Sebenernya saya pro kritik... Menunjukkan kesalahan pun harus bertanggung jawab. Artinya ketika kita berbicara "puisi ini jelek" maka semestinya dimunculkan kejelekannya dimana, lalu bagaimana cara memperbaikinya. Gak kalah pentingnya, mengutip kata2 teman "mengkritik itu mudah, tapi membuat karya yang lebih bagus dari yang dikritik itu sulit".
.
Maka, mari ajarkan bagaimana kamu menulis dan juga buktikan bagaimana kamu menulis.
.
Sayah pembelajar, pun sayah mau sekali belajar. Mari temen2 kritik karya sayah, pun semoga kritiknya membagun yaa, bukan hanya menjatuhkan tapi juga menunjukkan solusi belajar :)